Catatan Hati: Kembali Merapat

Setelah sekian purnama absen, akhirnya hari ini saya kembali ikut pertemuan tahsin dan kajian dimana saya sebenarnya nebeng kajiannya para tenaga kependidikan (tendik) SF ITB. Acapkali ditanya oleh dosen senior, “itu kan kajian tendik kamu kok ikutan ?”.

Saya pun cuma nyengir dan menjawab singkat “yang dosen (padahal asisten akademik mah bukan dosen keleus…) belum ada lagi. Ceunah dulu ada tapi sekarang mungkin belum ada lagi.” (lhah ini mah bukan jawab singkat yak :D).

Beberapa suara halus dalam hati kemudian lalu lalang setiap kali saya ditanya kenapa ikut kajian tendik?

Saya rindu majelis seperti ini…ketika berkumpul, semua sama.. yang dosen, yang asisten, yang karyawan, yang bos, yang bawahan, yang keset, yang debu dibawah keset pun terlihat sama.. yang Allah nilai tingkatan taqwa. Dan pertemuan-pertemuan seperti ini selalu sukses menjadi pengingat saya.. pelebur lelah.. peningkat semangat…

Ada lagi pikiran… Ngoy.. ini ladang kebaikan.. apa ga mau jadi inisiator? Lalu tertiup dengan bisikan lain..siapa Anda? Sok suci sekali. Baru juga anak kemarin sore..

Jelas bisikan ini bisikan setan saudara-saudara… ya mungkin tidak saat ini, tapi keinginan selalu ada.. doakan ya.. semoga selalu ada satu waktu berkumpul bersama wanita-wanita shalehah panutanqoe yang sedang mengemban amanah jalan dakwah di ranah akademisi.

Lalu kenapa suka belang beton nih ikut kajiannya ? padahal deket banget tinggal ngesot dari ruangan ke selasar? Duh kalau mau cari excuse mah buanyak.. mulai dari kerjaan (yang dirasa sok) penting padahal mah karena kebiasaan nunda.. mau makan siang lah karena ntar ‘jaga’ praktikum takut pingsan.. sampai tak bisa menolak ajakan menarik dari kolega. Semuanya kalau ditarik kesimpulan kitanya yang belum mau memprioritaskan pertemuan dengan Allah di atas kepentingan dunia lainnya yang sebetulnya mudah saja Allah bantu atau persulit.

Pertemuan kali ini jujur sih karena juga ingin melembutkan hati..kali-kali mendapat jawaban atas kegalauan dan kegersangan hati akibat suatu ketidaksesuaian yang bertentangan dengan nurani dari suatu kejadian berkenaan dengan integritas (ceilah bahasanya) yang terjadi beberapa minggu terakhir. Setelah curhat ke Allah.. dan curhat juga ke para teman yang memang bijaksana, ada banyak pelajaran berharga dari kejadian ini. Pas pula nyambung sama hasil kajian hari ini.

Suatu ketika saya pernah bertanya dan meminta tanggapan dari teman yang bijaksana

“Kalo kita liat suatu yang salah lalu hukumannya menurut kita teh teu sesuai, trus kumaha? urang teh takut membenarkan yang salah, lalu ikut-ikutan, atau cuek karena sudah lelah. Tapi da urang teh saha nya.. banyak salah juga T_T.” tanya saya pake bahasa sunda gado-gado

“udah bilang ke yang berwenang?”

“udah”

“kalo maneh udah nyampein yang benar terjadi dan bagaimana konsekuensi yang seharusnya menurut peraturan, lalu ternyata keputusan berbeda dengan aturan, yaudah udah bukan urusan maneh deui.. maneh ga perlu memaksakan pendapat maneh ngoi..”

“nya.. bener pisan.. urang lagi belajar menerima perbedaan dan tidak memaksakan pendapat

Beda kan… kalo orang bijak mah perkataannya teh pake hati, disampaikan hati-hati, nusuk sampai ke hati. Singkat, jelas, padat dan berhikmah.

Ditimpali nasehat suami dan teman lainnya yang ga kalah bijak

“banyak hal yang diluar kemampuan kita..lakukan aja apa bagian kita..dalam hal baik seperti ini.. semoga masih sama atau bahkan lebih baik lagi kamu yang sekarang sama yang akan datang. Kamu yang sekarang sama kamu sedetik kemudian aja bisa beda. Da terserah Allah aja mau bolak-balikkan hati gimana.”

Nyes.. bener nya… kadang hal-hal seperti ditegur Allah kalau kita salah, Allah masih mau membimbing kita untuk memperbaiki, masih diperkenankan untuk disirami hidayah lupa untuk kita syukuri. Ini kita lagi ditutup aja aibnya sama Allah. Kalau Allah buka aib kita sedikit aja.. mungkin.. mana ada orang yang mau deket lagi..

Materi kajian nya juga seolah menjadi perkataan-perkataan Allah untuk saya dalam melihat kejadian tersebut. Padahal sebenarnya materi kajian itu seperti diulang-ulang, kita pasti pernah dengar sebelumnya. Namun, tetap saja, ada rasa pas dengan suasana hati kala itu.

Seperti disampaikan lagi hari ini tentang adab melalui kisah seorang tokoh JIL di Mesir yang terlahir buta namun hafidz Qur’an di umur 10 tahun. Terkisah ketika mengikuti musabaqoh, sang juri (yang tentu sholeh dan hafidz) memanggilnya “Hai, anak buta”. Sebuah fakta, namun menyakitkan. Keluar dari mulut orang yang shaleh. Ah sungguh membuatnya sakit hati hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh JIL. Sungguh disayangkan, tapi ada ibrah berharga untuk semua pihak. Berulang-ulang dijelaskan adab lebih tinggi dari ilmu. Makin berilmu harusnya makin beradab, makin tambah amal. Hati-hati kalau makin berilmu makin berkurang amalnya, tidak ada hal lain selain akan makin jauh sama Allah. Adab berbicara sebisa mungkin berkata baik atau diam, jangan sampai membuat orang terzalimi karena kata-kata kita sehingga ia semakin benci untuk menerima hidayah. Pun kita menjadi belajar untuk tidak mudah tersinggung, melapangkan hati untuk memaafkan seluas-luasnya jika masih dalam koridor.

Karena itulah, datang kajian harusnya menjadi urgensi. Beda kalau belajar sendiri dengan bersama-sama. Dalam majelis dihadiri banyak malaikat yang mendoakan, mencatat dan ada keberkahan tersendiri. Lewat masjid, lalu noleh ke kajian trus mupeng pengen ikut tapi qadarullah ga bisa aja udah kecipratan pahala..apalagi datang.. beda keputusan yang diputuskan sendiri dengan keputusan dalam majelis. Kalaupun keputusan salah saja sudah dapat 1 pahala, kalau keputusan benar ada 2 pahalanya.

Yang perlu diingat juga, tidak ada yang menjamin keshalehan seseorang sampai Izrail menjemput. Yang sekarang hina bisa jadi akhir hayatnya lebih mulia dari kita. Tiap hari cobaan bisa berbeda, walaupun sama namun kadar sabar mungkin berbeda. Jauhi perkataan “aku lebih baik darinya” karena tidak ada yang bisa menjamin..

Pertemuan 2 kali seminggu ini sungguh hanya singkat, paling banter 1 jam.. godaan untuk membelokkan langkah selalu ada. Berusahalah menuju kesana dalam keadaan ringan maupun berat sekalipun, pastikan selalu dengan niat hanya untuk-Nya.

Selasar Farmasi, 12 Juli 2018

Ditulis untuk menjadi pengingat diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s