Kupas Tuntas The Read-Aloud Handbook

Semenjak menjadi guru di Sekolah Bermain Balon Hijau di Tubagus Ismail Bandung (sampai sekarang masih ada yeay ! Proud of you Ocha, Iin, Mehe *icon tepuk tangan) waktu zaman galau TA-sarjana-yang-tak-kunjung-selesai-gagal-mulu-ada, saya jadi keranjingan menggeluti dunia tumbuh kembang anak terutama literasi anak. Saya jadi nyicil beli buku-buku anak untuk dibacakan kepada bocah-bocah. Saya tidak punya background ilmu pengetahuan tentang literasi anak, cuma bermodal rasa bahagia ketika membacakan sebuah buku lalu mereka antusias, bertanya dan menjawab pertanyaan. Pun ketika berkesempatan mengecap pendidikan di UK, saya dapati perpustakaan yang ramah anak dan ada di setiap kelurahan, aksesnya mudah, orang tua yang acap kali terlihat membacakan buku untuk anak, serta buku-buku anak second yang super murah apalagi gratis membuat kalap.

Sampai akhirnya punya anak, saya lakukan apa yang pernah saya dapat dari pengalaman menjadi guru PAUD serta pengalaman baik di UK kepada anak saya. Saya bacakan buku rutin, kadang dia excited kadang digubris pun tidak, atau bahkan menutup buku karena tidak mau dibacakan juga pernah. Tapi karena emaknya senang sekali kalau bacain buku anak, saya pun tetap lakukan. Sekali lagi, saya lakukan hanya karena senang hasilnya pun belum terlihat namun saya percaya suatu saat nanti mungkin berbuah. Saya kemudian semakin dikuatkan ketika saya menemukan sebuah buku yang sungguh menggugah saya, “The Read-Aloud Handbook” karya Jim Trelease. Cover biru kuning yang ‘renyah’ menggambarkan sebuah keluarga ayah, ibu dan kedua anak yang membaca bersama dan ga nyangka isinya sangat padat ilmu! Banyak jurnal-jurnal yang disitasi tapi berhasil dipaparkan oleh penulis secara mengalir sehingga cukup mudah dipahami walaupun yang saya baca adalah versi terjemahannya. Oleh karena itu saya nobatkan buku ini menjadi salah satu buku recommended berfaedah versi MakNgoy!

Baique…pada postingan kali ini, saya ingin mengupas tuntas buku The Read-A-Loud Handbook ini.

Cover Buku (sumber: google.com)

Jim memulai dengan memberikan fakta di Amerika tentang nilai mata pelajaran membaca selama hampir 40 tahun yang…bias ditebak? Stagnan saudara-saudara… padahal teknologi untuk memfasilitasi belajar semakin canggih. Apa sebab?

Kemudian Jim memaparkan kisah seorang anak dari kota kecil di Amerika yang menjadi salah satu anak yang berhasil memperoleh nilai sempurna dalam ujian nasional. Orang tua anak tersebut diberondong pertanyaan dari para wartawan mengenai kursus apa yang diikuti. Ternyata, yang dilakukan hanyalah ikut program gratis sejak anak ini bayi yaitu membacakan nyaring selama 30 menit setiap malam, setiap tahun hingga mereka bisa membaca sendiri dan buku-buku tersebut dipinjam dari perpustakaan secara gratis!

Kita bisa tarik benang merah disini yaitu aktivitas rutin membacakan nyaring ternyata berdampak pada kemampuan belajar dan kecerdasan anak.

Buku ini memberikan kita pemahaman tentang apa, mengapa, serta bagaimana membacakan nyaring. Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan pandangan mengenai isu-isu mengenai pembelajaran menggunakan e-book, perpustakaan masa kini dan pengaruh teknologi digital seperti televisi dan audio book. Lebih lengkap lagi, buku ini juga menyisipkan pesan untuk para ayah bahwa perannya sangat esensial dalam mencetak a good reader serta kisah-kisah membacakan nyaring untuk anak yang berkebutuhan khusus.

Mari kita mulai…

Mengapa Membacakan Nyaring ?

Membacakan nyaring sebuah buku kepada anak menjadi sesuatu yang efektif dalam pembelajaran. Jim mengibaratan seperti halnya rumah yang kokoh, tonggak kayu sangat penting sebagai penyokong. Begitu pula dengan pembelajaran, kata-kata adalah struktur utama. Ada dua hal efektif mendapatkan kosa kata yaitu dengan melihat dan mendengar. Karena anak masih butuh beberapa tahun lagi untuk dapat membaca, maka cara terbaik dimana kita dapat mengirim kata-kata menjadi fondasi yang kuat adalah dengan membacakan nyaring. Apalagi suara yang anak dengar adalah suara orang tuanya. Tidak ada anak yang tidak suka suara orang tuanya. Lagipula membacakan nyaring adalah sebuah aktivitas sederhana yang tidak dapat disambi, sehingga anak akan berpikir bahwa aktivitas ini adalah waktu terbaik orang tua memperhatikannya, anak akan ketagihan dengan kegiatan tersebut.

Otak anak, terutama pada masa 5 tahun pertama kehidupannya dapat menyerap semua informasi seperti layaknya spons. Dalam otak anak ada tanggul besar yang menampung semua kosakata, artikel, imbuhan, fonem, struktur pembentuk kalimat yang ia dengar. Semakin banyak ia mendengar kosakata, makin penuhlah tanggul tersebut hingga akhirnya tanggul tersebut akan meluap dan akan masuk pada tanggul-tanggul dibawahnya yaitu: tanggul kosakata bicara, baca dan tulis.

Semakin banyak dibacakan nyaring dan menampung kosa kata dengar, semakin ia terstimulasi untuk berbicara, kemudian membaca dan menulis.

Kebanyakan instruksi dari pengajar untuk empat tahun pertama sekolah berbentuk oral, anak yang punya kosakata lebih besar akan lebih cepat paham. Membacakan nyaring membantu kita mempersiapkan anak di dunia sekolah kelak. Percakapan umum di tengah keluarga tetap dilakukan karena membantu anak memahami kosakata dasar, tetapi ketika kita membacakan buku kepada anak, kita mensuplai kata-kata yang jarang digunakan yang sangat membantu nya kelak waktu pembelajaran formal tiba. Secara bersamaan sebenarnya kita juga membiasakan anak dengan buku dan teks cetak dengan cara yang menyenangkan.

Ilustrasi tanggul digambarkan seperti ini

tanggul kosakata
Tanggul Kosakata (Diambil dari buku halaman 53)

Ada banyak sekali manfaat dari membacakan nyaring yang telah melewati berbagai riset dan pengalaman, antara lain:

  • Memberi informasi, ilmu pengetahuan. Jim menyebutkannya sebagai pengetahuan latar belakang. Lebih baik lagi setelah membacakan nyaring suatu buku, kita bisa melakuan aktivitas atau permainan yang digambarkan dalam buku tersebut. Contoh: kita membacakan buku tentang laut, kemudian kita dapat mengajak anak untuk memahami mengenai siklus air.
  • Membangkitkan imajinasi, inspirasi, rasa ingin tahu
  • Membangun kosakata, mengajarkan arti kata
  • Menstimulus bicara dengan mengenalkan fonem (penyebutan huruf yang benar)
  • Memberikan sosok panutan yang gemar membaca
  • Menanamkan kegemaran membaca dengan mengenalkan buku dan gambar
  • Menstimulus otak dan inderanya
  • Melatih focus/ memperpanjang rentang konsentrasi
  • Mengenalkan konsep belajar
  • Menghibur

Dan yang tak kalah penting adalah menciptakan bonding yang kuat antara anak dan orang tua.

Lalu pertanyaan berikutnya… Kapan memulai membacakan?

Menurut riset yang dipaparkan dalam buku Jim bahwa setidaknya ada 4 faktor yang mengindikasikan siswa yang tidak mengalami kesulitan di awal ketika sekolah dan membaca, yaitu:

  1. Anak tersebut sering membaca dan dibacakan buku secara teratur.
  2. Berbagai materi cetak (buku, majalah, koran, komik, dsb) tersedia dirumah. Studi terhadap 21 kelas taman kanak-kanak menunjukkan kalau anak-anak yang punya minat membaca paling besar berasal dari rumah dengan buku dan materi cetak ditemukan bukan hanya di satu tempat, tapi diberbagai tempat.
  3. Kertas dan pensil mudah di dapat anak. Titik awal rasa ingin tau tentang bahasa tulis adalah minat untuk mencoret-coret dan menggambar.
boy-reading-book-on-potty
Reading book on potty (sumber: google.com)

Jadi tidak perlu menunggu anak dapat membaca terlebih dahulu kemudian rutin dibacakan cerita. Sedini mungkin, makin segera dimulai makin baik.. Justru ketika kita mengenalkan buku setelah ia bisa membaca, aktivitas membaca malah akan menjadi suatu hal yang sangat berat dan melelahkan. Menurut beberapa penelitian, orang tua dapat mulai secara rutin membacakan nyaring sejak trimester terakhir dalam kandungan karena inderanya terutama pendengaran sudah terbentuk sempurna. Bagi bayi, itu adalah kelas pembelajaran pertamanya.

Bagaimana Membacakan Nyaring yang Baik Itu ? Apa Saja Tahapannya?

Ada 3 hal esensial untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring :

  1. Hadirnya orang tua/ orang dewasa sepenuh hati dan tubuh
  2. Hadirnya anak. Walau anak seakan tak mendengar. Salah satu strategi yang bisa kita lakukan untuk anak yang aktif yaitu menyediakan kertas dan pensil/ crayon di dekat anak sambil ia mendengarkan cerita.
  3. Buku dan waktu

Baca buku sesering kita dan anak punya waktu. Sisihkan paling tidak satu kali sehari untuk satu cerita (15-30 menit).

Dalam buku ini Jim juga memberi cara memilih buku yang baik. Salah satu kriterianya dengan mengetahui plot cerita apakah kita penasaran sehingga ingin segera membuka halaman selanjutnya, apakah jadi ingin nambah lagi setelah selesai baca? Buku yang baik bukan perihal telah mendapat award, buku yang baik yang berhasil membuat ceritanya melekat walau sudah bertahun-tahun berlalu. Makanya buku non fiksi seperti ensiklopedia ga terlalu direkomendasikan untuk dibacakan nyaring.

Pilihan buku di tahun-tahun pertama anak tentu berbeda dengan pilihan buku untuk anak usia 5-7 tahun ke atas. Untuk anak 0-3 tahun lebih baik buku yang full gambar dan sedikit kata (maksimal 1 kalimat), mulai dari ilustrasi hitam putih, beralih ke buku bergambar warna cerah untuk stimulasi penglihatan anak-anak secara bertahap. Pilih buku yang banyak pengulangan, bunyi-bunyi yang menyenangkan atau berima untuk menstimulasi pendengarannya. Pada anak usia 0-3 tahun, orang tua juga lebih banyak menceritakan gambar dan seakan bercerita ketimbang membacakan persis kalimat dibuku, sedangkan anak 3tahun keatas mulai ditingkatkan lebih banyak kalimat, membacakan persis teks yang ada dibuku. Semakin bertambah umur, buku yang dibacakan semakin menantang, buku bergambar dengan kalimat yang panjang dan dapat diselesaikan berhari-hari, cerpen, hingga novel. Salah memilih buku bisa ‘menghina’ kemampuan anak (anak sudah harus naik tingkat kita sediakan buku yang sudah terlalu mudah baginya), atau mendemotivasi anak (anak merasa membaca sangat sulit karena buku yang kita pilih terlalu complicated sehingga terdemotivasi). Untuk bayi juga lebih tepat dipilihkan buku yang bercover keras (boardbook) atau buku bantal (soft book) yang juga dapat memberikan stimulasi taktil baginya. Oiya, sebetulnya, buku bergambar terbaik untuk anak hingga 36 bulan adalah buku yang kita buat sendiri dengan kolase foto-foto anak tersebut dan keluarga besar.

WhatsApp Image 2018-02-21 at 14.49.45
Buku Kolase Foto, Best Baby Book Ever !

Setelah 3 hal diatas tersedia, mulailah kita membacakan cerita. Setidaknya ada 3 tahap dalam aktivitas ini yaitu:

  1. Aktivitas pra membaca

Orang tua/ orang dewasa yang akan membacakan nyaring baiknya membaca keseluruhan bukunya terlebih dahulu. Ini penting untuk screening buku tersebut mengandung hal-hal yang membahayakan atau tidak. Selain itu, orang tua juga akan lebih percaya diri ketika membaca buku, kita dapat mempercepat pada bagian yang ga terlalu penting/ memperlambat untuk berinteraksi, memberikan efek suara/ mempraktekkan atau mendramatisir jalan cerita. Kemudian orang tua menyebut judul, nama pengarang dan illustrator. Ini untuk memberikan pemahaman kepada anak bahwa buku dibuat oleh manusia, ada pekerjaan bernama penulis dan illustrator. Sebelum memulai cerita, kita juga dapat mengaktifkan latar belakang dengan sedikit menceritakan covernya. Misal akan membacakan buku “The Very Hungry Caterpillar” yang ditulis oleh Eric Carle. Orang tua dapat bertanya kira-kira ini buku tentang apa ? hewan apa yang akan diceritakan? Mengapa dia sungguh lapar? Kira-kira ulat bulu makanannya apa ? Anak pun akan terpancing untuk segera memulai dibacakan dan ikut membuka halaman demi halaman.

WhatsApp Image 2018-02-21 at 14.31.58
Menceritakan cover penting untuk mengaktifkan latar belakang
  1. Saat Membaca

Saat membaca. Libatkan anak sebanyak mungkin dengan kita dan buku. Kita dapat memancing pertanyaan dan komentar, memancingnya menunjuk sesuatu di halaman buku. Ketika banyak kata-kata yang berulang, berhenti sejenak dan minta anak mengucapkan kata itu. Kita juga gunakan banyak ekspresi, mem-variasikan suara atau nada tertentu serta mengatur tempo. Bukan perihal menyelesaikan satu buku atau memaksakan waktu membaca, melainkan menikmati proses bersama. Ikatan fisik dengan anak lebih penting daripada buku, oleh karena itu saat membacakan nyaring kita pangku, dekap, sentuh dan peluk anak sesering mungkin. Aktivitas inilah yang akan membuat anak merasa sangat dicintai. Setuju dengan Jim, rentang perhatian anak tidak tercipta dalam satu malam, ia dibangun menit demi menit, halaman per halaman, buku ke buku dan hari ke hari.

  1. Post– membaca

Setelah aktivitas ini, kita dapat meluangkan waktu untuk berdiskusi, melibatkan anak untuk menceritakan ulang atau melakukan aktivitas berkaitan dengan buku yang telah dibacakan.

Kegiatan menarik lainnya yang bisa kita lakukan adalah membuat poster atau pohon literasi yang ditempel di dinding sehingga kita dan anak bisa melihat seberapa banyak yang sudah dibacakan.

WhatsApp Image 2018-02-21 at 14.31.45
Beraktivitas setelah membacakan satu cerita

Dalam buku ini juga disebutkan bahwa sebelum menginjak usia 2 tahun, membaca beberapa buku berulang kali lebih baik daripada mengkoleksi banyak sekali buku tapi jarang dibacakan. Itu artinya sebenarnya kita cukup punya beberapa buku saja di tahun-tahun pertama usia anak yang dibacakan berulang kali (biasanya yang kalap beli buku ya emaknya bukan? Bahkan buku yang kita beli belum sesuai dengan tahap anak kita. Jleb!). Kita juga dapat mendorong anak yang lebih tua untuk membacakan kepada adiknya (hanya sesekali bukan menggantikan peran orang tua yang harusnya berperan utama membacakan nyaring). Bagi para perantau, kita bisa minta keluarga yang tinggal berjauhan untuk merekam ketika baca buku dan kita dengarkan ke anak. Intinya sediakan buku dimanapun dan kapanpun.

Tentang Perpustakaan, Pembelajaran Digital dan Televisi

Tidak hanya tentang manfaat dan tahapan membacakan nyaring, bagian lain dalam buku ini juga memberikan banyak pandangan tentang isu terkait pembelajaran dengan teknologi terkini seperti e-book, pengaruh televisi dan isu terkait nasib perpustakaan saat ini.

Ternyata kita punya tanggung jawab moral kepada masyarakat untuk mengentaskan halangan membaca yaitu jarang adanya materi cetak serta kurangnya perpustakaan umum yang mudah dijangkau dan gratis. Hal ini harusnya menjadi motivasi bagi terutama yang punya banyak materi cetak dirumah turut andil menciptakan little free library (salah satu cita-cita saya nih ^^ contohnya kayak Komunitas Hayu Maca Official di Cimahi tiap minggu di Taman Kartini).

little-free-library
Little Free Library Idea (source: https://travelbetweenthepages.com/2013/05/03/little-free-libraries/)

Jim juga mengungkapkan pandangan mengenai peran internet dan e-book untuk anak-anak dalam pembelajaran. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap e-book yang dikenalkan sejak dini ke anak sebagai peralihan fungsi televisi, bentuk lain dari televisi. Anak-anak akan terjebak di labirin suara dan warna, belum lagi ruang bagi iklan-iklan sampah. Penelitian menunjukkan kita membaca lebih lambat saat membaca teks digital ketimbang cetak. Selain itu, masalah reading comprehension, kita menjadi kurang paham saat membaca teks digital ketimbang kertas salah satunya kerena banyak tautan. Dengan kata lain, generasi sekarang berhadapan dengan arus informasi yang berantakan dan tidak beraturan serta terkadang hoax dari internet. Beda dengan bila ke perpustakaan, ketika kita ingin tahu misal sejarah Indonesia, segala informasi tentang ini dikategorikan dalam satu rak, memungkinkan kita mendapat informasi yang rapi dan terstruktur.

Tidak seperti tulisan di kertas yang seperti ada tepi jalan. Tulisan elektronik seperti samudera yang sulit dinavigasi.

Sulit untuk mencari kembali di buku elektronik tanpa menggunakan piranti pencari, juga agak sulit mengidentifikasikan informasi yang dicari berada di halaman bawah/ atas, bagian depan tengah atau belakang buku. Tambah lagi, membaca dari kertas merangsang banyak daerah otak yang berhubungan dengan emosi dan pengingatan kembali terkait ruang, sehingga meninggalkan jejak yang lebih dalam.

Lalu tentang televisi dan gawai, banyak imbauan tentang penggunaan gadget di usia dini yang berbahaya, apalagi hingga kecanduan. Bukan berarti nonton TV betul-betul tidak boleh. Manfaatnya pasti ada. Namun kitalah yang mengontrol dosisnya. Academy of pediatric mengatakan hanya sepuluh jam seminggu dan tidak ada acara menonton televisi bagi anak di bawah 2 tahun. Mendengarkan cerita lebih mampu mengembangkan imajinasi ketimbang televisi atau film. Jim menyarankan apabila anak  anak menonton film ditelevisi, subtitle di aktifkan sehingga anak tetap membaca teks terjemahan. Alternatif lain, kita bisa menggunakan audio book atau mendengar cerita dari rekaman. Ini juga bisa jadi jalan keluar bagi para orang tua yang belum bisa membaca atau memiliki keterbatasan khusus. Salah satu aplikasi interactive audio book yang saya suka adalah Bella dan Kelima Balon keluaran Rabbit Hole Indonesia.

image-1024x576
Bella dan Kelima Balon bisa di unduh di playstore (source: google.com)

Pada intinya, kita tidak bisa memungkiri timbulnya teknologi-teknologi tersebut. Bagi saya sendiri, e-book dan internet tetap saja berguna terutama ketika perlu informasi yang bersifat mendesak, blog walking, menulis online, buku yang saya minati tidak tercetak di Negara ini atau harganya sangat mahal (apalagi buku-buku medis). Namun, saya juga sepakat dengan Jim untuk memperkenalkan pembelajaran dengan teknologi canggih kepada anak-anak tidak sedini mungkin, tetap memperkenalkan buku cetak terlebih dahulu, serta bijak dalam menggunakan pembelajaran digital entah itu internet, gawai, e-book, film, atau televisi. Sepakat dengan Jim, tangan dan otak anak-anak usia dini membutuhkan pengalaman menjalajahi dunia di depan mereka. Oleh karena itu, dunia harus tetap diam selama mungkin untuk di amati dengan cara mengamati gambar yang tidak terus bergerak dan berbunyi dan membalik halaman demi halaman.

Kata kunci juga terletak di orang tuanya. Orang dewasa di rumah menstimulasi minat anak dalam membaca dan menulis dengan cara menjawab pertanyaan, mengapresiasi, sering membawa si anak ke perpustakaan/ took buku, membeli buku, menuliskan cerita yang diceritakan ulang oleh anak. Diri kita menjadi teladan, anak melihat kita senang membaca, bukan hanya ketika membacakan nyaring. Diri kita bisa mengontrol dalam menonton televisi dan penggunaan gawai, anak pun akan bijak kelak dalam menggunakan (PR banget). Disini bukan hanya peran salah satu pihak saja, yaitu Ibu, namun juga butuh peran ayah terutama untuk anak laki-laki.

Kita tidak hendak menciptakan anak yang super cerdas, bukan ambisius ingin menciptakan anak yang bisa membaca sedini mungkin. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam hal membaca adalah menyenangkan, membuatnya senantiasa gembira bila mengingatnya sehingga anak akan menjadi pembaca seumur hidup, a long life learner.

“tugas utama pendidikan adalah untuk menanamkan sebuah keinginan dan fasilitas untuk belajar; bukan untuk menghasilkan orang-orang yang terus belajar. Peradaban sejati manusia adalah peradaban pembelajaran, ketika kakek-nenek, orang tua, dan anak-anak sama-sama menjadi murid” – Eric Hoffer

Mari kita ikut gerakan orang tua membacakan buku untuk anak ! sesibuk apapun kita sehari-hari, bahkan orang paling sibukpun pasti punya waktu untuk sesuatu yang benar-benar berharga bagi mereka. Apabila kita menghargai anak-anak dan masa depan mereka, kita pasti punya waktu melakukan aktivitas membacakan nyaring. Kembali lagi, semua tentang menghargai dan waktu tak terulang kembali

family
source: google.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s