Aku, Triple Chocolate Cake dan COVID-19

Pagi, 27 Februari 2020, setelah mengantar Hamka ke Daycare, aku mampir ke sebuah café untuk membeli kue tart yang rencananya ingin dimakan bersama teman lab ketika student meeting. Hari tersebut bertepatan dengan hari ulang tahunku dan bertepatan dengan hari kamis, jadwal rutin kami berkumpul mengevaluasi satu minggu kebelakang dan merencanakan at least satu minggu kedepan.

Bismillah! Semoga dengan kue ini, jarak antara aku dan kolega-kolegaku ini jadi lebih dekat, suasana jadi lebih cair. Aku bergumam dalam hati. Lalu ku kirim pesan singkat di grup ktalk menginformasikan bahwa aku membawa kue dan bisa kita nikmati bersama ketika nanti pertemuan.

Tak ada yang membalas pesan ini. Sampai suatu waktu, temanku yang lebih lancar berbahasa inggris berbicara padaku.

“Today is your birthday?”

“Ya!!” Ujarku antusias

“But, we are really sorry Yangie, we can’t share food due to this coronavirus outbreak.”

Deg. Sebenarnya ketika mendengar hatiku potek lagi. Usaha pdkt ke teman-teman lab bisa dibilang gagal lagi. Triple chocolate cake berhias mutiara tak jadi dimakan bersama. Ku bawa pulang kembali. Tak apalah.. semoga Allah telah mencatat usaha dan niat. Memang harusnya mah terpatri prinsip memberi tanpa mengharap kembali.

COVID-19 memang lagi jadi topik utama dunia. Apalagi di Korea Selatan yang notabene terjadi ledakan pasien positif hingga pemerintah menaikkan level kewaspadaan sampai level tertinggi. Dengan adanya fenomena virus baru ini, tak pelak beberapa aktivitas menjadi berubah akibat adanya beberapa kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai bentuk penanggulangan dan pencegahan. Ketika diberitakan bahwa Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan pasien terbanyak, beberapa orang bertanya mengapa aku tak melakukan evakuasi saja ke kampung halaman. Toh, Indonesia pada saat mereka bertanya menyatakan masih zero positives. Tapi setelah banyak berpikir, mengamati dan menimbang, kami sekeluarga memutuskan untuk tetap di Seoul, tetap melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa namun mengurangi intensitas membawa keluarga pergi jalan-jalan.

Alasan terbesar tetap di Seoul selain karena ya memang kudu tetap kerja, juga karena pemerintah Korea Selatan yang cepat tanggap mengendalikan keadaan pasca outbreak coronavirus. Ditambah lagi pulang ke Indonesia dengan perubahan cuaca, perjalanan yang cukup panjang dan mohon maaf belum jelasnya jumlah pasien atau adanya data valid terkait pemeriksaan di Indonesia membuat kami berpikir lebih risky jika pulang kampung. Lalu, apa saja langkah pemerintah Korsel terkait fenomena ini sehingga kami para tetap tenang bekerja tapi juga tetap waspada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s