Aku, Triple Chocolate Cake dan COVID-19

Alhamdulillah…Asosiasi Peneliti Indonesia di Korea Selatan (APIK) kemarin mengadakan forum untuk membahas langkah apa saja yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan yang bisa kita pelajari dan mungkin, jika dikaji lebih baik, bisa diterapkan di Indonesia dalam menganggapi kegawatdaruratan.

Setidaknya dalam forum ini dibahas tentang langkah-langkah pemerintah Korsel di sisi teknologi informasi dan komunikasi, sosial-budaya, serta tak lupa sharing langkah dari KBRI Seoul dalam melindungi WNI terkait sindrom coronavirus di Korea Selatan.

Di sisi teknologi informasi dan komunikasi, Korea Selatan dapat dibilang sudah sangat siap dalam berbagai kondisi tidak hanya dalam kondisi coronavirus ini. Data UN E-Government Development Index (EGDI) dan data E-participation index (EPI) 2018 menempatkan Korsel berada di 3 urutan teratas dari seluruh dunia. Data ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kapasitas yang sangat baik untuk menyebarkan informasi dan komunikasi untuk pelayanan publik, pun masyarakatnya berpartisipasi aktif dalam menggunakan situs-situs pemerintah untuk mendapatkan informasi. Ditambah lagi, hampir 100% masyarakat Korea sudah sangat mumpuni dalam penggunaan internet, sinyal internet yang kencang dan menjangkau semua daerah (sudah at least 4G), serta ponsel yang punya kecepatan unduh memadai. Nah, ketika coronavirus ini merebak, langkah-langkah pemerintah dipaparkan oleh narasumber pada forum tersebut antara lain :

  1. Transparansi informasi.

Pemerintah Korsel membuat portal satu pintu yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat (walau saat ini masih dominan berbahasa Korea) untuk mengetahui perkembangan penyakit COVID-19 yaitu Korea Centers for Disease Control-Swine Corona Virus. Dari situs ini, kita dapat mengetahui data kejadian setiap harinya (diperbarui setiap hari pukul 10.00 dan 16.00) termasuk jumlah suspek, berapa yang telah diperiksa, sampel yang dinyatakan negatif, sampel yang belum diperiksa, yang sembuh maupun yang meninggal. Dilaporkan secara keseluruhan maupun dapat dilihat berdasarkan kota atau daerah. Selain data statistik, pada situs juga diinformasikan panduan untuk mencegah penyebaran dan RS/ klinik rujukan. Data yang ditampilkan hanya untuk keperluan statistik, upaya penanggulangan dan pencegahan dan tetap melindungi privasi pasien (tidak pernah disebutkan inisial atau rekam medis pasien). Selain situs pemerintah, ada juga situs-situs yang dibuat secara sukarela oleh warga Korea Selatan yang sebenarnya sumber data berasal dari situs pemerintah namun hanya diperbaiki tampilannya sehingga cepat dan mudah dibaca oleh masyarakat, yaitu :

https://wuhanvirus.kr/ untuk mengetahui real time status

https://coronamap.site/ untuk mengetahui perjalanan para pasien positif jadi dihimbau untuk berhati-hati ketika ingin melakukan perjalanan ke tempat tersebut atau sebaiknya di tunda

https://corona-live.com/ bisa pilih bahasa Inggris. Mostly berita dari situs CDC

2. Sistem peringatan bencana di Korea Selatan sudah berfungsi cukup optimal. Jangankan dalam kasus coronavirus, jikalau kadar polusi udara diatas rata-rata dan masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker, emergency alert akan dengan cepat tertera di semua layar ponsel yang memiliki nomor korea.

Emergency alert yang langsung masuk di layar (bukan SMS/ pesan singkat)

3. Merebaknya suspek coronavirus di Korea Selatan sebenarnya berasal dari salah satu pasien yang ternyata kontak dengan banyak orang dalam satu waktu sebelum pasien tersebut dinyatakan positif. Pada keadaan tersebut, pemerintah memiliki kebijakan dan wewenang melakukan pelacakan riwayat lokasi yang dikunjungi, orang-orang yang cross-contact serta mengecek riwayat ke/dari luar negeri. Makanya sampai ada yang sukarela membuat situs peta perjalanan pasien positif ini.

4. Di Korea juga banyak kok berita Hoax atau dilebih-lebihkan. Untuk menangkis/ meminimalisir jenis berita tersebut setiap harinya walikota-walikota tiap daerah atau CDC bergantian melakukan pengarahan di televisi.

5. Pemerintah menyediakan nomor hotline khusus untuk penanganan kasus ini dan bahkan diadakan program drive thru bagi masyarakat yang merasa memiliki gejala mirip coronavirus, tidak perlu berjalan ke RS yang bisa menjadi sumber virus dan tidak perlu turun dari kendaraannya.

6. Awal-awal fenomena ini merebak, pemerintah melalui NHIS (sama kayak BPJS) meng-cover semua biaya pengecekan. Dikarenakan banyak yang dicek, akhirnya kebijakan baru-baru ini hanya yang memiliki rekomendasi dokter yang dapat melanjutkan ke deteksi COVID19. Apabila memiliki NHIS, hanya perlu membayar 10.000 won saja (kurleb 120.000 rupiah).

7. Di setiap fasilitas umum disediakan masker dan hand sanitizer. Himbauan tentang preventif coronavirus juga akan acapkali terdengar di stasiun, bus, subway dan tempat-tempat umum lainnya. Di kantor yang melayani foreigner dan sekolah anak-anak sebelum masuk akan dilakukan pengecekan suhu tubuh.

8. Tidak diperbolehkan mengadakan acara kumpul-kumpul atau yang mendatangkan banyak orang termasuk ibadah seperti ibadah sabtu di gereja atau sholat jumat bahkan lab meeting rutin pun ditiadakan ahey!. Pemerintah Seoul sendiri memberi nama gerakan tinggal di rumah selama dua minggu. Kalaupun ada acara atau pertandingan yang diadakan tidak diperkenankan ada penonton.

9. Semua sekolah diliburkan hingga 22 maret 2020. Tapi mereka juga menyiapkan kelas darurat jikalau tidak ada support system lain di rumah. Universitas juga menunda awal semester dan dua minggu pertama masuk kelas dilaksanakan secara online dengan sistem kehadiran tetap dapat diketahui oleh dosen.

10. Bagi pegawai yang harus dikarantina, menurut narasumber pada forum APIK ini, pemerintah memberikan tunjangan 50.000 won/ keluarga dan mulai memikirkan memperpanjang cuti untuk para ibu yang bekerja.

11. Terkait untuk mengontrol harga masker, pemerintah memberhentikan sementara ekspor masker dan menunjuk kantor pos dan lembaga pemerintahan (Nonghyup store) menyediakan masker/ menjual dengan harga normal untuk masyarakat.  

12. Karena pemerintah dapat melakukan pengecekan tempat-tempat yang dikunjungi oleh pasein COVID-19, tempat-tempat tersebut dilakukan sterilisasi bahkan Lotte department store di Myeongdong tutup satu hari. Bisa kebayang kan yaa rugi satu hari tidak buka di tempat turis ini. Tempat-tempat wisata juga cukup lesu dan kalaupun masih ada turis foto-fotonya pada pakai masker. Selain tempat-tempat yang berkaitan dengan pasien positif, ku juga melihat mobil seperti mobil tanki minyak untuk sterilisasi area permukiman dan taman.

Sepinya Museum Anak

13. Menariknya, bank di Korea Selatan juga melakukan sterilisasi uang.

14. Tentu fenomena ini membuat ekonomi cukup lesu dan merosot. Pasar, tempat makan, café, cukup sepi, oleh karena itu pemerintah juga mengeluarkan kebijakan agar pemilik tempat mengurangi biaya sewa dan perbankan menurunkan bunga pinjaman.

Ternyata.. Coronavirus memang cukup banyak mempengaruhi sisi kehidupan warga Korea Selatan. Masyarakat menjadi cukup sensitif terbukti ketika aku batuk dan teman-teman langsung melihat setajam silet padahal lagi keselek habis minum. Alhamdulillah, Korsel cukup cepat meredam kepanikan para warganya dan cukup cepat dalam mendeteksi puluh ribuan sampel dalam sehari. Dengan kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat di Korea Selatan, ya wajar saja mereka bisa secepat itu mengontrol penyakit dan pencegahannya. Palli-palli (cepat-cepat) namun efektif benar terlihat olehku ketika mereka menghadapi coronavirus ini. Waspada tetap namun kerja lab tetap jalan, progress pokoknya harus tetap ada… jangan lupa sesekali istirahat menikmati triple chocolate cake. Anyway, welcome 30!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s