Sabtu Berilmu

setelah sekian lama vakum (maaf ya, PJ ga amanah banget deh. tapi sebisa mungkin ini harus rutin terlaksana demi kebaikan dan menyebarnya ilmu. ffufufu), akhirnya hari ini, sabtu 12 mei 2012 diadakan pengajian ibu-ibu yang ke-2 dan tentunya setelah pengajian ada sharing ilmu antar ibu-ibu, ibu guru, dan pembicara yang diundang saat itu. Kali ini yang berkesempatan hadir adalah Tante Agustina. Tema yang di bahas masih seputar pendidikan 😀

Sekilas mengenai sang pembicara dan aktifitasnya

sang pembicara kita kali ini adalah seorang ibu yang hebat mendidik 5 orang anaknya sehingga anaknya disamping berhasil dididik hingga mengecap perguruan tinggi juga menjadi anak yang sangat menghargai ibunya. Saat ini, Tante Agustina aktif di program Rumah Amal Salman yaitu menjadi ketua atau pemimpin RIKSA. RIKSA sebagai salah satu program Rumah Amal Salman, singkatan dari Rumah Inkubasi Keluarga Sayang Anak, merupakan suatu komunitas yang concern dengan pendidikan anak-anak jalanan dan anak-anak duafa, baik pendidikan formal (yaitu bimbel pelajaran yang diberikan bekerja sama dengan komunitas bimbel pelajaran mahasiswa) maupun pendidikan nonformal (seni musik angklung bekerja sama dengan FIM, karate, dan futsal)dan pendidikan agama (mengaji, menghafal hadis, dll). RIKSA sendiri berlokasi di Cisitu-Sangkuriang tepatnya di RT 12 (deket kampung 200). mimpi RIKSA tidak lain hanyalah ingin mewujudkan mimpi anak-anak tersebut, membuat anak-anak bermimpi besar dan berusaha mewujudkannya, “bangun mimpi, wujudkan asa” merupakan tagline dari komunitas ini :). selain anak-anak, sasaran pembinaan yang dilakukan oleh Tante Agustina juga kepada ibu-ibunya, terutama membuat ibu-ibu kampung tersebut memiliki aktivitas positif bersama dalam bidang agama dan ekonomi.

materi hari ini

Upaya Menjadi Orang Tua Amanah Sesuai Ajaran Islam

setelah berkenalan, sang pembicara memulai sharing ilmu bersama ibu-ibu keluarga SBBH, hal pertama yang ditekankan adalah dasar ilmu yang dimiliki untuk bisa menjadi orang tua yang amanah. I-L-M-U

perbuatan tanpa ilmu – kosong, ilmu tanpa perbuatan – kerdil

jangan berhenti untuk mencari ilmu, pentingnya ilmu untuk mencetak anak-anak yang sholeh-sholehah, membanggakan orang tua dan manfaat buat orang lain. menjadi orang tua yang baik tidak lah mudah, perlu upaya-upaya besar yang dipersiapkan sedini mungkin.

“didiklah anak dengan ilmu karena mereka akan hidup di masa yang berbeda dengan orang tuanya”

ada tiga pola mendidik anak, 2 pola sangat sering dilakukan oleh orang tua-orang tua yang tidak memperdalam ilmu mendidik anak terutama yang sesuai menurut ajaran islam, dengan kata lain, tidak siap mendidik anak. 3 pola itu yaitu :

1. pola otoriter

pernah denger Rian sang penjagal? ini bisa jadi produk dari pendidikan orang tua yang otoriter. pola mendidik anak otoriter menjadi pola favorit orang tua, dengan metode ini orang tua menganggap anak akan mandiri dan tegas, padahal, metode tersebut dapat membentuk anak yang cenderung tertutup, takut dirumah, dan berani di luar. biasanya orang tua yang mendidik anaknya dengan metode ini menganggap anakku adalah anakku, diperlakukan terserah orang tua kalo prang tua lagi seneng di sayang-sayang, tp kalo lagi rewel dan bandel di marah-marah dan dididik menjadi apa yang diinginkan orang tua, sebagai contoh sperti ini, anaknya dimasukkan les piano, les balet, dll padahal itu bukan kemauan anaknya namun kemauan orangtuanya (obsesi orang tua). selain itu, tipe khas metode ini adalah punishment dan reward yang berbentuk materi. dan seringkali orang tua yang membuat janji punishment dan reward, tapi orang tua yang merusak janji tersebut. seperti contohnya kalo dapet ranking disekolah akan diberi hadiah mainan, saat anak telah mendapat ranking, ternyata orang tua tidak menyanggupi reward tersebut dan ini berdampak menjadi kekecewaan bagi anak. pun begitu dengan punishment yang diberikan, sering kali terlontar kata-kata doa (go-blog, bandel, dll)  yang membuat alam bawah sadar anak akan menngikuti kata-kata doa tersebut dan terjadilah seperti apa yang diucapkan.

2. pola permisif

inti dari pola ini adalah menuruti semua kemauan anak. sehingga nantinya akan membuat anak terbiasa dituruti dan tidak terbiasa dikecewakan. alhasil, kedepannya akan membentuk karakter anak yang sangat pintar tapi sangat eggois dan sombong.

3. pola win-win solution

nah sebenarnya pola tersebutlah yang diajarkan dalam islam. win-win solution. Nabi-nabi menerapkan model tersebut, sebutlah cerita Ibrahim dan Ismail. saat Allah menyuruh Ibrahim menyembelih Ismail, Ibrahim tidak serta merta langsung membunuh, tapi dikomunikasikan pada Ismail.

pada pola ini, anakku = anak, anak itu diberikan Allah sebagai amanah, yang harus dipenuhi HAKnya

jadi supaya dapat menumbuhkan ‘tunas’ tersebut menjadi buah manis yang dapat dirasakan kelak, gpp bersusah payah saat anak masih kecil. sadar, pahami, dan penuhi hak anak.

apa saja hak anak itu ?

1. kasih sayang dan kehangatan

hak utama anak adalah kasih sayang dan kehangatan. dalam hal ini hendaklah orang tua bersikap adil, adil dalam hal ini seperti kasih sayang dan kehangatan yang sama antar anak sulung, tengah atau bungsu. adil dalam hal ini maksudnya juga kasih sayang dan kehangatan yang sama dari kecil hingga anak menjadi dewasa.

2.hargai anak dengan kata-kata yang baik dan perhatian yang penuh

tegas bukan berarti kasar, dan kata-kata itu adalah doa. jadi jika orang tua sering melontarkan kata yang tidak baik pada anak, maka akan jadilah anak seperti apa yang kita katakan.

3. komunikasi

selain kasih sayang, kehangatan, dan kata-kata baik. hak yang paling penting dan membentuk karakter anak adalah K-O-M-U-N-I-K-A-S-I. komunikasi ini harus dibudayakan di keluarga, antara orang tua dan anak, komunikasi ini perlu intens. dengan komunikasilah kita bisa win-win solution dengan anak, menangkap apa yang anak inginkan dan anak juga mengetahui apa yang orang tua harapkan

4. materi

nah, setelah menguatkan 3 hak utama diatas barulah kita penuhi hak anak tersebut. kebanyakan orang tua masa kini, memenuhi kasih sayang anak dengan materi-materi-dan materi. sehingga menciptakan anak yang materialistis.

ketiga hak sebelum materi-lah yang sebenarnya sangat dbutuhkan anak, selain berhemat (hehe), perhatian, kasih sayang, dan komunikasi membentuk anak yang non-materialistis.

pola pendidikan dan pemahaman hak anak menjadi materi hari ini oleh tante Agustina. diharapkan ibu-ibu  puasnya baru sedikit, sehingga makin penasarann dan aktif mencari ilmu untuk membentuk tunasnya menjadi buah yang manis 🙂

semoga pengajian dan sharing ilmu hari ini berkah, ikatan keluarga SBBH semakin erat, dan karakter anak-anak semakin terbentuk menjadi pribadi yang sholeh-sholehah, cerdas serta peduli.

pengajian pun ditutup dengan foto bersama :

TERIMAKASIH kepada Tante Agustina sebagai pembicara hari ini, orang tua siswa SBBH, ibu guru Susan dan ibu guru Mega sebagai baby day care hari ini. Konsumsi hari ini pun disiapkan, ditata di piring kertas, dan dibagikan oleh anak-anak sholeh-sholehah SBBH. Mereka cukup koperatif untuk membiarkan ibu-ibunya mengikuti pengajian dan sharing ilmu walaupun masih ada beberapa anak yang berlarian kesana kemari, tapi bisa dikomunikasikan dan mereka duduk manis kembali 🙂

Sampai jumpa di pengajian ketiga !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s