Merzouga, Maka Nikmat Tuhan Yang Manakah Yang Kau Dustakan?

Life is compared to a journey. And the journey should be worth to come closer to Allah. The journey, whatever it is, either long or short travel should make us becoming more be grateful and have a bunch of patience. A journey to a new place is not only about to enjoy the landmarks of the city…

Ternyata, lebih dalam dari hanya menikmati keindahan yang disuguhkan khas oleh tiap kota. Sebuah perjalanan, bagiku, haruslah pula bermakna dalam hidup, menggoreskan tidak hanya pengalaman tapi juga peningkatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Perjalanan juga memberikan kita pelajaran, menuntut kita mencari apa hikmah yang akan Allah berikan ketika kita diperkenankan menapaki tiap sudut dunia, mempelajari keunikan dan karakteristik, membuat kita lebih struggle, membuka wawasan dan pergaulan baru, membuat kita menerima orang lain tanpa harus lepas dari prinsip diri. Sehingga, suatu ketika kita tersadar, bahwa setiap perjalanan ini tidak pernah ada yang kebetulan.

Begitu pula perjalananku di Merzouga, sebuah wilayah di selatan Maroko, berbatasan dengan Algeria. Desa ini menorehkan cerita yang sungguh manis dalam ingatan saya. sangat berkesan.

Aku berangkat bersama ketiga temanku, Ade (teman SMA ku), Nisa (kakak tingkat Ade ketika kuliah S1), dan Winnie (temen sekelas Ade di jenjang S2-nya di Norway). Singkat Kata, Ade-lah yang mempertemukan aku dengan kedua partner perjalanan kami di Merzouga. Keempat cewek ini berangkat dari Fes menggunakan Bus Antar Kota, Supra Tour, kira-kira pukul 9 malam dan butuh waktu 6 jam untuk sampai ke Merzouga. Sebenernya keinginan kami cuma 1, ingin melihat Gurun Sahara, Gurun terbesar di Afrika yang sering hanya kami lihat, baca dan dengar ketika SD belajar IPS. We do not expect anything except that.

Untuk menuju Merzouga kami melewati pegunungan Atlas. Ketika melewatinya, aku yang setengah mengantuk langsung seketika seger karena melihat langit malam itu sungguh bersih dan berhamburan bintang. Salju yang menutupi puncak-puncak gunung juga tampak bersinar dari pantulan cahaya bintang, Amazing !

Kami sampai di Merzouga pukul 5 pagi. Ketika turun dari Supra Tour, pihak hotel tempat kami akan menginap telah menunggu dan segera mengantarkan kami ke hotel. Hotel di Merzouga cukup murah dengan fasilitas kamar yang luas dan fasilitas breakfast moroccan style serta wifi, untuk dua malam tiga hari dengan kamar yang luas kira-kira tidak lebih dari 50GBP (affordable kan ?). Rencana kami hari itu adalah camel track dan bermalam di Gurun Sahara hingga subuh keesokan harinya. Sounds interesting ? yes absolutely !

Kira-kira pukul 3 sore kami mulai perjalanan menuju padang pasir. Ketika keluar penginapan, aku melihat barisan onta yang telah siap untuk ditunggangi oleh para musafir turis macam kami. Sebelum naik onta, aku mengobrol lucu dulu dengan si onta, minta izin ceritanya dan minta tolong supaya diantar dengan selamat. Anggap saja, perkenalan awal dengan onta.

Pemandangan melintasi Gurun Sahara menuju perkemahan lagi-lagi membuat aku berkaca-kaca. Subhanallah ! dari Indonesia yang tropis, Eropa yang kombinasi klasik dan futuristik, dan teriknya padang pasir, siapa lagi yang menciptakan kalau bukan Allah ? seketika aku teringat akan cerita-cerita hijrah Rasulullah dan para sahabat. Perjalanan naik onta ternyata cukup melelahkan, 2 jam lamanya.

IMG_5806
Pemandangan barisan onta digiring oleh pemimpin perjalanan melintasi gunung Sahara dan aku duduk manis di onta nomor ketiga
IMG_4944
perkemahan ditengah Gurun Sahara, mencoba merasakan bagaimana ketika para Sahabat Rasulullah SAW dulu hijrah dan tinggal di gurun

Sesuai rencana, kami menghabiskan malam di kemah tengah gurun. Sebelum beranjak tidur, aku dan keempat temanku, bersama rombongan musafir lainnya (dari Argentina dan Amerika) mengitari api unggun untuk menghangatkan badan karena ternyata suhu gurun pada malam hari turun drastis dengan angin yang super kencang. Saat summer, suhu gurun bisa mencapai 50 derajat sehingga bisa sekalian langsung masak telur dengan gurun sebagai kompor. Ditambah, banyak hewan seperti kalajengking yang keluar pada musim panas. Kami pun bernyanyi dan mendengarkan cerita dari pemimpin rombongan tentang suku Nomaden (yang hidup berpindah-pindah) dan Berber (suku asli Maroko). Si guide juga menceritakan tiap arti lagu yang ia nyanyikan dengan gitar dan alat musik tradisional lainnya. Misal, sebuah lagu yang berarti untuk menghibur suku Berber yang tinggal di gurun dan menanti hujan. Oiya, jangan berharap fasilitas macam-macam diitengah alam, seperti toilet, menyatulah dan kembalilah ke alam. Itu malah lebih menyegarkan ! ^^

IMG_4938
Mengeliling api unggun dan bernyanyi bersama
IMG_5816
Onta sebagai moda perjalanan

Keesokannya, setelah keluar dari padang pasir Sahara yang sungguh luas dan berundak-undak kami melakukan jeep tour bersama Hamid (adik yang punya penginapan) dan satu orang temannya yang menyetir jeep. Kami diajak mengelilingi wilayah-wilayah di sekitar Merzouga. Pertama, kami diajak melihat danau air hujan. Aku langsung menerka ini adalah Oase sumber air bagi masyarakat Merzouga. Kadang ga kebayang sih, kalau musim panas dan oase ini kering, dimana lagi sumber air mereka?. Destinasi kedua, kami diajak ke Desa Khamlia, desa tempat tinggal suku Bambara, orang-orang Algeria yang menetap di Merzouga. Tidak seperti kebanyakan orang Maroko, yang memiliki wajah campuran Arab-Perancis-Spanyol, Bambara berkulit hitam seperti kebanyakan orang Afrika. Di Khamlia Village, kami disuguhi nyanyian dan tarian khas dilengkapi juga alat musik tradisionalnya.

Oase masyarakat Merzouga. Serasa pantai tapi ternyata danau. benar-benar pemandangan yang baru bagi saya
Oase masyarakat Merzouga. Serasa pantai tapi ternyata danau. benar-benar pemandangan yang baru bagi saya
IMG_5039
Terkesima dengan indahnya pemandangan langit, gurun, danau, sabana dan stepa
IMG_5065
Suku Bambara di Khamlia Village memainkan instrumen musik tradisional
Iseng mencoba alat musik tradisional suku pendatang dari Algeria di Maroko. These are camdid pictures
Alat musik tradisional suku pendatang dari Algeria di Maroko. 

Dari Khamlia kami menuju Nomaden Village, suku yang sering berpindah-pindah dari suatu area ke area lainnya, biasanya mereka mendirikan tenda sementara. tapi ketika memilih menetap disuatu area, mereka mendirikan rumah berdindingkan tanah liat. sebelum sampai di daerah tersebut, kami diperlihatkan beberapa sumur tambang batubara yang menjadi mata pencaharian penduduk-penduduk dekat perbatasan ini, Mungkin ada perusahaan tambang yang menggali mineral di daerah ini dan merekrut mereka sebagai pekerja.

Ketika sampai di salah satu tempat tinggal penduduk nomaden village, dan turun dari jeep, aku bener-bener dibuat bungkam lagi, disihir sama alam. Aku seperti real berada di daerah yang sering cuma aku lihat di lonely planet. Dari kejauhan aku melihat seperti tembok tanah liat  besar yang ternyata tanda perbatasan Algeria dengan Maroko. jarak antara satu rumah dengan rumah lain tidak lah terlalu dekat tapi masih bisa dijangkau mata, karena tidak ada bangunan lain kecuali tanah rumput dan satu-dua pohon yang terlihat.

IMG_5070
Jalan menuju nomaden village
IMG_5101
Foto favorit
IMG_5104
di daerah ini banyak sumur-sumur tambang batu bara yang kedalamannya bisa sampai 25-30an meter
IMG_5132
Aku  dan teman perjalanan sekaligus teman baruku (Winni-Nisa-Ade-Hamid)
IMG_5169
Tenda-tenda sementara orang yang nomaden, bagi yang suka challenging adventure bisa mencoba berkemah seperti layaknya pelancong Korea dan istrinya yang tidur di tenda tersebut
IMG_5170
Di belakang sana adalah tembok perbatasan Maroko dan Algeria
IMG_5174
Dapurnya suku Berber yang menetap disini
IMG_5178
I can’t imagine if I live here. This is awesome !

Kami disuguhi teh herbal yang aku pun tak tahu itu jenis tanaman bernama ilmiah apa. tapi kehangatan mereka lah yang membuat segelas teh semakin nikmat. seorang nenek yang tinggal di rumah tersebut menawarkan hasil karyanya, prakarya yang sederhana dan dijual dengan harga yang lumayan tinggi, namun… aku melihat disini adalah keinginan bekerja yang tetap mereka realisasikan dalam bentuk oleh-oleh yang kemudian ditawarkan ke para turis ketimbang berharap diberi tips dari pelancong dengan modal kasihan. aku tidak pernah membayangkan apakah aku bisa bertahan dengan kehidupan serba terbatas itu. dari raut wajah mereka, mereka seakan tidak pernah mengeluh dan senang hidup seperti ini. tidak ingin berpindah ke kota. You are the real fighter ! aku pun jadi belajar bukan alasan tidak adanya fasilitas, apakah fasilitas yang ada sudah disyukuri dengan digunakan semaksimal mungkin?

Satu hari ber-jeep tour ria diakhiri dengan memandangi dan menikmati matahari yang pelan-pelan hilang dari undakan gurun. syahdu.

IMG_5218

IMG_5231

Keesokannya, pukul 8 pagi kami sudah siap untuk berangkat menuju Marrakesh. Buru-buru kami menghabiskan sarapan terakhir di Merzouga dan berpamitan dengan keluarga yang memiliki hotel tersebut. kami menaiki Supra tour (lagi) untuk sampai ke kota Marrakesh, salah satu kota bersejarah Maroko. Butuh waktu 12 jam ! dan jalannya yang 100 kali lipat dari kelok 44 Sumatera Barat, tapi dibayar oleh pemandangan sepanjang perjalanan. kami dibuat terpesona dan sukses menahan diri untuk tidak mabuk darat.

Merzouga benar-benar memberi kesan tersendiri. kami tidak berharap lebih selain menapak gurun, tapi kami malah diberi lebih dari sebuah perjalanan melepas penat 1 semester kuliah. Kami melihat rupa alam lainnya yang semakin membuat kita sadar bahwa sungguh kita hanyalah satu titik di dunia yang luas ini. Maka berjalanlah di bumi Allah ini, dan ambillah banyak pelajaran. terimakasih Merzouga, maka nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan ?

Merzouga,

8-9 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s