Journey as PhD Mama (I)

Assalamualaykum !

Waduh lapak blog-ku.. maafkan empu-mu ini sebetulnya punya janji untuk menulis minimal seminggu sekali, minimal target tahun ini 15-20 blog posts. Tapi nyatanya…ketika waktu senggang, masih saja asyik habiskan waktu berselancar di media sosial teuing-nyari-naon ketimbang membaca atau menulis. Sedihnya lagi.. sekarang sudah bulan November, penghujung tahun ! lihat lagi target yang dibuat awal tahun, alhamdulillah masih ada yang bisa dipenuhi tapi astagfirullah lebih banyak belumnya ! Demi masa… sesungguhnya manusia berada dalam kerugian (Q.S Al-Asr).

Sebetulnya banyak topik, kisah, inspirasi atau cerita perjalanan yang berseliweran di kepala tapi belum didokumentasikan melalui tulisan (lebih tepatnya belum bisa mengalahkan hawa nafsu untuk selonjoran). Enaknya dari mana nih mulainya ?

Baique.. mari kita flashback dan evaluasi sejauh ini mengenai kehidupan dan rutinitas. Saat ini, Saya seperti merawat dan membesarkan tiga anak sekaligus: Gahtar, Hamka dan riset. Sama halnya dengan Hamka, penelitianku ibarat bayi masih newborn pisan, belum bisa apa-apa.

Perjuangan sesungguhnya dimulai setelah beres cuti melahirkan dan mulai kembali ke lab. Mulai in-charge dengan eksperimen, anggota lab lainnya, peraturan lab, dan sebagainya. Tantangannya masyaAllah… mulai dari masih struggling manajemen diri urusan domestik rumah tangga, miskomunikasi yang cukup banyak dengan anggota lab sampai beberapa kali harus menyeka air mata, lab skill yang under-expectation-nya professor (nilai skill saat ini B bahkan C saja dan harus cepat bisa), masalah finansial yang harus diatur, dan kejadian-kejadian tak terduga lainnya seperti gigi copot dan perbaikannya yang buat kantong jebol. Adaaaa aja…

Dari hampir 3 bulan kebelakang, sebenarnya banyak sekali teguran yang dikasih Allah agar segera bangkit dari tidur panjang, agar waktu ini makin dimanfaatkan untuk banyak beramal dan beribadah. Semoga lillahi ta’ala.

Dimulai dari professor disuatu jadwal diskusi berkata, “ Wah, kamu sudah 8 bulan di sini tapi belum memberikan kontribusi yang berarti, minimal kontribusi untuk dirimu sendiri”. Deg!. Bagi beliau 8 bulan cukup lama dan harus segera action. Bagi saya 8 bulan ini baru sebentar. Tahun pertama lebih banyak saya habiskan untuk menata diri dan keluarga dulu, menikmati adaptasi, membangun support system, dan mengenal Korea lebih dekat. Awalnya down banget dibilang gitu, ke busui yang baru lahiran pula. Kemudian setelah curhat dengan partner hidup, pilihan saya ada dua: ingin menjadikan ini sebagai hal untuk diratapi terus, atau bangkit dan dijadikan motivasi. Saya tentu pilih yang kedua. Tidak ada banyak waktu untuk bersedih, untuk terpuruk. Ini teguran Allah untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Saatnya bangkit. Kayaknya bener sih kata orang,

“perjalanan PhD mah mungkin ilmunya akademiknya secimit, ilmu kehidupannya yang lebih banyak dan berharga”.

Saya percaya Allah memberikan ujian-ujian untuk naik tingkat. Nah, ini adalah salah satu ujian yang dimana saya merasa banget dan harusnya selalu merasa

“I am really absolutely nothing without Allah”.

Rasanya lemah, daya upaya masih sedikit sekali. Tanpa pertolongan Allah, tak mungkin bisa tegak lagi dan lari lagi. Padahal perjuangan ini tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan ibu-ibu di belahan dunia lain, ibu-ibu Palestina contohnya. Dan satu lagi, semua ini bukan karena kerja keras pribadi semata, tapi pasti ada hal lain yang memberikan kekuatan yang saya yakini berasal doa para orang tua dan suami. Maka jikalau disakiti, jikalau diberikan kebaikan melalui orang lain. Mari kita doakan saja. karena doa adalah bincang mesra bersama Allah.

Ketika mengalami semacam bad day dan bingung apa dulu yang harus diperbaiki. Mari perbaiki sholat terlebih dahulu. Dahulukan Allah. As Al-Qur’an said, “Remember Me and I will remember you.” Kalau mau diinget Allah, mau ditolong Allah, maka penuhi panggilan Allah dulu. Buka hari dengan mengingat Allah, tumpahkan curhat mesra lewat sholat dan doa, buka Al-qur’an dulu sebelum buka buku lab atau handphone. Pokoknya Allah dulu.

Selanjutnya dahulukan kewajiban utama sebagai istri dan ibu. Di tempat kerja atau di kehidupan luar mungkin kadang kita dicemooh, di-underestimate, merasa useless, dan perasaan negatif lainnya. Rumah adalah tempat paling nyaman untuk kembali, dimana masakanmu ditunggu-tunggu semua anggota keluarga, panggilan sayangmu dinantikan, waktu kumpul dan bercengkrama menjadi waktu yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Saya cuma punya pukul 6 sore- 10 malam setiap weekday dan dua hari weekend. Saya harus jadikan sebagai waktu krusial untuk membangun bonding dengan semua anggota keluarga yang menjadi support system terbaik. Saya yang sekolah, mereka yang turut berkorban. Bagiku tetap, family comes first.

Kejadian-kejadian di awal masa studi ini mebuat saya harus menggebrak boundaries. Salah satunya untuk berpikir,. There is no stupid question… so don’t be fear to ask, to confirm, to learn dan tetap stay focus!. Pergunakan waktu seefektif mungkin. Apalagi emak-emak yah…maka manajemen fokus itu sangat penting ! Tips dari teman: atur sedemikian rupa yang ingin dilakukan pada hari tersebut, highlight yang menjadi fokus, buat expectation-nya dan lakukan evaluasi harian. Fokus di rumah untuk pekerjaan domestik, fokus di lab untuk riset. Jangan malah di rumah keinget riset mulu, di lab keinget anak dan suami terus.

Cari 1001 alasan baik sehingga kita tidak jadi berburuk sangka kepada orang lain. Hikmah ini berawal dari kisah saya yang kembali bersentuhan dengan bahan dan alat laboratorium. Saking lamanya sudah ga ngelab, saya kaku pisan.. bahkan saya kembali lagi latihan belajar menggunakan segala jenis pipet. Tak pelak lah semua anggota lab bengong dan kaget. What?! you are not ready for PhD!. Bukannya diajarin dan disemangatin sebagai sesama mahasiswa pejuang PhD, saya menjadi bulan-bulanan dan topik pembicaraan seantero lab ini. Sedih banget tapi ya saya sadar diri saja memang lab skill saya jelek. Saya jarang masuk lab dan diberikan kesempatan untuk nge-lab, paling banter saat S1. Ketika S2, saya banyak berkutat dengan systematic review dan big data. Hari-hari di masa awal kembali masuk lab seakan selalu merasa terintimidasi. Alhamdulillah, saya teringat buku Enlightening Parenting yang pernah saya review disini. Saya praktekkan bagaimana mengelola emosi. Apa sebenarnya yang saya rasakan. Yap! saya malu dengan lab skill ini. Saya merasa mengecewakan professor yang high-expectation hingga mau menerimaku. Saya sedih karena seperti tidak dirangkul sebagai sesama anggota lab yang sama-sama sedang berjuang, saya merasa selalu diawasi dan di-kepo-in sebagai mahasiswa asing. Lalu saya ubah emosi ini dengan mempraktekkan helicopter view. Saya mencoba memahami posisi professor dan kolega. Saya yakin mereka juga punya pengorbanan tersendiri menerima mahasiswa baru apalagi foreigner. Tentu tidak mudah. Hal-hal yang positif walau pahit dan dapat memperbaiki kemampuan saya saat ini, lakukan saja sepenuh hati sambil terus berdoa karena Allah-lah yang membolak-balikkan hati. Alhamdulillah kondisi sekarang jauh lebih baik. Tidak ada yang patut ditakuti selain Allah. Bergantung semuanya ke Allah karena menggantungkan harapan ke makhluk harus siap dengan kecewa.

JANGAN TUNDA ! apa yang bisa dilakukan sekarang kenapa harus nanti. Saya perlu selalu ingat QS. Al-Insyirah.

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Last but not least, never compare to other people, especially in my case I can’t compare to other phd mamas. Tiap orang pasti ujian, tantangan, dan kondisinya berbeda. Misal, teman saya, tidak masalah untuk setelah anak-anak tidur malam langsung ngacir ke lab lagi. Jam 3 subuh ke lab lagi sampai jam 6 pagi. Kondisiku saat ini tidak bisa, mungkin nanti saya harus bisa. Tapi saya merasa di 1/3 malam terakhir, saya lebih ingin berbincang sama Allah yang Maha Menguatkan. Kembali ke pilihan masing-masing, kembali ke prioritas masing-masing. Jadi the one and only solution in my case right now is just working as effective as I can.

Jikalau jalan ini membuat saya sekeluarga menjadi lebih dekat dengan-Mu, jalan untuk melunasi hutang-hutang atau amanah lainnya, jalan sebagai agen dakwah untuk islam, maka seberat apapun asal Allah temani, insyaAllah akan kami jalani. Semoga jalan menuntut ilmu ini menjadi pemberat amal kebaikan di akhirat kelak.  Semoga Allah menjauhkan dari rasa malas dan rasa bergantung dengan dunia. Bersemangatlah, berlelah-lelahlah, insyaAllah Allah akan memuliakan.

Gwanak, 29 November 2019

Tangan boleh mulai mati rasa, asal otak dan hati jangan sampai mati.

5 thoughts on “Journey as PhD Mama (I)

  1. Semangat Ngoiiii ♡
    Kisses and hugs for this strong Mom!
    Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar kemampuannya, dan artinya Dia yakin kamu bisa.
    InshaAllah Yangoi survive dan bisa mendapat hikmah dari semuanya, aamiin YRA 🤲

  2. Yangiiiiii… sesama phdmom rempong saling mendoakan. Semua insya Allah ada jalannya, semoga yg kita lakukan bernilai ibadah, bisa jadi bekal di akhirat nanti… aamiin aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s