Diana Oh Diana

” aa uuu ruut laaa ka waa pa pa uu mee gal ” ( aku turut berberla sungkawa papa mu meninggal)

sambil juga menggunakan bahasa isyarat

” ii maa kaa siii” (membentuk huruf t-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h menggunakan isyarat tangan)

diana, dia temanku dari kecil. kami bertetangga. kami sesama penyandang tuna rungu, tapi kami sama-sama mengerti dan memahami bahasa isyarat. kami berterima kasih kepada penemu bahasa isyarat yang memudahkan kami mengenal dunia. diana baru saja kehilangan papanya, papanya meninggal digigit anjingnya sendiri. diana tidak seberuntung aku, masih hidup serba ada. serba berada. diana hidup apa adanya, rumahnya masih rumah kayu seperti di desa-desa di tengah kota seperti ini. aku tak habis pikir. kenapa masih ada rumah seperti itu di tengah kota seperti ini.

papa diana seorang tuna rungu juga, menikah dengan seorang tuna rungu juga. mama diana melahirkan 4 orang anak. anak pertama lelakinya telah meninggal dunia juga karena kecelakaan, anak kedua bernama yanti, aku memanggilnya kakak. dia beruntung, mendapat gen resesif dari kedua orang tuanya sehingga ia terbebas dari keterbatasan berbicara. anak ketiga adalah diana, dan si bungsu bernama jane. jane adalah anak yang pintar, namun sayang. sama halnya dengan kami. punya keterbatasan berbicara. bahkan jane lebih parah. dia benar tidak bisa mendengar dan berbicara. kalau aku dan diana masih bisa mengeluarkan suara walau itu aa uu ee ii oo saja, jane bernasib lain.

anggota keluarga diana tak henti-hentinya menangisi kepergiaan papa. tidak dengan diana. diana begitu tegar. tak satupun air matanya yang mengalir. padahal dia lihat sendiri bagaimana anjing menggigit paha papanya, lalu papanya tiba-tiba kejang dan mengeluarkan buih di mulutnya. sebagai orang yang kurang berpendidikan, diana dan keluarganya tidak tahu harus melakukan pertolongan pertama yang sperti apa. aku ingat saat itu mamanya berlari kencang ke rumah ku. mamanya tak tahu bahasa isyarat, tapi bahasa tubuhnya cukup membuat aku mengerti apa yang telah terjadi. aku bergegas mengambil susu di lemari, aku pernah baca di detektif conan bahwasannya jika keracunan pertolongan pertama untuk menetralkan racun adalah dengan susu. walau sebenarnya aku tahu ini bukan perihal keracunan. INI ANJING RABIES.

pertolonganku ternyata tak mempan, sesampai di rumah mereka aku telah melihat sosok kaku dengan mulut masih berbuih, darah masih mengalir, aku lihat jane terkejut tapi ia belum mengerti apapa, aku lihat diana langsung mengambil handuk untuk memberes semuanya. aku lihat mama begitu terpukul. tak henti-hentinya ia berteriak dan mengguncang-guncang tubuh papa. aku hanya ingin mundur sejenak. aku tak kuasa melihat keluarga ini. lalu aku berbalik badan. pulang. diana memanggil ku. dan berterimakasih. aku hanya menatapnya sambil menahan air mata. mataku sudah berkaca-kaca

diana sayang

diana malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s