Ketika Berada Di Luar Sistem (NHS dan BPJS)

source : NHS England
source : NHS England

Ketika kita mengkritisi sesuatu, terkadang kita lupa bahwa kita berada di luar lingkaran. Kita mendadak lupa kita tidak terjun dalam sistem itu. Bahkan, kita hanya mengetahui sekadar kulitnya saja. Lebih lagi, mendapat data dari info yang keabsahannya diragukan. Tapi, kita seakan merasa telah paham yang ideal, padahal minim pengalaman nyata. Kita merasa tau yang benar, tapi digunakan hanya untuk membandingkan, mengkritisi, parahnya lagi menghakimi. Singkat kata, selalu memandang negatif dan skeptis akan perubahan dan kemajuan.

Pun yang saya telah lakukan akhir-akhir ini. Sebetulnya hanya dicetus oleh pikiran sederhana yang terlintas. tentang hal yang saat ini sedang ‘hot’, JKN-SJSN-BPJS kesehatan-KIS yang pokoknya seputar itu. Nah, tipikal orang Indonesia mayoritas, saya berkaca pada negara tumpangan saat ini. Mengapa NHS UK ini dibilang bagus ? di’dewakan’? dibandingkan? apa kelebihannya ? mengapa kita harus bandingkan dengan sistem kita? perubahan apa yang bisa dibuat ? peran remahan rempeyek seperti saya ini dibagian mana? dan lain sebagainya.

Disini, saya memposisikan diri sebagai orang diluar NHS (karena belum pernah praktek di dalamnya), dan orang diluar program JKN (karena minim praktek di Indonesia).  ada beberapa pikiran yang seliweran dan ingin ditumpahkan.

Tujuan BPJS itu sama seperti NHS. intinya mengcover kesehatan seluruh masyarakat, agar tidak ada lagi yang meninggal karena tak bisa bayar rumah sakit, agar kualitas kesehatan masyarakat di sebuah negara itu dijamin oleh pemerintah.

Sistem BPJS itu sama seperti NHS. sistem kesehatan berjenjang, atau rujukan, dimana butuh sekali primary health care yang kuat beserta integrated health care professional yang mumpuni + komunikatif, juga yang paling berat adalah mengeyampingkan kepentingan personal. Butuh pula pemahaman dan perubahan pola pikir masyarakat, juga edukasi dari para profesi kesehatan atau siapapun yang paham dan incharge dalam keberjalanan program ini. Misal kalo sakit biasa-biasa aja jangan langsung ke rumah sakit gede.. kalo bisa swamedikasi, lakukan swamedikasi sebaik mungkin. Kadang psikologi pasien sakit itu berperan, cuma ingin ketemu dokter dan dapat resep. Terjadi pula non-adherence setelah obat yang diresepkan ditebus, ujung-ujungnya nambah permasalahan lagi akibat ketidakpatuhan minum obat tersebut.

Saya pernah merasa ‘waw’ gitu setelah mendengar cerita kalau ada bidan yang dateng ke rumah rekanan saya yang membawa anak ke Glasgow ini. Dijelasin beragam macam hal tentang kesehatan anak dan keluarga, diliatin rumahnya kali-kali ada penempatan yang salah, hal-hal yang membahayakan anak sepeti colokan listrik, sudut meja, dll. Ditelpon pula untuk vaksinasi. Lalu saya kembali (lagi) membandingkan, kenapa harus itu yang saya lakukan ? saya mengutuk diri sendiri. Setelah dipikir ulang, bangsa kita juga sudah menerapkan itu ! saya teringat akan Farmasi Pedesaan di Cililin, ada Puskesmas pembantu (Pustu), ada kader posyandu, ada !

Klinik-klinik swasta membuat kontrak bersama NHS agar pasiennya dapat menikmati fasilitas kesehatan di klinik dan NHS. di Indo juga gitu , ada !

Profesi kesehatannya profesional, lah di Indo SDMnya banyak banget tapi mungkin belum menjiwai masing-masing peran, kurangnya komunikasi dan kerjasama tim. Continuing development program bisa makin diperbaiki.

6. Laporan ke masyarakat yang lebih transparan? *langsung cek web kedua badan penjaminan kesehatan tersebut dan memang blum rapih dengan hal-hal yang bersifat dokmentasi dan administrate

So yang beda apa ?

Just in my humble opinion, NHS saya yakin bukan tidak ada kekurangan, bukan pula ujug-ujug langsung oke seperti sekarang, tidak bisa pula kita langsung blak-blakan bandingkan. NHS di UK itu bergerak diera dimana kita masih memperjuangkan kemerdekaan. boro-boro mikirin sistem negara, yang penting negara dipegang dulu sama kita.Glasgow juga pernah kok berada di peringkat teratas sebagai penderita TBC terbanyak. Itu berarti, mereka pernah bergulat dengan masalah kesehatan negara berkembang saat ini dan bisa maju. Nah, Indonesia di mataku juga seperti itu. Yang diperlukan adalah kepercayaan dari rakyatnya, yang diperlukan bukan sekedar pendapat, perdebatan, ide, diskusi. stop membandingkan dan bilang ‘seandainya’, amati, resapi, tiru, modifikasi yang aplikatif. yang dibutuhkan adalah aksi nyata walaupun kecil namun menjaga konsistensi dan kontinuitas adalah tugas berat, namun akan ringan bila dikerjakan dengan sadar bersama. ibarat lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan.

Glasgow, 16 November 2014

Hari dimana suhu tak beranjak diatas 10C

penulis hanyalah ingin menumpahkan semua dalam pikiran agar tidak galau

http://www.nhs.uk/Pages/HomePage.aspx

http://www.nhsnss.org/index.php

http://bpjs-kesehatan.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s