Busan dan Semusim Cinta 4: Memetik Hikmah, Merajut Ukhuwah

Alhamdulillah wa syukurillah ! Pertama mengikuti kepanitiaan diluar urusan domestik dan per-akademik-an yang masyaAllah berkesan. Kepanitiaan salah satu acara tahunan Rumah Muslimah Indonesia (Rumaisa) Korea Selatan yaitu Semusim Cinta. Seminar-talkshow 2019 ini adalah yang ke-4. Tiap tahun insyaAllah diadakan dengan tema dan tempat berbeda, pembicaranya pun menyesuaikan tema. Tema Semusim Cinta ke-4 kali ini Inspiring Women: Allah Di Hati, Semangat Mengaji, Berjuang untuk Berbagi dengan mengundang dua pembicara yaitu Ustadzah Wirianingsih (penasaran sama ilmu beliau karena 10 anaknya hafidz Qur’an!) dan artis hijrah Dewi Sandra (ini kali kedua ke kajian ilmu yang diisi beliau tapi tetap.. ada aja hikmah baru yang didapat dari kisah hijrahnya). Acara tahun ini dilaksanakan di Busan, tepatnya di Masjid Al-Fatah. Korean Muslim Federation (KMF) Busan sangat welcome, mereka senang ada kajian ilmu di masjid tersebut. Saya pribadi seneng juga ada sambutan dari ketua KMF Busan yang merupakan seorang mualaf dan warga lokal Korea. Selain dari KMF, acara ini juga dihadiri oleh KBRI Seoul. Ini menandakan kalau KBRI mendukung banget acara-acara WNI di Korea Selatan. Feel blessed in South Korea ^^ !

Sebenarnya, saya hampir ga jadi menghadiri acara ini dengan alasan apalagi kalau bukan karena mendekati HPL. Tapi dipikir-pikir saya yang tergabung di divisi humas dan publikasi memang kurang kerja sebelum-sebelumnya. Semoga bisa sedikit berkontribusi ketika hari H dengan segala keterbatasan dan kapasitas ibu hamil punya anak 1 dan ga mau ngerepotin suami. Lagian, semoga ini juga menjadi jalan tafakur pelepas penat setelah minggu ujian dengan menikmati keindahan alam kota yang terletak di Selatan dari Seoul dimana dekat dengan pantai (kita belum pernah jalan-jalan keluar Seoul, nah pas ada momen sekalian jalan-jalan sambil lurusin niat terus kali yah karena mau ke majelis ilmu). Akhirnya, bismillah, kita putuskan berangkat !

Acaranya sendiri hari minggu, tapi kami sengaja datang di hari sabtu untuk jalan-jalan sejenak ke pantai yang common di Busan, Haeundae Beach. Setiba di Busan Station, kami menuju penginapan terlebih dahulu untuk titip barang dan sejenak istirahat. Setelah itu, kami bergegas menuju Bakso Bejo ! Yap, di Busan ada kuliner khas Indonesia di daerah Nampo-dong daerah BIFF (Busan International Film Festival_. Busan juga terkenal dengan aneka seafood, pasar ikan, kuliner berbasis ikan dan pusat street food berada di Nampo-dong area (BIFF square, Gukje Market, Jagalchi Market). Kalau masih kuat perutnya, sayang aja kalau ga dicoba dengan tetap memperhatikan kehalalan. Berhubung sudah kenyang, kami langsung menuju Haeundae Beach saja.

Berbicara tentang keindahan pantai, Haeundae Beach mah masih kalah sama pantai-pantai di Indonesia. Tentu lebih indah dan banyak di Indonesia. Menurut salah satu teman sih, kalau ingin mengunjungi pantai di Korea Selatan lebih tenang dan bagus di daerah utara yaitu di Gangwon dan di bulan Juni karena panasnya pas seperti udara di Indonesia.

Namun pantai tetaplah pantai yah, mau bagaimanapun, ciptaan Allah yang ini bercampur langit biru dan pasir empuk selalu sukses jadi tempat yang syahdu nan menenangkan.

IMG_E5880
Haeundae Beach di Busan

Apalagi dinikmati bersama keluarga, memandang ayah dan anak bermain… ah benar-benar seperti ingin waktu berhenti sejenak dan nyanyi lagu kemesraan.

IMG_E5905

Nah poin plusnya pantai di sini yaitu akses transportasi umum sangat mudah ! Naik bus bisa langsung sampai tepat di depan pantai. Selain itu, setelah asyik bermain di pantai, tersedia tempat bilas yang layak dan memadai. Kondisi pantainya juga bersih, tertata dan aman. Di Haeundae beach juga terdapat semacam sea world sehingga anak-anak juga bisa berkunjung ke akuarium berisi hewan-hewan laut (biaya masuk kira-kira 23.000 won/ orang dan anak kurang dari 3 tahun masih gratis). Sebelum kembali ke penginapan untuk memulihkan tenaga agar lancar mengikuti acara besok, kami makan ikan bakar (makanan yang paling aman) di daerah Haeundae market. Ya namanya tempat wisata, biaya makan agak lebih mahal ketimbang biasanya.

Sesi 1- Ustadzah Wirianingsih

Tibalah hari H acara dan saatnya kita menunaikan tugas serta menyerap inspirasi dari dua pembicara.

Ustadzah Wirianingsih pada sesi pertama menyampaikan mengenai pentingnya ilmu dan ajakan untuk terus semangat mencari ilmu. Salah satu nikmat yang tidak diberikan kepada setiap orang yaitu nikmat hidayah. Jika Allah sedang menghendaki kepada kita suatu kebaikan, Allah akan memberikan kepada kita suatu pemahaman terhadap agama. Kita akan diberikan petunjuk jalan untuk menempuh, mendalami agama, agar semakin bisa memaknai kehidupan kita, paham betul tujuan dan arah kita hidup, untuk apa, dan bagaimana menjalaninya. Agamalah yang menuntun ini semua. Inilah yang disebut hidayah termasuk hidayah untuk datang ke majelis ilmu walau jauh seperti contohnya Imam Bukhari yang mencari ilmu dan mengumpulkan hadist shahih dengan mendatangi ulama tiap kota.

“Barang siapa yang menuntut ilmu, maka Allah membuka baginya jalan menuju surga”.

Allah Maha tahu tentang kita, setiap manusia itu pasti ada nafsu. Keinginan tidak pernah puas dan ingin meraih sesuatu. Misal sekolah, ga dipungkiri salah satu keinginannya yaitu ingin dapat gelar, kerja ya ada keinginan dapat upah, atau bisnis ingin dapat keuntungan. Ada kepuasan-kepuasan duniawi yang ingin diraih dan ini dalam islam ga dilarang, kecuali melanggar batas.

Kecenderungan kita mendapat sesuatu tanpa batas lalu dipagari oleh Allah yang dikenal dengan syariat islam. Bagaimana kemudian kita tahu cara-cara yang membatasi keinginan ini? Disitulah ilmu masuk dan hendaklah kita belajar mengikuti tradisi belajar islam yaitu tidak hanya memahami sendiri referensi utama umat Islam (Al-Quran dan hadits), namun juga bertatap muka langsung dengan guru atau ulama. Belajar memahami referensi sendiri tanpa guru akan membuat kita membuat spekulasi-spekulasi pribadi yang akhirnya membuat sesat. Begitu pun mendapat ilmu hanya dari guru, tanpa merujuk kembali kepada referensi utama, sama juga akan menyesatkan.

“Yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling berpahala.”

Ilmu juga sebagai fondasi untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Tetaplah melanjutkan urusan dunia misal sebagai ibu, istri dan/atau sesuai profesi saat ini. Namun jadikan urusan dunia ini sarana untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai hamba Allah. Menjadi Ilmuwan yang bukan menghancurkan kehidupan manusia, dokter yang membangun rasa kemanusiaan, advokat/ pengacara pembela yang benar, diplomat yang mengangkat harkat martabat bangsa. Tujuannya bermura pada kehidupan akhirat yang lebih baik.

Ustadzah Wiwi, begitu sapaan akrab beliau, pada sesi tanya jawab juga menyampaikan bagaimana tips dalam membersamai anak hingga anak-anaknya bisa hafidz Qur’an, yaitu :

  1. Memahami bahwa ini betul-betul tangan Allah yang bekerja berkaitan dengan hafidznya para anak beliau. Ini adalah salah satu karunia terbesar Allah. Dengan menyadari ini, membuat kita tidak jumawa bahwa anak-anak hafidz karena ajaran dan usaha saya, namun karena Allah yang izinkan.
  2. Doa-doa nenek-kakek terdahulu. Makanya dalam kondisi apapun, jangan lupa untuk mendoakan bukan hanya untuk anak kita tapi hingga cucu kita kelak. Bisa jadi dari 1000 dosa yang pernah terucap oleh generasi terdahulu ada satu doa yang dikabulkan dan itu dijatuhkan ke cucu mereka (anak kita).
  3. Pasangan yang sevisi misi. Suami punya peran penting dalam mendesain foundation atau beliau menyebutnya yang mendesain GBHK (garis-garis besar haluan keluarga). Istri yang meletakkan ornamen-ornamennya seperti gizi, kurikulum, cara belajar, dll.
  4. Upayakan urusan basic jangan dikasih ke orang lain misal mengajarkan membaca Al-Qur’an, sholat, dan urusan basic lainnya.
  5. Penting bagi muslimah banyak baca, banyak informasi, kosakata, kisah sejarah jadi nanti akan ditransfer ke anak.
  6. Stel Murrotal 24 jam.
  7. Upayakan membuat target misal anak umur 6 tahun harus bisa hafal Qur’an, minimal tahu 10 kisah sahabat Nabi, khatam kisah Rasulullah SAW, dan seterusnya.
  8. Belajar Al-Qur’an tidak boleh ada libur dan beliau mengupayakan anaknya bisa baca Al-Qur’an terlebih dahulu agar dapat menghafal kemudian.

Poin dan pesan penting lainnya yang beliau sampaikan sebelum menutup paparannya yaitu

“Jadilah muslimah yang bermanfaat”

Seperti contohnya Rumaisa, seorang muslimah yang ketaqwaannya tidak diragukan, berkepribadian kuat, cerdas, berdaya, pemberani. Beliau punya harta namun diinfaqkan untuk jalan dakwah. Dengan ilmu agamanya ia pandai menghibur suami dan mendidik anak-anak. Beliau tidak sibuk dengan dirinya sendiri namun bermanfaat pula di luar dengan kapasitasnya.

Pahami saja Q.S Al-Asr. Bangun pilar pirbadi (iman dan amal sholih) yang tidak bisa dilakukan sama orang lain, lalu berwasiat pada kebenaran dan kesabaran. Menyeru pada kebenaran dan kesabaran itu spektrumnya sangat luas, membantu saudara yang kesusahan, menyebarkan ilmu, dan masih banyak lagi. Intinya apa saja yang kita lakukan jangan lupa ditujukan untuk Allah.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.

Sesi 2 – Inspirasi Hijrah dari Dewi Sandra

Kemudian bahasan lebih lanjut berkenaan dengan pentingnya ilmu sebagai penyemangat hijrah disampaikan oleh Dewi Sandra. Sebelum hijrah, mbak Dewi Sandra merasakan banyak kemudahan duniawi, kekayaan, karir yang sedang di puncak dan sebagainya tapi hatinya entah mengapa tetap merasa hampa. Hingga kemudian satu persatu dalam hidupnya diambil antara lain rumah tangga, lalu ayahnya meninggal. Kegagalan pertama ini belum membawanya menuju hijrah. Beliau masih menjalani hidup pakai cara sendiri, ilmu yang  ia pahami sendiri, pokoknya my life my rules!

Hasilnya? Gagal untuk kedua kalinya! Sampailah ia bertemu para muslimah yang ujiannya lebih dari besar dari beliau namun tetap tenang menghadapi ujian tersebut. Dari situ, Dewi Sandra menyadari yang membedakannya adalah ilmu.

“Manusia adalah makhluk spiritual, agar spirit ini menyala dan kemudian menggerakkan kita untuk hijrah kepada kebaikan, maka harus diisi ilmu. Hal pertama dan mungkin yang terberat yang perlu dilakukan oleh kita adalah mengakui bahwa kita ini bodoh, sakit dan perlu dibenahi.”

Beliau kemudian mencari rules Allah itu bagaimana? Mulailah ia memperbaiki sholat, memperbaiki pemahaman, hubungan dengan Al-Qur’an, mencari guru. Setelah itu, Allah beri jalan keluar satu persatu.

Apakah setelah hijrah selesai ? Tidak akan diuji lagi? Jelas tidak ! Hijrah bukan hanya sekedar perubahan kondisi fisik seperti dari tidak berhijab menjadi berhijab, namun diikuti dengan perubahan akhlak atau karakter. Kesemuanya itu merupakan proses belajar yang terus menerus.

Terakhir, Mbak Dewi menyampaikan ketika merasa mulai futur, malas-malasan, mood swing, kewalahan banyak tugas, itulah saatnya kita kembali lagi mempertanyakan prioritas kita.

Apa prioritas kita sebagai seorang manusia?

Saya diciptakan untuk apa?

Menjalani dengan cara apa?

Akan kembali kemana?

MasyaAllah ! Dua hari di Busan walau singkat tapi banyak hikmah dan nikmat. Nikmat menghargai waktu bersama keluarga, nikmat ilmu dari acara Semusim Cinta 2019 sekaligus nikmat menjalin ukhuwah dengan WNI muslimah di negeri ginseng ini. Semoga Allah ridho dan berkahi acara dan perjalanan ini serta akan ada lagi kajian-kajian ilmu lainnya yang seperti oase ini, di tengah tidak banyaknya majelis ilmu langsung tatap muka di Korea Selatan. Seperti tagline Semusim Cinta tahun ini semoga Allah selalu di hati, kita semangat mengaji, dan berjuang untuk berbagi.

IMG_E5957
Panitia, KBRI, dan Pembicara. Hijab sponsored by @Qyopta_apparel
IMG_E5955
Berfoto bersama seluruh peserta. Tidak kurang 150 peserta turut hadir di Semusim Cinta 2019

Busan, 23 Juni 2019

Rekaman lengkap kajian bisa didengar di spotify dengan link berikut :

https://anchor.fm/yangie-dwi-marga-pinanga

Berita telah dipublikasikan di link berikut :

https://www.dakwatuna.com/2019/06/24/95734/semusim-cinta-ajang-menambah-ilmu-dan-silaturahim-akbar-wni-muslimah-se-korea-selatan/amp/?fbclid=IwAR3ho_EL0fBqtu7MVtX8XwwfgZlRSdtEOP6Y5cEXT-DrWLE7FL1CkZuOpQQ

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s