Viva La Pharmacie, Meracau KP

Menurut beberapa orang termasuk saya, hal yang ingin saya bahas di tulisan kali ini tentunya adalah isu lama. Isu lama yang sering dibahas. Untuk saya pribadi, mungkin menjadi isu yang baru disadari. Mungkin karena saya menjumpainya langsung. Tanpa perantara. karena saya sedang kuliah praktek profesi apoteker di salah satu Industri farmasi yang digaet menjadi anak perusahaan salah satu industri besar farmasi se-Asia. Menurut opini yang beredar, peng-gaet-an ini berkaitan dengan isu program pemerintah mengenai kesehatan gratis di Indonesia. tentunya akan pakai obat generik yang banyak. Perusahaan tempat saya KP ini memproduksi obat-obat berlogo generik, walaupun tidak semua produknya adalah generik. Sehingga menjadi potensi besar untuk menanggapi rencana pemerintah.

Ruangan lab selalu sukses membuat saya hampir jatuh ke alam mimpi. Ditambah tugas KP yang membutuhkan untuk memperhatikan analis yang bekerja setiap hari yang kemudian dibuatkan rancangan perbaikan untuk peningkatan kerja. Disajikan dalam bentuk sebuah dokumen pendukung, instruktur kerja, standar urutan kerja, atau SOP. Kalo kita ambil garis tengahnya adalah dokumen. Tapi mengikuti kemana saja analis bekerja adalah hal yang menyelamatkan saya dari penyakit bosan dan ngantuk di lab. Walaupun nantinya, ‘survey’ lapangan tersebut dilaporkan dalam bentuk dokumen yang dikerjakan di meja kerja yaitu di lab, itu artinya? Ga boleh ngantuk di lab ! (gimana ga ngantuk? Sepi sunyi ga ada musik, ga ada hiburan. Yaleah namanya juga pabrik obat. Kalo pekerjanya joget-joget trus obatnya jadi tumpah ya berabe juga)

Petualangan menjelajah gudang menjadi kegiatan harian. Mengikuti analis menyampling raw material untuk diuji kualitasnya, dimana kualitasnya dijamin dengan label bertuliskan release yang menjadi tiket emas Raw material di lanjutkan ke proses produksi. Setiap masuk gudang membuat idealisme kembali muncul.jiahh. bahwa Indonesia masih belum mandiri. Masih banyak peluang !

Mengapa?

Cukup sering saya bertanya-tanya mengenai mengapa obat paten mahal dan ampuh, mengapa obat generik jadi obat dewa, diproduksi tapi jarang di percaya  menimbulkan angka kesembuhan yang besar. Padahal setiap sediaan farmasi atau obat yang diproduksi haruslah memenuhi 3 kriteria : SAFETY EFFICACY dan QUALITY. Berarti smuanya berkualitas bukan? Banyak orang beranggapan Semakin mahal obat semakin ampuh! sebenernya ungkapan tersebut ada benarnya ada salahnya. Benar karena semakin mahal obat semakin tinggi teknologi yang menjadi bagian dari produksinya, salah karena seampuh apapun obat ada faktor lain yang akan mempengaruhi pengobatan seseorang, seperti definisi sehat menurut WHO adalah keadaan yang sehat baik fisik, psikis dan sosial. Obat bisa menyembuhkan sisi yang mempengaruhi fisiologis atau fisiknya, namun tidak untuk psikis dan sosial site-nya. 

Balik lagi ke masalah generik dan paten. Sebelumnya mari kita membahas apa itu generik apa itu paten. Obat generik adalah obat yang menggunakan nama dagang sama dengan nama INNnya misalnya nama INN adalah paracetamol. Nama dagang obat tersebut juga paracetamol. Itu artinya nama generik. Generik juga dapat dilihat sekarang dengan adanya logo disudut kanan atas. Obat generik biaya pemasarannya juga ditanggung oleh pemerintah. Sebut saja subsidi biaya marketing shingga bisa jadi hal ini menjadi salah satu sebab mengapa obat generik murah.

Lalu Apa itu obat paten ? obat tersebut disebut juga obat inovator yang ditemukan baru dan memiliki hak paten selama 5-20 tahun (tergantung patennya dimana). Setelah paten obat tersebut habis, barulah industri-industri bisa meng-copy-nya. Obat paten ini bisa ampuh namun mahal karena sangat memperhatikan spesifikasi dari komponen-komponen penyusunnya. Misal zat aktifnya. Kenapa obat generik atau obat yang diproduksi ulang setelah masa paten obat tersebut habis, menjadi kurang ampuh di banding paten? Ternyata orang-orang yang membuat obat paten memiliki terobosan baru dalam bentuk kristal dari zat aktif yang dipakai yang menunjukkan efikasi yang lebih baik dibandingkan obat biasa (salah satu contoh). Seharusnya obat generik bisa juga menggunakan trobosan tersebut. namun kembali lagi, mungkin disini harga berbicara. Biaya Marketing generik mungkin ditanggung pemerintah namun tidak dengan produksinya? Atau mungkin anggaran tidak cukup untuk produksi yang menyerupai paten. Bisa jadi juga karena setiap paten berhak atas kerahasiaannya. Yang penting Masuk dalam rentang kualitas yang dipersyaratkan sudah cukup untuk generik. Tak pelak yang dapat membeli obat paten hanyalah kalangan-kalangan yang ber-uang. Padahal beberapa penyakit belum ada obat generiknya, masih berupa obat patennya, misalnya obat kanker, obat yang mempengaruhi sistem imun, dan beberapa penyakit lainnya. Warga-warga yang perlu disubsidi lebih banyak untuk menjamin kesehatannya, tak sanggup untuk membayar obat-obat paten tersebut, dan obat generik pun kurang ampuh.

Sebuah peluang bagi industri tanah air, bagi para apoteker, bagi para insinyur-insinyur.

Apa hubungannya dengan awalan cerita ini, bahwa Indonesia belum mandiri? Setiap jalan-jalan ke gudang,setiap membantu menempel label release atau reject jarang sekali atau bahkan hampir (baru hampir) tidak terlihat produsen bahan baku obat yang pabriknya ada di Indonesia yang kaya akan SDA ini dan asli punya dalam negeri. Indonesia baru bisa menjadi sebatas supplier. Beberapa bahan yang saya lihat yang produsennya Indonesia adalah gula, gula sebagai bahan eksipien atau bahan tambahan dalam obat. Bukan bahan aktif. Jika setidaknya ada bahan baku terutama bahan aktif yang merupakan produksi dalam negeri, tentunya mungkin akan mengurangi biaya distribusi sehingga biaya obat akan lebih murah. Ahli-ahli di Indonesia juga masih perlu ekstra kerja keras di Indonesia untuk mengembangkan ilmu dan teknologi kefarmasian untuk meningkatkan kualitas obat tak terkecuali setaraf obat generik sekalipun. Sayangnya, industri bahan baku di Indonesia, spesifikasi produknya memang belum bisa mengalahkan bahan baku impor. Terkait juga karena teknologi yang dimiliki walaupun secara SDM kita mampu. Wong banyak kok profesor Indonesia yang dipanggil untuk konsultasi zat aktif, atau formula sediaan farmasi ke negara-negara macam jerman atau belanda. Banyak profesor yang sudah ahli di bidang tertentu. Kristalografi, sintesis, komputasi, dll.

Sebenarnya ada satu hal lain yang juga menjadi pemikiran banyak orang bagi bidang kefarmasian hulu ini. produksi, quality control, quality assurance, RnD menjadi bagian-bagian yang agak membosankan bagi farmasis muda saat ini. semuanya lebih banyak menginginkan berkecimpung di bidang marketing. Alasannya simple, bertahun-tahun di lab, berbicara dengan benda mati saja, bosan. Ingin banyak bertemu benda hidup. Marketing obat menjadi merajalela. Contoh kecil yang termasuk marketing adalah iklan, Bisa dihitung saat jeda antar acara di televisi ada berapa jenis iklan obat yang ada. Marketing ini bisa menjadi bomerang bagi farmasis. Marketing bisa membutakan sisi sosiofarmasi dan farmakoekonomi. Alih-alih diharapkan menjadi keprofesian yang meningkatkan kesehatan masyarakat, namun malah memperburuk kesehatan karena membuat masyarakat tidak mampu membeli obat atau menggunakan cara pemasaran yang membodohi masyarakat.

mari farmasis muda ! kita bagi-bagi peran yok, liat passion masing-masing di bidang farmasi, hindari mengikuti trend dunia kerja farmasi saat ini. masih banyak peluang. Dan peluang itu diciptakan 😀

 IMHO

Ditulis dengan keresahan. Banyak sekali yang perlu dibenahi. VIVA LA PHARMACY !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s