Awal Kisah Baru Di Awal Musim Semi

Assalamualaykum

Bismillah !

Wah sudah lama sekali tidak upload blog ! sebenarnya banyak sekali yang ingin diceritakan dan dibagi, kali-kali bermanfaat atau bisa diambil hikmahnya.

Akhir tahun lalu hingga awal tahun 2019 ini, hidup saya cukup penuh kejutan. Mulai dari diberi amanah akan kembali punya anak (adeknya Gahtar) hingga hijrah bersama keluarga ke negeri Ginseng yang dipastikan akan penuh lika-liku. Izinkan kali ini saya berbagi tentang kisah mencari S3 berikut beasiswanya hingga akhirnya sekarang ‘terdampar’ di Korea, spesifically in College of Pharmacy, Seoul National University.

Saya lagi-lagi percaya, tidak ada yang sia-sia. Pun ketika mengajukan lamaran dan menerima tawaran menjadi asisten akademik di Sekolah Farmasi ITB, ternyata menjadi salah satu batu loncatan untuk meneruskan sekolah kembali. Tidak dipungkiri, dua tahun menjadi asisten akademik Sekolah Farmasi ITB juga penuh suka dan duka. Status pegawai kontrak yang belum tentu juga kedepan akan menjadi dosen (tergantung rezeki lolos tes apa ga), tapi sudah diamanahi beberapa tugas berbau akademik maupun non-akademik (mungkin kata dosen senior mah tidak seberapa dan to be honest lebih banyak printilan administrasi). Ibarat sebuah keset, kehadiran asmik dibutuhkan demi tidak terplesetnya alias kelancaran kelompok keilmuan maupun fakultas, namun asmik kembali lagi, tidak bisa dipastikan akan menjadi dosen tetap. Dengan kata lain, berstatus yang ‘ngambang’. Namun, hal ini tidak membuat saya menyesal sama sekali. Banyak pembelajaran berharga yang didapat termasuk pekerjaan yang terlihat remeh temeh nan kurang efektif alhamdulillah dijalani saja penuh rasa syukur dan ternyata bermanfaat misal bagaimana mengatur keuangan riset yang baik, dst.  Memang.. saya pengen sih jadi pengajar/ dosen, tapi sebaik-baiknya rencana, pasti yang terjadi rencana Allah. Jadi prinsipnya mah ala british people aja… keep calm and carry on.

Untuk urusan belajar bagi saya tetap kewajiban. Wajib mencari ilmu dengan terus meluruskan niat, jadi pribadi yang makin tunduk kepada Allah dan makin merunduk (ini susah..). Jadi itu dasar niat akhirnya tercetuslah keinginan yang sebetulnya sudah dari sejak lama yaitu taking PhD degree (dengan menyadari segala resiko yang ada). Belajar memang sepanjang hayat, apalagi setelah jadi istri dan ibu.. jadi banyaaaaaak sekali hal yang harus dipelajari. Makin kesini sebenarnya makin sadar miskin ilmu dan ilmu Allah begitu luas. Dan bagi saya belajar bukan hanya pendidikan formal, darimanapun bisa.

Akhirnya, mulailah dari awal tahun kemarin sembari bekerja di rumah (tentu istri dan ibu adalah top high priority) dan di kampus, saya mencari topik-topik yang sesuai dengan ketertarikan sekaligus mencari prospective professor, universitas dan beasiswa tentunya. Saya pun mulai mencoba dengan melamar salah satu posisi PhD di salah satu kampus di UK siapa tau bisa kembali lagi kesana. Hasil percobaan pertama tentu saja gagal. Kemudian saya mendaftar LPDP yang juga gagal (jadi bukan jaminan kalo sebelumnya grantee belum tentu bisa mendapat beasiswa ini lagi, disamping saat ini juga jauh lebih kompetitif). Serta mendaftar beasiswa dari salah satu foundation riset di UK yang qadarullah tak terlaksana karena anak sakit.

Hingga suatu ketika saya menjadi panitia international conference yang diadakan oleh SF ITB bekerjasama dengan UNAD di Bali. Disela-sela mengatur acara, saya pun mendengarkan satu topik (satu-satunya yang bisa saya fokus dengarkan) yang disampaikan oleh seorang profesor di SNU yang sekarang jadi supervisor. Saya pun tertarik, selepas acara, saya iseng menanyakan apakah ada posisi untuk saya di Lab beliau. Dan beliaupun menyambut dengan baik. Itu artinya menjadi panitia konferensi juga dapat menjadi salah satu jalan menemukan jodoh untuk melanjutkan PhD.

Selepas conference, kami pun berkomunikasi via email dan saya mencoba apply ke SNU untuk spring semester (waktu itu sih belum tau kalau hamil lagi.. jadi selow aja) dan alhamdulillah mendapat Letter of Admission (LoA). Masalah lainnya dan part terberat bagi saya yaitu beasiswa. Saya mengetahui bahwa deadline beasiswa KGSP (beasiswa dari pemerintah Korea) sudah lewat, beasiswa lainnya untuk mahasiswa perantau seperti GSFS (Graduate Scholarship for Excellent Foreign Student) pendaftarannya juga sudah tutup. Sebenarnya profesor menawarkan beasiswa dari beliau namun jumlahnya dipastikan tidak akan cukup untuk saya yang membawa keluarga serta tidak dapat membayarkan tuition fee. Saya sih sudah mau nekat saja berangkat dengan nanti kerja keras agar bisa mencicil tuition fee, tapi lagi-lagi ridho suami sungguh diperlukan. Suami berat dengan kondisi keuangan yang serba pas-pasan ditambah saya yang harus berjuang di negeri orang. Apapun yang terjadi, kami ingin tetap tinggal berdekatan, no LDR.

Yang saya lakukan hanya berdoa dan berusaha, termasuk salah satunya curhat ke professor mengenai rencana B hingga Z jika rencana A gagal. Sampailah suatu ketika, tepat 1 minggu sebelum deadline, profesor mengirimkan saya email super penting dan meng-encourage saya untuk segera mendaftar beasiswa yang informasinya baru saja dikirimkan tersebut. Dengan deadline yang sungguh serba mepet dan tenaga bumil trimester pertama, saya pun tertatih-tatih mengumpulkan satu demi satu persyaratan beasiswa tersebut yaitu Beasiswa SPF (SNU President Fellowship). Beasiswa SPF adalah beasiswa yang diberikan oleh SNU khusus untuk staf akademik di negara berkembang. Silahkan jika ada yang membutuhkan informasi rincinya ada disini.

Saya ingat sekali ketika hari H pengumpulannya, saya to be honest belum membuat video youtube yang menjadi salah satu persyaratan. Yang saya lakukan saat itu adalah saya tulis saja di form aplikasinya link video-nya terlebih dahulu. Pokoknya yang penting dikumpulkan dulu, perihal upload video belakangan dan secepatnya (big thanks to Hubbi, Sarlita, Siska, dan para analis lantai 2 yang dengan ikhlas membantu saya dalam pembuatan dan peng-upload-an video. Semoga Allah memudahkan urusan kalian). Seminggu setelah masa-masa ini sayapun akhirnya masuk RS karena hyperemesis gravidarum yang tak tertahankan (fyuh sungguh makin menyadari I’m nothing without the strength from Allah).

Selepas keluar RS selama seminggu, tak lama kemudian ada email masuk panggilan wawancara via skype. Semua proses saya jalani saja dengan sebaik-baiknya dan nothing to lose. Alhamdulillah.. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.. the committee announced that I am one of SPF awardee. 

Allah lagi-lagi menunjukkan ada banyak sekali jalan-Nya ketika satu jalan tertutup. We must believe in !

Apakah selesai dan langsung berangkat ? ternyata tidak semudah itu Esmeralda..

Saya yang ketika aplikasi belum tahu sedang hamil maka harus menceritakan segera terkait kondisi kehamilan saya kepada pihak beasiswa dan profesor. Yang saya takutkan adalah saya tidak bisa masuk lab, hamil adalah halangan, dan seterusnya. Alhamdulillah mereka memaklumi tapi tetap saya harus berangkat di spring semester. Urusan paspor, visa, kontrak rumah, packing, pamitan dan lain sebagainya harus diselesaikan dalam tempo 1 bulan 2 minggu. Apakah lancar seperti jalan tol? Tentu tidak… banyak miskomunikasi dengan suami, keluarga hingga hak anak yang kurang terperhatikan, belum lagi kondisi masih mual muntah menjadi warna perjuangan tersendiri.

Semua atas izin allah..begitulah kami terutama saya memaknai perjalanan ini.

Mungkin usaha saya tidak sekeras usaha teman-teman lain yang sedang berjuang untuk melanjutkan sekolah. Ini semua semata sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur.

Teringat sesaat ketika akan wawancara beasiswa, Allah menggerakkan saya membaca feed Instagram @loveshugah.

Tidakkah kita berhenti sejenak dan meminta? Agar pertolongan-Nya tak lepas walau sekejap mata?

Hingga jika segala berjalan tak sesuai rencana kita, walau usaha sudah dilakukan sekuat tenaga.. kita tetap ingat Siapa yang membersamai kita dalam setiap langkah usaha kita. Dia, Yang Maha Mengatur urusan kita.

Ingatkah, kisah Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dan Abu Bakar r.a bagaimana segala rencana dan usaha telah ditempuh hingga terpojok dalam gua?

Apa yang bisa melenyapkan segala kekhawatiran? Innallaha ma’ana

Jika kita menyertakan Allah dalam setiap langkah usaha, apapun hasilnya, insyaAllah kita percaya, bahwa semua terjadi atas izin-Nya.

Jika keberhasilan yang kita peroleh, kita sadar, bahwa ini sungguh adalah nikmat dari-Nya, bukan karena usaha kita semata.

Jika tak sesuai rencana kita, kita tak tenggelam dalam kecewa. Karena kita percaya rencana-Nya, jauhhh lebih baik dari rencana kita.

Ini adalah awal dari sebuah perjalanan dan perjuangan baru. Berkali-kali saya minta izin suami, minta ridho-nya, dan minta kerelaannya bahwa menjalani PhD tidaklah mudah, tidak sama dengan menjalani S2. S3 ini tentu butuh pengorbanan yang lebih. No pain no gain.

Di belahan manapun tinggal, tetaplah bumi Allah, dengan kewajiban yang sama bahkan harusnya lebih banyak amal ibadah yang dilakukan sebagai bentuk syukur. Hingga menjadikan nikmat ini adalah sebuah berkah bukan sebuah cobaan atau azab.

Apapun yang terlihat di media sosial atau media lainnya tentang saya atau keluarga kecil saya, percayalah itu hanyalah kebaikan Allah saja sedang dosa kami sungguh banyak. Ada gunung es perjuangan dan pengorbanan yang lebih besar yang tidak tampak dan tidak bisa diceritakan. Percayalah… tiap orang, tiap keluarga akan diberi ujian yang berbeda-beda sesuai kadar kemampuannya. Kadang ujian tersebut terlalu dalam waktu singkat namun ada yang butuh bertahun-tahun bersabar untuk diangkat derajatnya.

Gwanak, 13 Maret 2019

Seoul yang tiba-tiba turun gerimis salju

IMG_4498

6 thoughts on “Awal Kisah Baru Di Awal Musim Semi

  1. Semangat Ngoi ❤
    Tidak ada perjuangan yg sia2…
    Semoga diberi kekuatan, kemudahan, sehingga lancar semua urusan. Aamiin YRA.

  2. Yangoiiiii ya ampunnn.. Masya Allah, aku terharu, termehek-mehek bacanyaa. Yangoi yang dulu nampaknya pecicilan sudah jadi seseorang yang dewasa dan tangguh. Peluuk yangoiiiiii.. Semangat ya buk S3-nya, semoga dimudahkan setiap langkah dan jalannya. Tau banget rasanya jadi emak kuliahan, duh rasanyaa.. Masya Allah Subhanallah, pingin jungkir balik kayangg… di satu titik kayak mikir, yaAllah ngapain akutu pake (sok2an) S3 segalaa… mending juga dasteran di rumah. Tapi rencana Allah gak pernah salah kan ya? Jadi jalanin ajaa… bismillah, semangat yangoi, smg sehat2 juga hamilnya, luar biasa ini mah dirimu.

    1. iya bukkkkk monik jugaaa semangat… ini baru 2 minggu sudah hilang arahhh hahaha dan berpikir kenapa aku tidak dasteran. haha. tpi why me ya ga? kenapa ga disyukuri saja dan lakukan yang terbaek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s