Waktunya Kembali, Delft 28th June 2013

Delft, 28th June 2013

Rintik hujan menyambut kedatangan saya di kota Delft, segera saya angkat koper dan keluar dari stasiun. Dari kejauhan tampak si kecil Adjie sudah melambaikan tangannya menandakan dia dan ayahnya, om Senot sudah hadir menjemput. Kami pun berjalan menembus rerintikan ke rumah. Di rumah, Tante Pungky sedang menyiapkan makan malam khas indonesia yang pastinya sudah sangat saya dambakan.

Akhirnya..ketemu juga sama orang Indonesia, makan nasi, lauk tempe tahu dan sambel. Nikmat. Bahagia yang sederhana.

15 menit berselang, datanglah Bebi, bersama Leroy sang suami. Saya rasa ini makan malam ternikmat selama di sini. Kami mengobrol ria. Kadang pakai bahasa Indonesia, kadang bahasa Belanda karena Leroy ingin nimbrung, kadang juga pakai bahasa inggris karena saya ingin mengerti tentang pembicaraan.

“Jadi besok lo pulang? Udah check in online?”, tanya Bebi

“Iya, ini, mau check in.” Saya menjawab enggan

“Kok?” Bebi menangkap makna air muka saya

Sebelum saya jawab, tante telah lebih dulu memotong percakapan

“aaa.. kita akhirnya ketemu, ga nyangka, tante udah 4 tahun disini, mungkin tahun depan kamu jg bsa kesini.”

“Probably yes, yah sebenarnya saya ga pengen pulang. Hehe. Saya lagi usaha untuk bisa kesini lagi. Doain ya”

“Hidup disini ga seindah yg lo bayangin !” Ucap Bebi tegas.

“Loh? I just wanna study and survive in uncomfort zone. May I?”

“Dulu, tante awal disini depresi lho, tanya Om senot. Tante liat stasionery yang tante beli di Indonesia tante nangis terus. Tante pengen kembali..sedangkan kamu pengen kabur dari Indonesia.”

“Hanya untuk beberapa waktu kok tante…”

“Aku sudah berkeluarga, ya mau gmana lagi aku harus cinta hidup disini.. kalo di Indo si Leroy susah cari kerja.”

“Tapi kan ada cinta, hehe. ” Tante mulai menggombal

Tawa pun meledak

Kota ini menggambarkan saya, makanya saya nyaman. Ya walaupun seminggu lebih adalah waktu yang sangat singkat untuk akhirnya memutuskan nyaman. Tapi.. saya punya hati disini.

“I think women are independent and strong, we can do all things by ourselves” doktrin Catya, teman di Coimbra, waktu kami memasak bareng dirumahnya terlintas kembali.

Untuk kali ini, saya, sependapat dengan Catya. Ya cuma untuk saat ini dan semoga doktrin ini tidak mempengaruhi saya yang berprinsip wanita dan pria punya fungsi, tugas, hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing. Keduanya harus saling menyadari dan memahami itu.

” Ga semudah yang lo bayangin, kalo lo ke sini juga salah satunya untuk kabur, ga akan pernah selesai.”

 

“Siapa bilang gw kabur? Gw cm ga mau stuck Beb!, gw jg punya mimpi, masa gara2 ga sesuai rencana trus gue juga akan stop? Ga semudah itu juga”

“Jangan egois. Udah besok lo harus pulang.”

Kemudian kami berpelukan tanda perpisahan

Jangan karena hidup tak sesuai rencana, lalu kita berhenti? Sayangnya roda kehidupan tetap berjalan dan kita pun harus tetap juga berjalan. Atau bahkan untuk saat ini berlari :). Hanya untukNya 🙂

Waktunya kembali.

Camera 360

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s