Review Buku: Menuju Rumah Minim Sampah

Serius ! gaya hidup minim sampah itu bukan ikutan trend karena sedang populer.. Bukan untuk dibilang keren pula… gaya hidup minim sampah ini sebenarnya malah membawa kita (saya) mengingat kehidupan ketika kecil tepatnya ketika masa-masa TK dan SD. Ya, ternyata gaya hidup minum sampah ini mengembalikan kita ke kebiasaan kita dahulu yang ditinggalkan karena menurut kita yang kurang praktis dan bikin repot.

Saya jadi teringat dulu saya selalu bawa bekal ke sekolah, jarang jajan selain karena memang sekolah tidak memperbolehkan siswa jajan. Kalau sedang flu, ibu atau ayah membekali saya sapu tangan atau handuk kecil. Ibu juga cerita tidak ada kesulitan melakukan toilet training untuk anak-anaknya. Anak-anak ibu sudah dibiasakan ke WC semenjak sudah bisa jalan, karena dulu memang ya ga pakai  popok sekali pakai (dan ketika anak saya awal-awal lahir pun orang tua cenderung menggunakan popok kain selain meminimalisir iritasi). Dulu saya jarang jajan juga karena uang saku dijatah  dan ibu selalu masak walau bekerja sehingga selalu menghabiskan makanan di rumah. Cemilan juga tak banyak diberikan karena cemilan di mata ibu adalah buah. Kalau ada sisa makanan, sering kali saya lihat tetangga memberikan ke kucing atau ayam peliharaan, dikubur atau dijadikan pupuk. Cuci piring masih menggunakan sabut kelapa dan abu gosok, hantaran ke rumah tetangga pakai rantang serta masih banyak lagi sebenarnya kebiasaan dulu yang sudah kita lakukan sejalan dengan penerapan gaya hidup minim sampah.

Lalu kenapa akhirnya value hidup ini bergeser ya? Simply saya pribadi berpikir demi efektifitas dan efisiensi. Namun sebenarnya kalau ditanyakan ke hati lebih dalam lagi, dibalik itu semua sebenarnya alasan terbesar karena malas ya ga sih… males nyuci, males masak, malas punya effort lebih besar karena merasa tisu, pembalut, popok sekali pakai, sering order makanan, beli air mineral terus, pakai kresek adalah kemudahan zaman now jadi kenapa tidak dimanfaatkan ya kan? Yang penting tetap buang sampah pada tempatnya, rumah tetap bersih dan rapi, urusan sampah sudah ada petugas kebersihan dan dinas terkait yang akan mengolah ya ga?

Hingga akhirnya saya mulai tidak enak hati sejujurnya ketika pertama kali survey ke sebuah desa semasa kuliah. Kebetulan sebelum sampai ke desa tersebut harus melewati sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pas disitu deh… ya Allah sampah manusia banyak banget ya? tapi saya belum sadar… baru merasa.. “kesian nih petugas kebersihan… ya ampun jorok banget ini tempat tinggalnya..bisa jadi sumber penyakit”, dan pikiran lain yang berseliweran. Hanya sebatas iba pada momen itu saja.

Momen lain dimana hati saya mulai tergerak yaitu ketika berpikir mengenai pembalut. “Ih kan ada ya orang-orang yang pembalut tehh abis dipake langsung aja dibuang.. bau anyir..kesian ihh mang sampah..” Namun masih belum sadar juga karena yang penting kalau saya dicuci bersih dulu sebelum dibuang.

Lalu pas punya anak kami  menggunakan popok sekali pakai..baru mulai sadar harus segera mungkin ngajarin anak buang air ke toilet karena balik lagi… saya merasa sangat bersalah membuang banyak popok bekas yang harus diurus oleh mang sampah selain karena pengeluaran uang untuk popok lumayan yah…Ketika tiba satu momen sepakat sama suami Gahtar lepas popok, itu beneran lepas, hanya pakai celana dalam dan ga pernah beli popok lagi. Nah..itu kerasa banget sih pemangkasan pengeluaran popok ini bisa dialihkan ke hal lain yang prioritas serta entah mengapa merasa lega karena tidak menyumbangkan bau pesing dari bekas popok.

Saya mulai makin tersadarkan untuk harus berbenah walau pelan ketika mengikuti kelas zero waste asuhan Mbak DK Wardhani dan itupun diakui saya TIDAK KONSISTEN, ditandai dengan tidak melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Namun sudah ada jalan untuk mengikuti kelas saja saya sudah sangat bersyukur sekali berarti sudah ada suatu kemauan untuk mempelajari lebih lanjut tentang rumah minim sampah ini. Kembali lagi, semua atas izin Allah yang menggerakkan hati.

Lalu saya pun mulai kembali membaca bukunya Mbak DK Wardhani tentang belajar zero waste. Setelah menamatkan buku ini insyaAllah semakin membulatkan tekad saya pula untuk makin serius membiasakan, utamanya diri saya sendiri dulu kemudian mengajak keluarga, untuk sama-sama berusaha menuju rumah minim sampah.

WhatsApp Image 2019-04-10 at 16.12.58
Buku Menuju Rumah Minim Sampah ditulis oleh DK Wardhani

Buku Menuju Rumah Minim Sampah ini tidak tebal, saya menamatkan dalam perjalanan bus melewati 24 perhentian tapi sarat ilmu. Buku ini juga dilengkapi panduan terutama bagi para pemula seperti saya. Buku mbak Dini bisa jadi semacam starter pack lah jika ingin memulai rumah minim sampah. Pembaca terlebih dahulu akan diajak sadar dan refleksi, menemukan strong why kenapa harus memulai hidup minim sampah? Pembaca disodorkan fakta-fakta mengenai pengelolaan sampah dan kondisi TPA di beberapa wilayah di Indonesia. Saya mah jarang nonton film dokumenter terkait lingkungan, tapi kalau ada waktu coba sesekali kita tonton film-film tersebut yah instead of IG TV para artis atau akun gosip. Miris… ngeliat para hewan yang harus terjepit oleh plastik hingga morfologi tubuhnya berubah atau mati karena menelan banyak sisa konsumsi kita.

Mengikuti hukum kekekalan energi, sisa konsumsi ada yang ga bisa dimusnahkan, ia hanya diubah ke bentuk lain, bahkan ada yang ga bisa diurai. Oke memang bersih di tempat kita, tapi jadi masalah di tempat lain.

Sampah sehari-hari kita ternyata memang cerminan diri dan keluarga kita. Cara kita mengkonsumsi makanan, barang, dan cara memperlakukan sisanya sebenarnya merepresentasikan diri. Nah seperti yang ada dalam buku tersebut, belajar zero waste sejatinya menantang kita untuk mengevaluasi gaya hidup dan melihat sesuatu yang kita konsumsi berdampak positif atau negatif terhadap lingkungan. Bukankah di agama islam sendiri ada perintah menjaga bumi dan bertindak tidak mubazir serta boros? Jadi harusnya prinsip minim sampah ini juga sejalan dengan fitrah hidup umat muslim ya…

Dalam buku ini dijelaskan gaya hidup atau strategi minim sampah menurut beberapa pendapat. Bea Johnson mengusung 5R.

IMG-20180702-WA0007
5R: Refuse, Reduce, Reuse, Re-cycle, Rot.

Kita juga dapat menggunakan strategi 3 pintu :

  1. Strategi pintu depan (tahap pra konsumsi), dengan meminimalkan dan menyaring sampah yang akan masuk ke rumah kita. Contohnya dengan membawa botol minum, kotak bekal, atau tas belanja.
  2. Strategi pintu tengah (tahap konsumsi di rumah kita) dengan mencegah sampah terbuang. Contohnya menghabiskan makanan, memperbaiki barang atau memilah sisa konsumsi yang bisa dilakukan DIY mainan anak.
  3. Strategi pintu belakang (tahap pasca konsumsi). Contohnya membuat menjadi kompos atau menyalurkan samph yang bernilai ekonomis ke pengepul.

Intinya prinsip tahapannya dalam buku tersebut yaitu CEGAH, PILAH, OLAH. Di buku tersebut, Mbak Dini juga meng-highlight langkah memulai meminimalkan sampah yang bisa kita mulai coba satu persatu dan mulai dari yang mudah.

Saya akui saya masih jauhhhh dari bisa mengolah kembali. Saya pribadi jujur belum sampai ke maqom buat sabun pembersih sendiri, membuat ecobrick atau komposter. Saya baru sebatas cegah dan pilah, itupun perlu lebih banyak usaha untuk istiqomah dan masih sering lupa. Beberapa usaha saat ini yang dikomitmenkan meliputi:

  • Menolak kantong kresek dengan membawa terus tas belanja yang ringan dan mudah dilipat
  • Membawa botol sendiri, sedotan, wadah hingga alat makan kemanapun pergi karena memilih membawa bekal sendiri. Selain untuk menghemat uang beasiswa yang pas-pasan, pula karena terkait lebih yakin dengan kehalalan makanan.
  • Sekarang lebih sering merenung cukup lama sebelum memutuskan beli barang. Nanti kalau ga suka lagi mau dikemanain? Cicilan apa kabar? Bisa dibuat sendiri dan ga terlalu repot DIY? Bisa diperbaiki lagi yang lama atau harus beli yang baru? Dan banyak pertanyaan lainnya. Intinya memikirkan untuk minim sampah, membuat lebih bisa menahan hawa nafsu belanja yang impulsif.
  • Berusaha ga pakai tisu baik tisu kering atau tisu basah lagi, mulai beralih ke sapu tangan atau handuk.
  • Membeli kemasan besar dan mengalihkan ke sabun/ kosmetik ramah lingkungan.
  • Memilah sampah dengan menyediakan tempat sesuai kategori.
  • Membuat perencanaan masak sesuai kemampuan sehingga sebisa mungin tidak terbuang dan selalu habis. Pernah saya masak kari Jepang untuk 6 porsi tapi yang makan hanya saya karena suami dan anak masih di Indonesia. Jadi ya siang-malam selama 3 hari saya makan kare jepang ini. Alhamdulillah masih enak.. Ternyata belajar zero waste juga mengajarkan saya untuk mensyukuri apa yang ada.

Sedangkan yang saat ini sedang direncanakan untuk diikhtiarkan yaitu:

  • Ga beli air minum kemasan (jadi di Korea ini belum paham dimana beli air galon isi ulang, katanya kalau instal dispenser dengan sumber airnya dari keran bisamahal banget dan air krannya gabisa langsung diminum kayak di UK). Sebenarnya kita bisa ga beli dengan masak air pakai heater dan minum dari air masak ini, namun suami masih kurang suka dan belum biasa dengan rasa air yang dimasak (padahal dulu mah kita minum air masak yah pas zaman kecil). Jadi masih harus pelan-pelan berkoordinasi dengan suami.
  • Karena mau lahiran, targetnya sih untuk anak bayi kedua ini menggunakan cloth diaper dan saya menggunakan menstrual pad (efek udah lama ga pakai pembalut yah karena hamil-nyusuin-hamil deui-nyusuin deui). Doakan semoga saya kuat dan tidak malas mencuci!!! Nah…tapi untuk awal-awal lahiran (kebayanglah pasti betapa remuk badan ini) saya berencana pakai pospak/ pembalut yang katanya eco-friendly. Saya sudah berselancar di dunia maya beberapa brand pembalut/ pospak seperti Bambo Natur itu eco-friendly. Gimana ya ? Ada saran mungkin ?
  • Mulai belajar membuat sabun cuci dari kulit jeruk dan minyak jelantah.

WhatsApp Image 2019-04-10 at 16.13.00

Berhubung saat ini saya tinggal di Korea dan ada sistem pengolahan sampah sendiri jadi saya masih mengamati, memahami dan hanya mengikuti sistem. Di Korea ada plastik khusus untuk sisa makanan basah (warna kuning) dan harus beli lumayan mahal. Sisa makanan seperti tulang, cangkang telur, cangkang kerang ga boleh masuk di plastik kuning ini. Sisa makanan kategori plastik kuning juga tidak boleh tercampur di plastik sisa konsumsi yang non-organik/ general waste (warna plastik sampahnya semi transparan putih atau kadang pink juga). Termasuk kategori general waste yaitu sisa makanan yang tidak masuk dikategori food waste yang menggunakan plastik kuning. Jika sisa konsumsi masih bisa di recycle tidak ada plastik sampah khusus dan harus dipisahkan juga dari plastik general waste. Yang termasuk dalam kategori dapat di-recycle yaitu kertas, botol bir, kaleng, baterai, wadah-wadah besar, air mineral, karton susu, dan kardus. Jika ada baju bekas ada kontainer atau drop zone tersendiri di tiap kelurahan. Selain itu, Jika ada barang bekas yang ukurannya cukup besar seperti furniture, kita harus mendapat stiker dari kantor kelurahan setempat yang memperbolehkan kita ‘membuang’ barang tersebut. Harga stikernya tergantung besar barang. Jadi mikir-mikir kan buat beli barang karena mau buangnya bayar… tapi buang-buang barang seperti ini jadi sebuah keuntungan juga buat para perantau seperti saya, karena untuk beberapa perabot rumah biasanya saya mulung hehe (kadang masih bagussss dan layak pakai banget). Untuk lebih lengkap mengenai sekilas  waste management di Korsel bisa langsung kesini. Plastik atau tas take away kebanyakan bayar disini kecuali di pasar. Nah pas dipasar saatnya kita membawa tas belanja dan wadah-wadah terkait dengan bahan yang ingin kita beli.

Dalam buku juga dinyatakan bahwa belajar zero waste memang tidak mudah tapi bukan berarti mustahil untuk dicapai. Cara bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi kita masing-masing, tentu butuh kreatifitas ita. Intinya, kembali lagi ke awal yaitu niat, tujuan dan strong why kita harus mulai bergerak ke arah minim sampah.

Di akhir bagian buku tersebut juga terdapat kisah-kisah perjalanan beberapa orang yang menerapkan gaya hidup minim sampah dan perubahan besar apa yang terjadi pada pribadi dan keluarga mereka. Pengalaman mereka dapat menjadi motivasi lebih untuk kita untuk mulai menerapkan gaya hidup minim sampah.

Saya pun mengalami dan memahami belajar zero waste bukan jalan yang mudah… berkali-kali saya kedahuluan pelayan di suatu rumah makan memberikan minuman dengan sedotan, tidak membawa peralatan makan sehingga akhirnya beli air mineral botol atau membeli makanan yang ternyata bungkusnya masih sterofoam. Belum lagi kalau sedang bersama keluarga, kita juga tidak bisa langsung memaksakan suatu value tertentu, serta tantangan-tantangan lainnya yang dinikmati saja sebagai bagian dari sebuah proses.

Saya masih jauh dari minim sampah tapi setidaknya mulai bergerak menuju. Semoga kehadiran kita di dunia ini tidak merusak ciptaan Allah. Belajar minim sampah mengajarkan kita menjadi pribadi yang bersyukur dengan apa yang ada, menahan hawa nafsu, mengurangi kemubaziran dan bentuk kita mensyukuri bumi yang Ia berikan untuk kita tinggal. Mana tau dengan peduli terhadap makhluk lainnya, hewan, tumbuhan dan makhluk ciptaan Allah lain bertasbih turut mendoakan kebaikan untuk kita. Mohon saling mengingatkan ya…

“Menuju nol sampah adalah perjalanan yang panjang dan kesempurnaan itu bukanlah tujuan akhir.”

Naksongdae, 10 Maret 2019

Kala hujan yang belum pula reda