Kreatif Menulis Buku Anak (Bagian II)

Wah sudah mulai libur ! walau libur cukup panjang, rencananya sih tetap ingin produktif pun silaturahim tetap jalan. Mumpung di kampung pasti banyak keluarga yang akan ikut menjaga anak ya kan? (alhamdulillah hilal me-time sudah tampak terlihat, semoga harapan ini menjadi kenyataan bukan mimpi semata).

Tulisan kali ini menyambung dari bahasan minggu lalu dan masih dalam rangkaian ingin berbagi hasil dari kuliah online bersama Mbak Watiek Ideo dan Mbak Nindya Maya tentang kreatif menulis buku anak. Untuk bahasan sebelumnya baca dulu disini ya…Setelah kemarin kita membahas mengenai langkah awal apa saja yang dapat kita lakukan untuk menjadi penulis anak, menggali ide, serta mengenal beragam cerita anak, sekarang kita memasuki inti dalam penulisan buku cerita anak. Materi ini masih dibawa oleh Mba Nindya Maya.

Secara prinsip, ada tiga hal penting saat kita menulis cerita anak, yaitu :

  1. Merancang tokoh
  2. Menentukan misi cerita
  3. Mengenal alur dalam cerita anak

Baiklah… mari kita bahas satu persatu..

  1. Merancang tokoh

Pada dasarnya tokoh dalam cerita memiliki beberapa kategori antara lain:

  • Tokoh realis yaitu berupa anak-anak atau wujudnya memang manusia
  • Tokoh fabel (binatang)
  • Tokoh fantasi misal monster, peri, raksasa yang memang belum tentu atau bahkan tidak real
  • Tokoh benda mati misal garpu dan sendok yang menjadi tokoh utama dan bisa berbicara

This slideshow requires JavaScript.

Kita dapat memilih ingin mengangkat tokoh seperti apa. Setelah merancang tokoh, langkah berikutnya adalah mendeskripsikan dimensi tokoh yang nanti akan divisualisasikan melalui ilustrasi dalam buku cerita anak. Dalam membuat tokoh, penulis harus memperhatikan elemen-elemen penting agar tokoh menjadi kuat dan konsisten. Hal-hal yang perlu kita perhatikan:

  • Dimensi fisik. Contoh, tokoh utama dalam cerita kita adalah Nia, seorang anak perempuan berambut lurus sekuping, bertubuh pendek dan gempal.
  • Dimensi psikis Nia selalu heboh dan suka teriak, aktif dan senang membantu
  • Dimensi lingkungan. Contoh, kejadiannya di kota, di taman atau di pedesaan.
  1. Menentukan misi cerita

Hal selanjutnya yang kita rancang adalah misi cerita. Value apa yang ingin diusung, tujuan dari kita menulis buku ini dan menentukan motivasi apa yang ingin kita berikan dari tokoh utama yang kita buat.

  1. Mengenal alur cerita

Setelah merancang tokoh, tujuan, tema, dan motivasi tokoh di dalam sebuah cerita, langkah berikutnya yaitu membuat diagram alur. Dalam menyusun cerita anak, alur yang digunakan cukup sederhana dan tidak perlu bertele-tele. Berikut diagram yang biasa digunakan oleh pemateri dalam menulis cerita anak:

IMG_8957[1]
Alur Cerita Anak
Pengenalan Tokoh, pengenalan konflik, perjuangan menyelesaikan konflik, klimaks dan penyelesaian.

Desain cerita yang berawal dengan diagram alur dan membuat kerangka cerita terlebih dahulu sangat penting dan membantu kita melihat alur cerita secara keseluruhan. Apakah sudah menarik, kurang menantang atau bagaimana? Jika sudah mantap, barulah kita dapat membuat narasi secara lengkap. Membuat kerangka juga menghindari kita dari pola pikir yang melompat-lompat, konflik yang terlalu banyak, atau klimaks yang tidak konsisten, dan lain sebagainya. Dengan membuat alur dan kerangka cerita, secara otomatis harus mengisi setiap tahapan dalam diagram tersebut.

Penulis memang memiliki kebebasan untuk membuat akhir cerita. Namun, untuk cerita anak lebih baik dibuat selesai dan bahagia. Kalaupun tidak bahagia, setidaknya ada harapan yang tersirat sehingga membuat  pembaca menjadi semangat. Bukankah tujuan menulis cerita anak ingin menyebarkan kebaikan dan semangat? Jika kita biarkan menggantung, anak seperti mendapat PR tambahan untuk berpikir melanjutkan ceritanya kecuali memang bertujuan agar anak berpikir kritis.

Kuliah online dari Mbak Nindya pun berakhir dengan para peserta diberi tugas membuat kerangka cerita dari ide sendiri. Tapi sebelum kami berlatih, pemateri memberikan contoh sederhana dalam membuat kerangka cerita seperti ini:

  1. Merancang Tokoh

Tokoh utama: Sofi

Sifat: sayang kepada ibu, gigih, memiliki rasa ingin tahu

Ciri fisik: berambut pendek, berkulit putih dan senang memakai bando

  1. Misi cerita

Tujuan tokoh: ingin membuat kue di hari libur sekolah

Pesan yang ingin disampaikan: kasih sayang kepada ibu

  1. Alur cerita

Pengenalan konflik:

  • Ibu mendadak sakit dan harus beristirahat
  • Sedih dan merasa harus berbuat sesuatu

Perjuangan:

  • Menghubungi nenek dan meminta resep kua
  • Bertanya kepada tema namun tidak ada yang tau caranya
  • Ke toko kue dan bertanya kepada pelayan toko cara membuat kue

Klimaks:

  • Sofi pulang ke rumah dan mencoba membuat kue sesuai arahan pelayan toko

Penyelesaian:

  • Setelah berusaha membuat kue sesuai arahan akhirnya Sofi berhasil membuat kue dan memberikannya kepada ibu yang sedang sakit
  • Ibu merasa senang dan bangga pada Sofi

Mengenai desain konflik dan penyelesaian kita bisa melakukan riset kecil-kecilan dengan mengamati perilaku anak-anak usia tersebut. Penting juga memikirkan logika ceritanya jangan sampai ceritanya terkesan dipaksakan dan tidak masuk akal. Seperti contoh, saat liburan sekolah Cici ingin sekali berlibur ke luar kota. Namun orang tua Cici sedang sibuk bekerja. Cici sangat sedih sekali. Ia merasa bosan hanya di rumah sedangkan teman lainnya pergi liburan. Cici lalu memiliki ide berangkat sendiri dari Jakarta ke Semarang ke rumah nenek.

Ilustrasi: Cici berusia 8 tahun. rambut dikepang dua, bermata bulat, ceria dan aktif.

Dalam cerita di atas, tentu akan menimbulkan pertanyaan? Bagaimana anak 8 tahun pergi sendiri ke Semarang? Meskipun cerita itu fiksi namun logika cerita tetap harus digunakan dalam menentukan alur.

Lalu bagaimana cara mengemas atau menulis cerita-cerita atau kisah-kisah real dalam Al-Qur’an seperti kisah Nabi pembahasannya menjadi lebih ramah anak? Misal ada adegan membunuh..atau peperangan..Nah, menurut mba Watiek Ideo, memang harus benar-benar memilah mana yang akan dimasukkan. Sedapat mungkin penulis tidak memasukkan adegan yang berbau kekerasan. Jikalau terpaksa, ditampilkan dalam teks namun tidak diilustrasikan. Visual biasanya membuat adegan menjadi semakin keras dan menyeramkan.

Peserta pun kemudian diminta mengerjakan PR membuat kerangka cerita dan disetor ke pemateri-pemateri untuk dikomentari. Kapan lagi mendapat komentar membangun dari penulis buku anak yang sudah punya nama ya ga?

Banyak berinteraksi dengan anak-anak merupakan jurus sangat ampuh untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa mereka, target buku kita. Melakukan riset ke toko buku juga perlu dilakukan untuk mengamati perkembangan terkini dan penggunaan bahasa yang disajikan di berbagai segmen buku cerita anak.

Belajarlah menulis dalam kondisi apapun, berikan deadline dan target capaian pribadi yang harus diraih, dan masuklah ke dalam komunitas kepenulisan. Kadang kita perlu mengingat kembali tujuan awal kita menulis agar semangat selalu terjaga. Semakin sering latihan menulis, membuat cerita, dan banyak membaca maka akan semakin piawai dalam menulis cerita anak. Dan yang terpenting menyukai apa yang dilakukan, biasanya otomatis kita punya ruh untuk melakukannya selalu dengan senang hati.

IMG_8963[1]

Materi kreatif menulis cerita anak masih bersambung yaa, masih ada satu materi lagi yang ga kalah penting! yaitu membuat narasi utuh dan kiat menembus penerbit dari Mbak Watiek Ideo. insyaAllah akan dilanjut dipostingan berikutnya ! semoga tetap mau menyimak ya dan senmoga bermanfaat bagi diri sendiri dan yang membutuhkan ^^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s