Catatan Si Polaroid

Siapa yang bilang kalo benda mati tak bisa bicara? Tak bisa mencurahkan isi hati seperti yang manusia lakukan? Aku buktinya. Sejak pertemuanku dengan perempuan itu rasanya aku seperti terlahir sebagai benda hidup. Padahal aku ditakdirkan sebagai benda yang berwujud persegi dengan bagian pinggang yang melebar, membuatku di beri nama si Gembrot, memiliki dua mata, satu besar dan satu lagi kecil. Mata yang besar agar aku bisa menangkap objek dunia lebih banyak yang dimulai dengan melihatnya dulu dengan mata yang kecil. Aku juga dilengkapi dengan mulut tipis yang akan mengeluarkan secarik kertas foto hasil dari tangkapan mata ku. Takdir Tuhan yang menginginkan aku menjadi sebuah kamera polaroid. Awalnya  aku tidak terima, aku minta pada malaikat agar Tuhan mengubah rencanaNya untuk menurunkan aku ke dunia sebagai benda mati.

“ Tolong masukkan aku kedalam rahim wanita, pliiss. Aku ingin menjadi makhluk hidup agar lebih bermanfaat”, rujukku kepada malaikat sesaat sebelum aku diturunkan  ke dunia

“ Tidak. Terima saja takdirmu. Sampai jumpa !” ujar malaikat singkat

Begitulah. Hingga akhirnya aku berada di etalase salah satu toko elektronik. Saat pertama kali sampai di toko ini, aku langsung bertemu banyak sekali yang serupa dengan diriku tapi kami berbeda warna kulit, mungkin berasal dari beragam ras yang sama-sama tidak mengetahui siapa induk kami. Ah kami kan langsung diciptakan tanpa proses dilahirkan. Walaupun serupa dan hanya berbeda warna kulit, namun sebenarnya kami tak sama. Pembedanya adalah cerita hidup kami, apakah pencetak objek biasa atau luar biasa. Dan itu tergantung dari majikan kami.

“ Halo ! kita sama ya. Kenalkan saya Betty !” sapa polaroid berwarna hitam dengan gambar hello kitty kecil di ujung mata kecilnya.

“ Halo  juga  ! hmm aku Gembrot.  Senang berkenalan denganmu !”

Betty menjadi teman perdana ku. Ia sungguh ramah, tidak segan-segan mengenalkan aku yang masih malu-malu ini dengan teman-teman yang lain. dari kamera tipe yang kuno hingga teman-teman kamera abad terbaru.

Sudah hampir 7 bulan aku dan Betty tinggal di etalase. Terkadang kami dikeluarkan untuk di bersihkan, atau untuk di lihat-lihat calon pembeli. Selama 7 bulan pula aku menyaksikan beberapa teman yang diboyong keluar dari toko.

“Betty, sepertinya enak yaaaa melihat dunia luar. Aku mauu !”

“ Sabar Brot. Nanti ada giliran kamu !”

“ Kapan?” ucapku lesu karena waktu yang tak kunjung tiba membawaku jalan-jalan.

Keesokan harinya, dua orang remaja datang, menanyakan harga polaroid. Dengan enggan aku mendengarkan, ah paling juga cuma nanya tanpa membeli. Dugaanku ternyata meleset. Dua orang remaja membeli bahkan langsung 8 polaroid sekaligus, diantaranya termasuk aku, namun mereka tidak mengikutsertakan Betty dalam daftar belanjaan. Perasaan sedih dan senang campur aduk. Senang karena mendapatkan tiket keluar etalase, sedih karena aku harus berpisah dengan sahabatku. Aku pun dimasukkan dalam kotak, sesaat setelah aku mengucapkan salam perpisahan dengan Betty.

 

“ Jadikanlah dirimu bermanfaat di luar sana walau hanya sebuah polaroid, Brot !” Samar-samar dari balik kemasan aku mendengar kata perpisahan Betty sebelum aku diboyong keluar,

Aku rasa aku bukan berada pada tangan dua orang remaja ini, karena setelah dibeli dari toko, kedua remaja ini memindahtangakan aku kepada seorang perempuan. Perempuan berwajah lucu nan manis dengan kerudung merah muda saat itu, kala aku menangkap gambarnya. Dan bersama perempuan inilah sebuah benda mati merasakan suatu hidup.

Empuku tidak pernah meninggalkan aku. Setiap langkah selalu disertai aku di dalam tas ranselnya. Perasaan senang campur haru menyelimutiku karena aku bisa menjadi sebuah benda yang tidak pernah terlupakan. Aku tidak pernah tahu siapa nama majikanku, yang ku ingat hanyalah wajahnya.

Ia sering mengajakku jalan-jalan, ke gunung, hutan, pantai, sungai, jembatan, masjid, sawah, hingga pusat kota dengan arsitektur yang kuno, unik atau futuristik dan modern. Ia juga tak kenal waktu mengajakku, kadang sebelum Sang Surya menampakkan wajah dan embun masih berada di dedaunan, kadang saat terik bola merah membakar, saat senja, atau saat tirai hitam menyelimuti bumi. Yang paling menarik dari kehidupanku bersama perempuan ini adalah ia berhasil mengajariku bagaimana menciptakan suatu momen untuk membahagiakan orang lain.

“ Hai polaroidku ! aku ingin dengan adanya kau, aku bisa berbagi. Walau itu sederhana. Dengan memotret momen yang terjadi, memberikan hasil jepretan kepada mereka, dan mempersilahkan mereka untuk menikmati kerja keras mu dari menangkap objek hingga mengeluarkan secarik kertas foto melalui mulutmu, itu sudah cukup. Mari kita bekerja sama !” Tutur majikanku yang segera kusambut dengan suka cita. Ah ini lah yang kuinginkan bahkan jauh sebelum aku diturunkan.

“ Kita tidak akan tahu momen apa yang akan terjadi disetiap harinya, kadang datang tak disangka, tiba-tiba. Jadi kau harus siap ya!” Sambung majikanku berapi-api

Majikanku benar-benar pintar membuat suatu kejadian sederhana menjadi berharga. Saat kami menyusuri pantai tenang di sebuah pulau bernama Bangka, majikanku mengambil ancang-ancang untuk memberiku perintah agar mengambil gambar ayah yang sedang menggendong tinggi anaknya, ibu yang sedang merentangkan tangannya untuk menyambut kedua anaknya yang sedang berlarian di pasir pantai, dan deburan ombak yang memecah karang. Kemudian foto yang tercetak diberikan pada ibu dan bapak tersebut dan mereka terlihat sangat berterimakasih mendapatkan kenang-kenangan yang mengabadikan salah satu romantisme mereka.

 

Momen sedih pun tak luput menjadi sasaran aku dan majikan. Saat di stasiun misalnya, sesaat sebelum kereta berangkat, tampak dua pria yang bersahabat karib berpelukan dan berangkulan erat. Sepertinya sedang berlangsung acara perpisahan. Dengan segera, aku di perintahkan untuk menjepret acara tersebut, Kemudian majikanku memberikannya pada dua pria tersebut, mereka tergelak, setidaknya dapat mengobati luka mereka akibat suatu perpisahan.

 

Selain menangkap potret kehidupan, aku pun tak luput dari ajakan majikanku menemui beberapa tokoh yang menurut majikan berpengaruh pada hidupnya.

“ Aku jarang-jarang nih ketemu tokoh hebat seperti ini. aku harap dengan adanya kamu, aku jadi diingat mereka. Aku butuh bantuan mu yaaa!” Pintanya. My pleasure ! Sudah menjadi tugasku sekarang membuat empu ku tersenyum sumringah. Aku turut senang ketika tahu aku dapat berjasa memotret majikanku dengan  seorang penulis idolanya, seorang pebisnis yang sangat menginspirasi dia, bahkan hingga seorang menteri yang sedang diundang menjadi salah satu pembicara.

Pengalaman demi pengalaman bersama perempuan manis ini telah aku alami. Tak terasa telah 3 tahun berjalan mengiringi langkah majikanku. Jika saja aku bisa berbicara selayaknya manusia, ingin aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas pelajaran berharga selama aku bersamamu, mengabarkan betapa aku bahagia bersamamu karena mimpi ku menjadi benda mati yang membahagiakan orang lain terwujud. Biarlah mungkin saat kita semua bertemu Tuhan, aku mungkin bisa mengucapkan beribu terimakasih pada majikanku.

Aku tak ingat kapan waktu terakhir aku bersama majikanku. Terakhir kali aku ingat adalah sebuah benturan yang dahsyat hingga membuatku terpental. Setelah itu yang aku rasakan aku seperti di semprot cairan hangat lalu mengalir hingga mengarat di bagian dalam tubuhku. Semerbak bau anyir pun sempat tercium. Setelah itu aku tak pernah lagi berada di ransel perempuan manis itu, tak pernah diajak menyusuri setiap detail tempat, dan tidak pernah mencetak sebuah momen unik lagi. Aku berada di sebuah meja, tapi bukan etalase seperti tempat pertama kali aku bertemu Betty. Sesekali di pegang, dielus, dan dibersihkan oleh seorang anak laki-laki, lalu diletakkan kembali. Dipajang begitu saja.

“ Pak, eta teh naon nya? sepertos kamera”

“ Teu ngartos. Bapak teh mendakan dina gundukan runtah daa”

“ Kumaha nyak nganggo benda ieue?”

“ teuing, Jang !”

 

“pak ini apa ya? Seperti kamera”

“tidak tahu, bapak menemukan di gundukan sampah”

“ gimana ya cara menggunakan benda ini?”

“ ga tau jang!” (jang :panggilan untuk anak laki-laki sunda)

 

ALHAMDULILLAH ! KELAR JUGA INI PENGKHAYALAN GUEH

*groook tidur!*

When we are a family even we are from different countries

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s