Oh! Inikah rasanya culture shock? But you have to deal with it!

You have bad attitude! ga ada yang mau ngajarin kamu, ga ada yang mau temenan sama kamu kalau kamu memperlakukan anggota lab seperti itu! ditambah lagi skill-mu buruk sekali jadi pasti kamu butuh kami”. Begitulah 박사님 atau post-doc student yang menjadi lab manager tempat saya saat ini bernaung, blak-blak-an memberitahu saya. Saya, yang notabene tidak pernah sama sekali bermaksud berperilaku buruk kepada orang lain, apalagi di tempat baru, tentu syok dengan informasi ini. Saya awalnya merasa tidak terima. Saya masih ingat betul kosakata dan urutan kalimat yang digunakan karena tentu ada rasa nyut-nyutan di hati setelah perkataan tersebut. Namun entah kekuatan dari mana yang saya lakukan saat itu hanyalah mendengarkan, berusaha menangkap penekanan apa yang sebenarnya ingin wanita ini sampaikan, agar menjadi evaluasi saya ke depan. Kebanyakan concerns mereka sebenarnya hanya karena lack of communication. Saat itu juga akhirnya saya tersadar dan menjadi sebuah momentum bagi saya mengetahui dan dapat mendeskripsikan bahwa semua ketidaknyamanan yang dialami beberapa bulan kebelakang dinamakan culture shock. Semoga dimengerti dan dimaklumi. Walau setelah selesai diceramahi, saya menangis sejadi-jadinya di toilet karena saya merasa that is not true and I am not like that.

Oh! ini namanya culture shock! gimana sih bentuknya? gimana rasanya? nano-nano! dan ini nyata! bisa dialami semua orang walaupun orang tersebut pernah merasakan kehidupan berpindah-pindah alias merantau dalam jangka waktu cukup lama antar pulau maupun antar negara.

Menurut literatur, gegar budaya adalah sebuah perasaan disorientasi yang dialami seseorang yang menghadapi kultur kurang familiar di tempat baru atau cara pandang hidup yang berbeda dari yang selama ini ia lihat/ alami di tempat sebelumnya (sumber Wikipedia). Akar masalahnya bisa dari hal-hal yang sepele seperti cara menyapa, gestur tubuh atau rasa makanan yang berbeda, maupun hal kompleks. Kebanyakan akar terjadinya gegar budaya termasuk yang saya alami karena language barrier.

Ketidakbiasaan ini dapat memicu gejala gangguan psikologis seperti bingung, cemas, frustasi, merasa sendiri, merasa tidak berguna, ingin pulang kampung, sulit tidur atau malah sebaliknya kebanyakan tidur, merasa tidak dihargai sampai sakit fisik akibat perbedaan makanan dan bakteri. Saya pun mengalami semua itu.

Setidaknya ada 4 tingkatan yang akan dilewati ketika pindah ke lingkungan baru dan mengalami culture shock sebagaimana digambarkan di kurva postingan ini  yaitu :

  1. Honeymoon

Sesuai judul ya ini masa-masa diatas awan. Dapat berlangsung hanya hitungan minggu hingga 1-2 bulan. Ketika fase ini kita sangat excited dengan kehidupan di tempat baru. Aspek berbeda dengan tempat sebelumnya membuat kita kerap membandingkan antara budaya lama dan baru. Tak jarang kita mengelu-elukan tempat baru tersebut.

  1. Fase negoisasi

Nah ini fase seperti roller coaster yang cepat sekali meluncur ke bawah.. Fase ini identik dengan frustasi, cemas, insecure, helpless bahkan perasaan marah terutama terhadap diri sendiri dan lingkungan. Lama waktu seseorang sadar akan ketidaknyamanan perasaan ini berbeda-beda, ada yang cepat memahami serta menerima, ada yang sulit mendeskripsikan hingga akhirnya mendapatkan suatu momentum untuk menyadari bahwa ia kena gegar budaya. Ada yang bisa ke next stage dalam kurang dari 3 bulan ada yang butuh hingga 1-2 tahun. Di fase ini pun saya kerap bertanya mengenai eksistensi diri saya di jalur PhD ini. Am I right? Apakah saya pantas ? mengapa begini mengapa begitu mengapa ini itu banyak sekali…

  1. Fase adaptasi atau adjustment stage

Dari fase sebelumnya yang berada seperti di dasar jurang, fase adaptasi ini pada kurva ditunjukkan dengan jalan menanjak lagi ke atas. Tentu butuh effort yang besar. Ketika telah beradaptasi, kita membawa nilai-nilai baru dari kultur setempat ke hidup kita yang tentu berguna untuk bekal perjalanan selanjutnya.

  1. Fase re-gain culture shock

Fase kembali mengalami gegar budaya yang dapat terjadi ketika kembali ke negara asal atau kampung halaman. Ini pernah saya alami sekembalinya dari studi di UK for good ke Indonesia. Fase culture shock ini tidak lama dan relatif mudah diatasi.

Lalu, pertanyaan selanjutnya tentu akan berkenaan dengan how to accept and deal with culture shock? Terutama untuk yang berencana studying abroad tentu how can I prevent to not getting culture shock?

Sayang sekali, kita ternyata tidak bisa sepenuhnya mencegah agar kita tidak terkena gegar budaya. Namun, langkah-langkah yang saya sedang lakukan ini semoga dapat memberikan gambaran, memperpendek fase transisi dan semoga meminimalisir efek psikologis dari culture shock agar tak kadung berubah menjadi depresi berat.

Usahakan mendeskripsikan emosi dengan jelas.

Metode I-message sangat membantu saya. Saya dapat dengan jelas mengekspresikan apa perasaan saya. Saya tidak suka dengan perilaku penduduk lokal yang bagaimana, saya merasa insecure, cemas dan merasa tidak berguna dan dihargai. Dengan tahu jelas emosi kita, kita akan lebih mudah menerima dan mencari solusi untuk mengatasi emosi ini. Misal saya merasa takut dan terintimasi, padahal ini hanyalah sebuah asumsi yang belum tentu benar. Partner diskusi yang bersikap netral (dalam hal ini suami) sangat berperan untuk saya mengelola emosi.

Beri ruang untuk menyadari dan paham bahwa culture shock is normal.

Hal ini bisa terjadi pada semua orang termasuk kita. Mulailah menyebut mantra atau afirmasi positif “this too shall pass”, “what doesn’t kill you make you stronger”

Memaafkan diri

Setelah sadar dan mulai menerima, langkah selanjutnya tak kalah menyakitkan yaitu memaafkan yang pernah terjadi baik yang disebabkan oleh faktor eksternal dan utamanya memaafkan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri yang mungkin pernah salah dalam menghadapi penduduk setempat, memaafkan ketidakberdayaan diri, kesombongan, kebodohan, kurangnya ilmu dan keahlian. Ingat, mungkin dalam hal ini kita gagal namun selalu ada pelajaran berharga dari sebuah kegagalan. Hal ini bisa diperbaiki dan diubah.

Mencoba memilah cara penyelesaian masalah.

Seperti penilaian orang ke saya, saya tidak bisa kontrol. Namun respon saya untuk tetap baik, respon mengelola emosi, respon memperbaiki diri sepenuhnya dapat di bawah kontrol diri saya. Ada masalah-masalah yang cara penyelesaiannya just ignore it karena tidak esensial, sedangkan masalah lain mungkin perlu diskusi, permintaan maaf atau dengan tegas berkata.

Afirmasi positif

Sering-sering menyapa dan mengajak ngobrol orang dalam cermin (alias diri sendiri). Ucapkan terimakasih, apresiasi, syukuri apa yang bisa disyukuri dan afirmasi apa yang bisa dilakukan hari ini. Ingat saja betapa kompleksnya tubuh manusia diciptakan, betapa sempurnanya, tentu Allah tidak mau membuat seorang manusia menjadi tidak berguna. Silahkan mampir kesini juga ya

Gali informasi dari berbagai sumber

Cari informasi sebelum pindah ke negara baru BUKAN HANYA informasi tentang sisi baik dan indah negara ini, namun perlu juga bagian TERBURUK-nya sehingga kita bisa menyiapkan ancang-ancang how I can handle this situation. Apabila ingin melanjutkan ke jenjang master/ PhD, carilah informasi terutama terkait jenjang pendidikan ini, apa yang akan terjadi selama jenjang pendidikan tersebut, cari info mengenai anggota lab sebisa mungkin, profesor, tema riset yang benar-benar disuka, jam kerja serta budaya kerja. Terutama S3, sudah bukan lagi mencari teman baik. Jikalau ada, ya disyukuri. Jenjang ini telah berubah statusnya mencari kolega saja #imho.

Mulailah memandang sesuatu dengan helicopter view

Ada suatu ketika saat diskusi dengan profesor dan profesor tampak desperate melihat hasil percobaan mingguan saya yang menurut dia hanyalah sampah. Awalnya buaper banget sampai ingin pindah lab saja karena dibilang sampah (hasilnya padahal bukan pribadi saya), seakan tidak menghargai effort untuk mendapatkan hasil tersebut. Sebegitu tidak bergunakah?. Namun, berkat kelas parenting bersama Filosofi Montessori Indonesia dan metode Enligtening Parenting saya dapat meredam kekesalan saya dengan melihat secara helicopter view. Ternyata kemarahan yang muncul juga adalah sebuah gunung es. Mungkin marahnya profesor juga bisa disebabkan selain karena saya yang harus berbenah juga faktor kelelahan (diskusinya malam cuy jelas tenaga tinggal sisa-sisa). Mungkin teman-teman lab malu jikalau harus menggunakan bahasa inggris dan gengsi juga kalau dilihat member lain jikalau terbata-bata (padahal mah bodo amat).

Anger-Iceberg-1

Fokus dengan yang dapat dikontrol atau diubah oleh diri sendiri dan jangan mengharap orang lain berubah.

Saya mencoba lebih proaktif dan fokus apa yang bisa saya perbaiki dan selesaikan. saya mulai membangun komunikasi efektif dengan lab member, lebih dahulu menyapa walau tak berbalas, lebih berkontribusi even hanya buang sampah tiap hari, memberi gift kecil ketika hari ‘besar’ teman lab misal ketika dia maju untuk seminar atau qualifying exam hari itu. Bukan.. bukan supaya mereka jadi baik ke saya melainkan sebenarnya salah satu cara saya untuk berbuat baik ke diri sendiri. Saya tak ingin orang baru terutama foreigner mengalami hal yang sama dengan saya karena language gap, maka saya memulai dengan berempati dulu ketika ada  mahasiswa baru dengan menawarkan diri menjelaskan sistem manajemen di lab atau orientasi singkat sebelum masuk lab agar mereka paham do and don’ts.

96828532_2271400933169546_8540287334153715712_o

Mulai mengadaptasi kultur setempat tanpa menggeser prinsip hidup dan menguras isi dompet

Ada banyak cara memasukkan kultur baik negara setempat ke kehidupan sehari-hari. Misal di Korea, setelah makan setiap orang akan ramai-ramai ke kamar mandi untuk sikat gigi, mencoba makan kimchi dan terbiasa menu makanan Korea, menggunakan gestur ketika memberi salam hingga berusaha belajar Bahasa Korea. Hal-hal baik ini tidak masalah untuk diikuti. Belajar bahasa temukan cara ternyamannya. Guru les Bahasa Korea saya ya anak-anak saya sendiri dan guru-guru di sekolah mereka. Nonton Korean drama juga dapat menjadi alternatif mengenal bahasa dan budaya walau awalnya ga gue banget. Jadi untuk orang seperti saya carilah drama Korea yang nyambung sama topik riset wakakak. Terimakasih Hospital Playlist! (masih dengan sabar menunggu Ik Jun dan Jun Wan di season 2).

98180393_2274876416155331_2302787646788730880_n

Ungkapkan perasaan kepada teman

Mulai jalin komunikasi dengan teman se-lab yang sekiranya akan mendengarkan kita penuh empati, tidak men-judge, pernah merasa serupa dan syukur jika memiliki kondisi hampir sama dengan kita. Biasanya orang-orang ini akan lebih memahami perasaan kita dan memberikan saran yang sangat objektif. Jangan lupa juga jalin pertemanan dengan sesama foreigner dan so pasti teman seperjuangan sesama negara. Jikalau tak mempan, jangan sungkan mencari bantuan profesional seperti konseling kampus.

Take a breath for a while

Seberapa berat tantangan yang dihadapi, still, kita tetap berhak bahagia. Maka nikmati momen saat ini tanpa terlalu berlebihan mengkhawatirkan sesuatu di depan yang belum pasti. Ketika perlu take a break, saya lebih suka menikmati keindahan alam sesederhana melihat bunga-bunga liar ketika jalan ke kantin, piknik murah meriah bersama keluarga di taman kampus atau main di sungai (kebetulan kampusnya di bawah kaki gunung Gwanak) atau sekedar belanja sayur ke pasar. Kadang saya me-reward diri dengan masak yang enak, complete skin care ala Korea, membuat mainan anak, beli (yang belum tentu dibaca) buku.

WhatsApp Image 2020-06-28 at 10.20.38 PM

Ambil foto bunga salah satu stress relief-ku

Cari “pelampiasan” atau kegiatan extracurricular yang positif tanpa menganggu hal utama

Contohnya kalau saya nulis blog, masuk di komunitas muslimah di Korea, masuk ke komunitas 1minggu1cerita (yuk mareee tolong saya ditepok-tepok kalau sudah malas menulis), ikut menjadi volunteer dengan kegiatan rewceh hanya jadi translator (dengan bayaran makan siang di resto mahal Korea hahahaha).

Last but not least and the very important thing menyadari bahwa segala yang terjadi karena kehendak Allah.

Allah tidak pernah salah menempatkan kita sepaket dengan tantangannya. Ia menempatkan beban pada pundak yang tepat. Mari fokus kembali ke Allah. Luruskan kembali niat karena Allah dengan ikhtiar sebaik mungkin. Selanjutnya hasil serahkan, ikhlaskan, pasrahkan ke Yang Maha Mengatur kehidupan. Pelajari lagi kisah-kisah Rasulullah SAW, para sahabat, para nabi, para istri Rasulullah SAW itu sangat ampuh untuk membangkitkan kembali semangat. Tugas utama saya saat ini berusaha memantaskan diri untuk sebuah tujuan dalam perjalanan PhD ini melalui ikhtiar bumi dan langit. Semoga lillahi ta’ala

Culture shock walau ga enak bet rasanya tapi sebenarnya sebuah kejadian positif. Kejadian yang menjadi titik kembali mengenal Allah lebih dekat, mengenal diri kita sendiri dan membentuk pribadi lebih baik dan jauh lebih kuat ke depan insyaAllah. Pribadi yang akan lebih open-minded, lebih empati, tanpa mengubah prinsip hidup. Saya pun saat ini masih struggling tapi saya mencoba untuk berpikir positif tentang takdir yang Allah beri. Semangatin dong yah!. Bagi yang berencana melanjutkan studi ke luar negeri, culture shock mungkin bisa terjadi tapi semoga dengan cerita saya ini bisa mulai mengambil ancang-ancang ya!

And I think to my self…. what a wonderful world~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s