Farmakogenomik

akhirnya.. nulis ilmiah juga kitaa.. entah mengapa .. saya sedang jatuh cinta Saya Jatuh CInta Pada Ilmu Farmakogenomik

Farmakogenomik dan Personalized Medicine;

Sebuah Tantangan dan Peluang Sektor Kesehatan Masa Depan

 

Pada era terdahulu, farmasis hanyalah dikenal sebagai seorang yang ahli dalam meracik obat. Perkembangan dunia farmasi hanyalah berdasarkan terciptanya produk obat-obatan. Kerap kali seorang apoteker hanyalah orang yang duduk dibelakang layar atau dengan kata lain hanya menjadi elemen penunjang di dunia klinis. Diagnosis dan pengobatan semua terpusat pada dokter, jarang melibatkan apoteker untuk merekomendasikan pengobatan seorang pasien. Namun, sejak pharmaceutical care (asuhan kefarmasian) diperkenalkan, perkembangan peran farmasis saat ini semakin terasa. Pharmaceutical care adalah suatu pelayanan yang berpusat pada pasien dan berorientasi terhadap outcome therapy yaitu peningkatan kualitas hidup pasien. Perubahan visi pada pelayanan kefarmasian di Indonesia semakin kuat ketika tahun 2001 terjadi restrukturisasi dalam Departemen Kesehatan Indonesia dimana dibentuk Direktorat Jenderal Bina Farmasi Komunitas dan Klinik yang menjadikan pekerjaan kefarmasian juga menjadi salah satu pelayanan kesehatan utama yang perlu berintegrasi dengan health care professional lainnya.

Adanya farmasis yang bersentuhan langsung dengan pasien terbukti memberikan manfaat, salah satunya dapat mengurangi kejadian Drug Related-Problem (DRP).

Perkembangan dunia kesehatan akhir-akhir ini telah memasuki era genomik. Menurut buku Business Model Generation, ada dua pendorong yang akan membentuk evolusi industri farmasi dan tentunya berdampak pada pelayanan kesehatan di dekade berikutnya yaitu akan munculnya obat-obatan pribadi  (individualized medicine) dan pergeseran dari pengobatan (treatment) kepada pencegahan (preventif). Kedua pendorong ini didasarkan pada berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan hingga tingkat genetik dan dipicu munculnya keilmuan farmakogenomik yaitu adanya pengaruh genetik terhadap respon sutau penyakit atau obat pada beberapa individu. Keilmuan ini makin berkembang didorong sejak diselesaikan proyek Human Genome di tahun 2000.

Dari berbagai studi yang telah dilakukan, genetik ternyata telah terbukti menjadi salah satu kontributor munculnya variasi respon obat. Ia menyumbang 20-50% pengaruh pada respon obat untuk beberapa individu (Kalow, 1998; Eichler, 2011). Perbedaan etnis dan ras juga memunculkan adanya perbedaan profil genetik sehingga terjadi diferensiasi dalam respon suatu pengobatan (Ge D, 2009). Seperti kita ketahui, Indonesia kaya akan ras dan etnis, memungkinkan pula terjadi perbedaan respon suatu obat antar etnis atau ras. Dengan kata lain, bisa saja terapi pengobatan suatu penyakit untuk suku Jawa berbeda dengan Sumatera dan Kalimantan.

Personalized medicine dimana informasi genetik sangat diperlukan bukanlah tentang menciptakan satu obat untuk satu orang, melainkan untuk beberapa individu yang tidak memberikan outcome terapi yang biasanya terjadi. Untuk beberapa pasien yang memiliki perbedaan gen, obat tersebut tidak berkhasiat, atau akan meningkatkan kejadian efek samping obat yang membahayakan. Sebagai contoh, Warfarin, salah satu obat yang diresepkan untuk pasien stroke, memiliki indeks terapi yang kecil sehingga memerlukan perhitungan dosis yang tepat. Kurang tepat sedikit saja dosis warfarin, dapat berakibat fatal. Obat Warfarin ternyata dipengaruhi oleh variabilitas individu sehingga diperlukan pemantauan yang reguler untuk mencapai efek yang diinginkan. Polimorfisme genetik terhitung 30-35% akan mempengaruhi metabolisme Warfarin, sedangkan faktor klinis seperti lingkungan, kepatuhan pasien dan lain-lain, hanyalah memberi pengaruh 17-20% terhadap dosis Warfarin yang tepat untuk pasien tertentu (Rettie dan Tai, 2006). Dengan kata lain, farmakogenomik dapat membantu dalam menentukan akurasi dosis untuk seorang pasien.

Personalized medicine dengan farmakogenomik sebagai pilarnya, saat ini telah menjadi tantangan global. Beberapa pabrik farmasi Indonesia saat ini telah bersiap menyongsong era individualisasi pengobatan dengan memasukkan riset farmakogenomik pada inti industrinya. Dan bila produk tersebut sudah terbentuk, tentu perlu dipastikan produk tersebut dapat dipasarkan dengan aman, berkhasiat dan berkualitas sesuai standar. Oleh karena itu salah satu peran untuk kedepan yaitu dalam bidang penetapan regulasi dan pengontrolan terhadap produk ini. Bank informasi genetik pasien dan penyakit terutama di Indonesia juga perlu dibangun sebagai suatu komponen untuk riset dan pelayanan klinis kedepan. Hal ini perlu kerjasama para ahli bukan hanya farmasis, namun lintas profesi kesehatan Indonesia. Dalam sistem pelayanan klinis, pengaplikasian farmakogenomik dan personalized medicine diharapkan akan memajukan usaha preventif dan menciptakan pengobatan yang optimal, safety, efikasi, serta efeknya pada cost-effectivness.

Walaupun terlihat masih jauh dari pengaplikasian, namun diperlukan kesiapan sumber daya manusia yang berwawasan dan berkomitmen meningkatkan pengetahuan dalam ilmu ini. Tantangan ini menuntut seluruh stake holder di sektor kesehatan baik industri, pemerintah, pelayanan dan pasien itu sendiri untuk siap menghadapinya. Saya adalah salah satu yang ingin berpartisipasi sebagai problem solver dan berkontribusi besar untuk kemajuan kesehatan Indonesia di masa yang akan datang.

Referensi :

Eichler HG, Abadie E, Breckenridge A, et al., 2011, Bridging the Efficacy-Effectiveness Gap : A Regulator’s Perspective on Adressing Variability of Drug Response, Nat Rev Drug Discov; 10: 495-506.

Ge D, Fellay J, Thompson AJ, et al., 2009, Genetic Variation in IL 28B Predict Hepatitis C Treatment-Induced Viral Clearance, Nature ; 461: 399-401.

Hermawan, A.R., 2009, Pengaruh Konseling Farmasis terhadap Hasil Terapi dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr Abdul Rivai Tanjung Redeb Kalimantan Timur, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kalow W, Tang BK Endrenyi L., 1998, Hypothesis : Comparisons of Inter-and Intra-Individual Variations Can Substitute for Twin Studies in Drug Research. Pharmacogenetics; 8: 283-9.

Kusumaningjati, Y., 2008, Pengaruh Konseling Farmasi terhadap Luaran Terapeutik Pasien Hipertensi di RSU Kardinah Tegal, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rettie AE and Tai G., 2006, Warfarin Pharmacogenomics: Closing in on Personalized Medicine, Mol Intervent; 6: 223-227.

Alex Osterwalder, Yves Pigneur., 2012, Business Model Generation, Elex Media Komputindo : Jakarta, Hal 186-188.

Blognya Ibu Zullies Ikawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s