Farmasi Pedesaan

Seorang farmasis dituntut untuk memiliki sifat care giver dengan permasalahan kesehatan yang terjadi di sekitarnya.  Itulah salah satu hal yang tertuang dalam Seven Star of Pharmacy Plus One yang harus diimplementasikan. Selain itu, dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi pun disebutkan bahwa mahasiswa harus dapat memberikan suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kedua hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Farmasi Pedesaan.

Farmasi pedesaan merupakan program pengabdian kepada masyarakat desa yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Famasi ‘Ars Praeparandi’ ITB sejak tahun 1986. Pada awalnya, kegiatan ini dilaksanakan untuk menggantikan program kuliah kerja nyata yang ditiadakan. Kegiatan Farmasi Pedesaan ini menjadi sarana mahasiswa Sekolah Farmasi ITB untuk mengaplikasikan ilmunya yang telah didapatkan selama masa kuliah di Sekolah Farmasi ITB. Kegiatan ini diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Hingga saat ini, Farmasi Pedesaan telah dilaksanakan sebanyak 12 kali.

Farmasi pedesaan bertujuan untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian massa HMF serta meningkatkan  kesadaran akan kesehatan dan potensi alam yang dimiliki sehingga diharapkan dalam jangka panjang, desa yang disinggahi menjadi desa yang maju dan mandiri serta para mahasiswa farmasi semakin menyadari peran sertanya sebagai elemen masyarakat dan generasi muda yang bertanggung jawab untuk memajukan Indonesia di masa yang akan datang.

Sasaran kegiatan Farmasi Pedesaan ini adalah mahasiswa Sekolah Farmasi ITB yang meliputi peningkatan kepekaan terhadap permasalahan kesehatan yang terjadi dan sebagai pemberi solusi terhadap permasalahan aspek tersebut.  Sedangkan untuk masyarakat pedesaan tempat dilaksanakan kegiatan ini dapat meningkatkan wawasan, pola pikir dan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat dan pemanfaatan alam desa tersebut.

Program-progam yang dilaksanakan pada Farmasi Pedesaan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat pedesaan tersebut. Namun secara umum, program yang diberikan pada kegiatan ini meliputi pengobatan gratis, penyuluhan tentang penyakit-penyakit yang sering menyerang desa tersebut, penyuluhan gizi anak, pendidikan kesehatan bagi anak-anak, penyuluhan mengenai pola hidup sehat dan sanitasi, serta optimalisasi kekayaan alam yang dimiliki desa tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

Farmasi Pedesaan mengambil waktu kurang lebih 1 minggu. Tetapi kegiatannya tidak hanya berlangsung selama waktu tersebut saja, dilaksanakan follow-up oleh kepengurusan selanjutnya sehingga perkembangan masyarakat pedesaan dapat terpantau. Selain mahasiswa farmasi, peserta yang terlibat pada kegiatan ini yaitu peserta dari elemen kesehatan lainnya.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap Farmasi Pedesaan yang telah dilakukan, terdapat beberapa parameter keberhasilan yang terpenuhi, yaitu

  1. Peserta dari Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB yang mengikuti kegiatan Farmasi Pedesaan ini cukup banyak. Hal ini menunjukkan bahwa massa Himpunan Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat;
  2. Antusiasme masyarakat pedesaan cukup tinggi terhadap kegiatan Farmasi Pedesaan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB;
  3. Masyarakat pedesaan mampu menerapkan pengetahuan dan wawasan yang didapat dari program-program yang dilaksanakan selama kegiatan Farmasi Pedesaan.

Walaupun keberhasilan yang diperoleh dalam kegiatan ini cukup memuaskan, dalam pelaksanaannya, Farmasi Pedesaan tidak lepas dari kendala-kendala. Berdasarkan pelaksanaan Farmasi Pedesaan sebelumnya, kendala yang dihapai pada umumnya adalah

  1. Kesulitan mencari  desa yang menjadi tujuan kegiatan Farmasi Pedesaan;
  2. Transportasi yang digunakan terkadang tidak dapat menjangkau desa yang dituju karena letak desa cukup terpencil;
  3. Keadaan lapangan yang menyulitkan dalam distribusi logistic, obat gratis, dan sumber daya manusia dalam melaksanakan program;
  4. Sikap masyarakat desa tujuan yang masih kurang inisiatif untuk menerapkan pengetahuan yang telah diberikan selama program Farmasi Pedesaan;
  5. Kendala bahasa dimana masyarakat pedesaan yang dituju pada umumnya masih berbahasa daerah dan kurang lancar berbahasa Indonesia;
  6. Ruang penyuluhan yang tidak memungkinkan menampung banyak warga;
  7. Kurangnya tenaga medik untuk program pengobatan gratis.

Farmasi Pedesaan selanjutnya, yaitu Farmasi Pedesaan ke-13 akan diselenggarakan pada tahun 2010. Kegiatan Farmasi Pedesaan ke-13 ini diharapkan menjadi program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dengan pemantauan yang lebih baik lagi. Melalui kegiatan ini diharapkan desa yang dituju menjadi desa dengan kualitas hidup yang baik dan mandiri sesuai dengan potensi yang dimiliki desa tersebut. Program-program Farmasi Pedesaan ke-13  akan dilaksanakan sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan desa tujuan. Pada Farmasi Pedesaan kali ini juga diharapkan adanya kerja sama antara Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ ITB dengan himpunan lainnya di ITB. Hal ini dilakukan karena dalam pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat terkadang tidak cukup hanya dengan satu disiplin ilmu saja.

Pada tahun 2045 nanti, Indonesia genap berusia 100 tahun. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat membawa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera atau bangsa yang kembali tertindas. Salah satu prediksi dari petinggi-petinggi Negara adalah Indonesia akan menjadi Negara yang superpower. Hal ini dapat diartikan Indonesia akan menjadi salah satu negara yang tangguh dalam menghadapi segala tantangan yang terjadi di dunia. Untuk bidang kesehatan, diharapkan Indonesia dapat lebih memanfaatkan potensi alamnya sebagai bahan baku pangan fungsional dan bahan baku pembuatan obat sehingga tidak ada kata “mahal” lagi untuk memperoleh kesehatan yang berkualitas. Seluruh masyarakat di Indonesia berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai tanpa memandang status sosial. Indonesia sudah menjadi Negara mapan dan mandiri  yang dapat memproduksi kebutuhan pokok masyarakat  di dalam negeri dan tidak sepenuhnya bergantung pada produksi luar negeri.

2 thoughts on “Farmasi Pedesaan

  1. Asalamualaikum… Maaf saya mau bertanya…kenapa KKN farmasi harus didesa kenapa tidak di apotik,rumah sakit,atau di penindustrian sesuai dengan kejuruanya toh nantinya kitakan menghadapi hal semacam itukan bukan didesa. Trima kasih…

    1. Wa’alaikumsalam.. iya benar apotek, RS dan industri adalah slh satu ranah t4 apoteker berkiprah. Biasanya kalo ke apotik, RS dan perindustrian itu akan didatkan di program studi apoteker, namanya kerja praktek. Terimakasih kembali :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s