Infeksi dan Kanker Serta Hal-Hal Unik dalam Penemuannya !

Setelah tulisan sebelumnya pernah membahas mengenai karsinogen kimia yang dapat menyebabkan kanker, sekarang saya ingin beralih membahas apakah virus, bakteri atau parasit dapat menjadi penyebab kanker? jawabannya adalah yes !

Infeksi virus, bakteri, dan parasit dapat menimbulkan kanker dengan mekanisme melalui peradangan kronik, penurunan sistem imun yang drastis dan bahkan infeksi langsung.

Dikutip dari publikasi ilmiah yang ditulis oleh Jin Kyoung Oh dan Elisabete Weiderpass tahun 2014, sebanyak 11 agen biologis telah teridentifikasi dan terkategorisasi sebagai karsinogen grup 1 pada monograf yang disusun oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), sebuah badan dibawah WHO yang melakukan dan mengoodinasikan penelitian tentang penyebab kanker. Adapun kesebelas agen biologis tersebut termasuk:

  1. DNA virus yaitu Epstein-Barr Virus (EBV), virus hepatitis B (HBV) dan C (HCV), Kaposi sarcoma herpes virus (KSHV atau dikenal dengan sebutan human herpes virus tipe 8/ HHV-8), human papillomavirus tipe 16 (HPV-16)
  2. RNA virus yaitu human immunodeficiency virus tipe 1 (HIV-1) dan human T-cell lymphotropic virus type 1 (HTLV-1)
  3. Bakteri yaitu Helicobacter (H) pylori
  4. Parasit yaitu Clonorchis (C) sinensis, Opisthorchis (O) viverrini, dan Schistosoma (S) haematobium.

Dengan jenis serta mekanisme dalam menimbulkan kanker dapat dilihat di tabel berikut :

Table 1
source: https://doi.org/10.1016/j.aogh.2014.09.013

Saya akan membahas 4 agen biologi dalam menyebabkan atau menimbulkan kanker serta hal unik dalam mekanisme atau penemuannya.

1. Epstein-Barr Virus (EBV)

Infeksi EBV menjadi salah satu penyebab kanker Burkitt’s lymphoma, salah satu jenis kanker pada sistem limfatik dimana sel imun, sel B, tidak berfungsi normal dan cenderung agresif. Jenis kanker ini pada mulanya ditemukan oleh Denis Burkitt, seorang Royal Army Medical Corps yang mendedikasikan dirinya di selama perang dunia kedua di Kenya dan Somalia. Setelah perang berakhir, beliau memutuskan untuk memberikan pelayanan kesehatan di negara-negara di Afrika terutama saat itu di Uganda. Selama disini, ia menemukan pembengkakan limfoma terutama di rahang yang tidak pernah ia lihat kejadiannya di negara barat, banyak menyerang anak-anak di sub-Sahara Afrika terutama puncaknya pada anak-anak usia 4-7 tahun. Pada tahun 1934-1957, Denis Burkitt berusaha mendeskripsikan tumor pada rahang tersebut, hingga di tahun 1958, beliau berhasil mendeskripsikan sindrom klinis dari penyakit limfoma yang ia namakan dengan namanya sendiri. Di tahun 1962, beliau menggambarkan distribusi penyebaran Burkitt’s lymphoma di benua afrika. Tak lama berselang dari penemuan tanda klinis Burkitt’s lymphoma, Michael Anthony Epstein dan Yvonne Barr berhasil mengidentifikasi virus penyebab penyakit ini. Dinamakanlah virus tersebut gabungan dari nama belakang kedua peneliti tersebut, yaitu Epstein-Barr.

Ternyata ada korelasi antara insiden Burkitt’s lymphoma dengan distribusi penyakit endemik malaria, dimana prevalensi malaria banyak terjadi di negara-negara dekat dengan garis ekuator. Malaria dengan vektornya adalah nyamuk anopheles dipercaya menjadi ko-faktor penyebab Burkitt’s limfoma, walaupun mekanisma pastinya belum diketahui.

Burkitt's Lymphoma
Burkitt’s Lymphoma yang menyerang anak-anak di Afrika

 

pandemik malaria vs burkitt
Pola distribusi Malaria dengan Burkitt’s Lymphoma yang mirip. Source: The Biology of Cancer (Garland Science, 2007)

Infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan kanker dengan mekanisme terjadinya translokasi kromosom tepatnya translokasi kromosom 8 dengan kromosom 14. Pada kromosom normal, kromosom 8 membawa proto-onkogen MYC. Gen yang sebenarnya bila normal diperlukan untuk pembelahan dan pertumbuhan sel. Namun apabila berlebihan teraktivasi akan menyebabkan pembelahan sel yang abnormal. Sedangkan kromosom 14 membawa gen heavy-chain imunoglobulin (IgH) yang secara normal memang diekspresikan cukup tinggi. Translokasi Myc dari kromosom 8 ke kromosom 14 membuat gen Myc juga terekspresi mengikuti ritme ekspresi igH. Alhasil, ekspresi Myc yang berlebihan  menyebabkan proliferasi sel B yang tak terkontrol dan mengarah ke timbulnya kanker Burkitt’s Lymphoma.

translocation
Reciprocal chromosomal translocation sebagai mekanisme EBV menyebabkan kanker.
p.s. Bisa terjadi translokasi kromosom sendiri sebenarnya tak bisa saya bayangkan dengan logika, how can ? tapi semuanya bila Allah berkehendak, hal kecil dalam tubuh kita yang sering lupa kita pikirkan dan tak sanggup kita atur akan mudah bagi Allah. Itulah mengapa, mempelajari bagian-bagian kecil dalam tubuh, seperti signalling pathway, DNA, cell cycle seharusnya membuat saya makin amaze terhadap ciptaan Allah. 

Selain Burkitt’s lymphoma, Epstein-Barr virus dapat menyebabkan penyakit dan kanker lain seperti kanker nasofaringeal, non-Hodgkin limfoma yang berhubungan dengan turunnya sistem imun, Hodgkin limfoma, dan infeksi mononucleosis akut yang menginfeksi limfosit B karena penyebaran virus tersebut dapat melalui saliva.

2. Human Papilloma Virus (HPV)

Mungkin kita masih ingat dengan tokoh publik Julia Perez yang meninggal karena kanker serviks? Ternyata lebih dari 99% penyebab kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Adalah Harald Zur Hausen yang pertama kali menemukan adanya DNA human papilloma virus (HPV) pada kanker sel hingga ia mendapat nobel prize di tahun 2008. Namun, tidak semua jenis HPV menjadi faktor penyebab utama kanker pada saluran reproduksi, hanya  HPV tipe 16 dan HPV 18. Sedangkan tipe lain, seperti HPV 6 dan HPV 11 biasanya menyebabkan benjolan di bagian tubuh lain seperti di jari dan dapat segera dihilangkan dengan pembedahan kecil.

Nah uniknya, infeksi HPV ini sangat tinggi hingga dua kali lipat pada wanita usia 20-24 tahun dan berkurang seiring bertambahnya usia wanita. Sebenarnya, infeksi HPV ini apabila dieradikasi dengan cepat sebelum dua tahun, ia tidak akan berkembang menjadi kanker serviks, vulva atau vagina. Namun apabila infeksi tersebut tetap ada dalam tubuh kita setelah dua tahun, ada resiko peningkatan dari pre-kanker lesi  yang kemudian berkembang progresif menjadi kanker serviks. Inilah mengapa jika rentang umur tersebut, sangat disarankan untuk melakukan usaha preventif dengan vaksin untuk HPV dan direkomendasikan wanita berusia 30 tahun ke atas dicek secara rutin apakah ada infeksi HPV atau tidak.

untitled-1.jpg

Menilik detil genom HPV-16, ternyata gen E6 dan E7 berperan penting pada virus untuk menginfeksi dan menyebabkan kanker serviks. E6 berperan menginaktifasi atau mendegradasi p53, sedangkan E7 menginaktivasi Rb. Kedua protein tersebut berperan dalam mengontrol siklus sel. Misalnya, apabila terdeteksi ada kerusakan DNA dan perlu diperbaiki oleh tubuh atau pembelahan sel yang terlalu banya, p53 dan Rb ini yang berperan sebagai controller sehingga sel harus istirahat, diperbaiki terlebih dahulu, atau dibunuh. Nah apabila kedua protein ini diganggu fungsi normalnya, dapat dibayangkan, tidak ada kontrol dalam siklus sel dan sel akan terus membelah, bertransformasi menjadi sel kanker.

F2.large
Source: doi: 10.1128/CMR.05028-11

 

3. Helicobacter pylori dan tukak peptik

Maag kronis yang tak kunjung sembuh ? Waspada ! bisa saja infeksi bakteri Helicobacter pylori. Infeksi bakteri tersebut menyerang dan berkembang di bagian bawah lambung atau disebut daerah antrum dan dapat juga menginfeksi bagian usus. Bakteri tersebut pertama kali teridentifikasi pada tahun 1984 oleh duo ilmuwan yang punya karakteristik 180 derajat berbeda, Marshall dan Warren hingga mendapat hadiah nobel di tahun 2005.

marshall and warren

Helicobacter pylori punya cara unik beradaptasi dengan lingkungan lambung yang sangat asam. Ia dapat mensekresi enzim bernama urease yang mengkonversi urea menjadi ammonia. Produksi amonia oleh bakteri inilah yang dapat menetralisir asam lambung dan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk bakteri tersebut berkembang biak. Infeksi kronis pada bagian pencernaan tersebut bisa berkembang menjadi kanker saluran pencernaan. Sebelum infeksi berkembang menjadi kanker, eradikasi bakteri bisa dilakukan dengan pemberian antibiotik yang sesuai, menghindari atau mengatur konsumsi obat yang memiliki efek samping pada saluran pencernaan, hingga terapi non-obat yaitu mengubah pola makan serta makanan yang dikonsumsi.

4. Parasit cacing hati ( Clonorchis (C) sinensis, Opisthorchis (O) viverrini, dan Schistosoma (S) haematobium)

Last but not least, agen lain yang dapat menjadi faktor timbulnya kanker yaitu parasit cacing. Penggemar sajian ikan mentah atau sashimi ? Atau Koi-Pla, makanan tradisional Thailand berbahan ikan mentah bercampur dengan lemon dan rempah? Mungkin kita perlu berhati-hati dengan menilik benar bagaimana sanitasi restoran atau tempat makan menyajikan menu tersebut. Infeksi parasit-parasit tersebut dapat menyebabkan kanker saluran kencing dan kanker hati khususnya cholangiocarcinoma. Infeksi yang disebabkan oleh cacing hati ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama terjadi di Asia Tenggara terutama Thailand. Karena sanitasi yang buruk, kotoran manusia yang terinfeksi oleh parasit tersebut, mencemari lingkungan yang kemudian menjadikan siput dan ikan sebagai inang perantara. Ikan tersebut kemudian dikonsumsi oleh manusia dan akan menginfeksi tubuh hingga menyebabkan kanker hati atau saluran kencing.

gr1
Mekanisme cacing hati menginfeksi manusia dan menyebabkan kanker. (baca juga: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4657143/)

Parasit tersebut dapat mengeluarkan metabolit sterol yaitu catechol estrogen quinones dan oxysterols yang sangat elektrofilik sehingga dapat berikatan dengan DNA yang nukleofilik dan menyebabkan kerusakan DNA. Alhasil, gen yang termutasi menjadi cikal bakal terjadi karsinogenesis.

Itulah empat dari sebelas faktor biologis yang unik untuk dibahas. Sayangnya, prevalensi kanker akibat kesebelas agen penginfeksi yang masuk pada kategori 1 penyebab kanker ternyata banyak terjadi di negara-negara berkembang terutama dengan tingkat kesadaran akan kesehatan yang rendah, termasuk di dalamnya Indonesia. Pelayanan dan anggaran kesehatan di Indonesia masih berfokus pada memerangi penyakit-penyakit infeksi karena infeksi dapat menjadi cikal bakal pula munculnya non-communicable disease (NCD) dalam hal ini kanker. Penerapan metode-metode kesehatan masyarakat untuk pencegahan infeksi dengan sebaik-baiknya seperti vaksinasi, penggunaan jarum suntuk yang aman, skrining untuk menjamin kualitas darah yang didonorkan, penggunaan antibiotik yang rasional, edukasi seks dapat berdampak besar dalam menurunkan angka kasus kanker, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia.

p.s: referensi pada link yang tertaut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s