Neighborhood Meeting

Pertemuan keluarga Lebak Siliwangi ini diadakan hari minggu, 4 Desember 2011 di lapangan CC Barat. mungkin ini kali pertama pemerintah yang diwakili pihak rektorat, dan pihak kelurahan, warga yang diwakili para RW, dan mahasiswa duduk lesehan bersama di sebuah lapangan kampus gajah setelah mungkin sering saat era 70-80an. pertemuan tersebut merupakan suatu bentuk silaturahmi dan saling sharing dengan narasumber yaitu Arif (alumni FA2005, saat mahasiswa pernah tergabung dalam forum Ganesha karena menjabat sebagai ketua RT. sulit sekali mungkin mendapatkan mahasiswa yang menjadi ketua RT), ketua RW3 (Rw dimana kampus gajah berada), bapak Lurah (Nur Shomaddin), perwakilan salman, dan pihak Rektorat merangkap sebagai ketua RT 4 (RT kampus gajah), pak Wedyanto.

Pak Nur, begitu pak Lurah akrab disapa menyampaikan pengetahuan tentang lebak siliwangi. lebak siliwangi merupakan kelurahan yang terbilang cukup besar, Lebak Siliwangi memiliki sarana prasarana yang mendukung diantaranya ITB, badan penelitian nuklir, hutan kota dunia, dan sebagainya. namun potensi terbesar yang ada ialah ITB yang didalamnya tempat mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi dimana seharusnya memberikan dampak yang baik bagi warga sekitarnya, namun di Kelurahan Lebak Siliwangi masih terdapat 228 keluarga miskin dari 1086 KK.

saya agak kecewa terhadap beberapa mahasiswa yang berkunjung ke kelurahan, ketika ditanya siapkah dirinya mengaplikasikan keilmuannya kepada masyarakat Lebak Siliwangi. jawaban mahasiswa tersebut bahwa keilmuannya agak sulit jika diterapkan di lingkungan sekitar ITB. saya puun mengetahui bahwa pengabdian masyarakat adalah salah satu kewajiban dari mahasiswa, namun tidak semua masyarakat mengetahui hal tersebut namun beberapa jurusan di ITB telah melaksanakan pengabdian masyarakat ala mereka. besar harapan saya agar mahasiswa-mahasiswa ITB  bersama-sama dengan warga membangun interaksi dan lingkungan yang lebih baik lagi di kelurahan Lebak Siliwangi

kemudian pemaparan dilanjutkan oleh pak Iwan, ketua RW 3.

di RW 3, hanya terdapat 85 KK, interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat RW 3 hanya disekitar Sumur Bandung. Dahulu mudah bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar karena mereka memang tinggal di sekitar kampus. pak Iwan sendiri menjabat sebagai ketua RW sudah cukup lama dan interaksi dengan mahasiswa ITB cukup baik karena jarak yang cukup dekat dibandingkan RW yang lain, namun agak turun karena di RW 3 tidak banyak lagi mahasiswa yang tinggal. pak Iwan memberikan tawaran dimana mahasiswa bisa terlibat :

1. program mitigasi bencana, dimana mahasiswa dapat melakukan pemetaan sosial di tiap RW di Kelurahan Lebak Siliwangi

2. permasalahan lahan parkir dan pedagang ganesha, bersama masyarakat dan mahasiswa kita dapat terlibat dalam mengatur ini. kita dapat bersama-sama membuat sistem yang mandiri.

lain halnya dengan kedua narasumber sebelumnya, ka Arif (fa 2005) lebih menitik beratkan bahwa ITB harus punya identitas. identitas sangat penting dimiliki dan pengabdian masyarakat dapat menjadi identitas bagi mahasiswa ITB. banyak kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa ITB yang memberdayakan kemampuan warga seperti yang dilakukan salah satu alumni sipil 2005, beliau membuat usaha konveksi yang meberdayakan pengrajin-pengrajin konveksi di daerah suci. intinya, bagaimana kita sebagai mahasiswa menunjukkan identitas tersebut, setelah itu pantaslah jika kita disebut sebagai putra-putri terbaik bangsa.

pak Wediyanto, selaku perwakilan pihak rektorar yang juga direktur sarana prasarana merangkap juga sebagai ketua RT 4 memaparkan bahwa ITB sudah menjadi world class university diharapkan memberikan dampak yang world class juga kepada warga sekitar. dan ini menjadi tanggung jawab bersama mahasiswa sebagai warga terbanyak ITB.

besar harapan mahasiswa-mahasiswa ITB lebih mengeratkan dan merapatkan barisan melaluo pengadaan atau mengikuti kegiatan-kegiatan di Lingkungan sekitar. dari pertemuan ini, terlihat bahwa masyarakat menunggu inisatif mahasiswa sedangkan mahasiswa belum mengerti bagaimana berinteraksi dan mengikuti kegiatan di liingkungan sekitar kampus ini. disini terlihat adanya saling tunggu-menunggu, diharapkan kedepannya komunikasi dapat terjalin lebih baik lagi sehingga mahasiswa dan masyarakat dapat saling melengkapi. kedepannya, dengan adanya permasalahan sekitar ITB, dapat menciptakan kolaborasi antar mahasiswa untuk lebih berkontribusi.

Ketika Bung Karno mendapatkan kelulusan dari Techinse Hooge School (Nama lama ITB), rektor ITB kala itu berkata, “Karno, sesungguhnya ijazah ini akan lekang dimakan zaman, tapi karakter kamu sebagai lulusan THS-lah yang akan selalu abadi).

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s