A Lesson Learned from Beloved Friend

Gita belum cukup lama mengenalnya. Sekedar mengetahui sih iya.. saat awal masuk kuliah. Itu pun karena mereka sekelas dan Gita sering mendengar namanya di panggil saat absensi. Kemudian mereka sibuk di dunia masing-masing. GIta berkutat hanya di fakultas dan organisasi fakultasnya. Dia sibuk dimana-mana, diberbagai organisasi kampus yang sejalan dengan pikiran dan misinya. Jadi tak pelak lebih banyak kenalannya dibandingkan kenalan Gita di kampus gajah.

Tuhan tak mengizinkan Gita untuk cepat-cepat meninggalkan kampus. Namun waktu satu tahun yang diberikan ternyata membuat Gita mengenal dia. Punya teman baru dan belajar banyak dari teman-teman adalah salah satu kegemaran Gita.

Gita masih ingat, dia adalah orang pertama yang menyapa saat Gita bergabung di BEM kampus untuk mengisi tahun terakhir kuliahnya. Sosok mahasiswa simple yang mengajak Gita berkenalan kepada semua orang, yang jujur saja Gita baru mengenal mereka saat itu. Perkenalan dengan banyak orang sukses membuat Gita bergumam “ hmm.. giini nih kalo gaulnya cuman sama yang sefakultas”. Satu tahun itu benar-benar jadi berharga bagi Gita dimulai dari pertemuan dengannya.

Sejak saat itu, hari-hari di tahun terakhir diisi juga dengan pertemanan bersamanya. Gita melihatnya sebagai sosok yang sangat periang, tak pernah menunjukkan kesedihan, sosok dewasa yang penuh perhatian, yang mengerti apa yang teman-temannya butuhkan. Hidup ga usah neko-neko,ikuti saja jalan lurus yang telah disediakan-Nya. Mungkin mottonya seperti itu.

Dalam hitungan beberapa bulan saja, Gita sudah akrab dengannya. Mulai dari saling mengunjungi kosan untuk saling bercerita, jalan-jalan bersama, makan bersama dan banyak lagi momen pertemanan yang mereka lalui. Tapi ada beberapa momen-momen yang menurut Gita penting dan seharusnya mengajak orang yang lebih dulu kenal dengannya, namun ternyata yang diajaknya untuk melewati momen tersebut adalah Gita yang notabene belum lama berteman. Mungkin baginya biasa saja, tapi cukup membuat Gita merasa dibutuhkan. Atau saat-saat itu mungkin memang sedang tidak ada orang lagi selain Gita.

1 message recieved.

Gita membaca pesan singkat dari temannya sambil menyetir mobil. Hal ini memang kebiasaan buruk Gita

“Assalamu’alaikum Git!. Sibuk ga besok? Mau minta temenin “

“ hmmm… sibuk kalo pagi. Ga sibuk siang. Boleh. Kemana?”

“ ke Antapani !”

“ ngapain?”

“ besok aja ceritanya”

Percakapan via sms berakhir dengan penasaran di benak Gita. Temannya yang satu ini memang penuh kerahasiaan. Jika sesi  curhat, sepertinya kebanyakan Gita yang ngomong dan menumpahkan semua permasalahannya. Sedangkan temannya satu ini, walaupun dikenal banyak ngomong juga, tetapi tak satupun yang menceritakan permasalahan. Semua yang diceritakan adalah pengalamannya yang unik, aneh, lucu, tentang kegembiraan dan kebersamaan dengan keluarganya.

Keesokan harinya, tepat di depan gerbang kampus mereka bertemu. Kemudian bersama-sama menaiki angkot menuju antapani. Antapani lumayan jauh dari daerah kampus namun tidak akan terasa jauh bila sambil mendengarkan cerita temannya yang membuat Gita penasaran.

“jadi ada apakah gerangan dengan antapani?”

“jadi…. aku mau kenalan sama keluarga calon, kalo memang jodohnya aku dengan dia. Rumahnya di Antapani, bulan lalu pihak yang kerumah. Sekarang giliran aku yang kenalan”

 Gita ternganga

“what? Kamu ngajak aku? Ga salah? Knapa ga sama perantara yang jodohin kamu? Atau adik kamu? Atau sepupu kamu? Kenapa aku yang jadi deg-degan?!”

“santai ajaa.. nyari orang yang netral. Dan sepertinya kamu.”

  Gita menelan ludah

“ jadi.. kamu udah proses mau ke jenjang pemenuhan setengah agama? Sama siapa? Kok aku ga tau ya.. ga ada desas desus kabar angin”

“ ada deh.. iya lah dirahasiain”

“ gilak gilak kamu ga deg-degan? Aku aja masih shock. Mana Ga tau lagi orangnya siapa”

“ ntar liat aja”

 Sepanjang perjalanan, pikiran mereka saling melayang. Yang satu melayang bagaimana rupa orang yang akan berkenalan dengan temannya ini, yang satu pikirannya melayang bagaimana membuat diri menjadi tenang. Hari itu benar-benar random bagi Gita.

 Gita dan temannya sudah berdiri di depan rumah yang dituju. Sudah terlihat seorang wanita seumur ibu Gita menyambut mereka.

 “ini rumahnya Kang Irob, ayo masuk Neng. Gmana ga nyasar kan?”

“ tadi nyasar dikit sih, Bu. Abis agak bingung, Bu belokannya”

“ Oya.. Silahkan duduk, ibu ambilin minum”

Lalu mereka masuk dan duduk, keduanya memandang sekeliling dinding rumah. Gita memperhatikan foto-foto yang melekat di dinding. Sayang, Gita lupa membawa kacamata, jadi ia masih samar-samar melihat sosok calon suami temannya ini. Hingga akhirnya lelaki yang bernama kang Irob itu pun muncul bersama ibunya yang membawakan makanan. Kang irob turut membantu. Seketika Gita tercengang. Komat-kamit dalam hati. Subhanallah. Berkahi mereka Tuhan.

Obrolan pun dimulai, temannya Gita memperkenalkan diri, mencoba mengetahui dan memahami keluarga yang sekarang sedang berada didepannya. Awalnya hanya kang Irob dan ibunya, kemudian selang satu jam Ayah kang irob pulang kerja dan obrolan kembali berlanjut. Hingga tak terasa, matahari sudah hampir terbenam. Gita dan temannya pun pamit.

Sepanjang perjalan pulang, Gita memaksa temannya untuk menceritakan perihal menarik ini dari awal. Gita terlihat sangat excited, apalagi saat mengetahui bahwa dialah orang pertama yang mengetahui semua hal yang terjadi dengan temannya ini.

“ ya Ampun jadi si Kang Irob ! yaampunn!!! Itu mah idola semua idolaa. Aku aja nge-fans! Oh My GOD ! huaaaa aku setujuu bangett !! ya Allah bismillah bismillah bismillah” mata Gita terlihat sangat berbinar.

 “ iya makanya doain yaa. Kalo emang jodoh pasti dimudahin jalannya. Jadi sekarang aku udah pasrah sambil tetap berusaha. Ya sejauh ini usaha aku ya berdoa.”

 “ pastii pasti aku turut mendoakan!!!” ujar Gita lantang 

Semenjak ajakan temannya itu, Gita semakin yakin bahwa perempuan yang baik pasti mendapat laki-laki yang baik pula. Dan kalau mau mendapat kebaikan, maka terlebih dahulu kitalah yang berbuat kebaikan. Oh Tuhan memang maha Adil.

 “Neng Gita yang cantik ! tadi aku sudah dikhitbah. Lalu tanggalnya ditetapkan 1 juli. Semoga dimudahkan !”

“ aaargghhh seneng bangett dengernya! Smoga dimudahkan ! kalo mau minta bantuan kabar-kabarin yaaa “

 Begitulah selama masa persiapan, Gita tak luput dari pemberitahuan progres acara besar temannya ini.

 “Besok aku ke Bandung. Bisakah menemani ku?”

“ kali ini kemana ?”

“ pasar baru !!! aku mau beli bahan”

“ argh aku terharu kamu mengajakku. Baik ! bsok aku temani”

 Hari itu hari sabtu, mereka tahu pasar baru akan padat. Pagi jam 8 mereka telah sampai di pasar tersebut. di lantai tempat bahan-bahan kebaya tepatnya.

“ mau warna apa?” tanya Gita

“ hijau sihh kesepakatannya. Hmm tapi ijo yang kayak mana ya?”

“ emang mau buat yang kayak gimana?”

Temannya Gita mengeluarkan secarik kertas. Dibukanya dan terlihat desain baju yang ia rancang

“wooohh kamu desain sendiri?”

“iya ! hehe”

“ gilakk gilakk keren banget ! ayo kita cari”

Akhirnya pencarian mereka selesai dengan ditemukannya beberapa bahan yang akan pas dengan desain tersebut. baru kali ini ia menemani temannya berbelanja kain untuk baju pengantinnya sendiri, yang didesain sendiri. Keren !

 Waktu demi waktu berlalu. Hingga tibalah bulan juni, sebulan menuju momen indah bagi temannya itu.

 Bunyi ringtone sms terdengar

“ Git ! bajunya udah jadi !!!”

“ oiyahh?? Manaaa ? kirimin dong!”

“ bentar yaa”

Tak lama dari percakapan sms ini, email yang berisi foto baju pun diterima Gita. Buru-buru ia melihat dan mengomentari.

 “ CANT WAIT TO SEE YOU! On july 1st soon ! with your own design wedding dress.”

 “ ;). See you soon !”

Malam sebelum hari-H , Gita teringat akan temannya ini, bagaimana ya perasaanya? Gita selalu salut karena temannya melaluinya dengan sangat tenang. Temannya ini tak pernah mengumbar apa yang sedang dan akan terjadi. Tak pernah juga terlihat dekat dengan calonnya atau terlihat takut kehilangan bila tidak saling berkomunikasi. Dia sangat yakin bahwa kesabaran itu berbuah indah, yakin bahwa semua sudah ditentukan oleh-Nya. Kesabarannya benar-benar membuat Gita salut sekaligus iri. iri untuk bisa sesabar temannya, bahwa semuanya indah pada waktunya.

 “ pasti kamu merasa sangat berterimakasih sama ortu kamu ya ! enjoy your night, Allah always bless your families :D”

 “ u right my 1st thanks to Allah offcourse for blessing me by gave me a birth in this lovely famz, n let me be a student of my life, with great teachers of my own. They are my parents “

Minggu, 1 juli 2012 pun tiba. Hari yang menjadi momen indah bagi temannya ini. bukan hanya temannya yang merasakan, Gita serta tamu yang lainnya pun larut dalam haru dan kegembiraan. Ucapan selamat dan doa tentunya terus mengalir bagi temannya Gita. Teman Gita pun tak henti-hentinya memanjatkan syukur atas karunia yang telah diberikan. Orang sabar memang rezekinya lancar. Namun untuk mencapai kesabaran itu sungguh berat, semakin mencoba sabar semakin besar pula rintangannya. Dari sekian banyak pernikahan teman-teman Gita yang ia hadiri, baru kali ini Gita merasa acara ini sangat berkah walaupun dilangsungkan dengan sangat sederhana. Begitulah salah satu bab hidup temannya yang membuat Gita belajar dan memahami.

Setelah menikah, temannya akan tinggal di Jogjakarta, sedangkan Gita di Bandung. Mungkin akan jarang bertemu Gita. Sebelum pulang, mereka saling berpamitan.

“ yah… udah jarang ketemu lagi dong sekarang. Take care ! sering-sering ingetin aku yah” ucap Gita

“ makasih banyak yah ! iya jangan lupa kabar-kabarin “

Mereka pun berpelukan, menepuk pundak masing-masing untuk saling menguatkan. Begitulah yang tidak disukai dari sebuah pertemuan adalah perpisahannya. Gita pun beranjak pergi dan kembali ke rutinitasnya, siap untuk hari-hari baru ke depan yang tentunya akan menorehkan cerita yang selalu berbeda. Satu pelajaran yang berhasil Gita dapatkan dari sahabatnya ini, yaitu bagaimana caranya bersabar.

This story tribute for my beloved friend because of her new life story. Thank you Allah for an affection that you gave from my beloved friend, Diedha. Thank so much Diedha for the lessons learned ! Barakallahu :D. May Allah always bless your new famz and your way that youve must to pass it. Dont forget me and take care in Jogjakarta !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s