Reseptor Farmakologi

IMG_5824

Boleh jadi Alm. Bapak Sigit yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan pelajaran ini. Saya ingat betul, ketika ia mengajarkan tentang reseptor obat, ketika itupula otak saya dipenuhi oleh pertanyaan :

kenapa reseptornya sama, obatnya beda walaupun satu golongan (misal sama-sama obat stroke), tapi cara kerjanya bisa beda? tsahhh

Sayangnya pelajaran ini identik dengan hafalan nama-nama obat dan cara kerjanya, bisa dipelajari tanpa dosen, atau dipelajari dengan sendirinya baca buku. padahal tidak seperti itu.

Sebenarnya, alasan yang membuat saya kepengen jurusan Clinicial Pharmacology, di Univ of Glasgow ini, karena menawarkan pemahaman mengenai Farmakogenomik dan Personalized medicine, dimana ini akan menjadi trend obat masa depan, yaitu sesuai materi genetik individu. Tambah lagi, di Univ of Glasgow lebih mengarah pada obat-obat Cardiovascular, Neuro-disease dan metabolic disorders. Pas ! sama trend penyakit era genomik.

Jadi, dengan alasan diatas, saya pengen banget bisa mendalami lebih banyak tentang Farmakogenomik melalui disertasi saya nanti, tapi… ditengah perjalanan, entah mengapa (saat ini), lagi-lagi tidak bisa move on dengan core farmakologi itu sendiri, yaitu nasib tubuh terhadap obat, the basic interaction between drugs and our body, specifically yang berperan banyak disini adalah the receptor.

Ketika memilih topik skripsi dulu, saya sebenernya ingin menantang diri saya di Farmakokinetik (nasib obat dalam tubuh) dimana saat itu dosennya adalah dosen wanita terpintar (versi saya), sebut saja inisialnya ibu Lucy DN Sasongko. Tapi, lagi-lagi, di detik-detik terakhir saya memutuskan topik, saya akhirnya memilih farmakologi, dengan spesifik membahas tentang signalling cascade ketika obat mengaktivasi reseptor.

Well. boleh ditarik kesimpulan, saya selalu punya curiousity pada reseptor obat, dan ini terjadi ketika menulis essay demi pemenuhan tugas Principle of Pharmacology

” Does the classical/ receptor pharmacology still plays an important role in 21st drug development?”

Dan akhirnya saya tertarik untuk membahas Allosteric Modulation. apaan tuh? setelah kelar essay, janji deh bakal dibahas di blog ini.

Nah.. sekarang masalahnya adalah…

The more you are interested in, the more you should to know, the more you feel confused, the more you don’t know what things should to write. But, congratulation, you are in the right path in getting knowledge

still keep it up

saya mau ngucapin makasih banyak sama Alm Pak Sigit, Pak Kus, Pak Ketut, Bu Elin, Bu Ima yang sudah memberikan saya pelajaran tentang Farmakologi.

Ditulis dengan mata berkaca-kaca karena masih sedikit progress essainya padahal udah begadang terus di perpus tiap malem tapi terdistraksi oleh banyak hal yang sia-sia T_T

cheers

Main Library, UoG

356 out of 2000 words, H-9 deadline

21st Jan 2015

3 thoughts on “Reseptor Farmakologi

Leave a Reply to ikhwanalim Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s