Rous Sarcoma Virus, Isra’ Miraj, dan Sebuah Kontemplasi

Adalah Peyton Rous, the father of viral oncology. Ia orang pertama yang menemukan bahwa kanker dapat ditransimi oleh virus. Ia namakan retrovirus ini dengan namanya sendiri yaitu Rous Sarcoma Virus. Di tahun 1911, Rous menemukan adanya infeksi suatu virus pada ayam yang memiliki tumor. Percobaannya sederhana, ia temukan seekor ayam yang mati mendadak dengan tumor pada otot dada ayam tersebut. Tumor ini kemudian ia ambil dan ia pecah menjadi jaringan yang kecil, kemudian dicampur dengan pasir lalu disaring dengan penyaring dengan pori yang sangat kecil. Filtrat yang didapat kemudian disuntikkan Rous pada ayam lainnya. Ia kembali temukan tumor yang sama pada ayam baru tersebut yang juga mati di kemudian hari.

slide_4

Rous gembira, ia menemukan suatu hal yang baru. Tak sabar ia perlihatkan pada supervisornya, pada kolega lab-nya. Alih-alih mendapat pujian, teman-teman dan supervisornya hanya melongo seakan berkata

“Terus? so what? Biasa….”.

Namun, Rous tetap melaporkan hasil kerja kerasnya tanpa peduli akan manfaat ke depannya. Ia hanya ingin menghargai proses dirinya sendiri. Dan benar saja, penemuannya menjadi the first avian tumor that has proved transplantable to other individuals dan mendapat hadiah nobel bidang fisiologi dan kedokteran di tahun 1966.

Penemuan tersebut tentu saja menjadi salah satu pioneer hingga majunya riset kanker saat ini, hingga ada selebrasi 100 tahun penemuannya dalam bentuk jurnal bahkan perangko edisi khusus Peyton Rous. Walau pada awalnya ia harus menerima cemooh, walau karyanya baru disadari berkontribusi besar dan layak mendapat nobel setelah 55 tahun.

slide_28

The urgent lesson from the Rous experience, then, should be that it is the quality of the science that counts, not its compliance with a fashionable trend and not its perceived future value, which cannot be predicted. – Peter K. Vogt (FASEB J., 10:1559-1562, 1996)

Adapula Dominique Stehelin, dulunya ia peneliti Prancis yang sedang studi di Amerika. Setelah penemuan Rous tersebut, para peneliti kemudian berusaha mengungkap adanya sequence DNA yang bernama src yang diduga kuat berperan sebagai gen penyebab kanker. Namun, lewat publikasi Stehelin, Varmus, Bishop dan Vogt terungkap bahwa gen src ini juga ada di unggas normal, sehingga membuat para peneliti dunia bertanya jadi gen mana dalam RSV tersebut yang berperan menyebabkan kanker?. Publikasi dari Stehelin, Varmus, Bishop dan Vogt lah yang berhasil memaparkan jawabannya.

Penelitian ini juga dinobatkan jadi sebuah penemuan besar hingga layak mendapat nobel. Tapi yang mengejutkan yang mendapat nobel adalah Varmus dan Bishop, dimana dalam paper tersebut mereka adalah author kedua dan ketiga.

ed9484eba088eca0a0ed858cec9db4ec85981.jpg
“Saya yang jadi penulis pertama, kenapa teman yang mendapat nobel?”

Kenapa Stehelin tidak mendapat nobel pula? padahal ia penulis pertama? bukankah penulis pertama paling banyak effortnya ? kecewa dengan itu semua, Stehelin akhirnya keluar dari laboratorium tersebut. Bukan keluar dari Lab saja, namun ia benar-benar memutuskan mengundurkan diri menjadi scientist. Sungguh kekecewaan dan keputusasaan dapat menelurkan sebuah keputusan yang sangat disayangkan.

Itulah..terkadang kita selalu berorientasi pada hasil, plan-nya seperti ini maka hasilnya harus seperti ini. Tak jarang kecewa mendalam apabila hasil tak sesuai dengan rencana juga tak sebanding dengan kerja keras yang sebenarnya dimata Allah hanya seberapa. Kita berorientasi pada apa yang akan kita dapat yang belum pasti, tapi lupa pentingnya menikmati proses itu sendiri. Menikmati proses berkali-kali jatuh, dicemooh, diabaikan dan bangkit kembali. Sebenarnya kisah Rous ini hanya satu dari banyak kisah inspirasional lainnya. Bahkan kisah Rasulullah SAW dan para nabi bagi saya yang paling tidak ada tandingannya.

Perjalanan Isra’ Miraj termasuk salah satu peristiwa spiritual penting bagi Rasulullah SAW untuk makin mengokohkan imannya dalam mengemban amanah sebagai Rasul terakhir. Bayangkan saja, baru ditinggal pamannya yang telah beliau anggap seperti ayah sendiri, Abu Thalib, lalu menyusul ditinggal pula oleh Istri tercinta Siti Khadijah, orang pertama yang mempercayainya sebagai utusan Allah SWT. Rasulullah SAW berharap mendapat perlindungan dengan  pergi ke Thaif. Harapan Rasulullah SAW penduduk Thaif akan menyambut dan menerima dakwah islam dengan gembira. Namun yang terjadi Rasulullah SAW malah disambut dengan lemparan batu, kayu, kotoran hingga Jibril datang dan menawarkan untuk menimpa kaum Thaif dengan bukit. Alih-alih minta dibalas langsung akan sakit hatinya, Rasulullah SAW malah mendoakan generasi anak cucu cicit kaum Thaif agar menerima islam. Setelah peristiwa-peristiwa tak enak ini terjadi, barulah terjadi peristiwa Isra Miraj’.

Sebenarnya ada hikmah penting dari kisah ini bahwa disaat kita jatuh, rendah, hina, dicampakkan, tak dianggap dan lelah…don’t give up and keep our chin up. Justru ketika itu Allah ingin mengangkat kita ke derajat yang setinggi-tingginya.

Kisah Rous, Stehelin dkk ini disampaikan mengalir dan terkesan oleh Prof. Surh. Alih-alih langsung memborbardir teori onkogen, ia mulai dengan kisah-kisah peraih nobel yang berhubungan dengan gen pemicu kanker. Bagi saya, semua orang bisa mengajar, tapi tidak semua bisa menjadi pendidik yang membekas baik di hati muridnya. Mereka yang bukan hanya mentransfer ilmu untuk digunakan ketika menghadapi ujian, lalu menguap setelah keluar dari ruangan. Mereka yang membuat murid semakin kagum akan ciptaan-Nya, bergairah untuk gigih mencari ilmu bukan semata untuk lulus. Mereka yang menempa murid menjadi semakin baik bahkan tak jarang lebih baik dari gurunya. Merekalah sebenar-benarnya pendidik.

Selepas kelasnya membuat saya berkontemplasi dan bertepatan pada momentum Isra’ Miraj. Semoga every process in our life membuat keimanan kita semakin kokoh, membuat makin merunduk dan tunduk pada Allah, mensyukuri dan menikmati proses dengan tetap melibatkan Allah hingga kita tercengang pada balasan-Nya kelak yang tak akan pernah sebanding dengan balasan manusia.

Gwanak-gu, 3 April 2019

Saat menulis menjadi bentuk pelepas penat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s