Kunci Mengenal Diri

Entah ini sudah pertemuan keberapa kali dengan psikolog kampus. Namun, tampaknya saya masih kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan sang konselor setiap akhir sesi. Jadi perasaan kamu detik ini apa ? tidak tahu. Saya merasa fine dan xoxo. Biasa saja.

“Jadi kamu mau melakukan perubahan?”

“Ya jelas”

“Kalau mau berubah, hal pertama yang kamu harus lakukan adalah look deeply into yourself.”

Saya terdiam sejenak dan melanjutkan tanya.

“How? I always feel difficult every time you ask me to define myself.”

“We will meet 2 weeks later”

Sambungan terputus.

Saya menghela nafas. Bagaimana bisa saya dibawa pada situasi yang akhirnya memerlukan bantuan psikolog dan merasa disorientasi dengan diri saya sendiri pasca kejadian dengan senior waktu itu? sampai-sampai saya tidak bisa mendefinisikan dengan jelas perasaan saya karena selalu merasa biasa saja, namun insecure dan cemas berlebihan kembali berulang.

Tidak ada yang kebetulan. Detik setelah sesi zoom berakhir, tangan saya mengetik di youtube. Asal saja saya mengetik cara mengenali diri sendiri. Ndilalah tampilan pertama ternyata solusi dari-Nya. sebuah ceramah dari salah satu ulama di Indonesia. Jawaban pertama dan utama tentu berhubungan dengan mengenali Yang Mencipta diri. Setidaknya ada lima teknik atau langkah awal mengenali diri?.

  1. Memilih waktu tafakkur diri.

Pilih waktu terbaik untuk kita bisa sendiri tanpa gangguan. Bisa selepas sholat, mungkin sebelum tidur. Waktu dimana kita bisa jujur benar melihat diri. Jujur melihat diri adalah ketika semua topeng yang menyembunyikan aslinya kita dilepas. Lepas dulu harta, tahta, gelar, jabatan, pujian, popularitas atau pekerjaan. Setelah itu tanyakan setidaknya :

  • Syirikkah kita selama ini, siapa yang dipikiran kita selama 24 jam? Bangun tidur yang diinget siapa?
  • Munafik kah kita ? amanah yang tidak ditepati? berbicara kebaikan tapi di belakang melakukan yang sebaliknya?
  • Adakah setitik riya, takabur, dan ujub dalam melakukan suatu hal?
  • Adakah saya merasa senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang?
  • Apakah yang dilakukan saat ini sebuah bentuk mencintai dunia? Untuk mendapat pujian makhluk hingga menjadi takut mati?

Nah ternyata ketika semua dilepas dan mempertanyakan hal-hal diatas, kita kenal ternyata diri yang banyak dosa. Namun, makin mengetahui banyak keburukan diri, sebetulnya awal dari sebuah kebaikan. Makin kita akan fokus pada keinginan memperbaiki diri dan melakukan hal apapun ya memang sebagai bentuk penghambaan.

  1. Cermin diri.

Cari dan tetapkan seseorang yang dipercaya sebagai cermin diri. Namanya juga cermin, dia menjadi pantulan diri apa adanya. Bisa suami, istri, anak, atau teman di jalan Allah. Ketika dikritik oleh cermin diri, tidak perlu banyak alasan dan dijawab kembali. Sebaik-baik jawaban adalah perbaiki diri dan lakukan yang terbaik.

  1. Berguru

Cari guru yang berilmu, berakhlak baik, berhati tulus. Guru tersebut tidak banyak bicara, hanya melihat perlakuan atau akhlaknya saja sudah memberikan kita segudang pembelajaran serta kesadaran bahwa diri masih jauh dari kata baik. Cari teman, guru, dan lingkungan yang menjadikan kita mengetahui kekurangan serta target perubahan yang perlu kita lakukan.

  1. Manfaatkan orang-orang yang tidak menyukai kita

Orang-orang yang tidak menyukai kita sebenarnya karunia Allah karena mereka memikirkan kita. Kita tidak memiliki waktu dan keberanian melihat kekurangan diri kita, namun orang-orang tersebut memiliki waktu mengorek kekurangan kita. Jangan sakit hati, malah berterimakasih. Yang membuat sakit hati ternyata kesombongan kita. Jangan sia-siakan orang yang tidak menyukai kita karena mereka ladang ilmu, ladang informasi, ladang bersyukur, ladang memaafkan, ladang menolak keburukan dengan kebaikan. Kalau tidak ada mereka tidak ada tempat kita berlatih. Kita memerlukan orang-orang tersebut yang menjadi sarana latihan kita untuk menjadi lebih baik. Mana sarana yang lebih baik untuk belajar ikhlas lillahi ta’ala? Melakukan kebaikan kepada seseorang lalu dia berterimakasih atau tidak dihargai?. Ternyata untuk melakukan peningkatan keikhlasan kita memerlukan orang-orang yang tidak berterimakasih.

  1. Tafakkuri apa yang terjadi di lingkungan

Semua yang terjadi tidak ada yang kebetulan, semua karena izin Allah. Kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah sinyal supaya manusia berpikir dan mengambil pelajaran dan evaluasi diri.

***

Ternyata langkah awal mengenal diri adalah mengenal betapa lemahnya, betapa banyaknya keburukan yang telah ditutupi Allah. Setelah merasa bahwa diri ini butuh sekali pertolongan Allah, disitulah semua jalan kebaikan akan datang dari arah tak terduga. Tidak hanya jalan kebaikan, tapi disitu juga godaan makin besar dari kanan, kiri, depan, dan belakang.

Pada kejadian tidak enak, sebenarnya itu adalah suatu gerbang kebaikan. Kitalah yang menjadikan itu sebagai luka. Emosi itu natural, wajar, dan tidak perlu diabaikan. Yang kita perlu adalah belajar cara untuk dapat mengatasi jika luka itu datang menyembul keluar lagi agar tidak berdampak pada diri kita, pasangan, anak, maupun orang sekeliling kita. Kita perlu belajar sering melihat jujur ke dalam diri, berani mengevaluasi dan bangkit kembali untuk berubah ke arah yang lebih baik, tentu arah dimana kita makin mendekat ke Allah. Jangan menilai seseorang dari masa lalunya, kita baru bisa menilainya ketika di akhir hidupnya. Terima diri dan lakukan perubahan selagi masih punya nafas. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang termudah, dan mulai dari sekarang. Bismillah!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s