A Little School, with Big Dreams !

::A Little School, with Big Dreams !::

“ Bu guyu, Bu guyu! Apay breakdance !”

“ Woh ! setengah kagum“

Dalam hati saya berkata, wah imajinasi anak ini oke punya, dia berimajinasi sedang di lantai breakdance dan melakukan tarian anak ‘gede’ walaupun yang saya liat hanya nunggang nungging.

Beberapa orang mungkin akan mencibir

“Kecil-kecil kok breakdance, terlalu cepat untuk belajar sesuatu yang biasa dilsayakan orang dewasa”

Dari kacamata saya memandangnya lain, dari hal kecil ini kita bisa tau potensi dan bakat anak tersebut, sehingga anak tersebut dapat diarahkan kepada passion-nya, semakin pula dia cepat memahami bagaimana belajar mengembangkan passion dan meraih kesuksesan dari sana.

Adalagi si Ayu (4thn), seorang anak perempuan yang pendiam sekali. Nempel terus sama ibunya, susah deh diajak baris, main bareng anak-anak yang lain atau sekedar ngumpul mendengarkan cerita ibu guyu. Ga boleh ibunya jauh barang itu 3 cm dari dia, kalo iya? tangisnya pun meledak. Tapi ternyata senyumnya merekah dan tertawa bersama saat saya dan 3 temannya mengajaknya menggambar bersama di depan dia. Perlu perhatian ekstra memang. Mereka diajak berimajinasi ke sebuah hutan, hewan apa yang terlihat? Silahkan di gambar ! Tau ayu menggambar apa? Dia menggambar gajah! Tapi saat dilihat gambarnya seperti dua titik saja, kemudian bulatan besar. Sepertinya ia ingin menggambar hidung gajah dari depan, jadi proyeksi ke mata kita yang terlihat hanya dua titik dan satu lingkaran. Tapi ayu tampak senang sekali, dia berimajinasi yang tinggi, menggambarkan apa isi balon pikirannya sebelum pecah karena melihat gambar teman yang lain. Lain waktu dia diajak ke taman, Ayu tampak senang sekali dengan bunga. Dia bahkan lupa mengajak ibunya, yang diajak adalah tangan ibu guyu. Akhirnya anak ini bisa lepas juga dari orang tua dan orang tuanya cukup paham, bahwa disekolah, orang tua membiarkan anaknya bersosialisasi, menumbuhkan kepercayaan dirinya dan menumbuhkan kepedulian antar sesama. Nah disini saya belajar bahwa komunikasi dan perhatian itu sangat perlu, untuk mendorong anak ini mandiri dan maju.

“Zahraaaa !”

saya setengah memekik melihat melihat anak tomboy bernama zahra dengan pipi chubby dan badan gempal naik tower masjid! Haduuhhhh rasanya saya yang bukan orang tuanya saja merasa jantung ini mau lepas dari perikardium apalagi orang tuanya kalo melihat. Teman saya, Yosha, pun dengan cueknya bilang udah biarin aja kalo jatuh pasti kapok. Rasanya saya tidak sependapat.

“Jatoh ntar !” kata saya

“Kalo kamu makin merhatiin, smakin tinggi dia naik !”

oh gitu.. jadi untuk beberapa anak yang suka mencari perhatian ibu guyu, untuk beberapa hal perlu dicuekin, toh sebenarnya… seperti yang saya baca dari sebuah buku psikologi, bahwa umur 3-7 tahun, anak sudah belajar keseimbangan. Jadi jikalau dia merasa bahaya, dia akan kembali ke state dimana dia tidak merasa bahaya. Selang hanya beberapa menit saya cuekin. Si zahra sudah berada disebelah saya.

Turun juga ni anak…

“Ramdhani.. Adon…kenapa saling pukul?. Ramdhani temennya adon kan? Adon juga temennya Ramdhani kan? Ayo saling jabat tangan.”

Di sudut lain, saya liat Yosha, bu guyu juga, hampir saja di tendang perutnya yang sedang mengandung baby. Saya tau perasaannya mungkin ingin marah, namun anger management-nya cukup membuat saya terpukau. “Rijwan, ibu salah apa? Kalau ibu salah, sampe Rijwan nendang perut ibu , ibu minta maaf.” Rijwan terdiam. Dia tau ibu gurunya tidak salah. Ia hanya ingin beraktualisasi melalui gerakan. Yah begitulah memberi pemahaman kepada siswa-siswi sholeh/sholehah ini.

Tibatiba Sheila menarik tanganku. Anak perempuan berambut ikal keriting membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan sekolah ini. gemes ! lucu ! Dia mengajak saya mencuci tangan. Rupa-rupanya sheila suka main air. Saya matikan kran, dia terkejut.

“Kok krannya mati, bu guyu?” Dengan suara serak anak kecil dan pipinya yang gonjang ganjing beserta logat sunda khas Sheila.

“Iya soalnya Sheila udah basah”

Dia lalu pindah ke kran lainnya. Cerdas juga nih anak. Saya matikan lagi. Ketauan deh saya yang matikan. Saya ladeni saja sambil terus ikut mematikan kran jika ia sudah kebasahan. Lama-lama Sheila jadi capek. Dan dia berlari lagi ke dalam kelas.

Pengalaman memperhatikan apay nungging yang dia bilang adalah breakdance dan karakter serta perilaku kawan-kawannya yang lain hanyalah seper-sekian pengalaman saya di sekolah bermain yang dibentuk di suatu lingkungan di daerah kosan mahasiswa ITB, gratis dan untuk anak-anak yang kebanyakan dari kalangan orang tua menengah ke bawah. Tujuannya hanya ingin membuat anak-anak tersebut kembali ke fitrahnya sebagai anak usia dini yang senang bermain. Walau hanya bermodal hati, harapan guru-guru sekolah ini sungguh lah setinggi langit, kelak anak-anak yang diajak bermain sejak dini ini akan menjadi anak-anak sholeh/ sholehah, cerdas, dan peduli. sekolah tersebut tidak ada gedung, tidak ada ruang kelas, melainkan berada di sebuah masjid di salah satu daerah Tubagus Ismail, kadang-kadang ruang kelasnya adalah Kebon Binatang, Museum Geologi, Taman Ganesha atau Taman Lalu Lintas. Ketidakberadaan rumah khusus untuk sekolah tidak masalah, toh melakukan sebuah pengajaran di masjid bukankah akan lebih berkah ilmunya?

Ngobrol-ngobrol tentang pendidikan. Sedikit ingin mengeluarkan our humble opinion about education. Kami, termasuk di dalamnya saya, merasa bahwa kebanyakan orang tua (tidak bermaksud menggeneralisir) sekarang memiliki pola pikir bahwa anak yang pintar adalah yang dari kecil sudah bisa membaca, menulis berhitung atau disingkat calistung. jadi anak-anak kehilangan masa bermain karena dipaksa belajar dari sangat-sangat dini. Bangganya orang tua memiliki anak pintar seperti ini. salah? Tidak salah ! tapi dampak dibatasinya imajinasi dan ke-kreatifitas-an telah terbukti terlihat saat ini, ya pas generasi kita. Seakan semua tumbuh seperti robot, kurang berpikir out of the box, sudah mentok dengan template. Maksudnya? Kita ambil contoh, kalau diminta menggambar gunung, sawah, matahari, dan awan, tak pelak akan digambar sebuah gambaran serasa template yang hampir sama semua dibelahan bumi Indonesia. ya templatenya seperti itu. Bisa dibayangkan sendiri.

Ah tau apa kau ! anak saja belum punya, menikah saja belum. Bah !

Tak ada salahnya mempersiapkan dari jauh jauh hari, daripada nanti-nanti dan tak sempat untuk belajar :p

Masih lanjut tentang robot pendidikan. Kalo ini pure my humble opinion, Beberapa mahasiswa sekarang belajar dengan cara instan, cukup slide dari dosen, hapal mati dan pertanyaan yang keluar semuanya berasal dari slide. Tentu saja jawabannya seakan memindahkan semua slide ke lembar jawaban ujian. Akibatnya? Banyak sekali sarjana-sarjana yang tercetak yang lulus dari bangku kuliah yang kurang mengerti bahkan tidak paham konsep dan esensi dari ilmu-ilmu yang ia dapatkan selama bangku kuliah. Pokoknya dapet gelar ! ini terbukti waktu saya sidang S-1. Pertanyaan-pertanyaan dosennya cukup mudah bila dinalar kembali, semuanya konsep. Tapi karena gaya kita dari dulu tak kokoh akar ilmunya,jadilah seakan belajar selama 4 tahun lamanya dengan tugas seabrek-abrek seperti angin lalu. Seperti tak mengerti apa-apa. Ya lagi-lagi kita salahkan sistem pendidikan. Padahal yang membuat sistem itu siapa ? ya manusia !

Oh tidak bisa (gaya sule) ! #naonsih #ganyambung

Itulah mungkin mengapa saat-saat usia dini memang sepantasnya anak-anak itu bermain bukan belajar, apalagi dipaksa-paksa menuruti hasrat emak-bapaknya karena anak yang pintar adalah yang pintar calistung. Sedangkan yang sering main? Suka diejek-ejek, orang tuanya tidak pernah mengajaknya belajar, padahal dengan mengejek sebenarnya orang tua telah menurunkan kepercayaan diri anaknya. Hehe. Bener ga ibuibu? (Belom nikah dan punya anak nih gue).

Dimasukkan pelajarannya itu ya saat mereka lagi bermain lho !

Iya saya mengeri, Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang sadar  akan hal ini. terbukti dari berkembangnya sekolah-sekolah bermain (play group. Red), PAUD-PAUD yang menggunakan metode bermain sambil belajar. Karena banyaknya sekolah yang bagus nan mahal sekarang, jadi orang tuanya sangat percaya pada sekolah tersebut. Urusan pintar-cerdas-kreatif urusan sekolahnya, wong saya udah bayar mahal. Lupa dia pemenuhan hak anak bukanlah sebatas materi dan bukanlah banyak didapat dari luar rumah tapi pemenuhan hak anak, merupakan tanggung jawab penuh ortunya sendiri.

Sekolah kecil ini Ingin memberikan pelayanan pendidikan anak usia dini yang paripurna, dengan kerjasama, bahu membahu bersama para orang tua anak-anak. Sehingga harapan bersama tentang anak bisa tercapai. Oleh karena itu, acara pengajian ibu-ibu dan guru-guru setiap bulan pun dijadwalkan, tidak hanya pengajian, setelah pengajian ada suatu bahasan yang menjadi bahan untuk didiskusikan bersama, mulai itu tentang parenting, psikologi anak, dan kesehatan keluarga. Diharapkan guru dan orang tua dapat saling belajar, intropeksi, kemudian memberikan pelayanan lebih baik kepada anak-anak.

Waktu pengajian yang kedua, topik yang sedang membahas mengenai pola pendidikan anak yang akan berpengaruh terhadap perilaku anak tersebut dan bahasan mengenai hak anak, yaitu kasih sayang, kehangatan,motivasi dan komunikasi. Pembicara sedang semangat-semangatnya menjelaskan betapa omongan jelek kita ke anak sadar tidak sadar telah mempengaruhi mentalnya. Tiba-tiba Shifa, seorang anak yang baru saja datang dan duduk di sebelah saya, sedikit curcol “ Bapak abdi sering bilang Shifa goblok” wah rasanya sedih banget mendengar pernyataan polos anak tersebut. waktu yang diperbuat hanyalah menatap mata shifa dan bilang : “Shifa, Papa kamu pasti sayang kamu!”

Sekolah kecil ini namanya Sekolah Bermain Balon Hijau. SBBH, begitu singkatannya adalah sebuah sekolah yang dirintis oleh sejumlah teman saya di masa akhir kuliah karena kegelisahan mereka sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jika memperbincangkan TA bikin panas, ngobrol tentang hal-hal lain yang berbau gosip ya dosa. Kegelisahan tidak memberikan kontribusi positif.

Istilah Carpe Diem. Diam itu emas. Tapi kalau diam tanpa tindakan emaspun tidak akan berkilau. Hampir setahun dengan memaksimalkan fasilitas yang ada, SBBH seakan seperti keluarga kesekian bagi kami. Guru yang hanya bisa dihitung jari tak pernah membuat mengeluh karena kekurangan tenaga. Melihat mereka bilang siap ! saat bu guru berteriak : Anak sholeh ! adalah mungkin tenaga tersendiri bagi ibu-bapak guru

Ada seberkas iri pada teman-teman yang mendirikannya dari awal, betapa maunya memikirkan nasib orang lain padahal nasib sendiri saja tak tahu mau dibawa kemana (#sambil nyanyi Armada), bukankah iri dalam kebaikan itu malah baik? asal jangan dinaikkan menjadi taraf pamer kebaikan. Ada noda iri juga karena jadi jarang ngajar akibat prioritas yang lain. kalau saya pun harus pulang kampung, saya harap saya bisa merintis sekolah ini untuk anak-anak yang tak berkesempatan merasakan tumble tots, palm kids, Stanford school dll. :). As i wish. If we want to start a good action, i think God will hear and show the good way.. aamiiin. Terimakasih SBBH ! 🙂

Nb : dulu saya pernah bilang ke teman saya waktu SMP. Sepertinya seneng deh kalo jadi guru TK, and suddenly, God give me a chance for feel His gift :). Thanks so much. Allah always love us. We sometimes dont  love Him. God makes no mistakes.

*kesamaan cerita, nama, tokoh dalam cerita diatas hanyalah nyata namun sedikit digubah. I called it contemporary fiction

3 thoughts on “A Little School, with Big Dreams !

    1. iyaa aku suka ! bebas polos tapi jujur 😀 jadi jangan diajar bohong 😀
      smoga makin sadar harus menyelamatkan peradaban dengan mengajar anak2 (woho, bahasanyaaa)

      1. hehe,,
        Amiin.. Insya Allah teh 🙂
        anak2 memang masih terlalu polos! kalau tidak diwarnai dgn pendidikan yg benar ya yg datang pasti lawannya (read: tidak benar)!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s