Review Buku: Jatuh Hati pada Montessori

Kali pertama saya mendengar istilah Montessori adalah ketika mengikuti sebuah grup parenting, dimana salah satu programnya yaitu kuliah online. Topik yang saat itu dibahas adalah metode Montessori. Metode ini nampaknya sedang ngetrend, sedang ramai dibuat hastagnya #montessoridirumah oleh para ibu muda era sekarang. Ya ! saya pun penasaran. Saya mengikuti kuliah online secara pasif waktu itu, istilahnya hanya silent reader. Saya mencoba memahami filosofi dan konsep yang ada dalam metode tersebut. Saya pun menarik kesimpulan sederhana dari hasil kuliah singkat tersebut.

“Oh… Montessori itu bagaimana kita ngajarin anak kecil, membebaskan anak untuk ikut kegiatan kita sehari-hari seperti membiarkannya nyendok sendiri, menuang air, membiarkannya mengenal alat-alat rumah tangga pecah belah dengan percaya bahwa itu akan menjadi memorinya dan berguna untuk life skill ketika ia dewasa”

“Oh… Montessori itu dimulai dari belajar menyendok.. sesimpel itu yah.. menuang, menjepit kancing, menggunting, dll”

“Oh… ada materialnya tersendiri yah Montessori..wah materialnya kenapa didesain begini amat… duh ini material dapet drmana ya belinya ?wah modalnya kok mahal L “ gumam saya ketika iseng mengecek harga material-material Montessori di Tokped atau Buka Lapak.

Pemahaman saya terhadap konsep dan filosofi Montessori belum terjawab dan beberapa bahasan lain tentang Montessori pada buku atau artikel lain ternyata, menurut saya, lebih menjelaskan teknis aktivitas Montessori beserta contoh-contohnya. Bagaimana suatu aktivitas memiliki “ruh” kalau konsepnya saja saya belum paham atau takut gagal paham? apakah hanya mengikuti trend tanpa tahu filosofi di dalamnya ? hingga akhirnya menemukan buku Jatuh Hati pada Montessori karangan Vidya Dwina. Sesuai judulnya, tampaknya mba Vidya sukses membawa para pembaca untuk juga jatuh cinta pada Montessori.

Tentu pada awal buku-buku yang membahas mengenai aktivitas Montessori, pengarang pasti menjelaskan siapa itu Maria Montessori. Sebenarnya Maria Montessori sendiri tidak ingin jumawa mendeklarasikan bahwa ialah penemu metode tersebut. Beliau hanyalah memaparkan hasil temuan-temuannya sebagai orang dewasa yang sadar dalam mendampingi tumbuh kembang anak, baik saat perempuan Italia ini bekerja mendampingi anak berkebutuhan khusus, maupun ketika Beliau dipindakan di area pabrik dan membangun pusat pendidikan anak berama “Cassa de Bambini”. Penemuan-penemuan Beliau inilah kemudian menjadi filosofi metode Montessori. Apa saja temuan tersebut yang ternyata sangat relevan dengan keadaan anak-anak khususnya di tahun-tahun pertama tumbuh kembangnya (dalam hal ini dengan temuan yang saya komparisikan dengan observasi terhadap anak saya sendiri)? Beberapa temuan Maria Montessori tersebut sangat menarik bagi saya dan menjadi fondasi saya memahami konsep metode tersebut. Beberapa diantaranya yaitu :

  1. kecintaan anak pada pengulangan (repetition). Sebagai contoh ketika Gahtar yang ingin sekali dibacakan salah satu buku berulang-ulang-ulang sampai mulek. Ternyata memberikan ruang bagi anak untuk mengulang kegiatan yang sama berarti memberi kesempatan kepada mereka mengekspolari, kemudian mengobservasi lalu akhirnya memahami memahami. Setelah paham ia akan puas dan hal ini dapat mengembangkan citra diri yang positif. Tinggal kita sebagai orang tua yang mengarahkan melalui kegiatan berulang tersebut, kita tetap bisa mencapai tujuan suatu pengajaran tertentu,
  2. Kecintaan anak pada kegiatan dengan material, bukan mainan. Terbukti ketika saya membeli mainan dan berharap Gahtar akan suka tapi yang lebih ia sukai ternyata adalah… kardusnya… walaupun begitu, bukan berarti mainan yang dirancang untuk anak merupakan hal yang tidak baik.
  3. Kemandirian dan disiplin diri. Ini salah satu bagian yang menohok karena ternyata anak berkeinginan untuk melakukan semua sendiri. Sayalah yang ternyata menepis keinginan tersebut cuman karena saya takut rumah kotor, pengen cepat, dan sebagainya. Padahal, jika sudah diperkenalkan dan dibiasakan, anak-anak ternyata memiliki disiplin diri yang baik.

Bagian awal buku ini juga menjelaskan pentingnya 6 tahun pertama. Saya rasa semua ornag sudah sepakat bahwa di tahun-tahun awal tumbuh kembang anak, anak adalah peniru ulung ia akan menyerap dan mencerna segala pengetahuan yang ada di lingkungannya atau kita kenal dengan istilah absorbent mind. Montessori sendiri membagi periode anak absorbent mind ini menjadi periode un-conscious mind dan conscious mind.  Bagi anak 0-3 tahun ia berada pada fase absorbent un-conscious mind. Pikirinnya seperti spons, menyerap sebanyak mungkin informasi melalui interaksinya dengan lingkungan menggunakan seluruh indranya. Pengalaman ini menjadi tabungan baginya untuh tahapan tumbuh kembang selanjutnya.sedangkan pada kategori usia 3-6 tahun, anak sudah memiliki absorbent conscious mind. Mereka telah paham mana yang baik mana yang salah, mana yang benar. Mereka sudah lebih sadar untuk memilih. Masa 6 tahun pertama penting karena masa ini adalah masa kepekaan anak terhadap: lingkungan (Ia punya fitrah baik untuk turut serta membantu aktivitas/ kegiatan orang dewasa seperti ikut merapikan atau ingin menyusun baju ketika kita memasukkan baju ke dalam lemari. Respon kita malah membentak karena membuat kita repot merapikan kembali), ikut membantu ibunya dan saya juga pernah mengobservasi anak sendiri ketika abis nyetrika nyusun baju eh dia mau ikutan; benda kecil (saya ingat ketika Gahtar bermain di musholla lalu focus terpusat seakan sangat tertarik dengan manik-manik berukuran sangat kecil yang saya pun abai, sedang baginya adalah hal baru); kepekaan terhadap kelima indra. Sebagai contoh, tidak sedikit dari kita yang kesal karena anak terus memasukkan semua benda ke mulut? Padahal bisa jadi, hal tersebut sebagai bagian dari upayanya berinteraksi dengan lingkungan dengan upayanya menstimulasi indera pengecaoan. Alih-alih dimarahi, lebih baik kita respon dengan aktivitas yang lebih baik, seperti menstimulasi indera pengecapan dengan berbagai rasa dan tektur buah.

Bagian inti dan bagian paling banyak halamannya yaitu bab tentang konsep dan filosofis Montessori. Bab ini sukses membuat saya berpikir bahwa beberapa pemahaman saya sejauh ini tentang Montessori masih keliru. Bagian ini juga membuat saya membolak-balik halaman mengulang lagi dari halaman pertama bab ini, berhenti sejenak untuk mencoba mengobservasi ke anak, sehingga membuat saya menamatkan buku terkhusus bab ini cukup lama (selain karena kerjaan akademis yang numpuk hehe). Apa benar anak bukan kertas kosong? Bukankah penolakan ia untuk makan memberikan kita informasi bahwa anak punya kendali diri sendiri. Apa benar konsep Montessori follow the child dan freedom yang benar-benar bebas tanpa batasan? Apa benar cara saya menasihati anak saat ini adalah bentuk respek saya pada anak ? apa saya sudah menyiapkan lingkungan dimana anak merasa dihargai ? mengapa dalam metode Montessori harus pakai alas kerja, harus dengan benda konkret? Bagaimana bila saya mau mengenalkan binatang buas? Apa perlu saya bawa ke kebun binatang terus? bagaimana sebenarnya real pelaksanaannya ? apa betul harus punya materialnya? anak memiliki kemampuan self-correction lalu bagaimana cara terbaik mengoreksi anak ? Semua berhasil dijelaskan detail satu persatu dalam buku ini. Hal lain yang menjadi poin plus buku ini selain sarat informasi konsep dan filosofi, juga kaya akan pengalaman Mba Vidya sendiri dalam mendampingi anak-anak usia dini di sekolah asuhannya yang berbasis Montessori. Kombinasi teori, pemahaman, dan pengalaman penulis membuat buku ini sangat seimbang serta memicu rencana aksi langsung pembaca untuk menerapkan Montessori pada kehidupan anak sehari-hari. Bukan hanya bahasan yang mengambang tanpa ada opsi solusi.

Dari buku ini saya dapat memahami bahwasanya fondasi utama metode Montessori yaitu how to stimulate all kids’ senses. Lalu rancang aktivitas bersama yang menstimulasi semua indra anak. Bisa denga hal yang sangat sepele dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak ternyata membutuhkan kegiatan bermakna, yang tidak hanya untuk menyalurkan energinya yang meruah, tapi juga agar mereka merasa manfaat dan berharga. Saya jadi paham bahwa ketika Gahtar tantrum untuk bisa menonton baby shark, sebetulnya karena ia hanya ingin memenuhi kebutuhan stimulas indranya. Dengan memahami metode Montessori, saya berusaha untuk meresponnya dengan menyediakan aktivitas yang lebih bermanfaat yang dapat menstimulasi seluruh indranya.

Jatuh Hati pada Montessori juga memaparkan area dalam Montessori yang memberikan saya ide untuk membagi ruang bermain Gahtar mengikuti kelima area dalam Montessori. Tidak lupa, dalam buku karyanya, mba Vidya juga mengajak orang tua dan guru untuk paham peran dan fungsi sebagai orang dewasa yang mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Bahwa kita adalah penghubung antara anak dan lingkungan, kita pemberi informasi dan batasan baik dan buruk, kita adalah observer dan interpreter kebutuhan anak, evaluator untuk diri kita sendiri dan juga anak ternyata tidak melulu harus dikoreksi. Yang utama dan penting bahwa orang tua dan guru adalah teladan bagi anak-ana. Apa yang kita tanam, akan dituai kelak. Buku ini juga dilengkapi tips memilih sekolah anak usia dini bagi para orang tua. Hanya berjumlah 211 halaman, sudah sarat dan kaya sekali pengetahuan dan pengalaman tentang Metode Montessori.

I am falling in love too with Montessori. Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang masih menggantung tentang metode tersebut serta membangkitkan keinginan saya untuk lebih dalam lagi memahami filosofi Montessori (pengen baca yang pengarangnya langsung ibu Maria Montessori dan pengen ikutan workshopnya mba Vidya). Bukan hanya itu, yang lebih penting lagi membuka sudut pandang saya. Saya yang dulu sempat anti kata belajar dan calistung untuk anak balita, untuk tidak ragu lagi menggunakan kata belajar dalam mengajak anak melakukan sebuah kegiatan. Sebagai orang tua, yang perlu saya pahami dan pastikan bagaimana akhirnya kegiatan belajar ini menjadi bermakna dan menyenangkan. Anak pun akan mengasosiasikan kata belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan. Sepakat dengan Vidya, jika sudah suka maka tidak ada yang membuat menjadi terpaksa untuk dilakukan bukan?. Memahami fondasi utama konsep Montessori menjadikan saya pribadi yang lebih sabar, merespon hal-hal yang tidak sesuai dengan menjadi lebih baik dan tepat. Bahwa ketika memilih menjadi orang dewasa yang sedang mengawali masa-masa awal anak, bukan hanya mengikuti ego saya tapi juga melihat sisi kebutuhan bersama. Buku ini tentunya juga sebagai sarana evaluasi saya untuk melihat lebih dalam binar mata kecil Gahtar dan bertanya sudahkah saya bahagia membersamainya dan dia pun bahagia bersama saya? saya sadar bahwa ekspresi wajah dan nada suara saat merespons kesalahan anak sangatlah penting.

To sum up, tidak ada metode yang salah maupun benar. Tidak ada metode yang benar 100%, yang ada hanyalah niat dan mengusahakan yang terbaik dari kita untuk terus mencintai keluarga dengan lebih baik setiap waktunya. And finally.. Let Allah do the rest! Recommended book! Enjoy reading!

5 thoughts on “Review Buku: Jatuh Hati pada Montessori

  1. tapi ada yang mengusik hati ketika penulis terkesan judgemental seperti kata-kata “sedih/miris dengan penerapan montessori oleh si A ato pengalaman ortu lain” gimana gitu bacanya

    1. Bener mba… makanya penulis ingin meluruskan hal-hal bengkok menurut versinya beliau yang telah mengikuti pendidikan formal ttg montessori :). tapi kalau pengalaman saya sejauh ini, konsep bagus tapi prakteknya ga bisa saklek..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s