Sebuah Pelajaran Untuk Memperbaiki Cara Berpikir

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamualaykum yorobun!

Apakabar? well…long time no see! nulis blog kadang jadi upaya agar tidak di-kick dari komunitas yang menjaga konsisten menulis. Mengapa memang harus nulis kalau malah jadi beban? jangan dijadikan beban dong! makanya cari alasan kuat kenapa tetap harus konsisten menulis he he he.

Kalau saya, menulis masih mengeluarkan uneg-uneg (a.k.a curhat) yang lagi penuh di hati maupun di pikiran supaya plong dan semoga ada manfaatnya. Selain itu, kalau masih diperkenankan berjalan di ranah PhD ini, kan kudu nulis disertasi. Kalau tidak dibiasakan fokus menulis suatu topik walaupun receh dari sekarang, akan makin terseok-seoklah diriku ini (baca: pelarian dari hiruk pikuk laboratorium).

Saya ingin menyampaikan satu kabar yang well sebenarnya netral, mungkin juga yang terbaik bagi kami, yang jelas kabar ini membuat saya jadi berpikir apa maksud Allah ke depan. Apakah ini jawaban dari doa-doa selama hampir 2 tahun terakhir?

Jadi.. tahun lalu ada senior yang mengkritik saya. Kritikan yang disampaikan itu sebenarnya ada poin realitanya dan mungkin beliau bermaksud menasehati. Namun dalam penyampaiannya, beliau mencampuradukkan stigma, agama, bangsa dan personal matters (diulang-ulang terus dibeberapa post ya maaf…). Bagian ini yang malah lebih men-trigger emosi sehingga pesan penting menjadi tidak clear dan tidak bisa sepenuhnya legowo masuk. To be honest, sampai sekarang saya masih mengobati hati saya, membangkitkan kembali self-esteem saya. Kalau teringat momen itu, kadang saya punya growth mindset tapi tak jarang juga jadi harsh men-judge atau memenjarakan diri saya dengan pikiran yang tidak memberdayakan. Sampai mempertanyakan bagian mana dalam pendidikan ketika kecil dan pendidikan Indonesia keseluruhan yang salah, and I don’t want to repeat it to the next generation for sure! supaya ga gampang dihina lagi oleh bangsa lain.

Balik lagi ke kabar Sang Senior ini. Ia mendapatkan post-doc di Amerika, tepatnya di University of Pennsylvania. Cool!ga kaleng-kaleng!. Sebenarnya sih beliau mencontohkan bagaimana jika ingin berkarir menjadi scientist. Peneliti dan akademisi yang selalu ingin tahu, selalu mempertanyakan segala sesuatu, dan memiliki kemampuan berpikir yang kritis, logis, dan rasional sebelum melakukan suatu metode untuk membuktikannya. Beliau juga mencontohkan konsisten dan persisten dengan melihatnya datang ke lab kurang lebih jam 11 siang dan berakhir lewat tengah malam (kalau saya cukup 10 pagi-6 sore saja~). He actually tought me a lot except bagian bikin mental down dan stigma tentang negara berkembang juga Islam. These still really break my heart, membuat saya menekan tombol proteksi alias tidak banyak berbicara sama beliau daripada irritate my heart. However, nothing I can do because it already happened, only prove it for myself jika yang dikatakan itu tidak benar dan saya berubah untuk kebaikan diri saya sendiri. Saya masih meraba apa maksud Allah memindahkan beliau ini ke Negeri Paman Sam. Namun semoga dengan pindahnya beliau, saya tidak terbayang-bayang lagi dengan momen bersejarah itu. Semoga saya menjalani sisa tahun PhD dengan tenang (yang harusnya hidup tuh jalan aja tanpa bayang-bayang penilaian orang lain ya ga?), berprogres pesat, dan saya yakin banyak maksud baik Allah setelah itu. Saya hanya perlu lebih yakin termasuk pada takdir baik maupun buruk, dan lebih ikhlas mengharap hanya ridho Allah dalam setiap langkah di jalan ini.

Paska kejadian itu, saya jadi sering mikir tentang hal-hal fundamental dan ketemu-lah bahwa sepertinya ada suatu kekeliruan dalam framework berpikir. Saya dulu kebanyakan ngapal kali yah dalam belajar. Bukan biologi saja, melainkan juga rumus-rumus fisika, tahun-tahun sejarah, bahkan definisi-definisi yang tidak esensial pun dihafal. Sekolah cuma karena suka belajar tapi belum bener-bener paham esensinya untuk apa. Framework berpikir yang harus diubah ini makin saya sadari ketika menjalani jenjang S3 ini. Telat memang, tapi better late than never kan…Pantes beberapa ahli parenting mengemukakan bahwa salah satu skill yang harus dijaga fitrahnya dan diajarkan anak-anak sejak dini adalah kemampuan critical thinking: memahami masalah, menganalisis, dan akhirnya dapat menemukan solusi dan keputusan yang efektif. Kerangka berpikir yang campur aduk dan kusut akan sulit menangkap informasi dengan benar dan merembet pada kesulitan dalam memutuskan. Salah satu kaitan mungkin ketika kecil tidak memiliki kesempatan mengeluarkan pendapat dan diajak berdiskusi untuk mencapai suatu kesepakatan bersama, sesederhana memilih baju hariannya.

Saat ini kita dibanjiri informasi , sumbernya dari segala arah, tapi ga banyak dari kita yang betul-betul paham konten dan konteks informasi tersebut, yang akhirnya mengundang perdebatan tiada akhir. Contoh lain ketika belajar, banyak banget informasi pengetahuan yang kita peroleh, tapi sedikit banget yang menempel. Akhirnya merasa bodoh dan menyerah.

Otak kita ini seperti sebuah ruangan (kalau yang nonton Sherlock Holmes BBC episode yang ada Magnussen, beliau menyebutnya mind palace), tapi ga punya rak atau sekat. Informasi yang kita peroleh ibarat kertas-kertas dan buku-buku bertebaran yang perlu disusun dengan rapi dan terorganisir.

Inilah yng namanya framework berpikir. Makanya ketika senior saya bilang kamu tuh mikir dong mikir!.. Mungkin selama ini saya kebanyakan manut ae layaknya robot, sehingga tidak lagi punya kesempatan berpikir dan mempertanyakan mengapa saya harus melakukan apa yang disuruh?

Saya benar ingin tobat, ingin belajar yang benar. Apa, Mengapa, dan Bagaimana-nya. Eh pas banget ada feed pertama dari @lalitaproject yang marcomm-nya ngena banget!.

Perempuan butuh kemampuan berpikir secara akurat sehingga tidak mudah kemakan hoax, tidak banyak baper-nya, dapat memutuskan pilihan yang tepat serta siap dengan konsekuensinya, menghindari misunderstanding, belajar lebih efektif, dan lain-lain. Kesemuanya bisa saja dicapai dengan berlatih mengubah framework berpikir

Pembicara crash course 3 jam ini yaitu Sabda PS (yang ternyata alumni ITB dan Chief Education Officer Zenius), beserta istrinya Cania Citta (founder Geolive). Project ini sendiri dalam rangka merayakan women month. Saya sepertinya rada tua ikutan acara begini, rada telat! tapi sebagai emak beranak dua aku salut sih dengan para peserta yang kebanyakan anak muda baru lulus UTBK yang mau belajar hal-hal konsep namun percayalah! akan sangat bermanfaat nanti di dunia real, dan saya jadi diingatkan akan tanggungjawab melatih anak saya untuk memiliki framework berpikir yang baik bukan hanya menelan mentah-mentah semua pelajaran.

Jadi bagaimana supaya cara berpikir kita lebih rapi?

ketika kita mendapatkan suatu informasi, Sabda dan Cania menggambarkannya dengan 4 kuadran. Coba letakkan atau cacah-cacah informasi ini pada kuadran yang tepat.

Ada kuadran absolute-absolutely, yaitu informasi-informasi yang memang logikanya atau definisinya seperti itu. Misal: menurut definisi WHO, penyakit COVID-19 adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh coronavirus temuan terbaru. Jadi kalau disebabkan oleh coronavirus temuan lama atau virus lain selain coronavirus, bukan dinamakan COVID-19. Jadi by definition sudah clear, absolut, dan tidak perlu diperdebatkan.

Misal ada informasi yang bilang vaksin COVID-19 AstraZeneca bisa menyebabkan penggumpalan darah. Nah… informasi ini bisa masuk dalam kuadran kedua, absolute-relatively. Informasinya bisa benar atau bisa salah, tinggal kita mengumpulkan sumber-sumber yang mendukung lalu telaah metodologi atau pendekatan pembuktiannya apakah cukup akurat dan signifikan atau tidak. This is sciencetific method berperan.

Contoh lain, saat ini sudah ada penelitian genetically altered baby. Nah informasi ini bisa kita pecah kedua kuadran, kuadran absolute-relatively untuk fakta bahwa ada hasil penelitian yang membuat secara genetik embrio bayi di China. Namun juga dapat masuk ke kuadran relative-absolutely artinya secara moral itu tidak baik. Moral ini berkaitan dengan nilai-nilai, agama, budaya, dan pengalaman-pengalaman yang membentuk sebuah nilai.

Dan terakhir kuadran relatively-relative ini tergantung selera. Sabda PS juga mengatakan dapat dipengaruhi oleh regional. sebagai contoh standar kecantikan di Afrika dan Eropa.

Selain menjelaskan empat kuadran untuk merapikan cara berpikir atau memproses informasi, Sabda dan Cania juga memaparkan tentang komponen yang perlu dimiliki seseorang yaitu kompetensi dan karakter. Otak punya hardware, software dan data. Hardware adalah organnya, software dan data yang membedakan kompetensi antar manusia. Software dan data inilah diisi oleh logika-matematika, sains, dan ilmu lainnya termasuk kemampuan menyampaikan informasi dengan akurasi verbal. Jangan lupa, software dan data tidak akan maksimal berguna tanpa kemampuan berpikir kritis dan frameworks berpikir yang rapi. Selain itu menurut saya pribadi, software dan data ini tentu dipengaruhi oleh filter yang kita bentuk. tentu berbeda antara filter yang isinya akun gosip dengan akun-akun growth mindset. Data juga dipengaruhi buku-buku yang kita baca, pengalaman, prinsip-prinsip penting yang dianut, serta lingkungan.

Orang-orang yang sudah cerdas dalam berpikir dan akurat dalam menyampaikan, terkadang lupa satu hal yaitu jadi orang yang asik! Nah ini diperlukan kemampuan human understanding serta social engineering. Sehingga kalau kita memiliki kemampuan ini, setidaknya kita bisa paham kalau mau menyampaikan suatu realita enak pake gaya mana nih di suatu komunitas. Atau kita tidak berdebat pada tempat yang salah. Bahasa simpelnya, adab dulu baru ilmu.

Lalu ada satu pertanyaan dari peserta yang cukup unik
“Kak jadi bisa ga seseorang tetap memiliki logika mistika as part of religion, sekaligus menjadi orang yang sainstifik.”

Kalau dalam agama Islam menurutku kurang tepat bilangnya logika mistik. ! wong dalam Al-quran juga ada ayat-ayat Allah memberi tanda-tanda di dunia ini supaya kita berpikir. Semakin ke sini harusnya semakin menyadari, betapa ternyata ilmu Allah itu luas dan kita sebenarnya tidak tahu apa-apa.

La Hawla Walaa Quwwata Illa Billah.

Semoga setitik ilmu yang Allah beri ini, tidak membuat kita patut bersombong dan berbangga diri.

Gwanak, 21 Maret 2021

Ketika magnolia putih mulai bermekaran

0 thoughts on “Sebuah Pelajaran Untuk Memperbaiki Cara Berpikir”

  1. Kak yangie, I’ve been there tooooo…. terbiasa menjadi org yg manutan dan baru sadar ketika ambil S3. Telat memang, tp gpp, masih bisa diperbaiki!!
    Somehow saya bs merasakan sakit hatinya kakak. Dan salut kakak bisa mengobati dan menemukan pencerahan ttg framework ini. Saya pernah juga sakit hati dg perlakuan supervisor di lab, tapi ujung2nya saya cm bs menangisi diri sendiri dan butuh waktu lama (banget) sampe bisa bangkit lagi. Salut kak!

    Reply

Leave a Comment