Terpaksa Menelan Pil Pahit Bernama Kritik

Kamu tipe orang yang suka mengoreksi orang lain ? atau kamu lebih suka mengkritik dengan memberi contoh tanpa banyak berkata? Atau melakukan pembiaran saja karena tidak mau menimbulkan konflik hingga ia sadar sendiri?

Nah, bagaimana kalau di posisi yang dikritik? Kamu lebih suka disampaikan seperti apa ? lemah lembut tersirat harapannya akan langsung kita pahami, to do point walau terasa keras  dan menyakitkan, atau disampaikan dengan tegas pada momen yang tepat beserta alternatif  strategi perbaikannya? Kalau saya tentu pilihan yang terakhir tapi pada kenyataannya kadang tidak sejalan sepeti apa yang kita ingin.

Sudah hampir genap 1.5 tahun saya menuntut ilmu di negeri ginseng ini. Dalam kurun waktu singkat saja, sudah banyak sederet pelajaran kehidupan yang saya dapatkan. Selama setahun lebih kebelakang banyak ditegur Allah melalui kritik pedas dari orang-orang sekitar walau baru dikenal. Harusnya saya berterimakasih, tentu itu salah satu tanda sayang. Namun namanya juga manusia, ada kalanya sakit hati terlebih dahulu kemudin baru sadar penuh untuk hijrah. Setidaknya ada 5 komentar membangun yang TERPAKSA ditelan dulu, lalu direnungi untuk dijadikan bahan evaluasi.

Jangan berjanji bila tidak dapat ditepati.

Selepas cuti melahirkan yang hanya 2 bulan (bayangkan dong cuma dua bulan! T_T), saya kembali ke laboratorium. Kali ini saya full harus nge-lab. Disitulah semua realita terungkap. Teman saya marah karena saya datang telat. Walau telat hanya 5 menit yang namanya telat tetaplah telat. Tak peduli seberapa besar effort emak dua anak untuk datang teng jam 9 pagi. Tidak ada excuse dan pemakluman. Mau sampai kapan mengkambing-hitamkan anak sehingga ibu menjadi tidak amanah dalam hal waktu yang melibatkan orang lain? Sebenarnya saya bisa tidak telat saat itu, sudah saya perhitungkan. Saya sampai naik taksi untuk mengantar anak ke daycare dan bergegas kembali ke lab. Ndilalah taxinya salah jalan. Harusnya belok kanan, lah nerabas sampai tol ! kan muternya jadi jauh… di tengah perjalanan saya langsung mengabarkan bahwa saya akan telat. Harusnya saya minta maaf saja tanpa embel-embel. Saya masih kebiasaan deh mengeluarkan alasan, jadi makin kesal-lah kolega saya. Ada lagi kejadian yang masih berkaitan dengan waktu. Suatu ketika saya ingin diajarkan menggunakan alat qRT PCr di lab, saya bertanya dia punya waktu kapan, dia malah balik bertanya. Biasanya kan murid ya yang bertanya kelowongan waktu guru. Yasudah saya tetapkan saja hari X jam Y. Nah pas hari dan jam yang telah dijadwalkan ini, tiba-tiba saya dipanggil oleh post doc untuk menjelaskan suatu hal. Post-doc juga izin kok ke dia padahal dan beliau meng-iya-kan. Teman saya yang ingin mengajarkan menjadi menunggu, walhasil setelah itu dia ngambek dan marah-marah ke saya karena saya telah mempermainkan waktunya. Fyuh.. saya terima saja lah…tanpa alasan.. Tampaknya urusan waktu ini masih menjadi PR besar netijen negara berflower (saya aja kali). Saya harus lebih menghargai waktu orang lain, tidak membuat janji apabila sekiranya kita berat melaksanakan dan apa yang telah terjadi atas izin Allah.

When you are in Rome, be like Romans. Alias dalam peribahasa Indonesia lain rumput lain belalang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Kita punya harapan namun realita terjadi tak sejalan, nah gap inilah dinamakan sebuah masalah. Harapan saya di kampus yang mengglobal tentu akan punya pandangan bahwa bumi ini adalah global village sehingga menerima foreigner akan mudah saja. saya berharap akan mendapat pengalaman belajar yang asik dan menyenangkan. Saya akan didampingi dan ditunjukkan jalan nge-lab yang benar, dihargai proses, didorong dan didukung menemukan best part of mine untuk riset. Harapan ini tentu berkaitan dengan pengalaman sekolah di Glasgow sebelumnya. Inilah masalahnya. Harapan saya ini tidak terjadi di lab saya. Realitanya, Lab saya memang lempeng aja terhadap anak baru. Apalagi foreigner. Lo yang ke sini berarti lo yang butuh! jadi ya be proactive! Effort lebih untuk beradaptasi is a must! Kembali ke peribahasa lain lumbung, lain belalang.

Bukan kerja keras tapi kerja cerdas dan cermat

Budaya palli-palli (cepat-cepat) Korea memang sudah terkenal dan saya merasakannya langsung. Anehnya.. walaupun cepat, namun hasil kerjanya apik dan nyata bukan ngemeng. Budaya akademik di Korea menurut opini saya lebih result-oriented, sehingga tampak kurang menghargai proses. Namun, jika ingin belajar bagaimana sebuah tim bekerja efektif dan efisien, belajarlah dari orang Korea.

Berbeda itu biasa. Integritas mengalahkan sejuta wacana

Peristiwa paling ultimate sebenarnya ketika kali kedua saya dinasehatin sama senior. Kali ini dia tampaknya lupa kontrol kata-kata. Atau mungkin sudah geram akumulatif dengan lemotnya saya.

Saya sebetulnya ngobrol sama dia untuk mendapat solusi karena saya merasa bersalah ngabisin bahan yang mahal. Eh.. tiba-tiba membawa turut serta stigma negative terhadap agama, islam dan kasus teroris yang mengaku islam, stigma saya yang datang lagi hamil. Ga guna, ga kontributif. Cuma ngetik, belajar, ngurusin RNA seq yang ternyata ga bisa, lalu chattingan eh tapi digaji. Harusnya kerjanya lebih keras dari yang lain karena sudah resiko bagi kamu seperti ini. Kalau mereka 8 ja ya saya 15 jam dong karena sadarlah skill ini dibawah rata-rata (saya tau itu tanpa dibilangin jg.  Oh oke ini tho concernnya.. lalu saya jelaskan saja perihal saya sebenarnya telah mengajukan off/ defer bahkan meminta stop bayaran dari professor (yang jumlahnya Alhamdulillah tak seberapa itu bagi dia) karena saya sudah merasa cukup saja dengan beasiswa yang jelas peruntukkannya untuk negera berkembang. Sampai-sampai mengeluarkan statement.. pernah waktu itu saya kemakan daging sapi yang tidak tahu sumbernya. Eh dibilang cari muka depan professor. Ya Allah mana kepikiran mau carmuk di tengah kondisi saya mau bangkit dulu dari kubangan. Setelah kejadian yang tak akan terlupakan ini, saya besoknya langsung minta keluar walaupun akhirnya dimediasi sama professor. Saya sih ga benci sama orangnya Alhamdulillah karena dalam Islam juga ditekankan bencilah dengan perilakunya. Sampai saat ini kami masih bertegur sapa dan takes times untuk benar-benar bisa memaniskan hubungan yang telah asam di awal.

Tidak ada pertanyaan bodoh. Jangan takut dibilang bodoh

Salah satu yang menghambat adalah limiting belief kita, kepercayaan kepada diri yang tidak memberdayakan seperti aku ini bodoh, aku ini pemarah, dst.

Dalam suatu pelatihan parenting, saya diajarkan bagaimana membangun komunikasi yang memberdayakan untuk keluarga maupun orang lain. Salah satu pilarnya yaitu menyelesaikan emosi sendiri. Setiap kejadian adalah netral dan berpotensi membawa perubahan positif, self talk kita-lah yang membuat kejadian tersebut memiliki emosi. Termasuk momen dikritik pedas. Sebenarnya momen ini sendiri netral saja, namun self talk saya “aku direndahkan, aku dihina” membuat momen ini menjadi momen menyakitkan dan berderai air mata. Berhari-hari dipikirin padahal yang berucap biasa-biasa saja. Ujung-ujungnya yang rungsing kita sendiri. So, siapakah yang perlu berubah? ternyata diri kita sendiri dalam memaknai momen tersebut. Jadi tidak bolehkah ada kamus baper ketika dikomen miring? Boleh! Ini alamiah namun segeralah menyelesaikan emosi tersebut agar dapat menarik makna, melakukan perubahan ke arah lebih baik  dan fokus kembali pada goal. Dalam menyelesaikan emosi diri pernah saya ceritakan disini.

Momen saya dikritik pedas ini ibarat terpaksa meminum pil pahit. Awalnya terasa pahit tapi tetap dimasukkan dalam mulut alias diterima. Kemudian pil ini akan segera bekerja memperbaiki sel-sel yang perlu disembuhkan dengan artian perilaku-perilaku buruk saya yang perlu diubah. Bukan untuk  orang lain, melainkan untuk kebaikan kita sendiri.

Mengutip perkataan cikgu saya, Okina Fitriani, seenggaknya pengalaman ini membuat saya juga refleksi terhadap apa ingin saya bekali untuk anak saya. terutama ketika ia beranjak dewasa. Untuk menjadi pribadi yang tidak tinggi bila dipuji, lemah bila dicaci dan tidak balas memaki. Kembali lagi, hanya fokus ke penilaian Allah. Bismillah !

One thought on “Terpaksa Menelan Pil Pahit Bernama Kritik

  1. Hidup tanpa kritik, bagai kripik tanpa rasa pedas, ahaha..
    Kritik memang kadang perlu diungkap ya mbak, tapi liat2 orangnya lah, kalo aku sih jujur, suka feeling blue kalo terlalu pedas kripiknya eh kritiknya, huhu..

    2 bulan udah balik ke lab? luar biasa sih mbak, aduh nggak kebayang akutu..

    Sedikit saran nih mbak, better kasih paragraf gitu deh, biar bacanya makin asik, hihi..

    Salam kenal mbak Yangie:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s