Efek Air Mancur

Tri dharma Perguruan Tinggi mungkin menjadi hal yang wajib disebut di dalam proposal-proposal kegiatan mahasiswa, sehingga seperti tidak ada kata lagi, tidak ada falsafah pengganti lagi untuk tiga janji perguruan tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat ini. hal yang sering disorot adalah pengabdian masyarakat, pengabdian seorang agent of change untuk ikut bersama-sama masyarakat. mulia sekali bukan? lalu bagaimana kah realitanya? pengabdian masyarakat oleh mahasiswa itu sendiri memiliki banyak perspektif pemikiran. saya pun punya pendapat pribadi. pengabdian masyarakat tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan sosial tiap pribadi manusia. pengabdian masyarakat memiliki arti lebih dari sekedar peduli dan pemenuhan sisi tersebut, perlu pemahaman mengapa ini wajib dilakukan walau sambil jalan dengan modal awal adalah kepedulian dalam diri, yaitu perubahan kehidupan banyak orang ke arah lebih baik. saya berpendapat bahwa saat mahasiswa ada kewajiban untuk melakukan hal tersebut. belajar berinteraksi dengan masyarakat dan memulai berkontribusi bersama-sama masyarakat walau masih jauh dari kesempurnaan konkrit, merupakan suatu kebutuhan kita untuk melakukannya. untuk apa ? toh dengan melunasi kewajiban sebagai mahasiswa belajar dengan baik di bangku perkuliahan kemudian setelah itu, setelah berbekal ilmu yang banyak baru lah kembali lagi kita ke masyarakat. baru disitu memberikan kontribusi yang nyata. tapi dengan sistem pendidikan sekarang yang semakin mengajarkan kita untuk memenuhi kebutuhan pribadi terlebih dahulu yang tak ada ujung-ujungnya padahal bisa dilakukan paralel untuk memenuhi kebutuhan banyak orang juga saya tak yakin kontribusi itu akan nyata dan pasti banyak yang tergelincir, termasuk mungkin saya (naudzubillah). jadi saat mahasiswa adalah saat yang paling berharga, kita ada di posisi yang dipandang, punya identidas, suara dan gerakan punya power tersendiri. termasuk untuk sama-sama berkembang bersama masyarakat. walaupun masih dalam tahap pembelajaran mengenal apa itu masalah dan kebutuhan di masyarakat, bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat sehingga tercipta simbiosis mutualisme dan masyarakat mau mandiri dengan kita menjadi penjembatannya, dll. Diharapkan setelah kita dikembalikan lagi kemasyarakat (lulus), kita telah mengenal medan dan goal besar perubahan kearah lebih baik pun dapat segera terwujud.

bayangkan jika sejak di mahasiswa kita tak pernah berbenturan dengan realita, kebanyakan ide-ide atau konsep kita yang besar nan kreatif kurang dapat dibenturkan dengan realitas atau permasalahan yang ada, sehingga lemah dalam pengaplikasian ide tersebut.Diharapkan gerakan pengabdian kepada masyarakat disadari sebagai kebutuhan atau bahkan kewajiban bagi mahasiswa bukan hanya karena ketertarikan semata. Untuk menciptakan nilai dan budaya bermasyarakat ini, penting adanya partisipasi semua elemen yaitu mahasiswa, pihak rektorat, dan masyarakat untuk saling melengkapi bukan saling ketergantungan.

jika niatnya benar, jalan yang ditunjukkan pun akan benar karena semesta akan mendukung

mahasiswa kampus gajah pun telah banyak yang bergerak ke arah ranah pengabdian ini, yang perlu kita benahi mungkin niat dan pola pikir terhadap hal ini, bahwa kita dan masyarakat adalah subjek, dengan objeknya adalah suatu tempat atau daerah atau lingkungan atau kehidupan yang berdampak positif dan bergerak ke arah yang lebih baik. jadi tidak ada niat hanya ingin mengaktualisasi diri.

tidak bermaksud membaginya berdasarkan tempat, mahasiswa kampus gajah ini telah banyak yang memiliki desa-desa binaan. namun terkadang kita memperhatikan hal-hal yang jauh dari pandangan kita, tapi akhirnya tidak jarang memperhatikan hal-hal yang dekat. saya sebut dengan efek air mancur, air mancur bila disemburkan dari pusat akan memancur hingga batas terjauh, namun disekitar pusat tersebut tidak terkena dampaknya. Mungkin inilah yang terjadi saat ini di universitas-universitas termasuk kampus gajah, yaitu sudah berkurangnya berinteraksi dan kepekaan dengan masyarakat sekitar. Paradigma saling cuek antara masyarakat sekitar dan mahasiswa perlu diubah sedikit demi sedikit sehingga membangkitkan kembali nilai dan budaya bermasyarakat yang saat ini sedang turun.

kampus gajah terletak di Kelurahan Lebak Siliwangi, Bila sejenak dipikirkan, Apa saja ‘aset’ Kelurahan Lebak Siliwangi  ?

  1. HUTAN KOTA PERTAMA DI DUNIA. diakui oleh PBB
  2. World Class University, Institut Teknologi Bandung
  3. Yayasan Pembangunan Masjid Salman
  4. Pusat Kuliner, Gelap Nyawang
  5. Wisata Kebon Binatang
  6. SABUGA-SARAGA
  7. CAR FREE DAY dan FACTORY OUTLET

Itu artinya kelurahan Lebak Siliwangi menjadi point of interest kota Bandung, menjadi tempat dengan banyak orang yang memiliki kepentingan di sini, sebagai contoh tokoh-tokoh nasional maupun internasional berkunjung ke ITB. Oleh karena itu, ada hak pengelolahan lingkungan Lebak Siliwangi menjadi lebih baik dan nyaman oleh masyarakatnya. Masyarakat disini siapa? Masyarakat disini adalah keluarga Lebak Siliwangi. Anggota keluarga Bukan saja masyarakat yang berdomisili di kelurahan tersebut, namun juga pihak rektorat institusi, mahasiswa, dan pemerintah setempat (kelurahan). Elemen-elemen tersebut bekerjasama dan memiliki peran penting di keluarga Lebak Siliwangi. Suatu hubungan keluarga yang baik akan tercipta bila masing-masing anggota didalamnya telah memiliki sense ‘merasa memiliki’ keluarga tersebut. Selain itu, membangun keluarga yang harmonis juga memerlukan komunikasi yang baik antar sesama anggota keluarga. Pertanyaannya adalah apakah setiap elemen dalam keluarga Lebak Siliwangi ini telah merasa memiliki lingkungannya ?

Mahasiswa tidak hanya selalu menjadi subjek dengan objeknya adalah masyarakat yang berdomisili di kelurahan ini,sebagai contoh dengan membuat suatu program atau kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan masyarakat. tetapi di sini yang menjadi subjek juga adalah masyarakat dan pemerintah dengan objeknya adalah Lingkungan Lebak Siliwangi. Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kesemuanya elemen menjadi subjek dengan peran masing-masing untuk menciptakan lingkungan kelurahan Lebak Siliwangi yang sesuai visi kelurahan.

Bila dibandingkan dengan era tahun 70-90an, Karakter mahasiswa era milineum tiga dinilai telah mengalami penurunan, terutama karakter peka untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Budaya bermasyarakat mahasiswa saat ini hanya bersifat transaksional (seperti penjual dan pembeli) dibandingkan hubungan kultural. hal tersebut semakin terdegradasi dan selanjutnya terciptalah sekat antara masyarakat dan mahasiswa. Permasalahan ini perlu solusi secepatnya, sebelum budaya itu benar-benar hilang. Yaitu dengan menciptakan kembali komunikasi yang intens dan kultural. Komunikasi baik akan menciptakan keterbukaan, kepekaan, dan akhirnya memotivasi gerakan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa dengan inovasi-inovasi baru.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, masyarakat pun berperan menjadi subjek untuk menciptakan keluarga yang harmonis serta membantu pembentukan karakter mahasiswa. Masyarakat diharapkan juga dapat inisiatif membuka jalan interaksi mahasiswa dengan melibatkan mahasiswa dalam agenda-agenda RT/ RW setempat hingga kelurahan. Hal ini menjadi salah satu yang dapat menumbuhkan empati di kalangan mahasiswa.

Begitu pula dengan pemerintah, baik rektorat maupun pemerintahan daerah setempat (kelurahan dan kecamatan). ITB yang memiliki visi  “world class university”  diharapkan juga memberikan dampak positif tidak hanya terasa di dalam kampus, namun juga dampak positif tersebut bergema untuk sekitarnya, sehingga ITB  tidak menjadi sebuah menara gading, seakan seperti benteng yang selalu terlindungi. sekali lagi, tidak bermaksud membagi berdasarkan tempat, Pengabdian yang ditargetkan di desa atau jauh dari kampus ternyata belum bisa dengan signifikan mengubah karakter mahasiswa agar menjadi peka secara sosial dan punya kepedulian yang lebih pada lingkungan. Mengangkat gagasan pengabdian kepada masyarakat sekitar menjadi sesuatu yang kongkrit dan menginspirasi di tengah skeptisme dan pesimisme masyarakat kepada mahasiswa (tizar, 2011).

Duduk bersama Keluarga Lebak Siliwangi bisa menjadi starter untuk mencapai budaya bermasyarakat terutama bagi mahasiswa, jadi dampak terbesar yang ingin ditimbulkan yaitu untuk mahasiswa agar mengasah kepekaan sosial dan budaya berinteraksi sehingga menjadi motivasi untuk saling berbagi dengan masyarakat. Selain itu, diharapkan bisa memotivasi mahasiswa untuk menjadikan lingkungan ini tempat mereka mengaplikasikan program keilmuan yang sesuai pastinya dengan kebutuhan masyarakat. Agenda duduk bersama ini sendiri diharapkan selain menjadi wadah sharing dan diskusi warga, rektorat, dan mahasiswa, juga dapat akhirnya menggabungkan pemikiran dan memotivasi untuk saling melebur sehingga kedepannya dapat terbentuk hubungan kekeluargaan yang semakin erat. komunikasi ini perlu intens untuk membangun kembali chemistry , namun diharapkan silaturahmi-silaturahmi selanjutnya berbuah pada adanya suatu progress untuk lingkungan Kelurahan Lebak Siliwangi, terus berprogress hingga cita-cita bersama tercapai. 🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s