Filosofi Lari

Apa itu homoestasis? keseimbangan. Keseimbangan yang membuat kamu akan sehat, akan bugar, akan lebih semangat, dan merasa damai. Bagi saya pribadi, homoestasis itu tidak perlu muluk-muluk. Tidak perlu bayar mahal di tempat fitness, tidak perlu makan salad mahal di sebuah restoran, tidak perlu juga mengontrak seorang ahli gizi, atau tidak perlu juga belajar mati-matian mengenai anatomi dan fisiologi manusia agar sangat paham tentang keseimbangan ini. 

Keseimbangan menurut saya seperti avatar, ada 4 elemen , maka keempat elemen tersebut saya sebut sebagai : hati, jiwa, pikiran dan tubuh secara fisik. Kesemuanya tak bisa dipisahkan,satu kesatuan dan punya satu ujung. Selalu ingin denganNya. Hati merepresentasikan kedekatan dengan Ilahi. Ibadah. Disetiap ibadah ada doa. Disetiap ibadah ada sujud. Disitulah rasanya hati akan merasa dalam ketenangan. Kemudian jiwa, elemen ini merujuk pada interaksi dengan orang lain, berkomunikasi, bertebaran untuk mencari banyak jaringan, tak lupa pula amalan. Sharing. Pengabdian. Intinya bagaimana menjadi insan yang bermanfaat. Cukup meyakini, mengapa kita diciptakan? pasti ada yang diinginkan dari kita. Yang merasa telah cocok pada keputusan yang diambilnya taruhlah misalnya menjadi dokter, pastinya Allah ingin kau menyembuhkan banyak orang. Menjadi petugas kebersihan, pastinya Allah ingin kau ikut berpartisipasi menjaga buminya, dan lain-lain. Contoh umum pada mendamaikan elemen ini adalah sedekah. Lalu pikiran, keseimbangan ini biasanya dicapai dengan mencari ilmu, mencari inspirasi, berpikir positif, berpikir mimpi, singkat kata bagaimana transmisi-transmisi sinyal pada otak berfungsi dengan baik untuk hal baik. Dan elemen terakhir adalah tubuh. Sehat secara fisik. makanan dijaga ada sayur, ada buah, ada karbohidrat, 3 kali sehari, susu, yah pokoknya 4 sehat 5 sempurna. Kalo saya menyempatkan untuk masak setiap hari. Selain murah, membuat saya belajar menjadi istri dan ibu yang baik (;p), kemudian jadi mengetahui gelagat dan dialog di pasar juga, mengasyikkan! Untuk mencapai keseimbangan fisik ini juga dengan melakukan olahraga. Apabila keempat elemen ini tidak kelebihan dan kekurangan, berarti tubuh berada di stage homeostasis. Namun bila tidak, ada yang kekurangan, ada yang terlalu berlebih, pastinya ada yang ga beres dengan tubuh. entah itu hati, entah itu elemen jiwa, pikiran atau fisik. Rasakan sendiri.

Ngomong-ngomong soal mengimbangi elemen yang ke 4 dengan olahraga, saya menjadwalkan secara teratur. Setidaknya dalam seminggu ada 1 kali saya merasakan bagaimana darah saya mengalir pada otot-otot yang digunakan untuk berolahraga. Biasanya saya mengambil olahraga yang murah, lari pagi selama 15-30 menit di lapangan lari Saraga atau berenang kalo lagi banyak duit dan lagi hari muslimah.

Saya biasa berangkat ke saraga pukul 6 kurang 15. sehingga saya akan lari tepat di pukul 6. Bagi saya, lari diatas pukul setengah 7 sudah tergolong siang. Pada pukul ini, kemampuan paru-paru menghirup oksigen sedang tinggi-tingginya, udara juga masih sangat segar, matahari sudah mulai tersenyum walau masih malu-malu, waktu inilah menurut saya waktu paling optimal. Setelah pemanasan, mengecek sepatu olahraga khusus lari, headset dan musik penyemangat saya mengitari lapangan Saraga. Berapa kali ? sesuai target olahraga di hari itu. Setelah mencapai target saya tidak langsung memberhentikan langkah. maka saya akan memperlambat derap lari saya sedikit demi sedikit dan akhirnya mengikuti irama langkah berjalan sebanyak sambil membiarkan keringat turun satu persatu. Menghirup napas sedalam-dalamnya, kemudian menghembuskannya sambil pendinginan. Kemudian berjalan pulang. Pada jadwal lari berikutnya saya akan memiliki target baru, menaikkan walau hanya satu putaran.

Selama lari, pikiran saya meracau pula. Masak apa hari ini, mau ngapain hari ini, kenangan-kenangan terdahulu, mimpi, kalo punya RS pengen yang kayak mana, apa bisnis yang bs dilakukan,, enaknya ikut seminar apa, aduh pengen beli ini, pengen ke mall, pengen ke gunung ini, kalo ke laut liburan ini asik yaaa, sampai-sampai orang-orang yang sedang lari pun masuk dalam pikiran, tak jarang juga pikiran tentang lari itu sendiri, apa stop aja ya? aduh kaki udh pegel, nafas udah tersengal, tapi cepat-cepat ada yang menimpali, masa nyerah, kemarin 5 putaran, masa sekarang cuman 3, liat anak kecil itu, liat bapak tua itu, dll dll dll.

Saya juga jadi teringat ketika ujian lari di SMA (maklum SMA saya semi militer). ada ujian SAMAPTA namanya. Ujian pertama adalah lari dalam 12 menit akan dapet berapa putaran. Standar minimalnya 4 putaran ukuran lapangan seperti lapangan saraga. Pada putaran pertama biasanya semua akan cepat-cepat laridari garis start supaya dapet di barisan depan, sehingga semangatnya mengikut orang-orang yang larinya kencang, di putaran kedua dan ketiga biasanya sudah menikmati irama langkah lari yang paling sesuai dengan diri kita, diputaran keempat mulai mencoba memperbesar langkah dan saat pluit 2 menit lagi berbunyi nyaring maka kami akan melakukan lari cepat atau sprint sekencang-kencangnya hingga waktu habis dan tidak ada garis finish, karena kamilah yang menentukan sendiri garis finish mana yang ingin kami capai. Setelah pluit berhenti, dan menandakan jarak terakhir berhenti, biasanya tidak diperbolehkan langsung stop, karena bisa menyebabkan cedera seperti kram, atau penumpukan asam laktat yang berlebihan sehingga menganggu aktivitas selanjutnya. Seperti biasa kami melakukan pendinginan dengan berjalan. Bagi yang tidak memenuhi standar akan ada ujian ulang, bagi yang telah diatas standar namun tidak sesuai keinginannya, maka pastinya di ujian berikutnya ia telah menginginkan target yang lebih baik dari sebelumnya.

Itulah filosofi lari yang sama dengan filosofi mengejar sebuah impian, sebuah target.

Harus memiliki mental untuk ‘lari’, waktu yang ditentukan dengan sendiri, kitalah yang tahu kapan harus menaikkan energi, kapan harus melakukan endurance, kapan harus sprint, serta hati dan pikiran yang pastinya akan terasuki banyak hal selama berlari. setelah ‘berlari’ mencapai garis finish yang kita tentukan. kita tak boleh langsung stop, berjalan sambil pendinginan, sambil membiarkan semua keringat segar membasahi tubuh. dan di jadwal lari selanjutnya, hendaknya kita menaikkan target putaran lari kita. begitulah juga impian. setelah tercapai satu, kita boleh ‘berjalan’ sejenak, tapi jangan stop. Pendinginan mengartikan mengevaluasi yang sebelumnya, merencanakan untuk kedepannya yang tentunya harus lebih baik dari sebelumnya. saat ‘lari’ pun kita tidak boleh jalan, lalu lari lagi, bakal beda, akan lebih capek, akan excuse untuk jalan lagi dan akhirnya ga lari-lari lagi. berlarilah hingga tiba finish dan waktunya boleh berjalan.

 

Minggu, 28 Oktober 2012 09.00 a.m

tepat di hari sumpah pemuda.

One thought on “Filosofi Lari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s