Konseling, Refleksi, dan Kontemplasi

Seumur-umur hidup, baru kali ini akhirnya saya ikhtiar untuk mengobati mental dengan mendaftarkan diri ke konseling kampus. Kalau ada yang masih bilang ini hanyalah karena kurang iman, yasudah saya cuma akan senyum dan malas untuk menanggapi. Sebelum menemui psikolog, saya melakukan observasi ke diri sendiri dulu. Oh… saya merasakan anxiety yang tidak bisa dideskripsikan walaupun saya tidak absen zikir pagi dan petang, lebih banyak waktu tidur hingga berat bangkit kembali, migrain yang menusuk-nusuk, atau insomnia hingga bisa tidak tidur sama sekali. Kalau sakit fisik saja saya concern untuk segera sembuh, baik dengan terapi non-farmakologi maupun terapi farmakologi, berlaku juga dong untuk mental dan jiwa saya. Maka pada akhirnya saya beranikan diri menuju gedung nomor 25 untuk mendaftar konseling kampus yang lagipula gratis itu. Sebelum memulai pertemuan pekanan dengan psikolog, saya diminta mengisi beberapa pertanyaan assessment sebagai informasi dasar bagi psikolog.

Nah saat ini sudah 2.5 bulan saya bertatap muka dengan psikolog yang ditugaskan untuk saya, walaupun hanya via online. Awal-awal pertemuan, saya cukup excited dan menunggu setiap momen mingguan bersamanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Namun, makin kesini rasanya saya ingin menghentikan saja-lah. Alasannya karena setiap selesai konseling saya jadi makin migrain, berat banget rasanya ini kepala, Saya jadi banyak pikiran sehingga jadi tidak fokus. Kalau saya sudah kurang fokus, otomatis kerjaan-kerjaan saya banyak yang tidak mencapai tujuan yang telah saya susun, tentu semakin-lah saya stress. Saya pernah baca di postingan Instagram cikgu saya, Okina Fitriani, tentang perbedaan antara konseling, coaching, dan training atau mentoring. Konseling umumnya membantu seseorang untuk berdamai dengan apa yang terjadi di masa lalu. Pengalaman yang tidak menyenangkan yang bisa menjadi sebuah trauma, dendam, kegelisahan, cemas, dan lain-lain sehingga kondisi saat ini dapat menjadi lebih sejahtera. Konseling ini bisa dilengkapi dengan terapi menyelesaikannya seperti terapi memaafkan atau ada juga yang langsung dilanjutkan mendesain masa depan tergantung tingkatan ilmu sang psikolog.

Lalu apakah konseling saya ini gagal membuat mental saya sehat lagi? Saya juga tidak paham ya apakah memang efek setelah konseling memang seperti ini, membuat kita merenung dan bagi saya sendiri malah makin down hingga keputusan keluar saja sering menghampiri padahal kalau saya tanya lubuk hati terdalam ya saya masih pengen belajar. Prediksi saya saat ini sih penghalang keberhasilan konseling mungkin karena perbedaan bahasa juga sebagai efek pandemik Covid19 yang membuat konseling dipindahkan secara daring. Jadi apa dong gunanya konseling? Setidaknya ada beberapa insight yang saya dapat selama konseling mengenai apa yang terjadi pada masa lampau dan membentuk saya saat ini.

  1. Ternyata penting banget lho merasakan apapun emosi, mendeskripsikannya dengan jelas dan menerimanya walaupun butuh waktu, walaupun itu emosi yang negatif atau tidak nyaman. Penting untuk merasakan emosi selain emosi bahagia. Ketika konseling, sering banget sang psikolog bertanya pada saya tentang perasaan saya, tapi saya selalu nampak bingung karena tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas. Kebanyakan jawaban saya ya fine, xoxo, lalu bingung terus gimana? Kalau kita memahami emosi yang saat itu dirasakan, memvalidasi lalu menerimanya, kita akan lebih paham tentang kebutuhan diri, sehingga berefek pada salah satunya yaitu dalam pengambilan keputusan. Saya jadi belajar sebagai orang tua kadang ketika anak menangis, saya ingin anak saya diem dan berhenti menangis sehingga saya dengan gampangnya bilang “jangan nangis, jangan nangis”. Nah instead of bilang jangan nangis, kita terima saja emosi anak, validasi perasaan si anak “kamu sedih ya? karena bunda larang” lalu temani ia merasakan badai emosi hingga reda, Baru deh kalau sudah tenang bisa menyisipkan value atau belief yang ingin orang tua utarakan.
  2. Sikap atau tindakan saat ini ketika mengambil keputusan, mengelola stress, dan membangun hubungan dengan orang lain mayoritas ternyata dipengaruhi oleh pengasuhan saat usia emas anak. Sedih sekali rasanya ketika saya menyadari bahwa tindakan-tindakan saya saat ini banyak dipengaruhi oleh apa yang saya alami ketika masih anak-anak (inner child). Seperti saya yang mengambil keputusan kurang mindfulness dan terkesan buru-buru adalah inner child saya yang sering diomeli dan dilabel kata-kata lelet dst. Atau kenapa saya cemas sekali ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan senior atau profesor juga buah dari old habit karena saya sudah membayangkan akan dicemooh, dijauhi, dimarahi sehingga membuat saya ingin perfeksionis padahal saya tidak sanggup (ternyata perfeksionis juga salah satu gangguan mental). Atau ketika mengetahui fakta bahwa kebanyakan keputusan yang saya ambil lebih banyak porsinya dengan memperhitungkan perasaan orang lain, dibanding perasaan saya sehingga saya tidak tau posisi saya ada di mana. Gampangnya grand why dalam mengambil suatu keputusan tidak muncul dari diri sendiri. Hal ini tidak baik karena ketika kita mendapatkan pressure atau kegagalan saat menjalani keputusan ini, kita akan cenderung menyalahkan keadaan alih-alih menjadikan ini kesempatan emas untuk belajar sesuatu.
  3. Meminta bantuan psikolog lewat konseling adalah salah satu ikhtiar mengenal diri sendiri, lebih paham akan kebutuhan diri sendiri dan berani bilang tidak. Lewat konseling, saya jadi paham sebenarnya saya ini butuh lingkungan yang meng-encourage tapi saya ini masuk selalu pada tempat/ lingkungan yang judgment. Karena apa? karena sistem ini sudah masuk dalam alam bawah sadar saya, yang ketika masa anak-anak sering mendapat label dari orang tua dan lingkungan, sehingga saya akan memilih lagi tempat tersebut padahal saya paham saya tidak suka. Alamdulillah, berkat kelas-kelas parenting terutama kelasnya cikgu Okina Fitriani, alih-alih saya menyalahkan orang tua, saya memilih melihat segalanyaaa lebih dekat dan kauuu akanlah mengerti (auto nyanyi lagu Sherina) bahwa ortu dan sayapun masih mengulang pola pengasuhan yang keliru. Alih-alih kesel sama ortu, saya malah kasihan, ya ampun dulu akses ilmu parenting ga semudah didapat dan bahkan ilmu-ilmu tersebut ‘diantar’ ke orang tua zaman now.
  4. Konseling ini salah satu ikhtiar saja, jangan sampai jadi tempat menggantungkan harapan pada makhluk untuk membantu kita. Tetap saja hati yang tenang dan damai adalah hati yang selalu terpaut pada Allah SWT. Minta selalu petunjuk dari Allah. Kalau kata suami berhenti sejenak itu tidak masalah untuk lompat lebih tinggi. Nah tahap konseling itu kontemplasi dan refleksi mendalam tentang diri, jadi wajar jika membingungkan dan berat utuk dijalani. Ada baiknya mungkin ketika memutuskan mengikuti sesi konseling kita dapat cuti sejenak dari pekerjaan saat itu.

Mengikuti konseling membuat saya menjadi lebih aware terhadap kesehatan mental. Semoga membuat saya menjadi lebih empati terhadap kondisi orang lain dan menjaga lisan serta tindakan saya. It is okay kok to not be okay. Selagi masih dikasih nafas di dunia, manusia pasti akan diuji. Ujiannya bukan cuma hal yang sulit, hal menyenangkan pun adalah ujian agar kita naik level. Jadi pekan depan enaknya lanjut konseling apa ga ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s