Curhat I’tikaf

21 Ramadhan 1433 H

Benar saja ! Waktu itu cepat sekali berlalu. Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun akan terlewat begitu saja dan kadang tak terasa. Beberapa dari kita menyertai mengalirnya waktu dengan penyesalan. Menyesal karena tidak memberikan yang terbaik untuk Sang Waktu. Pun terjadi di bulan Ramadhan. Awal yang semangat, namun tak jarang akhir yang penuh penyesalan. Namun tak ada kata terlambat, selagi masih dihitung sebagai hari di bulan Ramadhan dan walaupun itu di 10 hari terakhir. Justru di 10 hari terakhirlah, disaat lebih banyak manusia memilih memperbarui dirinya dengan pakaian baru dari ujung kepala hingga kaki, ada baiknya kita memilih memperbarui hati, memilih memperbarui hubungan dengan Allah. Itu sudah cukup. Di 10 hari terakhir disunahkan beritikaf atau berdiam diri di masjid, memperbanyak amalan, memohon ampun, bersedekah, dan amalan-amalan lainnya.  Saya pun mencoba merenung dan berlama-lama di rumah Allah, berniat merengek di depanNya. Karena cuma Allah yang tidak mengeluh dan merasa ill feel dengan rengekan kita. Langkah kaki mengarah pada masjid di depan kampus ITB. Saya rasa, Salman adalah salah satu masjid yang membuat pengunjungnya betah.

Mabit di Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Selain karena status yang bukan mahasiswa lagi, juga karena mabit tahun ini dilewati sendiri. teman-teman yang biasa bersama sudah berpencar. ada yang telah bekerja, menikah, dan pulang kampung. Mungkin sedang meditasi memikirkan masa depan sekaligus menghemat biaya. Sedih?  Tidak juga.. Malah menikmati ketika mata dan hati lebih terbuka untuk melihat banyak hal. Benar-benar ingin mengatakan bahwa pejuang-pejuang itikaf yang saya temui di Salman itu keren ! saat menyerahkan semua hidup hanya bersandar kepadaNya. Tak henti-hentinya beribadah, menyebut nama Allah, bershalawat, sholat, berdoa, mengadu hingga menangis. Damai sekali rasanya. Saya pun akhirnya senyum-senyum sendiri melihat beberapa momen manis hamba-hamba Allah. Seorang ibu yang menyuapi anaknya ketika sahur di masjid, ternyata ia bawa serta anak-anaknya untuk beritikaf, sejak dini disadarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kemudian melihat dua pasang suami-istri yang sahur bersama di selasar selatan masjid. Ada juga sekelompok wanita berumur 40 tahun bercengkrama sambil makan, bahkan segerombol mahasiswa yang baru selesai ospek jurusan turut meramaikan suasana masjid di malam-malam terakhir Ramadhan. Suasana seperti ini tidak ada di bulan lain. Salut dengan mereka yang bervisi sama yaitu bertemu di surgaNya. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan, tempat dan pertemuan dengan manusia-manusia yang senantiasa mengingat dan berusaha dekat denganNya.

ketika setiap dosa malah selalu dibalas cinta dan kasih, sudah sepantasnya kita bekerja untukNya 🙂

nb : kemarin setelah  subuh saya ketiduran, dan saya mimpi ke rumah Allah Subhanallah !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s