Jurnal PhD Bunda (part II)

Tampaknya saya mulai menerima apa yang terjadi setahun kebelakang dalam perjalanan ini. Apa yang saya alami istilah kerennya adalah culture shock. Menurut w-shape curve, saya mungkin saat ini berada dipoin 4.

Seperti yang telah saya ceritakan di sini (saya tulis ketika masa honeymoon dengan negara ini), keputusan sekolah lagi boleh dikata melalui proses yang cukup singkat dan penuh keisengan. Iseng bertanya, iseng mendapat respon, iseng berlanjut namun tak iseng untuk diselesaikan. Ga deng.. ga ada di dunia ini yang kebetulan, semuanya adalah kejadian saling terkait dan tentu membutuhkan izin Allah. Padahal mau sekolah ke jenjang S3 yang bukan hanya tentang kuliah tapi bagian terpentingnya adalah penelitian, ya setidaknya punya jangka waktu tertentu untuk menggali lebih dalam informasi atau riset kecil-kecilan lah terutama mengenai jenjang pendidikan itu sendiri, topik penelitian yang benar-benar disukai, budaya tempat penelitian (budaya lab), professor-nya, member laboratoriumnya nya, sampai kultur negara yang hendak dituju.

Ketika saya melanjutkan pendidikan magister, rasa-rasanya saya tidak mengalami yang namanya culture shock sesampai di Scotland. Selain karena masa studi yang cukup singkat, tantangan language barrier yang lebih mudah (paling aksen scottish saja sih), negara yang multikultural, namun juga menurut saya karena saya lebih prepare dengan menggali segala informasi tentang kampus dan negara tersebut. Saya ingat saya menonton berulang-ulang Sherlock Holmes versi BBC agar makin familiar dengan aksen dan budayanya. Aktivitas ini setidaknya menumbuhkan benih-benih cinta (duile) dengan negara yang hendak dituju.

Sedangkan ketika ke Korea ini, karena serba mendadak, saya hanya mengumpulkan informasi tentang hebatnya kemajuan negara ini saja terutama di bidang penelitian. Saya lupa belajar sejarah negara ini. kenapa penting ? karena dari mengetahui sejarah, asal-usul, kita akan memahami terciptanya suatu budaya atau kebiasaan di negara tersebut. Ketika wawancara beasiswa pun ditanya apakah kamu suka dengan budaya Korea? siapa artis favorit mu? saya jawab saja sekenanya SNSD dan BTS karena cuman itu yang seliweran di kuping saya dari para fansnya. Nonton drama Korea terakhir ya Winter Sonata jadi ketahuan kan angkatan berapa. Tadinya saya berpikir hanya fokus mau belajar saja hingga lulus, lagian kampusnya insyaAllah salah satu kampus terbaik ya masa sih ga internationalized? lagi-lagi ternyata saya salah besar, ternyata PhD itu ilmu akademiknya mungkin secimit yang segudang ilmu kehidupannya.

Awalnya saya baper banget tuh ketika ditinggal mobil rombongan atau ditolak naik mobil ketika ke tempat makan alasannya karena jadi ngomong bahasa inggris sama saya. Professor juga tampak lebih membela anggota lama dan mendesak saya segera bisa bahasa Korea. Ditambah lagi skill saya yang zonk ! Duh ini pelajaran banget sih please bagi yang mau lanjut PhD jujurlah mengenai skill dan it is okay bilang ga bisa atau ga tau. Masa desperate, suram, helpless tersebut benar-benar menghilangkan garis senyum saya. Saya refleksi diri, curhat sana-sini, sampai maju-mundur ingin ikut konseling kampus. Saya kembali mengingat materi pengelolaan emosi di Enlightening Parenting. Saya mencoba mendeskripsikan perasaan apa yang saya rasakan tersebut hingga akhirnya saya menemukan oh ini namanya culture shock dan saya sebenarnya butuh empati dari teman-teman. Ekspektasi saya kedatangan orang asing di suatu tempat akan seperti kaum Anshor yang merangkul Muhajirin. Ternyata hal tersebut halu saja. Sayalah yang harus memahami betul peribahasa lain rumput lain belalang. Mau tidak mau kita yang harus mengetahui aturan main di sini. Suka tidak suka kita yang harus extra effort untuk lebih proaktif. Setelah berhasil mendeskripisikan perasaan, proses selanjut yang tak kalah menyakitkan adalah memaafkan diri saya sendiri atas kebodohan dan kelalaian saya, saya kembali menjadi sering menyapa dan memberikan afirmasi positif orang di depan saya ketika saya bercermin, saya berusaha mengenal lebih budayanya dengan nonton K-drama (tetap pilih-pilih sih karena ga tipe nonton dan nonton ketika nyuci piring), saya berusaha untuk memanajemen masalah, mana yang perlu dihiraukan mana yang ya just let it go and ignore it because not so essential. Ketika ada anggota baru, saya berjanji untuk lebih empati dan menawarkan bantuan sehingga merasa diterima dengan baik di tempat baru tersebut. Dalam segi skill sampai kapanpun mungkin saya tidak akan bisa melampaui kolega-kolega lain dan saya tidak bertujuan untuk berkompetisi. setidaknya saya berprogress setiap harinya. Saya akan menikmati learn how to learn selama perjalanan ini.

3 thoughts on “Jurnal PhD Bunda (part II)

  1. Subhaanallah, tetap semangat Mbak Yangie, selamat menikmati menekuni dan meneliti hal baru di sana. Tantangan bahasa memang hal yg ga bisa nafikkan ya. Mau nggak mau kita kudu double belajar, atau malah berlipat-lipat yang harus dipelajari. Semoga apapun, dilancarkan utk semuanya.

    1. Makasih mba Ghina.. iya nihh language barriew masalah utama saya. aku suka postingan mba tentang lupa. Dari kejadian culture shock ini aku belajar banget tentang lupakan membuat semua orang senang dengan kita. keep inspiring mba

      1. Iya mbak, emang nggak memuaskan banyak orang, seenggaknya kalo untuk urusan bahasa kan kita sudah berusaha sedikit demi sedikit, hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s