Diorama Mimpi

Matahari tersenyum sangat sumringah, semua orang dibuat tersengat pancaran senyumnya. Tapi bukannya bahagia diberi sedekah senyum oleh matahari, kebanyakan orang memintanya untuk bersembunyi di balik awan saja. Jam tangan ku menunjukkan angka 2 dan angkot ini masih berada di daerah Setia Budi. Kira-kira dengan laju pelan seperti ini, 30 menit lagi baru sampai Gandok, sebuah perumahan kumuh dekat sungai Cikapundung. Aku melirik Ayya, dia duduk di bangku paling pojok sambil mencari angin dari kibasan buku tulisnya. Aku dan Ayya akan kembali mengajar setelah sekian lama sibuk bekerja. Kami rasa kami perlu sejenak berlibur bersama anak-anak yang perlu diajar dan diajak bermain. kami punya tujuan sama, membuat mereka tertawa riang.

“Bang, depan kiri ya!” Ayya memecahkan lamunanku. Ternyata sudah sampai.

“Ngalamun waee, Neng!” ujar Ayya sambil mengajak aku turun

 Ini kali pertama kami ke daerah Gandok. Kemarin kami menemukan rumah yang bisa digunakan sebagai tempat berkumpul dan memulai kegiatan belajar sambil bermain. Untuk mencapai rumah tersebut, kami harus masuk gang sempit terlebih dahulu. Rumah ini hanya memiliki ruang tengah dan kami beri nama rumah matahari. Bukan. Bukan karena kami ingin berpuitis agar orang-orang yang mengisi rumah ini seperti sang surya menyinari dunia, melainkan lebih ke makna denotasi, atap rumah ini banyak yang bolong, sehingga sinar leluasa masuk, malah saking banyaknya seperti beratapkan matahari.

Hari sudah menginjak pukul 4 saat kami memasuki rumah. Anak-anak sudah berkumpul, ada sekitar 15 anak yang berusia kisaran 3-5 tahun. Setiap sore, setelah tidur siang, anak kecil memang ingin bermain bersama teman-teman sebayanya. Kami kumpulkan saja semuanya dalam rumah ini. Kita akan bermain bersama disini dan tentunya juga mendapat banyak pelajaran. Kita sulap rumah matahari menjadi sebuah play ground yang nantinya mengisi momen masa kecil kalian.

“ Ibuuu guyuu !” mereka berlari ke arah aku dan Ayya. Bergantian meminta bersalaman.

Di rumah ternyata sudah ada Aisha, Yanti, dan Okta. Aku kaget dengan kehadiran mereka. Entah Tahu dari mana mereka bahwa aku dan Ayya hari ini akan mengajar lagi, di tempat yang baru ini. Aku bahkan baru berencana mengabarkan mereka setelah hari pertama mengajar. Namun aku malah senang, niat ini sampai bahkan sebelum aku mengutarakannya.

“ Masuk ya, Bu! “ aku menyapa ibu-ibu yang menunggu anaknya di luar rumah

“ Mangga, Neng! anak-anak udah ga sabar ketemu teteh-teteh ceunah” ujar salah satu ibu yang membuat semangat kami membara.

“ Assalamualaikum !! halooo anak-anak!” sapaku riang

“ Waalaikumsalam !” jawab mereka serentak. Lucu. Apalagi ditambah lisan mereka yang masih cadel

“ pinterrr ! udah bisa jawab salam..siapa yang mau main ?? siapa yang mau kenalan sama ibu guuyu??”

“ akuuuu ! “ semuanya mengacungkan tangan

“Kita kenalan dulu yaa sambil ibu ajarin nyanyi. Okeee? “

“ horeee!” mereka tertawa riang

Ayya mengajak untuk saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran besar, kami akan berkenalan sambil bernyanyi. Suasana ramai sekali, anak-anaknya terlihat sangat ceria dengan kegiatan baru ditempat tinggal mereka ini. Setelah berkenalan dan bernyanyi bersama, anak-anak dibebaskan untuk berekspresi. Anak-anak berlarian kesana kemari, saling berkejaran,mereka main kucing dan anjing. Saking semangatnya, seorang anak perempuan tersandung dan keningnya berciuman dengan dinding rumah. Aku dan Aisha langsung berlari ke arahnya, ikut mengusap keningnya. Ternyata ia tidak menangis, malah tertawa dan duduk di pangkuanku. Dia mengingatkan ku pada Sheila, salah satu anak di sekolah bermain tempat aku mengajar dulu sembari mengisi waktu luang kuliah. Rambut ikal, mata sipit dan pipi gembul, membuatku gemas dan tak tahan mencubit, kemudian dia berteriak manja.

Selang dari kejadian sheila, aku melihat Okta menarik keluar seorang anak laki-laki dari kerumunan. Ia menangis karena terdorong hingga jatuh oleh salah satu temannya saat berlarian. Okta mencoba meredakan tangis anak ini sambil menggandeng tangannya menuju sang ibu yang menunggu di luar.

Suasana masih riuh, ramai dengan tawa bahagia anak-anak yang sesekali diselingi pekikan riang. Kami merasakan sebuah kedamaian. Aku memejamkan mata untuk menikmati lebih dalam suasana ini.

Aku membuka mata lalu aku bingung. Smbil masih berbaring aku menatap ke sekeliling ruangan bercat nude pink, melihat langit-langit kamar dan tidak ada yang bolong, tidak ada sinar yang masuk.

Yah ternyata aku hanya bermimpi, tapi seakan seperti nyata.

Aku teringat, sudah dua tahun aku meninggalkan sekolah bermain dan berhenti menjadi ibu guru. Bahkan kenangan tersebut sudah lama tidak pernah lagi dibangkitkan. Aku melihat layar handphone, pukul 3.45 dini hari. Buru-buru aku bangkit dari tempat tidur dan memulai rutinitas pagi sebelum berangkat ke kantor. Mungkin aku kangen pada mereka. Sepanjang perjalanan ke kantor benakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Apakah aku tidak bisa menentukan sebuah prioritas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s