101 Memilih Buku Anak Agar Dompet Tidak Bocor

Perkara buku cerita anak menjadi melejit bagi orangtua zaman now. Orang tua sekarang tampaknya sudah lebih aware untuk mengenalkan buku untuk anak sejak usia dini, bahkan sebelum anaknya brojol. Akun-akun yang menjual buku dari satuan hingga arisan dan jasa titip buku anak juga makin menjamur, menjadi ladang bisnis berdaya dari rumah bagi beberapa ibu. Saking banyaknya pilihan buku untuk anak saat ini membuat orang tua merasa semua buku tersebut menjadi sebuah kebutuhan dengan dalih demi investasi pendidikan. Akhirnya tidak sadar para orang tua membeli buku secara impulsif atau memaksa cicilan padahal ada kewajiban lain yang lebih genting. Syukur-syukur kalau anaknya antusias, ya ternyata ga dilirik sama sekali! sedih deh…

Mau semahal apapun, sekomplet apapun isi rak buku di rumah untuk anak, tanpa dibersamai oleh orang tua terutama di usia dini hingga anak bisa mandiri membaca, yakinlah! buku-buku tersebut hanyalah akan menjadi pajangan saja.

Memang benar buku itu jendela dunia, tapi buku hanyalah benda mati yang perlu dihidupkan oleh orang tua dengan dibacakan ke anak, didiskusikan, menjadi sumber ide bermain dan beraktivitas lewat buku. At least… niat baik orang tua sudah tercatat ya insyaAllah… yakni berusaha menyediakan salah satu nutrisi baik dan aktivitas berfaedah untuk anak dengan membaca.

Bagi ibu-ibu yang akan lahiran atau mau nyemplung mengenalkan literasi untuk anak, ada baiknya baca bukunya Jim Trelease berjudul The Read-Aloud Handbook atau buku Membacakan Nyaring ibu Roosie Setiawan. Males baca ? ga sempet? tenang.. saya pernah menuliskan review-nya di sini. Buku-buku tersebut bagi saya pribadi membuka cakrawala mengapa anak perlu dibacakan buku sejak dini dan membuat saya juga jadi belajar bagaimana memilih buku agar tidak hanya latah ikut-ikutan dan kalap padahal hidup pas-pasan, tabungan masih seret, dan cicilan penting lainnya masih banyak. Saya getol mengumpulkan buku anak sebenarnya juga ada misi terselubung yakni ingin punya perpustakaan ramah anak buat daerah pelosok atau untuk anak-anak yang mungkin tidak seberuntung anak kita yang sudah dicekokin buku bahkan sebelum lahir. Tolong aminkan yaaa prokprokprok.

Untuk nge-rem kekalapan membeli buku ada baiknya ibu bapak juga menyimak sharing berfaedah dari Mommenkeu. Setidaknya ada 6 section video yang akan memandu orangtua memilih buku yang tepat untuk anaknya serta mengatur budget pengeluaran untuk pos edukasi berbentuk buku anak tersebut. Seringkali para ibu membeli buku anak by feeling saja, padahal ternyata belum tentu pas dengan VALUE masing-masing keluarga atau tidak sesuai dengan kebutuhan PERKEMBANGAN dan MINAT anaknya saat itu.

Berdasarkan pengalaman mengenalkan literasi kepada anak hingga saat ini, saya menjadi semakin menyadari bahwa TERNYATA tidak semua buku anak itu BAGUS dan tidak semua buku yang terkenal itu WAJIB kita punya. Saya percaya tiap buku ada jodohnya.

Adakah guide untuk memilih buku anak ? ADA ! bahkan Kemendikbud sendiri juga sudah mengeluarkan panduan memilih buku non teks pelajaran untuk para orang tua dan anak sesuai level literasinya.

Penjenjangan Buku

Jadi… yang perlu diresap hingga ke relung hati para orang tua sebelum mengadakan buku anak di rumah  yaitu:

  1. PAHAM sekarang anak sudah ada di level tahapan literasi yang mana? Apakah pra membaca (0-2 tahun) atau membaca dini atau sudah bisa mandiri membaca? Bayi 12 bulan tentu kurang cocok diberikan buku pop-up atau paper-based. Alih-alih dibaca malah  dirobek ya jangan sedih Bu kalau rugi bandar.. karena anak umur segini masih di tahap pra-membaca, buku yang lebih tepat buku bantal, buku tebal (boardbook), buku taktil. Bahkan buku lift-the flap pun (yang termasuk buku aktivitas) belum cocok diberikan kepada anak yang belum bisa mengontrol untuk tidak merusak buku.
  2. PAHAM apa tujuan pengadaan buku ? apakah untuk menanamkan suatu nilai moral, pengayaan kosa kata, mempelajari suatu IPTEK atau tujuan lainnya? Apakah untuk mencapai tujuan tersebut HARUS pakai buku? Misalnya ingin mengenalkan tentang sahabat Rasulullah dan menanamkan moral tentang sahabat ini perlu buku penunjang jika tidak menggunakan buku tidak dapat menjelaskan kepada anak, sehingga tidak mengapa mengadakan buku tersebut. Untuk mengayakan kosa kata apakah perlu banget beli banyak buku? Ternyata ga juga kita bisa menunjuk benda konkret dan mendeskripsikan atau bisa pakai katalog belanja.
  3. BUTUH vs INGIN? Tunggu 24 jam sebelum memutuskan harus punya. Selama 24 jam ini pikirkan ini bener anak yang suka apa orang tuanya? apa bisa diceritakan saja? apa ada aktivitas lain yang bisa digunakan untuk mengenalkan isi buku yang diincar ini? Apa buku dengan tema sejenis di rumah? Apakah ada buku dengan tema tersebut yang anak saya tidak begitu suka dan jarangggg banget disentuh lalu bisa di jual lagi? Bagaimana kondisi financial kita (tidak berlaku untuk keluarga sultan yak)?. Lontarkan banyak pertanyaan hingga akhirnya mencapai suatu keputusan. Pun cara mendapatkannya, kalau ada yang bekas layak pakai mengapa harus beli baru. apa benar harus cicilan/ arisan? saya sendiri tidak suka membeli buku dengan skema cicilan karena bagi saya tergolong ngutang. Kita juga bisa sewa atau berkunjung ke perpustakaan. Waktu berkesempatan tinggal di UK, banyak buku anak bekas yang masih layak pakai dijual dengan harga sangat murah di toko-toko charity, dimana kita jadi turut menyumbang untuk keperluan riset (contoh charity shop Cancer Research UK).
  4. Selain itu, salah satu langkah memantapkan untuk memiliki buku anak yang diincar adalah dengan membaca/ menonton HONEST REVIEW buku tersebut (itulah motivasi saya menjadi reviewer buku di blog hehehe terutama buku anak), menonton read-aloud-nya dulu di youtube dan rating bukunya sendiri di kancah nasional atau internasional. Dari kegiatan ini kita dapat paham sekilas mengenai konten bukunya apakah cocok dengan value keluarga kita? Banyakkah yang bisa dipelajari dari buku ini? Banyak book-based activity yang bisa kita ciptakan? Bagaimana kata-katanya apakah akan sulit dipahami anak? Apakah anak akan mengerti dengan melihat ilustrasinya?
WhatsApp Image 2020-07-25 at 8.38.26 AM
Alur panduan membeli buku anak. courtesy : Mommenkeu dan @Ahlianaaa

Sepakat dengan kata-kata don’t put all your eggs in one basket. Pendidikan anak tidak melulu semua dari buku. Ada pula dari aktivitas lain tanpa buku yang menstimulasi tumbuh kembang anak. Penting banget untuk jaga dompet jangan bocor gara-gara impulsif beli buku anak!

6 thoughts on “101 Memilih Buku Anak Agar Dompet Tidak Bocor

  1. thanks for sharing this information Mbak Yangie. Saya sedang galau jg ini sih, pengen banget belikan buku banyak utk anak2, tapi keadaan blm memungkinkan, makanya skrg mengandalkan buku2 dari ipusnas atau let’s read. Alhamdulillah bgt VALUEnya dia dapat meski ga megang bukunya secara lgsg alias kertas.

    Setuju banget, VALUE keluarga ini menjadi hal pntg ya. Jadi prinsip saya, selama masih mudah difahamkan dan valuenya dapat, insyaAllah buku apapun bagus darimanapun bagus. yg penting oragtua tetapn mendampingi.

  2. Tipsnya bagus, berguna buat saya yang memang lagi kalap2nya beli buku2 untuk anak saya yg usianya baru 7 bulan.. Terima kasih ya!

  3. aku juga merencanakan misi terselubung itu kak, semoga bisa tercapai ya impian kita itu, aamiin 😀

    kamsahamnida ifonya kak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s