Perjalanan dan Angan

Bangun-sahur-mengantar adik ospek-pulang ke penginapan-merapikan yang seharusnya tertata rapi-lalu beraktivitas di Bandung-pulang sebelum buka-buka bersama adik-tarawih-ngobrol bersama adik sambil beraktivitas yang lain-lalu tidur.

Begitulah rutinitas di bulan suci bernama Ramadhan, di tempat yang baru bernama Jatinangor, sebuah bagian dari kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Saya merasa seperti menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang terletak di daerah ini, padahal bukan. Adik baru saja diterima menjadi bagian dari kampus Universitas Padjajaran. Bungsu dari 3 bersaudara ini baru kali pertama keluar dari kota asal, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya untuk belajar mandiri. Setelah menyelesaikan semester I perkuliahan profesi apoteker, saya berkesempatan libur cukup panjang, kurang lebih 2,5 bulan. Setengah bulan waktu libur saya sukses disabotase orang tua untuk mengawasi adik, kalau bisa setiap jengkal langkahnya diikuti jangan sampai ditinggal atau tertinggal. Saya paham dan maklum, bungsu biasanya di manja dan paling disayang. Bukan berarti saya iri, melainkan sadar akan hikmah kelulusan S1 yang ditunda serta kuliah profesi apoteker yang juga tertunda. Dengan demikian, saya bisa membantu adik mengenalkan dunia selain Palembang. Andai saja saya dulu mengikuti arus tepat waktu dalam hal kelulusan, tentu saja saat ini saya sibuk dengan ujian apoteker dan menyisihkan sejenak kewajiban sebagai kakak. Patut disyukuri !

Jam di telepon seluler menunjukkan pukul 8 dan waktunya berangkat ke Bandung dengan Damri. Bus milik pemerintah ini sebenarnya transportasi yang cukup mapan dan adil untuk semua kalangan.  Hanya berbekal 5 ribu dengan fasilitas AC, kita sudah bisa dibawa hingga pusat kota. Transportasi umum seperti ini yang seyogyanya ditingkatkan pelayananannya dan dijaga bersama, agar tidak ada lagi kemacetan karena masyarakat lebih memilih transportasi pribadi ketimbang umum.

Sesampai di Bandung, saya perlu mengurusi beberapa hal untuk satu hari tersebut, mulai dari ke kampus untuk mengurusi surat magang di Rumah Sakit, meminta legalisir ijazah dan transkrip untuk pendaftaran S2, mendengarkan curhatan teman-teman yang kemarin ujian apoteker, hingga memeriksakan gigi yang sudah hampir 3 bulan tak bertemu dokternya. Semua harus diselesaikan satu hari dan sebelum jam 5, sebab damri hanya sampai jam 5 dan saya harus kembali ke jatinangor sebelum waktu buka puasa tiba.

Huff..

Lega rasanya setelah menemukan satu tempat untuk menyandarkan tubuh di bus yang cukup sesak manusia, setelah berlari mengejar Damri dan berdiri sekian lama. Perjalanan pulang tidak sama dengan perjalanan pergi. Saat perjalanan pergi saya bisa tidur karena kondisi bus yang lengang, sedangkan saat perjalanan pulang, mata saya selalu berada di posisi siaga, tidak bisa sedetik pun dipejamkan. Bukan berarti saya berpikiran negatif akan ada copet atau semacamnya, melainkan lebih karena kebisingan yang tercipta pada tempat yang cukup banyak manusia.

 

Selama bus melaju dan melihat hamparan pemandangan yang masih asri, pikiran saya melayang-layang, menembus dimensi waktu setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, atau mengkhayal mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Orang-orang yang pernah saya temui berseliweran di benak ini. saya jadi teringat momen bersama anak-anak penjual bunga dan pengamen di Simpang Dago. Menurut saya, momen tersebut berhasil jadi satu dari sekian momen indah yang terjadi hingga saat ini menginjak usia 22 tahun. Ya, pertemuan tidak sengaja di sebuah restoran fast food di daerah Simpang Dago membuat saya tertarik untuk mengadakan sebuah les privat dengan bayaran kursus biola gratis dari anak-anak tersebut. Mulanya saya hanya berkenalan dan akrab dengan 4 anak, kemudian saya menemukan rumah singgah yang menampung anak-anak tersebut yaitu di daerah Dago Giri, akhirnya saya bisa akrab dengan lebih dari 4 anak. Pertemuan dengan rumah singgah ini juga tidak sengaja. Saya diajak adik kelas untuk memberikan bantuan ke rumah singgah tersebut. Disana saya malah bertemu adik-adik yang biasa saya ajak belajar dan mengajari saya berbagai instrumen musik. Obrolan pun berlanjut dengan pimpinan rumah tersebut, merencanakan perayaan ultah bersama, dan mulai juga merencanakan privat matematika, mengaji dan agama. Senang rasanya menemukan suatu tempat dimana kamu merasa bahagia karena ikut membahagiakan orang lain. Suatu tempat dimana kamu bisa banyak bersyukur dan menjadi memiliki mimpi bukan untuk diri sendiri tapi juga untuk khalayak banyak. Suatu tempat dimana kamu bisa memanfaatkan diri semaksimal mungkin dan berusaha mencapai sebaik-baiknya manusia.

 

Kewalahan karena jumlah anak yang timpang dengan pengajarnya yang hanya satu, saya mencari bala bantuan. saya menghubungi beberapa teman yang memiliki mimpi yang sama dengan saya, mencari beberapa teman yang galau dan ingin move on dengan mencari kesibukan baru, atau teman-teman yang ingin membuktikan bahwa orasi-orasinya selama ini bukan hanya bicara belaka, tapi dibuktikan dengan karya yang nyata. What ever the excuses ! in my mind is only how to find many people to help me ! :D.

 

Kedatangan kami menjadi hal yang ditunggu-tunggu adik-adik tersebut, mulailah kami mengajar matematika, agama, Al-Qur’an, dan bersama membangun karakter. Menepis kenyataan bahwa mereka hanyalah sekelompok kaum marginal. Kita sama, sama-sama makhluk Tuhan, sama-sama punya impian, sehingga sama-sama bisa sukses. Di pandangan kami, adik-adik ini sama halnya dengan adik-adik yang lain, hanya saja curahan kasih sayang dan kepedulian yang benar-benar tulus yang harus lebih banyak diberikan.

 

Satu. Dua. Tiga. Empat bulan berjalan dengan baik. Kami menamai kelompok berisi anggota segelintir orang ini dengan sebutan KCAI. Singkatan dari  Keluarga Cinta Anak Indonesia. Entah siapa yang memulai menamai kelompok ini, yang jelas dari nama tersebut lugas dan jujur dikatakan bahwa kami peduli dan mencintai dunia anak. Walaupun ada beberapa masalah yang hilir mudik, tapi kami masih bisa menyelesaikan dengan baik. Paling permasalahan hanya menyangkut dengan metode belajar, anak-anak yang masih sulit diatur, atau permasalahan lain yang hanya sebatas teknis. Namun saat problematika telah menjalar ke arah akar ideologis, kami akhirnya menyerah. Awal mulanya berawal dari banyaknya anak-anak yang menjadikan kami kakak asuh, sehingga tak pelak anak-anak lebih akrab dengan kami dibanding para pengasuh awalnya. Saya dan teman-teman hanya punya hati. Itulah yang dipersembahkan seluruhnya. Tak ada alasan yang lain. Namun sepertinya ditangkap berbeda. Pimpinan rumah singgah menghentikan program yang kami asuh tiba-tiba dengan alasan-alasan yang kurang bisa saya tolerir.

 

Mengajarkan agama namun anak-anak malah makin kurang bisa diajar

Kalian memanjakan anak bukan mendidik

Dan seterusnya

 

Bagaimana anak-anak mau diajak bekerja sama bila setiap hari yang diterima oleh meraka hanyalah cercaan dan hinaan dengan dalih penyadaran. Penyadaran dengan membuka kembali memori-memori terburuk memang dapat menjadi salah satu metode cambuk untuk sukses, namun bukan menjadi makanan sehari-hari. Motivasi dengan meyakinkan bahwa mereka bisa ! bila mau bekerja keras, berkomitmen, dan penuh dedikasi, serta atas izin Allah, menurut kami menjadi metode yang lebih baik untuk diterapkan. Saya dan teman-teman sekuat mungkin mempertahankan kerjasama ini. Kita punya visi yang sama, bagaimana mengeluarkan mereka dari jalanan dan mendapatkan kehidupan yang layak, mengapa tidak berpikir untuk menyatukan tenaga ?. Kembali lagi, ini masalah ideologi, ini masalah krusial, menyangkut prinsip. Akhirnya kami memilih mundur. Mengubur impian dalam-dalam walau hati saya benar-benar tidak rela. Seperti janji yang belum terselesaikan. Sakit? Ya seperti ada yang mengiris saat melihat anak-anak berpisah satu sama lain, saat melihat mereka masih di jalan dengan keadaan yang tidak begitu berbeda dengan saat awal bertemu.

 

Harus di kubur dalam-dalam, namun bukan berarti berhenti. Langkah masih harus tetap di ayun, mungkin di tempat yang berbeda dengan orang yang berbeda. Selain itu, hubungan kekeluargaan masih harus dijalin, siapa lagi yang akan memberikan kasih sayang cuma-cuma kalau bukan keluarga?

 

Selama perjalanan kembali ke Jatinangor tiba-tiba pikiran saya melayang ke rumah Yusuf Indra, anak lelaki cerdas keturunan Belanda yang masih duduk di bangku SMP. Rumahnya di daerah ujung Baros, dengan hanya terdapat satu ruang kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi untuk 6 orang. Saat kami temui, ayahnya yang merupakan orang Belanda, tergopoh-gopoh menemui ibunya, mengabarkan bahwa Yusuf meninggal. Kami tak mengerti fantasi ayah Yusuf mengapa seperti ini, menduga anaknya ditusuk preman dan ditemukan tewas di Cihampelas, dan kami adalah ambulans yang membawa pulang jenazahnya. Sontak ibunya berteriak dan terduduk lunglai. Lemas. Berteriak dan menangis. Saya dan teman-teman yang ikut saat itu mencoba menenangkan dan membawa mereka kerumah. Setelah semua duduk, baru kami menjelaskan bahwa kami adalah kakak-kakak yang mengajar Yusuf dan mengabarkan bahwa Yusuf akan pindah sekolah serta mendapat beasiswa. Usut punya usut, ternyata keluarga ini sungguh kangen dengan sosok Yusuf. Yusuf memang sering berbeda pendapat dengan ayahnya. Mungkin ego masih mendominasi, sehingga anak ini memilih kabur dari rumah.  Hai Yusuf, sering pulangkah kamu?

 

Tibatiba juga bayangan Hema muncul. Adik yang pertama kali saya ajak ngobrol saat kami bertatapan di restoran fast food di daerah simpang Dago. Hema terlihat lebih dewasa dari umurnya. Diusia yang masih sangat belia, dia telah pintar mengurus urusan rumah tangga, mencuci, memasak, hingga berjualan bunga. Berbeda sekali dengan anak yang dimanjakan berbagai fasilitas saat ini. Suatu hari saat sedang menikmati sore bersama, ia bahkan pernah berbicara pada saya.

“Teh, kalo udah nikah, punya anak dan punya rumah di Bandung, aku mau jadi pembantu teteh”. Sungguh kaget mendengar. Namun saya hanya bisa membalas dengan senyuman.

“Kamu masih muda. Masih ada yang lainnya yang bisa dikerjakan”, kata saya.

Dimana kamu? Apa kabar?

 

Tiba-tiba juga bayangan sosok si Iwan M yang pintar berkomunikasi namun kalau diminta menjadi pembawa acara langsung demam panggung, muncul di hadapan saya. Kabar terakhir mengatakan bahwa ia mengadu nasib di Bekasi. Entah benar atau tidak. Pulang kemana lebaran ini?

 

Bayangan Dedi, Rudi, Iwan K, Herdi, Jaka, Erik, Gita, satu persatu bergantian lalu lalang. Bisa kah kita bertemu kembali? kalian pasti sudah besar ya… saya kangen sekali. Dimanapun kalian berada, semoga selalu berada dalam lindungan Allah dan tetaplah merasa yakin bahwa kalian bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.

 

Bus tak terasa telah berhenti tepat di depan kampus Universitas Padjajaran. semua penumpang beranjak turun, tak terkecuali saya. Dan bus kembali lengang. Kosong. Hanya tersisa supir dan kondektur menghela nafas sejenak. Lelah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s