Sebuah Proses dan Usaha Berbenah

Saya tipikal orang yang makin berantakan tempat tinggal atau tempat kerja, makin suram suasana hati, makin kusut pikiran yang mengakibatkan jadi kurang berpikir jernih. Ditambah, menurut pengamatan suami, saya akan mulai rungsing, ngomel ga jelas, malas gerak itu kalau rumah sedang berantakan. Ternyata memang.. tempat tinggal yang rapi membuat saya entah mengapa makin semangat. Meninggalkan rumah dengan keadaan rapi sebelum berangkat pergi/ kerja memberi pengaruh yang dramatis berbeda kepada suasana hati. Senyumnya juga berbeda, lebih merekah ketika meninggalkan rumah dalam keadaan yang enak dilihat. Jadi kalau misal teman kantor saya melihat saya sangat bersemangat hari itu, berwajah cerah dan gembira, bisa jadi salah satunya karena saya baru saja berbenah rumah, selain karena tanggal gajian haha. Saya ingat setiap mau ujian semester ketika kuliah, alih-alih langsung belajar, saya meluangkan satu atau setengah hari untuk beberes kamar terlebih dahulu, kurvei besar kalau istilah ketika saya SMA. Baru setelah itu, saya akan merasa sangat fresh dan lebih mudah menangkap apa yang dipelajari.

Berdasar pengalaman-pengalaman beberes rumah, ada saja barang yang akhirnya harus saya pindahtangankan yang mungkin di tangan orang lain akan lebih berguna. Itu berarti sebetulnya saya tidak perlu barang banyak. Barang yang saya kurang sukai, atau saya beli hanya karena kepengen, bisa dipastikan tidak terlalu bahkan tidak akan saya butuhkan dan gunakan lagi. Ujung-ujunganya, barang-barang tersebut biasanya saya simpan terlebih dahulu dengan dalih “ah nanti akan butuh”. Namun, nyatanya.. saya hanya menumpuk barang di rumah, dan kembali ke dalam lingkaran setan: barang numpuk –> space jadi lebih sedikit –> berantakan –> rungsing sendiri yang berujung ngomel, ga semangat, mager, marah sama suami dan berimbas pada anak. Tidak ingin seperti itu, demi tetap waras, dengan makin banyaknya amanah yang tidak mungkin dikurangi maka yang perlu ditingkatkan adalah pengorbanannya. Saya harus berubah dalam hal berbenah agar tidak menghabiskan waktu dan tenaga, namun hasil nyata adanya. Saya harus berkorban untuk belajar lebih lagi terutama tentang merapikan rumah. Sampailah kemudian saya membaca buku tentang metode Konmari, seni dan metode merapikan ala Jepang yang ditulis oleh Marie Kondo.

The life-changing magic of tidying up.

KonMari-Method
Cover depan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. source: googleimage

Ternyata.. beberes juga ada ilmunya.. dan disampaikan jelas menohok melalui buku ini.  Setelah membaca teori saya pun mencoba sedikit demi sedikit mempraktekkan. Saya hingga saat ini masih berprinsip berbenah sedikit-sedikit tiap hari. Nyatanya…berbenah sedikit-sedikit tiap hari sama saja berbenah tanpa henti yang akhirnya membuat saya berpikir…

“perasaan saya beberes tiap hari tapi kenapa kok masih gini-gini aja. Kok saya menghabiskan banyak waktu di beberes tapi hasil nya tidak optimal?”.

Kita perlu berbenah secara totalitas supaya kita melihat kerapihan dan berusaha mempertahankannya. Daripada berbenah berdasarkan ruangan, mari berbenah berdasarkan kategori, misal baju dulu lalu buku, kemudian mainan anak, dst. Pada awalnya yang perlu kita lakukan adalah membuang hingga tuntas barang-barang yang tidak dibutuhkan, kriterianya apakah barang tersebut membangkitkan kegembiraan atau perasaan kita biasa saja? Dipakai setiap hari atau kapan-kapan? Prinsip lainnya yaitu barang yang tidak disukai ibu, maka tidak akan disukai keluarga! Believe it! setelah tuntas memindahtangankan barang-barang yang hanya akan memenuhi rumah saja, baru kita beberes berdasarkan kategori barang dengan metode-metode konmari (metode melipat pakaian ala konmari, merapikan buku, dsb). Apakah setelah membaca teori di buku tersebut dan mempraktekkannya saya langsung berhasil? TENTU TIDAK! Saya seperti hanya sendiri di rumah yang merasakan urgensinya berbenah berdasar ilmu. Hal tersebut menyebabkan banyak sekali excuse yang menyebabkan saya menunda-nunda seperti “ah tidak dikomplen suami”, “menemani anak bermain gpp berantakan”, dsb. Padahal… perubahan keluarga terhadap cara pandang terhadap rumah menjadi lebih baik mungkin bermula harus dari perubahan dari diri saya. Sampai pada satu titik, saya butuh pemantik semangat dari luar untuk membangkitkan lebih semangat internal. Saya butuh kelas bersama orang-orang yang senasib harus berubah dalam berbenah untuk hidup yang lebih baik. Akhirnya saya memberanikan diri untuk masuk kelas intensif Konmari Indonesia. Dengan masuk ke kelas intensif, harapannya saya akan lebih real dalam mencapai target kerapihan dan keindahan rumah serta tempat kerja hingga terus mempertahankannya. Tugas-tugas yang diberikan pasti akan memaksa saya melakukan perubahan dan membuka mata saya untuk dapat mengidentifikasi mana yang benar-benar berharga serta membangkitkan syukur terhadap apa yang dimiliki. Tentu, pada akhirnya juga akan menekan sifat konsumtif kita. Metode ini tentu hanya salah satunya, mungkin ada pula orang tidak cocok dengan metode tersebut. Bagi saya, ini adalah usaha saya dalam proses menata rumah yang efektif dan efisien. Doakan saya tidak kandas di tengah jalan ya! Semoga menjadi jalan lembaran hidup yang lebih baik. Sepakat dengan taglinenya, dengan menata diri sebetulnya kita ikut menata negeri ! salam spark joy!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s