Farmasi Kepulauan

Melihat Peranan Farmasis di Sisi Lain Tempat Kehidupan di Indonesia

OPTIMALISASI PERANAN FARMASIS DI KEPULAUAN KECIL INDONESIA

 Jika mendengar peranan farmasis di pedesaan di pulau-pulau besar merupakan salah satu hal yang kian ditingkatkan. Peranan farmasis untuk mengentaskan permasalahan kesehatan di desa yang berada di pelosok Pulau besar seperti Jawa, Kalimantan, atau Sumatera juga sudah banyak terdengar. Namun, bagaimana dengan pelayanan kesehatan khususnya peran farmasis di kepulauan kecil di Indonesia? jawabannya belum optimal. Masih banyak pulau-pulau kecil di Indonesia yang berpenghuni namun belum tersentuh pelayanan kesehatan sebaik fasilitas pada daratan luas di Indonesia. Tidak hanya pelayanan kesehatan tapi juga optimalisasi pemanfaatan potensi bahan-bahan alam yang terdapat di tempat ini. Masih banyak sekali kekayaan alam laut yang belum dimanfaatkan sebagai pangan fungsional atau sebagai sediaan farmasi. Hal ini juga merupakan salah satu optimalisasi peranan farmasis di Indonesia. Sebut saja salah satu kawasan yang belum optimal dalam aspek kualitas kesehatan dan pemanfaatan yaitu Kepulauan Seribu.

Kepulauan Seribu merupakan bagian wilayah DKI Jakarta yang memiliki luas 869,61 km2. Daerah ini terbagi atas 2 kecamatan, 6 kelurahan dan 110 pulau. Dari 110 pulau dibagi menjadi zona-zona yaitu zona pemukiman yang terdiri dari 11 pulau, 1 pulau perkantoran dan studi teknis, 11 pulau untuk resort, 45 pulau untuk pariwisata dan 38 pulau zona hijau umum, cagar alam, perambuan dan pertambangan. Zona pemukiman biasanya dijadikan tempat manusia untuk bertempat tinggal. Luasnya mencapai 17.121 hektar. Warga mendirikan hunian di zona tersebut, namun sayangnya prinsip pembangunan rumah huni tidak tertata rapi dan baik, dan akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan penduduk. Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat di Kepulauan Seribu pada dasarnya merupakan bagian dari Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi DKI Jakarta secara keseluruhan. Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat tersebut terintegrasi dalam 6 fungsi yakni Fungsi Pendidikan, Fungsi Kesehatan, Fungsi Kependudukan, Fungsi Ketenagakerjaan, Fungsi Kesejahteraan Sosial dan Fungsi Pelestarian Budaya. Fungsi Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan profesionalisme tenaga paramedik dan tenaga medis, sehingga dapat saling mendukung dalam memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi masyarakat, serta dapat memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan termasuk sarana dan prasarana dalam bidang medis dan tersedianya obat yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat. Jelas, dari poin fungsi kesehatan sangat diperlukan peranan farmasis untuk membangun kesejahteraan masyarakat di daerah kepulauan.

Realita Kesehatan di Kepulauan

Kendala terbesar dalam meningkatkan bidang kesehatan di kepulauan adalah masalah transportasi. Cukup jauhnya jarak dan lama waktu perjalanan antar pulau tersebut dengan daratan luas merupakan faktor utama penyebab kendala usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Hambatan akibat transportasi mengganggu distribusi para medis jika terdapat wabah hebat, gangguan pengangkutan alat-alat kesehatan dari pulau besar, serta hambatan dalam distribusi obat. Hingga saat ini, fasilitas kesehatan yang ada di daerah kepulauan masih sangat minim. Di Kepulauan Seribu, fasilitas kesehatan saat ini sudah ada dokter yang siap melayani 24 jam, kapal speedboat UGD sebanyak 118 dan RSUD di Pulau Pramuka, namun RSUD belum bisa dimanfaatkan secara utuh. Diharapkan ke depannya dapat dimanfaatkan secara baik untuk penanganan terhadap suatu penyakit dan pengobatan.

Sedangkan dalam persediaan obat-obatan, Kepulauan Seribu tidak memiliki apotek resmi atau satupun apotek pemerintah di dalam puskesmas atau balai kesehatan yang berada di tempat tersebut. Selain itu masih minim obat-obat yang terdistribusi untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit masyarakat dan yang lebih ironis lagi sangat kurang sekali pengawasan obat yang didistribusi ke tempat ini. Sehingga, tidak sedikit kejadian penemuan obat-obat kadaluarsa di Kepulauan Seribu. Hal ini sangatlah memerlukan peranan farmasis.

Banyak kasus-kasus kesehatan yang terjadi di Kepulauan Seribu karena kurang optimalnya peranan oknum-oknum yang berkecimpung di bidang kesehatan terutama dalam hal ini adalah farmasis. Pertama yaitu kasus penyakit anemia diderita 90 persen bayi  dan 30 persen siswa di Kepulauan Seribu. Hal ini disebabkan asupan gizi yang rendah serta pola makan yang tidak sehat, warga Kepulauan Seribu kurang mengonsumsi sayuran dan buah yang dapat memicu anemia, ini juga disebabkan karena hasil mata pencaharian penduduk adalah ikan dan jarang yang bercocok tanam sayuran sehingga tidak banyak penduduk yang sering merasa letih dan lemah, jangka panjang penyakit tersebut dapat mengakibatkan penyakit jantung. Ibu-ibu juga banyak yang menderita anemia jadi wajar saja bila bayi yang dilahirkan juga mengikuti penyakit ibunya. Ketidaktahuan masyarakat tentang penyakit anemia juga salah satu faktor pendukung banyaknya penderita anemia. Warga juga sudah pernah diberikan suplemen zat besi untuk menambah kadar hemoglobin, tetapi penurunan penderita anemia tidak signifikan karena masyarakat tidak patuh mengkonsumsi suplemen gratis tersebut dan pola makan makanan sehat dan bergizi belum berubah.

Dinas kesehatan Pemda DKI Jakarta juga mengkhawatirkan kekurangan hemoglobin pada kebanyakan penduduk menyebabkan kondisi kesehatan yang rawan malaria. Selain itu, juga didukung dengan banyaknya rawa yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk malaria. Budi daya rumput laut dan rawa-rawa di Kepulauan Seribu kurang diperhatikan resiko perkembangan jentik penyebab penyakit malaria. Adapun hal yang telah dilakukan dinas kesehatan yaitu memantau kesehatan setiap nelayan dan memeriksakan penyakit malaria tersebut pada nelayan setelah berbulan-bulan melaut.

Kasus lain yang cukup besar yaitu kematian ibu yang melahirkan di Kepulauan Seribu. Dari data kasus di kabupaten Kepulauan Seribu utara tahun ini, 360 ibu hamil, 26 diantaranya memiliki resiko kematian yang sangat tinggi. Tingginya resiko kematian pada ibu hamil yang akan melahirkan karena akses dan fasilitas yang kurang memadai sehingga ibu hamil melahirkan dengan cara tidak normal. Tempat melahirkan yang harus menempuh perjalanan laut menuju Jakarta membuat resiko kematian semakin tinggi. Hal tersebut telah diatasi dengan kinerja petugas pemerintahan dan masyarakat yang mencegah terjadinya kematian ibu melahirkan dan balita dengan menyiapkan biaya bersalin, kebutuhan hingga pendonor darah bila dibutuhkan. Namun, usaha tersebut belum maksimal, tetap saja ibu yang akan melahirkan harus dilarikan ke Jakarta terutama yang harus menempuh proses operasi.

Hal lain yang memerlukan optimalisasi peranan farmasis adalah memberikan pengetahuan yang lebih kepada warga Kepulauan Seribu tentang produk-produk kosmetik dan makanan. Ladang ini dimanfaatkan distributor yang tidak bertanggung jawab dengan mengedarkan produk-produk kadaluarsa. Bukan hanya distributor yang mengedarkan produk kadaluarsa namun juga distribusi obat dari Dinas Kesehatan yang masih minim pengawasan lebih lanjut sehingga masih banyak obat dan makanan yang kadaluarsa karena tidak diawasi.
Kepulauan Seribu dan Pemanfaatan Kekayaan Alam untuk Sediaan Farmasi

Sebagai Negara kepulauan, banyak sekali hasil yang diperoleh dari alam Indonesia terutama dari sektor kelautan. Seakan tidak ada habisnya hasil alam tersebut, namun tidak jarang masyarakat Indonesia tidak dapat mengolah kekayaan tersebut. Industri bioteknologi laut juga belum memuaskan padahal Indonesia memiliki bahan baku yang banyak sekali. Begitu juga kekayaan alam pulau seribu yang belum optimal dimanfaatkan terutama yang berhubungan dengan farmasi baik bidang makanan, obat, maupun kosmetik. Potensi-potensi yang belum dioptimalkan yaitu garam farmasi yang dihasilkan dari pengolahan air laut kepulauan. Tanpa disadari, garam sangat berarti dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sebagai bahan aditif makanan, pengolahan air, dan campuran bahan kimia untuk pengembangan dan pembuatan obat dan kosmetik. Semua jenis garam kecuali garam farmasi sudah bisa diproduksi dalam negeri. Padahal garam farmasi sangat dibutuhkan dalam pembuatan sediaan infuse, oralit, pembuatan kosmetik, sampo, dan lain-lain. Adapun Kadar NaCl (Natrium Chlorida) pada garam farmasi berbeda dengan garam konsumsi biasa, yaitu di atas 99%, sementara garam konsumsi berkadar NaCl lebih besar dari 94%. Pengembangan teknologi pengolahan garam ditujukan agar tercipta efisiensi produksi dengan sistem pencucian garam yang baik dan diversifikasi produk dan memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia IV.

Potensi bahari laut juga belum dioptimalkan dan baru dioptimalkan hanya sebatas sebagai objek wisata bahari. Terutama potensi terumbu karang dan spons. Semuanya masih menjadi pesona tersembunyi dari Kepulauan Seribu dan belum banyak terkuak. Sudah banyak penelitian yang dan sudah banyak zat yang berhasil diisolasi dalam spons dan memiliki efek farmakologi yang baik. Sebagai contoh Didenmin B yang merupakan senyawa hasil isolasi dari spons Trididemnum solidum dan memiliki aktivitas sebagai antitumor dan antivirus, Luffariella variabilis mengandung senyawa Luffariellolida yang berkhasiat sebagai antiinflamasi. Satu lagi jenis spons yang mengandung senyawa yang menguntungkan yaitu Callyspongia sp. Spons ini mengandung metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan. Disisi lain, Terumbu karang mengandung zat antibakteri dan dapat diarahkan untuk membuat obat alami pencegah infeksi bakteri. Selain itu, terumbu karang memiliki kandungan mineral yang tinggi seperti kalsium, hal ini dapat dikembangkan sebagai bahan untuk membuat sediaan suplemen makanan.

Dilihat dari berbagai aspek ternyata, Indonesia masih memerlukan farmasis dan diharapkan kinerja farmasis dapat sesuai dengan kode etik. Kepulauan Seribu hanyalah salah satu dari banyaknya kepulauan kecil di Indonesia yang masih belum terlihat oleh mata farmasis. Masih banyak pulau-pulau di tengah lautan yang belum tersentuh tangan farmasis untuk meningkatkan kesehatan yang menyeluruh untuk penduduk Indonesia. Pemanfaatan produk alam kepulauan juga belum dilirik untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber obat, tidak hanya mengekstrak dan mengisolasi metabolit sekunder namun tidak dikembangkan lebih menjadi sebuah sediaan jadi. Ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh farmasis khususnya dan oknum-oknum kesehatan pada umumnya. Hendaknya kepulauan-kepulauan kecil ini juga terjamah untuk hal yang berhubungan dengan peningkatan kualitas kesehatan bukan hanya memanfaatkan sebagai objek wisata melepas penat para farmasis mengurusi kesehatan yang lebih baik untuk Indonesia.

 

Sumber :

Survey langsung ke Kepulauan Seribu khususnya Pulau Untung Jawa

http://www.surya.co.id/2009/10/13/90-persen-bayi-di-kepulauan-seribu-menderita-anemia.html

www.pulauseribu.net

Jurnal : IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM SPONS CALLYSPONGIA SP DARI KEPULAUAN SERIBU

Oleh : Endang Hanani, Abdul Mun’im, Ryany Sekarini

Departemen Farmasi, FMIPA-UI, Kampus UI Depok 16424

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s