Parenting Tanpa Melengking, Lahirnya Generasi Gemilang dan Tangguh. A Book Review: The Secret of Enlightening Parenting

#Bookofthemonth yang dipilih kali ini adalah 3 buku yang menjadi rangkaian Enligtening Parenting. Buku utamanya yaitu The Secret of Enlightening Parenting yang ditulis oleh Mba Okina Fitriani. Mba @okinaf sendiri merupakan psikolog yang mendalami bidang Neuro-Linguistic Programming (NLP) dan Perkembangan Otak. Beliau juga sudah banyak pengalaman dalam pengembangan SDM. Ketika banyak memberi training SDM di perusahaan-perusahaan, beliau menyadari bahwa salah satu faktor permasalahan SDM dapat bermula dari pengasuhan mereka ketika kecil.

Yang menjadikan buku ini menarik bagi saya karena tidak melepaskan prinsip pengasuhan berdasar Al-Qur’an dan Sunnah, namun memadukan ilmu psikologi, neuroscience dan NLP sebagai tools dalam pencapaian visi misi pengasuhan yang sesuai tuntunan-Nya.

Buku the Secret of Enligtening Parenting sendiri terbagi menjadi dua bagian.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 06.32.58
tiga buku rekomen, rangkaian enlightening parenting.

Part 1 lebih ke filosofi, teori-teori dan metode/ cara dari Mba Oki yang bisa kita gunakan disesuaikan dengan keunikan keluarga kita. Hanya kurang lebih 100 halaman tapi bahasannya padat dan mantap ! setelah selesai part 1 ini pun saya langsung membuat summary-nya berupa ilustrasi seperti ini:

WhatsApp Image 2018-03-23 at 06.32.57
Ringkasan setelah baca buku. (p.s: dikerjakan di sela mengantuk mengawas ujian mahasiswa)

Part kedua dari buku pertama dan buku kedua yang berjudul “Anakku Tamu Istimewa” berisi kisah-kisah inspiratif pengalaman para alumni pelatihan enlightening parenting dalam menerapkan apa yang telah dipelajari ke kehidupan nyata mereka. Bagi saya, mengetahui pengalaman orang lain membuat kita bisa membayangkan medan perang, bisa juga memberi insight solusi apabila ada pengalaman yang kurang lebih sama dengan yang kita alami saat ini. Intinya bagaimana teori/ ilmu tersebut dipraktekkan, bukan hanya mengendap di otak. Adab lalu ilmu dan kemudian praktek ! sehingga mengkristal menjadi karakter atau akhlak. (Pas baca profil penulis eh.. ternyata ada salah satu penulis alumni SF ITB !)

Buku ketiga adalah lembar kerjanya atau workbook enlightening parenting. Ibarat menghafal obat-obat dan efek farmakologinya tapi tidak dipraktekkan atau dilatih dengan bertemu langsung pasien, jelas akan lupa dalam hitungan bulan dan sulit untuk mengingatnya kembali. Berbeda dengan apabila pernah belajar dan bisa naik motor, kemudian sudah lama tidak mengendarai motor ketika mengendarai lagi mungkin hanya perlu sedikit penyesuaian. Nah.. buku ketiga ini bertujuan sebagai sarana kegiatan mengalami langsung dan mempratekkan enlightening parenting. Melalui buku ini kita akan berlatih dengan cara menuliskannya. Seperti punya cita-cita, akan lebih visual dan terasa greget bila kita menuliskannya dan menempelkannya pada dinding rumah kita. Setiap kali lewat ruangan itu, setiap kali itu kita kembali semangat.

Dari buku The Secret of Enlightening Parenting ini saya menggaris bawahi kata kunci yaitu:

Menjadi orang tua yang mencerahkan dan memberdayakandengan tiga prinsip pengasuhan yaitu menjadi teladan, mengingatkan dan memperbaiki demi menjaga fitrah baik anak agar tumbuh benih ketaatan seperti layaknya pohon yang akarnya kuat (bersyukur), batangnya menjulang (meningkat), daunnya rimbun serta buahnya lebat (bermanfaat).

Anak adalah tamu istimewa yang diundang oleh orang tuanya untuk hadir dalam kehidupan atas kehendak dan persetujuan Allah. Ia terlahir bersama fitrah yang baik atau membawa potensi yang baik meliputi:

  1. Fitrah iman
  2. Bertahan hidup (bayi menangis kalau ingin menyusu adalah instingnya bertahan hidup)
  3. Belajar hingga piawai (berkali-kali ingin menyendok sendiri adalah keinginannya untuk bisa makan sendiri. Alih-alih kita observasi, adanya kita malah marah karena mengotori)
  4. Kasih sayang (ketika saya nangis, anak saya ikutan merengut dan mau menangis. Ia tidak ingin ibunya menangis. Ah romantis yaa… )
  5. Interaksi (mengingat betapa gembiranya anak ketika joget penguin bersama orang tuanya. Ini bukti ia terlahir dengan potensi baik berinteraksi sosial)
  6. Fitrah seksualitas
  7. Tanggung jawab (masih jelas diingatan ketika pertama kali anak memecahkan gelas dan diam terpaku memandang saya. ia seakan ingin berkomunikasi jujur ia telah memecahkan gelas. Alih-alih saya memeluk dan meraihnya, saya salah meluapkan emosi takut dan khawatir menjadi emosi marah dan langsung menasehati).

Bagaimana caranya menjalani prinsip pengasuhan dan menjaga fitrah baik anak? Jalannya dengan sabar, kasih sayang, konsisten dengan fokus pada tujuan dan kongruen

(Bila kita ingin anak menjadi pribadi penuh syukur selaraskan dengan diri kita yang juga tak perlu banyak mengeluh).

Memang indah dituliskan dan memang seperti itu harusnya pengasuhan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan Rasulullah tapi pada prakteknya apa mudah? Susyaah.. Makanya hadiahnya surga, kalau gampang hadiahnya pulsa gratis. Berat bukan berarti ga bisa, disambut dengan semangat ya Buibu dan pasti selalu ada harapan (colek diri sendiri).

Ada 5 pilar yang dipaparkan dalam buku ini dapat kita bangun dan kuatkan untuk mencapai tujuan besar diatas yaitu:

  1. Selesaikan emosi

Yang pertama dan utama sedang dilatih ke diri sendiri. Yap! Saya ingin menyelesaikan emosi diri sendiri. Emosi dan logika itu ibarat jungkat-jungkit. Kalau sedang emosi, logika ga jalan pun sebaliknya. Kita bisa berpikir jernih ketika bisa meredam emosi. Bagaimana cara menyelesaikan?

  • Mari kita pandang sebuah masalah dari sisi helicopter view. Kita lepaskan diri atau isitilah dibuku ini disosiasi sebagai objek dalam emosi. Misal : anak menumpahkan susu di lantai yang baru 5 menit lalu di pel. Wah emosi…. kemudian tak jarang keceplosan mengeluh dan marah. Dicontohkan dibuku ini kita imajinasikan kita menonton sebuah drama dimana pemerannya adalah kita dan anak. Dalam film tersebut terlihat kita memarahi anak karena seakan tidak paham bahwa lantai baru bersih, kita juga menonton anak yang sedih dimarahi. Nah dengan menjadi penonton drama sendiri ini kita bisa menjadi lebih sabar dan akhirnya respon yang kita berikan lebih baik ke anak. Teknik ini mengingatkan saya pada film Sherlock Holmes BBC. Ketika si Sherlock punya suatu kasus dia mengimajinasikan dirinya sedang ada di kasus tersebut sebagai penonton. Sehingga dia pun bisa memahami kasus dan kemungkinan penyelesaiannya. (jadi kangen nonton Sherlock BBC lagi aka nonton aa Benedict)
  • Tahap selanjutnya yaitu re-framing. Ubah makna yang kita lekatkan pada suatu peristiwa. Misal: anak tidak mau tidur dan kita sudah lelah luar biasa. Ubah frame kita sebelumnya yang mungkin “duh nih anak ga tau ibunya capek, ga mau nurut disiplin tidur” yang menjadikan kita mengeluarkan respon emosi “Bunda bilang tidur, ga mau nurut banget, nanti bangun kesiangan nih Bunda” (all about me). Kita re-framing menjadi :anak ingin punya waktu bermain sama Bundanya, ia kangen orang tuanya. Sehingga respon kita pun akan jadi lebih baik: “anak kangen ya main sama Bunda ? masih mau main ya ? oke kita main nya di tempat tidur ya. Kita nyanyi-nyanyi dan cerita pakai boneka tangan gimana? Atau kita main lego 15 menit kemudian kita bobo ya?” dengan teknik re-framing ini saya merasa jauh lebihhhh sabaaaar tanpa mengabaikan nilai yang perlu ditanamkan.
  • Ubah limiting belief. Sering kali kita membenarkan respon kita karena belief Misal kita membenarkan memarahi anak karena kita mempercayai bahwa tempramen bawaan kita emang pemarah dari sononya. Limiting belief juga bisa berkaitan dengan orang lain misalnya suamiku ga peduli. Limiting belief seperti ini sungguh tidak mencerahkan dan memberdayakan. Adanya merugikan diri sendiri dan anggota keluarga lain. Cara yang sangat mudah mengubah limiting belief adalah dengan mengurai informasi. Misal: saya ini pemarah. Mari kita urai apakah selama 24 jam dalam sehari kita marah? Paling hanya 5-15 menit. Artinya sebagian besar waktu lainnya saya ini bersabar. Berarti lebih mungkin saya sabar dibanding marah. Yang saya perlukan berlatih lagi!.
  • Dalam buku ini juga diajarkan untuk melatih kondisi penuh sumber daya dengan teknik memiliki anchor yang berasosiasi dengan kondisi emosi baik tertentu. Seperti ada tombol imajinatif yang kita tentukan ada di diri kita yang dapat diaktifkan ketika kita mengalami konflik/ peristiwa yang membutuhkan respon baik tersebut.
  • Memaafkan yang juga menjadi sebuah bentuk syukur. Memaafkan sebanyak-banyaknya, sebanyak ampunan yang kita butuhkan dari-Nya. Kita juga bisa ajak anak dan suami sebelum tidur untuk cuci otak dan hati dengan memaafkan semua pada hari itu. Hidup pun lebih tenang ^^.
  1. Fokus Pada Tujuan

Pilar kedua yaitu fokus pada tujuan. Setiap kegiatan harus memiliki tujuan yang jelas bahkan hanya ketika berbicara dengan anak dan pasangan. Bawah sadar kita hanya mengenali tujuan yang bentuknya jelas: kalimat yang positif, spesifik dan terukur, melibatkan indra lihat (tervisualisasi), dengar, rasa, selaras dengan nilai yang ditanamkan/ selaras dengan tujuan penciptaan manusia, dan diri kita sebagai kendali.

Tujuan yang menggantungkan hasilnya kepada perubahan perilaku orang lain adalah tujuan paling rawan membuat depresi.

Contoh:

X aku ingin menjadi orang tua yang baik –> tidak terukur dan spesifik

V aku ingin menjadi orang tua yang ceria, berkata baik, dan penuh kasih sayang

3. Rapport (membangun kedekatan)

Ada berbagai cara membangun kedekatan:

  • fokus pada hal baik: perbanyak memuji hilangkan mencela. Memuji dan menegur secara efektif dan beradab. Bagaimana memuji dan secara menegur efektif? Dibuku ini dijelaskan dan sebenarnya pernah saya baca juga di buku Keluarga Kita. Review bukunya ada di sini.
  • ikuti nada suara. Jika anak bersemangat, maka tanggapi dengan semangat. Bukan seperti ini: Anak cerita dan semangat ngajak maen, bunda menanggapi seadanya (nunjuk diri sendiri..)
  • ungkapkan emosi dengan benar. Ini juga sering terjadi yaitu salah mengungkapkan emosi. Anak memecahkan gelas dan emosi Bundanya “Nah kan.. makanya udah dibilangin jangan mainan gelas, mana sini liat kakinya..” (sambil melotot dan melengking) padahal aslinya KHAWATIR. Maka mari ungkapkan dengan benar. “Sini Anak (peluk).. coba kita lihat kakinya.. lain kali hati-hati.. Bunda khawatir.. takut anak luka kena pecahan kaca (sambil peluk).” romantis…
  • Gorilla unconditional love. Bangun kedekatan tanpa kata-kata. Beri pelukan tiap pagi dan doa sebelum beraktivitas.
  • Aku hanya untukmu. Ini salah satu teknik yang bisa digunakan untuk membangun kedekatan bagi para ortu yang telah punya anak lebih dari satu. Sediakan waktu 15-30 menit tiap hari untuk salah satu anak tanpa gangguan apapun dan siapapun, lakukan dan jadwalkan bergantian.
  • Mendengarkan dengan tulus tanpa  langsung bombardir nasihat panjang kali lebar kali tinggi.

Anak yang defensif biasanya karena rapport belum terjalin. Ia belum merasa dekat bukan hanya fisik namun kedekatan psikis atau emosional juga dan belum terbangun kepercayaannya kepada orang tua. Oleh karena itu, penting sekali tahapan ini. Membangun kedekatan mulai sedini mungkin, hasilnya akan berbuah kelak.

  1. Gunakan ketajaman indra

Pilar keempat yaitu asah ketajaman indra orang tua. Ketajaman indra ini untuk memahami apakah komunikasi kita telah mendekati tujuan atau malah melenceng jauh. Mba Oki mencontohkan detail di buku.. cus bisa langsung cek..

  1. Fleksibel dalam tindakan

Tujuan boleh satu tapi seribu cara baik bisa ditempuh. Kreatif dan luwes dalam mencapai tujuan tersebut adalah koentji-nya.

Buku ini juga memaparkan 11 kesalahan umum dalam pengasuhan yang berakibat pada rusaknya fitrah baik anak. Semuanya pernah dan masih sering saya lakukan. Baca penjelasannya rasanya seperti ditampar-tampar tapi seketika bangkit setelah habis membaca dan berlatih melalui workbook enlightening parenting.

Mba Oki dalam bukunya juga memaparkan bagaimana sebuah karakter itu dibentuk yang bermula sebetulnya dari informasi yang diolah oleh indra umumnya indra visual, auditori, dan kinestetik (biasa disingkat VAK). Informasi yang diperoleh dan cara pengelolaannya tergantung dari tahap perkembangan anak. Contohnya anak usia 0-2 tahun ada di tahap sensori dimana ia mengelola informasi menggunakan kelima indranya. Gelombang otaknya berada di gelombang delta (slow-wave sleep) yaitu kondisi sama ketika tidur. Pada tahap usia ini anak terlihat tidak terlalu peduli sekitar, tidak takut kecuali insting pertahanan diri. Sulit mengingat memori ketika umur dibawah 2 tahun namun pengalaman pada usia ini sebenarnya terekam dengan baik dan dapat diproduksi sebagai perilaku kelak. Penting mengetahui tiap tahap perkembangan anak sehingga kita tahu bagaimana cara menanamkan nilai sesuai tahap perkembangannya. Menurut buku ini, tahap emas menanamkan iman itu pada usia 2-7 tahun ketika gelombang otak anak berada di theta atau kondisi hipnosis.

Tiap tahap ada manfaat, tiap langkah  perlu optimal

photo (7)
sumber: http://www.zataligouw.com/2015/10/book-review-secret-of-enlightening.html (baca juga review buku ini dari kacamata Mba Zata)

Informasi-informasi tidak semua digunakan seseorang dalam pembentukan karakternya. Tiap manusia memiliki mekanisme penyaringan dan filternya adalah nilai/value yang orang tua tanamkan. Filter yang baik tentunya dapat membedakan yang mana diperlukan dan tidak diperlukan. Makanya ada anak yang walaupun dibombardir informasi luar atau terpapar banyak interaksi dari luar, namun karakter baiknya tidak tergoyahkan (tidak menjadi ikut-ikutan bolos sekolah misalnya walaupun teman-teman mengajak). Itu karena orang tua berhasil menstimulasi/ mendidik/ menanamkan nilai ke anak sehingga ia memiliki filter yang baik. Penjelasan bagian ini membuka pandangan saya bahwa ada masa anak akan dilepas mengarungi hidupnya sendiri (ceilah).. bagaimana ia bisa ga terbawa arus? Maka saya saat ini perlu membekalinya untuk membentuk filter yang baik, tak bocor dan ga gampang jebol.

Setiap pemaparan pada buku ini ada contoh yang diberikan sehingga membuat kita lebih terbayang. Buku ini menurut saya bukan untuk pengasuhan atau perbaikan dalam internal keluarga saja. Namun, sebetulnya bisa dipraktekkan di lingkungan dimana kita punya peranan juga. Bukan menjadikan seorang ibu yang tanpa celah, sempurna, a superwoman, melainkan menjadi pengingat untuk terus koreksi diri dan bersungguh memperbaiki ikhtiar kita atas tamu istimewa yang dihadirkan Allah. Selamat membaca, memahami, dan terpenting mengaplikasikan Enlightening Parenting.

Kesungguhan tercermin dari seberapa besar daya upaya menyempurnakan ikhtiar, bukan sekadar seberapa sering kita memikirkannya.

3 thoughts on “Parenting Tanpa Melengking, Lahirnya Generasi Gemilang dan Tangguh. A Book Review: The Secret of Enlightening Parenting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s