Review Buku: Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

Assalamualaykum !!!

Bismillah.. kali ini kepengen share in my point of view buku berjudul Keluarga Kita, Mencintai dengan Lebih Baik karya mba Najeela Shihab. Penulis sendiri memang memilih berkontribusi untuk Indonesia melalui pendidikan, terkhusus pendidikan keluarga, karena penulis percaya bahwa mendidik anak yang pertama dan utama adalah dari keluarga. Hingga pada 2012, Najeela Shihab akhirnya mendirikan Keluarga Kita. Dari sini tercetus pula Relawan Keluarga Kita atau Rangkul, sebuah program pemberdayaan keluarga untuk menyebarkan cita-cita Keluarga Kita tersebut ke seluruh pelosok Indonesia. Rangkul tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan diharapkan menjadi wadah positif bagi para orang tua untuk terus belajar dan saling mendukung.

IMG_3227
Cover Depan Buku Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

Sebelum membaca bukunya, saya sebenarnya lebih dahulu mengikuti kelas rangkul di Bandung. Baru beberapa kali sih pas bagian membahas hubungan reflektif tentang manajemen emosi dan disiplin positif. Kesan pertama mengikuti kelas saya suka.. karena tidak menggurui.. dan menerima segala kondisi dan situasi semua Ibu.. benar-benar menjadi wadah untuk berbagi serta belajar lebih baik. Setiap selesai kelas, saya mulai praktekan ilmunya. Memang belum konsisten, tapi saya merasa perubahan yang lebih positif di kehidupan keluarga dan pengasuhan. Yang khas dari Keluarga Kita adalah 5 prinsip pengasuhan yang dapat diterapkan dalam setiap kesempatan terkhusus dalam pengasuhan anak. Namun sebetulnya 5 prinsip C I N T A ini dapat pula diterapkan pada suami atau bahkan keluarga besar.

  1. C Keluarga kita mencintai dengan Cari cara sepanjang masa. Pengasuhan adalah perjalanan panjang dan tujuannya jangka panjang. Diperjalanan pengasuhan ada banyak sekali godaan jalan pintas. Contoh kecil saja kita sering geram anak sulit makan dan kita ambil jalan pintas dengan paksa makanan masuk kemulut walaupun anak berontak menangis. Kita lupa, bahwa anak tersebut nanti akan dewasa dan perlu mandiri unutk menentukan makanan yang halal, baik, dengan pola serta nutrisi yang diperlukan oleh tubuhnya. Kita lupa dengan tujuan jangka panjang ini. oleh karena itu, kita perlu terus pikir strategi yang tepat, untuk cari cara terus.
  2. I Keluarga kita mencintai dengan Ingat impian tinggi. terkadang kita hanya ingat dengan ekspektasi pribadi , ambisi dan tuntutan yang ingin kita dapat tanpa melihat betul apakah ini sama dengan ekpektasi atau kebutuhan anak/ keluarga.

    Orangtua perlu percaya bahwa anaknya mampu, bahkan sebelum anak membuktikan bahwa ia berhasil.

  3. N Keluarga kita mencintai dengan Nerima Tanpa Drama. Nah…ini yang paling makjleb bagi saya… ketika seorang anggota keluarga misal suami atau anak menghadapi tantangan atau mengalami tekanan emosi, dia sebetulnya sudah sibuk untuk mengelola emosi/ tantangan tersebut. Yang dibutuhkannya hanyalah dukungan tanpa syarat, dukungan yang tulus ikhlas. Teori gampang tapi kenyataannya sangat sulit bukan?. Bahagia memang seharusnya tidak hanya dirasa saat anak mendapat piala, saat suami belikan emas, namun ketika kalah dan salah, justru istri/orang tua harus dapat menahan cela dan mengendalikan amarah. dukungan tanpa syarat dari lingkungan terdekat menjadi modal berbuat baik untuk banyak orang.
  4. T Keluarga kita mencintai dengan Tidak takut salah. Tidak ada yang sempurna, orang tua maupun anak sama-sama belajar sepanjang hayat. Semua harus ikut berdaya untuk berubah karena siklus pengasuhan diwariskan melintasi generasi.
  5. A Keluarga kita mencintai dengan Asyik main bersama. Rumah diharapkan menjadi tempat pertama kembali.. yang selalu dirindukan.. maka perlu interaksi hangat dan humor yang akan menjadi candu bagi setiap anggota keluarga.. bukan hanya perlu kedekatan tapi perlu pula keseruan..jadi.. jangan lupa menikmati momen beraktivitas seru bersama.

Kemudian penulis membagi bahasan pengasuhan/ kurikulum dalam buku ini menjadi 3 poin penting yang dipraktikkan dengan menerapkan CINTA yaitu: hubungan reflektif, disiplin yang positif, dan belajar yang efektif. Ketiga poin tersebut tidak langsung dipaparkan satu persatu 5W1H, tapi dimulai dengan pemaparan hal-hal yang sebetulnya salah kaprah di masyarakat yang diikuti dengan penjelasan serta pandangan penulis seperti:

apakah keluarga besar tidak perlu terlalu terlibat dan dekat dengan anak-anak?

apakah penggunaan time out efektif untuk menumbuhkan disiplin anak ?

apakah penggunaan stiker bintang merupakan reward atau hadiah? apakah reward dan punishment itu efektif?

dan sebagainya..

Banyak sekali ilmu baru yang membuka pandangan saya selaku orang tua dan juga sebagai sarana refleksi saya selama ini menjadi anak serta orang tua.

Pada hubungan reflektif, saya semakin paham bahwa ada beberapa hal yang tidak dapat saya kontrol namun mempengaruhi hubungan, seperti hubungan kita dipengaruhi oleh pola pengasuhan di masa lalu dan keunikan tempramen. Dari sini saya menjadi semakin aware dan mengobservasi apa tempramen bawaan anak saya, lebih sensitif terhadap kebutuhan anak, diri, serta anggota keluarga lain, dan apa saja pola pengasuhan masa lalu yang menjadi lingkaran negatif sehingga perlu kami putus. Kemudian apa yang bisa kita lakukan untuk hubungan yang lebih baik dalam keluarga? buku ini memberikan arahan untuk berkomunikasi yang efektif serta memberi tahap membuat resolusi konflik agar dapat diterima masing-masing anggota keluarga, juga dapat pula timbul solusi/ kesepakatan bersama.

Pada disiplin positif, saya menjadi lebih paham perbedaan hadiah dan sogokan, saya belajar memahami setiap keputusan yang saya buat apakah hanya mementingkan kebutuhan saya atau memang berangkat dari kebutuhan bersama. Selain itu, saya juga belajar bagaimana bijak memuji, menyampaikan kritik untuk anak dan mengarahkan anak untuk memperbaiki kesalahan dengan tepat. Dalam bab ini juga dilengkapi dengan tahap perkembangan anak hingga 12 tahun. Diharapkan orang tua paham di tahap mana perkembangan anaknya. Berbeda tahap perkembangan tentu berbeda pula tantangan yang dihadapi, berbeda pula caranya.

Pada belajar efektif, Keluarga Kita mengajak orang tua untuk sadar bahwa belajar efektif harus menyenangkan dan perlu tantangan bukan malah menjadi beban. keberhasilan belajar sesungguhnya adalah perilaku yang positif dan mencetus karya. Setiap anak lahir sebagai pembelajar, pribadi yang penuh rasa ingin tahu dan mencoba berbagai hal. Lalu bagaimana membuat belajar menjadi menyenangkan dan bermakna sepanjang hayat? Buku tersebut memaparkan beberapa aspek penting berkaitan dengan kecerdasan esensial masa depan, stimulus yang dapat diberikan, serta arahan dalam memilih sekolah serta bekerjasama dengan sekolah agar tujuan pengasuhan bersama dapat tercapai. Buku ini juga dilengkapi dengan pertanyaan orang tua serta pandangan penulis untuk menjawab pertanyaan orang tua.

Overall, dalam segi konten banyak sekali pembelajaran dan wawasan baru dari buku Keluarga Kita. Bagaimana saya menerima, memahami, mendeskripsikan serta mengekspresikan emosi saya, perubahan komunikasi terutama dengan pasangan dan anak, pemahaman tentang hukuman vs konsekuensi, dukungan vs sogokan, bagaimana menyusun kesepakatan keluarga serta rencana sekolah saat ini sedikit-banyak terinspirasi dari buku maupun pertemuan Keluarga Kita. Buku ini menjadi salah satu media belajar saya untuk lebih tenang menghadapi konflik/ tantangan hubungan keluarga.  Ilutrasi dan pemilihan warna pada buku juga saya rasa pas dan menarik. Saya suka dengan pemilihan kosakata dalam rangkaian kalimat pada buku ini, namun mungkin tidak semua pembaca dalam hal ini akan langsung paham karena diksi yang dipilih sedikit lebih tinggi. Selain itu, sedikit komentar saya dalam penyusunan buku tersebut yaitu ukuran font yang kurang proporsional.

Sekian review dari saya ^^ semoga kita menjadi pribadi yang senang sekali memperbaiki diri dan mencintai ilmu. Terimakasih Mba @Najeelashihab @Keluargakitaid atas ilmunya. Mengutip dari buku Keluarga Kita anak tidak bisa “memilih” orang tua, pun kita orang tua tidak bisa “memilih” anak. Tetapi, setiap keluarga sejatinya dapat memilih untuk MENCINTAI LEBIH BAIK setiap harinya :).

One thought on “Review Buku: Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

  1. Mantaaabb, mbaak. Jadi pengen beli. Tp sepertinya meski diksi yg dipilih sedikit lebih tinggi, bahasa penyampaiannya ttp greget buat dibaca yaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s