Sesar Lembang

Untuk tahu kebutuhan masyarakat memang harus diimbangi dengan studi lapangan juga, selain seneng karena jalan-jalan, studi lapangan juga memberikan kita inspirasi selain berdiskusi hanya berdasarkan literatur dan diasumsi-asumsikan. maka, minggu, 13 februari 2012, saya diajak dono dan yudha untuk belajar lebih banyak mengenai kebumian, kegempaan dan khususnya sesar lembang. ilmu yang cukup baru bagi seorang mahasiswa-yang-sebentar-lagi-lulus untuk mempelajari ilmu lain selain tentang kefarmasian. studi lapangan ini berhubungan sama suatu gagasan yang ingin diinisiasi dan dikerjain bareng-bareng mahasiswa ITB lainnya, tentang ITB siaga bencana.

ITB siaga bencana ini isu awalnya dimulai dari kian banyaknya penelitian tentang sesar lembang yang bisa menjadi bencana besar di Bandung dan sekitarnya, mau ga mau siap ga siap pasti ITB akan menjadi pusat masyarakat berlindung dari resiko bencana, itu seperti yang terjadi saat gunung merapi meletus, UII, UGM dan UPN  bekerjasama dan berkoordinasi untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat saat bencana. lalu bagaimana dengan kesiapan ITB? kesiapan mahasiswa ITB? untuk dapat menyelamatkan diri dan kemudian menyelamatkan masyarakat. untuk dapat meminimalisir dampak yang timbul akibat suatu bencana sebelum bencana itu datang dengan keilmuan atau keprofesian yang dimiliki.

selama ini wadah pada kelembagaan mahasiswa yang ada tentang kebencanaan baru bersifat peningkatan kepedulian untuk mahasiswa ITB tentang suatu bencana, pemberian materi dan fisik (sukarelawan). hal ini tidak salah, dengan terjun langsung saat bencana menjadikan kita sadar bahwa kita juga elemen dari masyarakat yang harus saling bantu membantu. Tapi ada potensi yang dimiliki yang patut kita kembangkan, yaitu kita bisa mengurangi resiko dan dampak yang timbul akibat suatu bencana (taruhlah bencana tersebut adalah gempa sesar lembang, naudzubillah), dengan mempersiapkan pra bencana-nya.

yak, balik lagi ke cerita weekend kami, tujuan pertama kami adalah gunung batu, yang juga bagian dari sesar lembang. Diatas gunung batu saya bisa melihat betapa padat daerah pemukiman dan kalo terjadi bencana besar dan kita tidak siap, menurut saya mungkin rehabilitasi akan berlangsung lama sekali. setelah itu, sebelum meninggalkan tempat tersebut kami sempat ngobrol dengan salah satu warga desa Langen Sari.

“kalo gempa kecil-kecil mah sering, tapi saya ga tau kalo daerah ini daerah rawan bencana, da saya aja tauna ti koran karena saya baca koran, lamun masyarakat mungkin teu ngartos”

“mun ti pamarintah teu acan aya pencerdasan, ti perangkat pedesaan atanapi kumpulan warga langen sari untuk rescue kebencanaan juga teu acan”

memang hal bernama pencerdasan itu penting ya !

first destination : gunung batu
pemandangan dari atas gunung batu
dono dan yudha dan majalah national geographic

dari desa Langen Sari kemudian kami menuju Desa Cihanjuang (oiya sebelumnya ke lembang dulu buat beli Sule/ Susu lembang, hehehe). di Desa Cihanjuang ini kami bertujuan untuk bertemu sekelompok warga desa Cihanjuang yang membentuk tim rescue bernama Wanagiri. kelompok ini terbentuk atas inisiatif mereka sendiri. berawal dari hobi yang sama yaitu pecinta alam, kemudian mereka berpikiran tidak ingin hanya jalan-jalan menjelajah alam namun juga ingin memberikan sesuatu yang bersifat sosial atau sukarela dan akhirnya terbentuklah tim rescue Wanagiri ini. tim ini berjumlah kurang lebih 15 orang, bahkan sudah sampai mendapat sertifikat dari BNPB. yang menarik dari tim ini adalah mereka juga sekolah bahkan skolahnya lebih lama dri mahasiswa tentang kebencanaan, rescue, dan pengurangan resiko di skolah garasi, sekolah yang memang didirikan di garasi oleh seorang terpelajar yang kami temui setelah kami menemui tim wanagiri ini. selain itu, yang menarik lagi, mereka pintar membagi peran sesuai potensi, ada yang khusus rescue laut, longsor, baca koordinat dll, sehingga kerja Wanagiri pun sangat efektif dan efisien. harapan ke depan, tim ini ga pengen menjadi efek air mancur, rescue untuk daerah2 yang lain namun belum siap dan tanggap untuk desanya sendiri. lama mengobrol akhirnya kami diajak untuk menemui sang gurunda mereka yang membentuk sekolah garasi itu, yang mengajarkan tentang kebencanaan.

di rumah si Gurunda ini, banyak sekali pembelajaran baru.

kalo mau masyarakat sadar berilah pernyataan tegas terhadap suatu daerah rawan bencana sertakan koordinat, sentuh sisi sosialnya misal bila saya korban, anak siapa yang urus?

sentuh juga sisi sosial ekonomi, dari daerah rawan bencana ini, apakah sumber nafkah mereka menjadi area yang terkena dampak juga? beritahukan bila iya, sehingga warga dapet siap-siap mencari alternatif pekerjaan.

hal termudah namun sering dianggap remeh adalah pencerdasan. padahal modern ini, dengan media-media yang sekarang ada kita bisa sentuh sisi psikologi massa. Bila sekarang zamannya media sosial, ya gunakanlah media sosial dengan sebaik-baiknya tapi tetap berdasar ada datanya.

pengurangan resiko adalah bentuk paling tepat. satu lagi yang lebih bahaya bila sesar lembang aktif adalah daerah tersebut banyak sekali SD, sehingga program pengurangan resiko juga dapat menyentuh sekolah juga.

berdiskusi dengan tim wanagiri
mahasiswa. gurunda. dan tim wanagiri

kalo UII terkenal pada rekayasa kebencanaan dan infrastruktur tahan gempanya, UGM dengan kebencanaan dan mengedepankan kepentingan publiknya, STKS dengan kebencanaan dan sisi sosialnya, maka ITB dengan keesklusifannya. wah sayang sekali. tapi saya masih optimis! :D. semoga penelitian2 yang dilakukan sekarang hendaknya selalu bisa diaplikatifkan atau diterjemahkan kedalam bahasa masyarakat sehingga tidak hanya berakhir di publikasi jurnal saja atau meja diskusi.

begitulah weekend singkat saya, terimakasih kepada dono dan yudha, si anak geologi yang super yang mau ngajak saya buat nambah ilmu baru. hoho

kita berpikir bahwa kita mahasiswa punya tempat khusus di tengah masyarakat, sehingga tak pelak kita sering lupa bahwa kita juga elemen dari masyarakat.

bermain itu asyik, bermain itu juga belajar, tapi sayang kalo hanya pembelajaran buat diri sendiri tanpa ada yang bisa diubah oleh semaksimalnya fasilitas yang diri kita miliki. mari kita hancurkan tembok keegoisan masing-masing 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s