Suddenly Awake

Malam kemarin, saya bersama 2 teman flat sedang bersantai dan mengobrol-ngobrol tentang kehilangan. Saya pun menceritakan bagaimana ketika saya kehilangan dua sahabat saya dalam rentang waktu yang cukup singkat. Malah, sebelum meninggal, salah satu sahabat saya masih kabar-kabaran dengan saya, malamnya sudah tiada. Begitu pun dengan yang satunya lagi. Ketika itu kami memang dikabarkan bahwa ia dalam kondisi kritis, tepatnya selepas subuh hari itu, saya belum bisa tidur, dalam hati saya pun bergumam, “Duh, Gusti, kita sudah ikhlas, mohon berikan yang terbaik, daripada ia menanggung sakit.” Kemudian saya tertidur, dan belum sempat tertidur 2 jam, saya dimiscol puluhan kali dan dengan masih setengah sadar mengangkat handphone. Ternyata saya harus segera ke Bogor untuk menghadiri pemakaman sahabat saya ini.

Jam 3 subuh tadi waktu Glasgow, Scotland, saya tiba-tiba terbangun, seperti harus terbangun. Benar saja. Saya mendapat text messages, bahwa nenek, ibunda Ayah telah meninggal dunia. Ah, Allah memang Maha Tahu, seakan saya dibangunkan pada waktu terbaik untuk berdoa.

Mengulang kembali memori waktu bersama nenek. Nenek punya peranan penting di awal-awal saya tumbuh. Umur 6 bulan saya sudah harus berpisah sejenak dengan orang tua karena ibu dan ayah harus kerja keras untuk membuat keluarga hidup lebih layak saat itu. Saya di Pangkal Pinang bersama nenek dan kakek dari pihak ayah, sedangkan kakak di Tanjung Karang bersama nenek dan kakek dari pihak ibu. Membayangkan masa itu, memang sangat berat bagi ortu saya. Tapi kata kakek dan nenek saya, saya bukan orang yang rewel nungguin orang tua. saya bener-bener anak yang paham bahwa ibu dan ayah harus bekerja. Saya tidak pernah menanyakan dimana ayah-ibu saat itu. Mungkin ibu menyuapi saya dengan doa dan omongan bahwa saya ga boleh nangis ditinggal ibu dan ayah, bahwa ada nenek-kakek yang akan merawat. Jadi hingga umur 5 tahun, ada kenangan tersendiri dengan nyek, panggilan untuk nenek dari bahasa Komering, Palembang.

Semoga Allah melapangkan kubur nenek, menerangi kuburnya dengan cahaya. Semoga semua amal ibadah dinilai dan menjadi pemberat timbangan kebaikan. Semoga semua dosa telah tergugurkan setelah nenek harus melewati masa sakit yang cukup lama. Semoga kami, anak-anak, dan generasi-generasi selanjutnya adalah yang selalu mendoakan kebaikan untukmu walau telah berada didimensi yang berbeda. Semoga, kita berjumpa di firdaus kelak.

Glasgow, 9 November 2014

Matahari pagi yang hangat hari ini, semoga adalah cahaya yang menerangi kubur nenek, tidak membakar, tapi menghangatkan. amiiin… 🙂

553592_10201453139184173_1067202019_n

One thought on “Suddenly Awake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s