Cafe Tujuh

Tepat di pojok ruangan depan, ditempat yang sama, dengan pemandangan yang sama. mobil lalu-lalang, angkot yang ngetem, orang berjalan, pengamen, pengemis, anak jalanan yang tak pantas di jalan, penjaja rokok eceran, dan angin. Ya angin kala ini cukup kencang, walaupun cuaca cerah. beberapa orang kipas-kipas, but i feel cold enough.

Sambil ditemani ice green tea latte, suasana makin cozy, makin senang menulis. diruangan lain, dua perempuan seumuran bergembira dengan gadget-nya, foto sana-sini. kadang orang-orang menyebutnya ‘alay’, padahal mereka tidak mengerti arti alay sebenarnya, biarkan saja semua orang melepaskan kebahagiaan dan menemukan jati dirinya dengan caranya sendiri. sekalipun itu norak sangat ekspresif.

Dari jendela, masih dengan pemandangan sama, Pak Satpam duduk. sebenarnya, tak pantas aku memanggilnya Bapak, Mungkin Mas Satpam karena tampak masih muda, sedang merenung. Sesekali berdiri mencoba memarkir padahal mobil tak masuk halaman parkir. Mas Satpam kembali bolak-balik, lalu duduk lagi. Pernah terbesit pikiran, pekerjaan satpam menjadi pekerjaan inferior dan pekerjaan macam dokter, jenderal yang menjadi pekerjaan superior. kenapa bisa berpikir begitu ? k-u-n-o sekali !.padahal seseorang pernah memberikan ceramah: “asal fokus, punya mimpi, sekalipun harus dilalui dari bawah, dan dijalani dengan simpul senang dan ikhlas, itu passion namanya. ga ada kata malu. justru orang yang pindah-pindah yang sulit buat maju” #JLEB

aku tau pramusaji-pramusaji ini baru. ada yang sudah berpengalaman namun ada juga yang baru belajar. tapi tampak jelas di matanya mereka ingin mencoba, salah satunya mencoba menjadi bagian keluarga ini.

Di depan aku sendiri hanya laptop tak berpenghuni, laptop tersebut tidak pernah mati dan dimatikan seperti semangat penghuninya. Penghuninya sedang asyik bercengkarama dengan pegawai-pegawai. Kadang otak dan nurani terinfeksi rasa bangga karena punya sahabat macam orang ini, ditambah juga bumbu iri karena kesetiaannya pada mimpi, bumbu merasa tertantang untuk bisa juga, serta tak lupa bumbu empati, empati karena khawatir. Aku takut sahabatku ini tidak istirahat. Padahal istirahat itu penting. Menurut buku-buku pelajaran ku, saat tidur adalah saat terbaik sel-sel memperbaiki diri dan organ-organ membentuk energi untuk aktivitas esok hari.

Nah sekarang giliran aku, sedang memikirkan topik apa yang ingin dijadikan bahan majalah kesehatan. Berat rasanya membuat bahan ilmiah menjadi renyah untuk sekedar dibaca apalagi dipahami. Terkadang aku mengutuk diri kenapa tidak pernah adil pada waktu. Membaca dua novel aku bisa lakukan 24 jam, sedangkan membaca buku ilmiah atau buku-buku tentang sektor-ku yang menurutku sama-sama menarik, seakan tak pernah cukup waktu.

“Nona apa yang salah padamu apa enaknya tenggelam dalam khayal”

dan musiktulus menemani sambil nanya-nanya ke mbah google tentang project ini.

p.s : ayo rajin membaca dan menulis, supaya memperkaya kosakata, akhirnya bisa buat novel. amazing ! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s