Integrated Health Care

Kesehatan merupakan hal yang sering kita dengar. Faktor yang mempengaruhi kesehatan yang telah kita ketahui ada dua faktor besar, yaitu pendidikan dan ekonomi. Kedua hal ini menggiring kepada kesadaran setiap masyarakat untuk peduli pada kesehatan masing-masing. Ketika permasalahan pendidikan telah diambil alih oleh civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi, permasalahan yang tersisa adalah ekonomi. Permasalahan ini sering sekali luput dari perhatian kita.

Berbicara mengenai jurusan kesehatan, farmasi khususnya, tentunya menjadikan pemikiran kita terarah pada konseling, pelayanan kesehatan, dan obat. Menurut saya itu tidak seluruhnya keliru. Tetapi kita jarang berfikir tentang kemampuan masyarakat untuk membeli kesehatan terebut. Kesadaran masyarakat akan kesehatan tidak akan pernah tercapai kalau kondisi
ekonomi mereka menuntut pengambilalihan pikiran secara total ke arah kebutuhan pokok yang paling pokok. Apabila daya beli masyarakat tidak ada, tampak dari luar seakan kepedulian tersebut sirna.

Saya teringat perkataan teman-teman yang tergabung dalam program farmasi pedesaan. Suatu program yang sangat bagus saya pikir, dimana mahasiswa terjun langsung ke desa untuk membantu masyarakat di sana. Saya tidak ingin mengkritisi kegiatan tersebut karena eksistensinya mampu menciptakan hubungan antara perguruan tinggi dengan masyarakat, itu sangat bagus. Yang membuat saya tertarik adalah pernyataan yang sering saya dengar tentang fokus besar permasalahan yang dibahas, yaitu kesehatan. Kesehatan di sini diartikan secara sempit dan hanya ditinjau dari sisi kesehatan itu sendiri, tanpa memperhatikan korelasi dengan faktor-faktor lain. Itu bisa terlihat dari program-program yang dijalankan seperti penanaman TOGA, klinik gratis, penyuluhan, dan program-program lain yang arahnya hanya dari kesehatan saja. Saya tidak mengatakan ini salah, hanya saja jangkauannya terlalu sempit.

Farmasi dididik untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional, tapi tidak berarti mempersempit jangkauan. ITB yang merupakan institusi pendidikan yang berbasis teknologi mengajarkan banyak hal kepada kita (saya ingin
membahas kampus saya sendiri karena ini yang saya tahu). Unsur teknologi menjadi hal yang sangat kuat yang diajarkan di kampus tersebut. Teknologi farmasi pun diajarkan di sana. Anehnya, setiap mahasiswa tidak pernah berfikir untuk melakukan hal lebih. Kembali lagi, fokusnya adalah kesehatan. Mindset yang tertanam adalah kesehatan, dalam arti sempit. Pengabdian di masyarakat selalu dihubungkan dengan kesehatan. Kesehatan, kesehatan, dan kesehatan. Apa bedanya dengan tenaga kesehatan lain?

Saya ingin mengambil satu contoh kasus. Suatu ketika farmasi ITB pernah mengadakan kuliah lapangan ke tempat penyulingan minyak atsiri di Garut (adakah hubungannya dengan kesehatan?). Kebetulan saya tidak bisa ikut waktu itu. Tapi dari cerita teman-teman saya tahu bagaimana kondisi di sana. Penyulingan yang lumayan besar saya pikir. Hanya saja permasalahan yang cukup besar dan umum terjadi tentang minyak atsiri adalah kualitas produknya. Petani di Indonesia tidak mengerti betul dengan parameter kualitas minyak atsiri. Jangan tanya tentang bagaimana memproduksi
minyak atsiri dengan kualitas bagus tersebut. Ujungnya, perusahaan-perusahaan minyak yang cukup besar membelinya dengan harga murah, memurnikannya, kemudian menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Petani hanya bisa memperoleh margin besar melalui produksi yang besar, berbasis pada kuantitas.

Pertanyaannya, apakah seorang farmasis tidak pernah berhubungan dengan distilasi, pemurnian, dan analisis? Sangat berhubungan sekali bukan? Akan tetapi jarang kita temui seorang mahasiswa farmasi yang mau terjun ke ranah ini untuk
membantu masyarakat di sana karena itu “bukan” ranah kesehatan. Itu lebih kepada ranah industri, bisnis, dan ekonomi. Ini adalah sebuah contoh besar yang menunjukkan bahwa kita belum berfikir secara luas. Mindset kita dipersempit secara otomatis oleh diri dan lingkungan sendiri. Padahal modal untuk melakukan semua itu sudah ada. Membawa teknologi yang telah dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat.

Tentunya contoh tadi tidak mewakili semua daerah. Tapi yang saya garis bawahi adalah adanya kesadaran bagi kita
bahwa farmasi tidak dibatasi oleh kesehatan saja. Ada korelasi yang penting yang harus diperhatikan, dan teknologi dijadikan sebagai alat untuk mencapainya. Korelasi dengan bidang ekonomi. Maka tidak mustahil apabila seorang farmasis berpikir untuk mengubah kondisi ekonomi suatu masyarakat melalui jalan teknologi dengan pemantauan berkala. Itu akan jauh lebih membantu daripada sekedar memikirkan kesehatan secara tersendiri. Bahkan secara psikologis seseorang akan lebih tergugah apabila ingin dibantu dari segi ekonomi ketimbang segi kesehatan.

Kesehatan tidak akan mampu berdiri sendiri. Faktor-faktor tersebut harus selalu diperhatikan. Korelasinya harus selalu dijaga. Dengan bantuan teknologi, tentu hal ini tidak akan mustahil untuk dilakukan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita merubah sikap dan mindset kita untuk menghubungkan setiap faktor yang ada dan menciptakan suatu sinergi yang indah. Kesehatan, suatu pemikiran yang harus dipikirkan kembali karena banyaknya faktor yang mempengaruhi. Kesehatan-pendidikan-ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s