Merantau ke Korea Selatan dan Sedang Hamil? Berikut Hal-Hal yang Perlu Diurus

Mengetahui kondisi saya sedang kembali mengandung untuk anak kedua, tentu saya juga concern untuk mengumpulkan informasi what should I do untuk kondisi kehamilan ini ketika sampai di Korea nanti. Mulai dari menginformasikan berita kehamilan ke profesor, pihak pemberi beasiswa (SNU), anggota laboratorium dan teman-teman seperjuangan asal Indonesia. Selain agar saling memahami dan merencanakan jadwal pun ritme kerja, hal tersebut membuat kita mendapatkan makin banyak informasi yang berfaedah demi kelancaran proses hamil hingga melahirkan.

Agar kebaikan-kebaikan mereka kembali mengalir, maka saya ingin mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Mungkin selanjutnya akan ada calon ibu/ ibu lainnya yang akan menemani suami tugas belajar, bekerja atau bahkan si ibunya yang studi ke negeri ginseng ini dalam kondisi hamil.

Ketika sampai di Korea, kehamilan saya sudah masuk bulan ke-4 sehingga sebelum keberangkatan ada beberapa hal yang saya persiapkan, yaitu:

  1. Melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan di Indonesia, usahakan darah juga. Padahal sebelum berangkat saya masuk rumah sakit karena hyperemesis dan dilakukan pemeriksaan darah, dilalah semua data tersebut entah disimpan dimana sehingga saya tidak membawa dokumen tersebut dan concern berapa kadar hemoglobin saya. Walhasil, disini ketahuanlah saya kena severe anemia dan perlu beberapa perawatan serta booster untuk menambah kadar Hb (infus zat besi). Serius ! Kondisi anemia terutama untuk ibu hamil tidak bisa dipandang sebelah mata dan disepelekan. Kondisi anemia memberi efek yang sangat signifikan menghambat kinerja kita mulai dari perasaan gampang sekali lelah, mengantuk, kurang konsentrasi, serta severe fatigue. Tentu yang akan rugi kita sendiri ya, apalagi posisinya sang ibu yang melanjutkan studi. Dengan kondisi jauh dari keluarga, merantau, tidak ada asisten RT dan semua-mua diurus bekerja sama hanya dengan suami dan anak, kita terutama ibu sangat perlu untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh (InsyaAllah akan ada tulisan khusus mengapa penting menjaga kadar Hb dan tidak meremehkan anemia pada tubuh kita wabilkhusus untuk ibu hamil).
  2. Selain cek lab darah, bawa buku hamil selama pemeriksaan di Indonesia, dokumentasikan hasil USG secara rapi terutama yang menampilkan tanggal HPL. Menurut dokter kandungan disini, HPL yang paling akurat sebenarnya saat USG di awal-awal. Walaupun HPL bukan hari pasti lahir, bisa maju atau mundur tergantung keinginan sang bayi dan takdir Allah, tapi dengan mengetahui HPL setidaknya kita bisa mempersiapkan kapan beli perlengkapan bayi, bersih-bersih rumah, menyiapkan tas bayi untuk dibawa ke rumah sakit ketika tiba waktunya, ambil cuti/ izin, diskusi rencana dengan supervisor, atau memanggil bantuan keluarga dari Indonesia.
  3. Meminta surat keterangan sehat dan surat keterangan dalam kondisi hamil dari dokter atau maternity certification letter (dalam bahasa inggris dan minta beberapa rangkap dengan cap basah, di fotocopy dan di scan pula) . Hal ini berguna bagi saya ketika penerbangan karena perlu menunjukkan surat keterangan hamil, pembuatan visa karena saya tidak bisa melampirkan hasil rontgen bebas TB (menggunakan tes mantoux) dan dokumen sementara ketika mendaftar family dorm SNU (untuk meningkatkan ranking waiting list dapat rumah hehehe).
  4. Membawa beberapa perlengkapan newborn baby yang sulit atau kurang nyaman digunakan kalau pakai produk yang dijual di Korea. Ini masalah harga dan kebiasaan saja sih.. Misal baju-baju newborn di sini lebih mahal ketimbang di Indonesia. Dengan harga yang sama misalnya, di Korea bisa hanya dapat 2 pieces sedang di Indonesia sudah dapat satu lusin, sisir bayi yang lembut, handuk (karena di sini entah mengapa handuknya ukuran kecil-kecil sedang kami terbiasa pakai handuk besar menutupi seluruh badan) serta perlak. Selebihnya bisa beli di sini, biasanya kami beli preloved (ada beberapa grup FB yang dominan isinya para foreigner menjual barang-barang preloved bayi, anak, dan kebutuhan rumah tangga), dapat lungsuran dari para perantau senior, atau bahkan mungut hasil dari buangan orang-orang yang pindahan tentu dengan kondisi barang yang sangatttt bagus dan layak (kami dapat 2 bouncer, 1 baby walker, dan 1 standing toys yang masih sangat bagus dibuang ketika ada yang pindahan).
  5. Membawa vitamin dan obat-obatan yang memang diresepkan untuk kondisi ibu hamil. Jika kadar Hb rendah atau menderita anemia, lebih baik bawa tablet besi dari Indonesia karena disini jauh lebih mahal (tapi cek juga dosisnya ya).

Nah… tibalah diri ini menginjakkan kaki di Korea bersama si bayi dalam kandungan. Setidaknya ada tiga hal penting yang saya persiapkan sambil menjaga kondisi kesehatan tubuh, mengurusi perintilan domestik hingga studi serta pengalaman minim saya dalam hal mendapat fasilitas kesehatan selama pemeriksaan kehamilan di Korea:

1. Memilih rumah sakit dan dokter kandungan.

Hampir tiap universitas yang ternama di Korea punya RS afiliasi di tiap area. RS afiliasi universitas ini bisa jadi pilihan. Selain itu, puskesmas lokal, RS swasta atau klinik internasional juga bisa menjadi pilihan tergantung budget yang dimiliki. Atas rekomendasi para ibu rantau senior di Korea, terkhusus di wilayah Seoul, wabilkhusus wilayah kecamatan Gwanak, mereka biasanya memilih rumah sakit  모태산부인과 (Motae Hospital for Women) dengan dokter 김영아  (Kim Young A). Asli ini dokter udah langganan para foreigner asal Indonesia. Bahasa inggrisnya bagus sehingga kita bisa memahami informasi dengan jelas. Karena sudah paham watak ibu-ibu hamil dari Indonesia, maka beliau sudah paham pula common health problem ibu-ibu hamil asal Indonesia seperti defisiensi besi. Beliau juga mau diskusi mengenai birth plan kita, misal kita tidak ingin mengikuti beberapa protokol kelahiran di Korea seperti diberikan pain killer via epidural.

Sebenarnya banyak RS lainnya, ini bisa tanya-tanya ke ibu-ibu di daerah tempat tinggal yang lebih paham karena beberapa fasilitas kesehatan ada yang terbiasa melayani pasien dari luar negeri ada pula yang tidak. Jika yang tidak, tentu kita akan mengalami kesulitan dalam hal komunikasi. Oiya, semua ibu hamil (termasuk imigran dan tidak berlaku untuk high-risk expecting mothers category), bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis dari fasilitas kesehatan di kecamatan tempat tinggalnya asal punya Alien Registration Card (ARC) atau jika bayarpun tentu akan jauh lebih murah dibanding RS khusus. Saya rekomen untuk datang dan lihat dulu fasilitas kesehatan incaran dan jangan lupa fasilitas kesehatan publik di daerah tempat tinggal. Kalau saya mah karena sudah banyak review mengenai RS dan dokter tersebut jadi ngikut aja..

Karena perbedaan budaya antara Korea dan Indonesia, tentu standar perawatan pre-natal dan post-natal juga berbeda antara Indonesia dan Korea. Standar pemeriksaan kehamilan di Korea meliputi:

  • Kontrol rutin dengan dokter (termasuk USG diruangannya)
  • Tes darah rutin termasuk tes toksoplasma, rubella, sifilis dan hepatitis
  • Tes kromosom di awal kehamilan (karena pas ke Korea sudah trimester dua, jadi tidak dilakukan tes ini. Tes ini cukup menghabiskan dana apabila tidak di cover asuransi
  • Tes urin untuk cek kadar glukosa dan protein serta infeksi saluran kemih.
  • USG detail untuk cek perkembangan janin, lokasi, ukuran janin, hingga jumlah jari, aliran darah, syaraf, dan tes untuk memeriksakan adanya kelainan tumbuh. USG detail ini berbeda dengan USG yang di ruangan dokternya.

2. Mendaftar National Health Insurance Service

Satu kali visit ke dokter obgyn kira-kira menghabiskan 36,000 won (bisa termasuk tes dasar seperti USG dasar, urin, tes darah). Apabila ada tes lainnya seperti USG detail, tes darah lengkap, injeksi zat besi, atau pengobatan tertentu bisa sampai lebih dari 200.000 won. Saya sih jujur tidak sanggup ya dengan uang beasiswa yang pas-pasan sehingga perlu mengikhtiarkan rezeki lainnya yaitu mendaftar NHI. Mendaftar NHI (atau di Indonesia seperti BPJS) bagi yang berkeluarga akan membuat lebih tenang. Saya hanya bayar untuk 1 kepala keluarga saja untuk semua anggota keluarga yang terdaftar. Karena mahasiswa, saya mendapat diskon 50% pembayaran premi tiap bulannya dengan fasilitas yang sama seperti warga Korea. Premi perbulan sekitar 56,000 Won. Setelah mendapat ARC, saya langsung mengurus NHI. Peraturan pemerintah Korea baru-baru ini juga mewajibkan foreigner yang tinggal diatas satu tahun untuk mendaftar NHI, mungkin karena mulai goyah seperti BPJS di Indonesia.

Dokumen yang perlu disiapkan sebagai syarat mendaftar NHI bagi mahasiswa cukup ARC dan enrollment certificate lalu mengantri di kantor NHI khusus foreigner di Technomart Sindorim West Wing lantai 3. Ngantrinya lebih tertib dan bisa langsung jadi hari itu juga. Kita juga diberi pilihan pembayaran melalui transfer atau bisa langsung didebit dari rekening kita tiap bulan. Harapannya asuransi ini juga di-cover oleh pemberi beasiswa saya (kampus SNU). Penerima beasiswa sebenarnya mendapatkan asuransi, namun asuransi yang berafiliasi adalah asuransi swasta. Dengan adanya peraturan baru pemerintah ini, asuransi swastanya jadi tidak terpakai, mending dibayarkan untuk NHI saja bukan?. Untuk keluarga, dokumen yang diperlukan antara lain ARC (suami, istri, anak), buku nikah, akte lahir, KK keluarga, dan surat legalisirnya dari KBRI (ini mungkin akan ada post khusus).

3. Mendapatkan GO MOM CARD

Selain NHI, yang perlu ibu hamil perantau ikhtiarkan di Korea yaitu mengajukan GO MOM CARD. Kartu ini adalah bentuk kepedulian pemerintah akan ibu hamil. Pemerintah membuat afiliasi dengan beberapa bank mengeluarkan GO MOM card alias kartu ATM khusus untuk ibu hamil tentu beserta isinya sebesar 600.000 Won! Lumayan kaaan… Jadi biaya pemeriksaan selama kehamilan yang tidak di-cover NHI bisa menggunakan ATM ini. Kalo masih ada sisa di GO MOM card ini, biaya lahiran bisa gratissss. Nah itulah strategi saya. Biaya lahiran dengan asuransi nasional di-cover sekitar W500,000 -W800,000. Apabila Go Mom masih tersisa 400.000 Won, saya hanya perlu membayar sekitar 100.000-300.000 Won. Jauh lebih meringankan ketimbang tidak memiliki sama sekali NHI atau ATM tersebut. Namun, tidak semua bank bekerja sama, yang bekerja sama setahu saya antara lain Woori, Nonghyup, Kookmin/ KB, Lotte dan Samsung. Persyaratan untuk mengajukan kartu tersebut cukup ARC sang ibu (pihak bank dapat mendeteksi apabila ARC kita sudah terdaftar NHI dari satu kartu ini) dan surat  kehamilan dari fasilitas kesehatan. GO MOM card akan langsung keluar hari itu juga kalau di Woori Bank dan langsung bisa digunakan ketika kontrol berikutnya. Alhamdulillah sedikit lebih tenang untuk urusan biaya melahirkan nanti.

Hal-hal diatas sesuai pengalaman dan diskusi saya bersama ibu-ibu di sini. Tentu masih banyak informasi yang belum saya ketahui, tapi setidaknya semoga informasi dan pengalaman tersebut mencerahkan dan membantu ya !

Bisa baca juga http://www.morningcalmbirthing.com/prenatal-tests/ tentang pre-natal test di Korea

Unduh dan baca tentang:

0107_영어_내지_저용량 Guidebook for Living in Korea for Foreigners (pdf link)

15′ National Health Insurance System of Korea (NHIS)

Serta bergabung di grup FB

https://www.facebook.com/groups/762681347121596/ untuk membeli barang-barang pre-loved bayi dan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s