Minggu ini dan Mengingat Tentang Oxford

Hampir saja sebenarnya saya mengubah rencana untuk tidak singgah di Oxford sebelum menuju tujuan akhir, London, karena tidak ada lagi bus setelah pukul 5 sore dari Manchester ke Oxford. Untungnya masih ada moda lain yaitu kereta yang bisa digunakan walaupun harus merogoh kocek lebih dalam. Demi Oxford, one of my wonder city to visit. Demi Oxford, yang ketika mendengar nama universitasnya saya seakan pungguk merindukan bulan. Demi Oxford, yang saya kenal sebagai salah satu kota tempat berkumpulnya orang-orang cerdas dari segala penjuru dunia. Sebegitukah Oxford ?

Ketika menginjakkan kaki keluar kereta, saya merasakan hembusan angin yang berbeda (ceilah lebay). Saya seperti merasa memang masuk pada kawasan terpelajar penuh penemuan hebat dan persaingan yang positif. Mungkin, mindset ‘wah’ tentang Oxford secara tak sadar sudah terbentuk dibenak saya. Saya kemudian bergegas menuju hostel pelajar yang terletak persis di belakang stasiun. Badan ini sudah harus istirahat agar besok perjalanan mengelilingi kota kecil ini dalam keadaan tubuh dan wajah yang fresh. Namun, sebelum beranjak tidur, saya iseng browsing dan mencari informasi terkait how-to-apply PhD di universitas tertua pertama di UK ini. keinginan untuk belajar lagi selalu ada, apalagi di tempat terbaik seperti ini, saya langsung termotivasi. Namun, disisi lain, segera saya juga merasakan lack of confidence alias minder. Saya juga throw back pada pengalaman yang masih minim mengumpulkan portfolio, atau terjun ke masyarakat secara langsung. Mengingat juga betapa masih minimnya usaha untuk bisa paham suatu ilmu, serta masih banyak hal sia-sia yang dilakukan. Saya selalu mempertanyakan apakah saya bisa? apakah saya pantas ?

A dream will come true, if I believe in, and it is doesn’t matter to be proved.

Oxford, sebuah kota yang entah itu istilahnya ditemukan atau berdiri sekitar tahun 911. salah satu kota tua di Britania Raya, sehingga pantas saja arsitekturnya didominasi klasik namun kokoh dan penuh filosofi. Pertama yang saya kunjungi adalah daerah Radcliffe Square, the Old Schools Quadrangle, yaitu Bodleian Library,  atau biasa dipanggil the Bod. Perpustakaan terbesar dan essential yang berdiri tahun 1602, memiliki koleksi 9 juta buku dan menjadi library terbesar kedua di UK. Sayangnya, saya mengunjungi Oxford ketika libur Christmas sehingga banyak objek-objek must visit di kota ini tutup, atau sepertinya ini pertanda saya harus kembali lagi kesana. Saya juga melewati The Clarendon Building, dibangun awal abad 18 dan pernah menjadi tempat untuk Oxford University Press yang buku-bukunya menarik tapi mikir-mikir untuk beli setelah mengenal adanya e-book gratis (sama ilmu aja pelit ngoi pantes…).

The Bod The Bod
The Clarendon Building

Salah satu bangunan yang saya suka adalah Radcliffe Camera karena arsitekturnya yang bernuansa seakan berada pada zaman neo-klasik. Bangunan ini dibangun tahun 1737-1749 dan didanai oleh John Radcliffe, yang menjadi pelajar Oxford bahkan ketika baru berusia 13 tahun hingga dinobatkan menjadi salah satu notable doctor di bidang kesehatan. Di lokasi Radcliffe Square ini kita juga akan menjumpai church of St. Mary’s the virgin, gereja official universitas Oxford. Gereja ini dibuka untuk umum, dan kita bisa melihat kota Oxford dari menaranya. karena ini adalah karyawisata mahasiswa, segala hal yang berbayar, bukan menjadi pilihan. So sorry

The Radcliffe Camera The Radcliffe Camera (pengen masuk Oxford, Mak… !)

Setelah puas menyusuri daerah Catte Street, saya pun berjalan ke arah New College Lane dan melewati Hertford Bridge atau sering disebut Bridge of Sighs, karena arsitekturnya mirip di Venice padahal yang nge-desain tidak bermaksud untuk meniru. Saya kemudian berjalan ke arah university park, melewati college-college, dan melihat sekilas interior kampus terbaik dunia ini walaupun hanya dari balik pagar (hanya church yang buka, dining hall tempat penerimaan para murid Hogwarts oleh kepala sekolah Albus Dumbledore di film Harry Potter tutup).

Bridge of Sighs Bridge of Sighs
University Park
Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford Arsitektur yang klasik tapi kokoh, Colleges yang ada di University of Oxford
Hanya bisa memandangi dari depan gerbang Hanya bisa memandangi dari depan gerbang

Oxford itu… kota yang nyaman bagi saya pribadi pada pandangan dan injakan kaki pertama. Selain karena kotanya teduh (tidak padat tidak pula terlalu sunyi), penuh motivasi dan inspirasi, juga karena mudah menjumpai tempat sholat. Mendengar azan secara langsung di mushola Bangladesh dan menunggu jamaah, sungguh suatu kedamaian tersendiri walau hanya sebentar. Saya juga melihat beberapa start up bisnis yang lebih kreatif di Oxford. Mungkin karena Oxford adalah kota berkumpulnya anak muda, sehingga banyak pula ide-ide baru nan segar.

Cahaya keemasan dari matahari Cahaya keemasan dari matahari

Hal yang paling berkesan bagi saya ketika mengunjungi Oxford adalah ketika memasuki Museum of History of Science. Saya hanya punya waktu 30 menit di museum ini karena kami harus segera menunggu di stasiun supaya tidak ketinggalan kereta. Langsung saja saya memprioritaskan untuk menyusuri lantai basement terlebih dahulu, dimana dipamerkan penemuan-penemuan kesehatan yang menjadi pemicu berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Sebut saja yang menjadi daya tarik saya di tempat ini adalah sejarah ditemukannya Penicillin, antibiotik golongan beta laktam, salah satu nenek moyangnya antibiotik. Penicillin pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming (ilmuwan Skotlandia lho :D) dan tim yang dibentuk di Oxford ini memberikan kemajuan tentang aktivitas Penicillin secara in vivo. Selain itu, saya beralih memandangi 2 lemari berisi guci-guci nama latin obat (fotonya post saya yang ini https://yangiedwimp.wordpress.com/2015/01/21/reseptor-farmakologi/). Sebagai seorang farmasis, tentulah saya langsung bisa menebak nama-nama latin tersebut refer to what drugs. Saya menyadari bahwa ilmu yang saya geluti sata ini, farmasi, sungguh esensial dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk koleksi-koleksi kedokteran, seperti alat bedah zaman kuno, saya hanya melihat sekilas. Saya hanya tidak ingin kehilangan waktu agar bisa juga mengeksplor lantai dua.

Health Science Health Science
Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik Penicillin, salah satu penemuan fenomenal yang menjadi titik awal berkembangnya Antibiotik

Di lantai 2 saya hanya berkesempatan melihat objek Astrolobe, yang digunakan oleh astronom-astronom zaman dulu untuk menentukan tanggalan dan penunjuk arah. Yang membuat saya sangat tertegun dan terdiam sejenak adalah penemu-penemu awalnya sebagian besar adalah mereka yang hidup zaman kekhalifahan islam yang saat itu sedang menguasai Konstantinopel, Persia, dan Andalusia untuk bisa menentukan arah Qibla. di museum ini dijelaskan secara detail bagaimana hubungan ilmu pengetahuan dan islam, koneksi antara sciences dan seni dalam kehidupan muslim yang dipamerkan melalui koleksi keramik,  logam, dan manuskrip-manuskrip abad pertengahan.

Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam Terkesima dengan Astrolobe yang ditemukan bahkan dari abad ke 10 oleh ilmuwan Islam

Nah, apa hubungannya dengan minggu ini ?

Minggu ini, saya merasa apa yang saya pelajari sepertinya tidak menempel dalam otak saya, bahkan contoh kecil adalah ketika diskusi tentang pemilihan obat. Rasanya, kok saya sudah belajar tapi tidak juga bisa menjawab. Minggu ini, rasanya saya seakan tidak tahu sebenarnya harusnya berkontribusi dimana di masa depan, saya seperti masih banyak berbicara ketimbang karya nyata, cepat merasa puas dan tidak konsisten terhadap suatu hal baik. Saya seperti tidak memiliki kapasitas. Seketika itu juga saya di’tegur’ ketika saya membaca wawancara Humans of New York dengan Obama.

“But the thing that got me through that moment, and any other time that Ive felt stuck, is to remind myself that it’s about the work, the effort. Because if we are worrying about ourselves, if you’re thinking : Am I succeeding ? am I in the right position ? am I appreciated (valued) ? Then you’re going to end up feeling frustrated and stuck. But if you can keep it about the work, you will always have a path. there is always something to be done.”

Mengenang Oxford, mengenang tiap sudut Museum History of Science telah mengembalikan semangat saya kembali. Begitulah para sahabat Nabi, dan beliau-beliau yang berkontribusi zaman kejayaan Islam meninggalkan karya-karya hebat hanya untuk penilaian Allah, yang bekerja dan hasil akhir adalah hadiah dari-Nya. Maka patutlah mereka bergembira di hari akhir, mengalir pahala tak putus karena ilmu mereka yang terus digunakan oleh generasi-generasi saat ini. Sedang saya? Membandingkan usaha saya saat ini dengan mereka, rasanya jauh sekali. But, deep in my heart, I promise to just think about work hard, pray hard, ikhlas, be grateful and be patient, and maximize my contribution to educate future generation. 🙂

“Based on the experience of history and civilization of mankind, which is more important for Muslims today, to no longer busy discussing the greatness that Muslims achieved in the past, or debating who first discovered the number zero, including the number one, two, three and so on, as the contribution of Muslims in the writing of numbers in this modern era and the foundation and development of civilizations throughout the world. But how Muslims will regained the lead and control of science and technology, leading back and become a leader in the world of science and civilization, because it represents a real achievement.” – BJ Habibie

I love Oxford I love Oxford

One thought on “Minggu ini dan Mengingat Tentang Oxford

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s