Asyiknya Bermain Sambil Belajar di Museum Anak Korea Selatan: Part 2

Hello my blog ! long time no see ! bismillah yok kita bangkit dan punya targetan lagi untuk meramaikan kembali blog yang udah punya banner sendiri sekarang yey!

Di posting-an kali ini saya ingin membayar hutang untuk melengkapi posting-an sebelumnya yang belum selesai. Masih tentang asyiknya belajar di museum anak Korea Selatan, mumpung pas banget juga dengan tantangan Mamah Gajah Bercerita untuk me-review salah satu tempat. Nah.. kalau di part sebelumnya saya menceritakan museum-museum anak di Kota Metropolitan Seoul, sekarang di part ini saya ingin menceritakan tak kalah asyiknya museum anak di luar kota Seoul. Yap! seperti yang sudah disampaikan di tulisan sebelumnya jika di tiap kota di Korea Selatan ini biasanya memiliki museum anak. Cakupan pembelajarannya kurang lebih sama untuk tiap museum, maksudnya perlu memberikan stimulasi kognitif, motorik halus, motorik kasar, sensori, bahasa dan budaya. Namun, desain stimulasinya yang berbeda atau bahkan tergantung tema yang diangkat museum tersebut.

Museum anak di luar metropolitan Seoul yang pernah kami kunjungi sejauh ini baru dua tempat, yaitu Museum Anak Gyeonggi dan Museum Siheung Oido. Kedua museum ini terletak di Provinsi Gyeonggi, tetapi di dua daerah yang berbeda. Gyeonggi’s Children Museum terletak di kota Yongin-si, sedangkan Museum Siheung Oido sesuai namanya ya di  Siheung-si. Yuk mari kita ulas satu persatu!

Museum Anak Gyeonggi

Museum ini satu komplek dengan Gyeonggi Provincial Museum dan Nam Jun Paik Art Center, komplek besar yang menjadi salah satu destinasi wisata Provinsi Gyeonggi-do. Untuk menuju ke sana dari SNU perlu waktu kurang lebih 1 jam 50 menit, dengan tiga kali ganti bis, dan total biaya perjalanan 6000 won pulang-pergi. Tiket masuk standar karena ini fasilitas pemerintah yaitu dibandrol 4000 won dan ada discount 25% bagi penduduk Gyeonggi-do. Senangnya lagi, bayi dibawah 12 bulan ternyata gratis!

Bangunan yang sangat luas untuk ukuran museum anak

Ketika masuk yang pertama dijelajah kami adalah area nature. Dari area ini saja banyak sekali yang bisa dieksplor mulai dari belajar alur hidup kodok dengan bantuan teropong digital, belajar menanam dan memetik, asal-usul ayam, dan sebagainya.

Mengenal kaca pembesar untuk melihat motif sayap kupu-kupu

 

Melihat siklus hidup kodok di kolam dengan bantuan VR

 

Simulasi bercocok tanam

 

Memetik apel sambil melatih motorik anak

 

Ayam dulu atau telur dulu?

Setelah dari area ini, kami menuju lantai dua. Di lantai dua sendiri ada tiga area, yaitu area berkenalan dengan seluruh anggota tubuh, area pretend play construction zone, serta area sensori tentang angin. Pertama kami ke area mengenal seluruh anggota tubuh. Wah! ketika masuk, mata akan langsung tertuju pada objek eye-catching yaitu replika jantung ukuran besar beserta pembuluh-pembuluh vena dan arteri yang bercabang di langit-langit gedung. Lalu ketika melihat sekeliling ternyata juga ada organ-organ lain berukuran jumbo lengkap dengan detil dalam organ tersebut. Anak (dan orang tuanya) jadi asyik belajar kenapa sih telinga bisa mendengar, kenapa harus sikat gigi, bagaimana jantung berdetak, dan sebagainya.

Anak-anak jadi belajar tentang apa itu buta warna

 

Bagaimana telinga itu bisa mendengar bunyi?

 

Penjelasan menarik tentang bagaimana manusia bernafas

 

Salah satu cara membuat Gahtar jadi rajin sikat gigi karena mengingat tempat ini

 

Bahkan tentang pup dijelaskan dengan asyiknya

Selain ruangan tentang bagaimana tubuh kita bekerja, area lain yang patut dijelajah di lantai dua yaitu area sensori bermain  angin dan zona konstruksi yaitu bagaimana membangun sebuah gedung. Menarik sekali! simulator-simulatornya pun didesain sangat ramah, mengundang imajinasi dan curiosity anak.

Area sensori bermain dengan angin

 

Anak-anak diminta memasukkan sapu tangan dan melihat kemana ia terbang

 

Stimulasi kalau aku jadi burung

 

Zona konstruksi

 

Mencoba membangun rumah dari batu bata buatan

Selesai menjelajah setiap sudut lantai dua, kami naik ke lantai terakhir. Ternyata lantai tiga itu adalah area bahasa dan budaya. Di sini anak-anak mengenal cara manusia di dunia berkomunikasi, bagaimana bahasa dan budaya itu ternyata berbeda antar negara serta mengenal alat komunikasi. Di area ini juga nih Gahtar bisa menelepon ‘keluarga’ dan mendengar bahasa Indonesia setelah beberapa bulan hanya dominan mendengar bahasa Korea. Ada bagian penjelasan budaya Indonesia juga lho di tempat ini seperti tentang bunga rafflesia, alat musik kolintang serta batik sebagai salah satu baju tradisional.

Mencocokkan fauna khas suatu negara
Baju tradisional berbagai bangsa
Belajar bahasa Indonesia lewat telepon ini

Dijamin anak bakal bahagia dan tidak akan bosan ketika mengunjungi museum ini! Setelah selesai pun terlihat anak sangat puas yang ditandai dengan tidur yang sangat nyenyak.

Museum Siheung Oido

Museum kedua di luar Seoul yang kami datangi adalah Museum Siheung Oido! Museum ini terletak di pinggir laut daerah Oido. Karena daerah ini dekat laut, tema museum pun berhubungan dengan sejarah tempat tersebut. Oido terkenal akan penemuan-penemuan masa paleolitikum di semenanjung Korea, sehingga museum ini berhubungan dengan pre-historic life. Di area anak, museum ini memberikan aktivitas-aktivitas agar anak mendapat gambaran kehidupan zaman purba. Mulai dari aktivitas mencocokkan pakaian untuk berburu, membuat pisau, menggambar, pretend play bagaimana orang zaman itu berburu makanan, bentuk rumah zaman itu, dan lain sebagainya. Sama seperti museum di Ichon, Seoul, bagian anak di museum Siheung Oido ini juga dibagi per-sesi dengan satu sesi berdurasi 1 jam 30 menit. Ketika pandemi saat ini, untuk bisa masuk harus melakukan reservasi dan kalau tidak jadi pergi wajib membatalkan agar bisa memberi kesempatan kepada yang lain.

 

Kehidupan dekat pantai berhubungan dengan menangkap ikan dan hewan laut lainnya

 

Belajar dengan memberikan anak-anak aktivitas yang menyenangkan di museum

Setelah 1 sesi di area anak habis, kita tetap bisa menikmati area utamanya yang dikhususkan bagi para pengunjung umum. Di sini ada pameran nyata kehidupan zaman tersebut lengkap dengan patung lilin yang menambah hidup suasana. Di area ini juga ada spot foto dan bisa langsung dikirim ke email kita. Anak juga bisa mencoba menyusun keramik dan menggambar motif keramik sekreatif mungkin.

 

Walaupun museumnya tidak besar, kami cukup puas menjelajah dan belajar dari museum dengan bangunan yang unik tersebut. Sebelum pulang, jangan lupa untuk menikmati senja di sisi museum yang menghadap laut. Kalau senja dan matahari mulai terbenam, pemandangannya cakep banget! menutup hari jadi penuh rasa syukur.

Pemandangan senja dari sisi gedung museum

Bagaimana ? menarik bukan ? Kalau begini ga akan bosen belajar dan selalu memantik curiosity, tidak hanya bagi anak-anak melainkan juga orang tua. Masih banyak museum yang masih ingin kami datangi yaitu museum anak di Northern Gyeonggi-do dan di Incheon. Tentu tidak bisa seleluasa ketika sebelum pandemi, butuh perencanaan lebih matang dan pemesanan jauh-jauh hari. Momen pergi ke museum anak seperti ini bagi kami juga salah satu cara mengisi tangki cinta semua anggota keluarga. Semoga pandemi ini segera berakhir yaaa, stay healthy and safe teman-teman!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s