Nurani

Image

 

Ibu lagi apa di alam sana? Ini Kartini. Aku menulis surat untuk ibu, semoga ibu bisa membacanya.

Aku sedang membenci diriku sendiri, Bu. Bila telah masuk dalam stage tersebut, sayang sekali aku telah dikategorikan sebagai orang yang paling harus dikasihani. Ya. Aku benci saat-saat aku lelah, Bu. Lelah karena berusaha melawan hati nurani, sehingga aku cuma punya sisa-sisa tenaga untuk melakukan hal yang sejalan dengannya. Padahal nurani tidak pernah salah, hanya aku yang berbuat ulah, Bu. Saat ini nikmati saja rasanya tersesat dalam labirin-labirin pikiran, tubuh, dan jiwa hingga sulit sekali menemukan letak hati. Aku pun cepat-cepat memadamkan api yang diciptakan oleh hati. Tapi yang aku siram ternyata diriku sendiri, Bu. Karena hatiku sendirilah yang membakarnya, ia marah pada kesatuan tubuhku yang lain.

Ingin memilih pergi sejenak dan lari.meletakkan semua beban sejenak, memutuskan untuk membuka ronde hidup baru yang dirancang sendiri tanpa mengabaikan si hati. Pergi jauh sejenak hingga boleh bertemu kembali.

Aku belum saja melihat Dia marah, Bu. Aku sadar Dia telah beri ultimatum-ultimatum kecil sebagai peringatan. Dan herannya mengapa aku hanya sadar sejenak. Kalau saja lari dan pergi adalah suatu hal yang dapat menjadi sebuah penyelesaian suatu masalah. Tentunya saat ini juga aku akan menghilang. Sayangnya, lari dari masalah tidak akan pernah menyelesaikan masalah tersebut. Sebenarnya aku sudah tau solusinya tapi tak beraksi.itu saja.

 

Sumedang, 7 Agustus 2012

9:05 WIB

*proyek novelet ga kelar-kelar. am i a writer? im not sure.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s