Pohon Impian

Penghujung bulan Mei menjadi salah satu momen paling mengharukan selama tinggal di Korea. Sejak memasuki 꿈나무 어린이집 (tempat penitipan anak bernama Pohon Impian dalam Bahasa Korea, dibaca: Kkumnamu Eorinijib) untuk menjemput Hamka yang terakhir kalinya sebagai murid di sana, kerongkonganku sudah tercekat menahan tangis. Apalagi ketika direktur bersama para guru memberikan banyak hadiah dan menyiapkan semua barang Hamka yang akan dibawa pulang. Aku memaksakan untuk tersenyum, walaupun tidak akan terlihat karena menggunakan masker. Kulakukan hanya untuk menahan agar air mataku jangan keluar dulu.


Ku pandangi seluruh ruangan tengah tempat penitipan ini. Tempat dimana hampir seluruh harinya Hamka dihabiskan bersama teman-teman dan guru-gurunya, bahkan sejak ia berusia lima bulan. Ingatanku kembali ketika aku sudah selesai cuti melahirkan yang hanya dua bulan. Sebelum lahiran-pun, aku sudah memikirkan bagaimana support system-ku untuk Hamka. Aku tidak bisa meminta keringanan di laboratorium-ku. Dari sudut pandang-ku, lingkungan lab yang kumiliki saat ini bukan tipe yang encourage untuk seorang ibu yang belajar. Apalagi ternyata aku tidak bisa diandalkan dan banyak merepotkan. Aku tidak akan berharap lagi. Jadi yang aku pikirkan adalah aku harus menemukan support system yang bisa bekerja sama denganku, agar aku bisa tetap masuk pada jam kerja yang ditentukan, serta tumbuh kembang Hamka tidak terabaikan. Itulah usaha terbaik yang bisa aku dan suami kerjakan ketika itu.

Hamka ketika masih merangkak

Walaupun daycare di Korea ini berlimpah dan memiliki sistem yang sudah sangat apik, tetap saja ternyata mencari daycare untuk bayi usia 3 bulan cukup sulit. Tidak semua sekolah menerima dan memiliki kelas bayi. Aku masih ingat suatu hari di penghujung musim panas, aku dan suami mencari daycare hingga ke daerah sekitar Bongcheon. Sesampai di sana, para guru cukup terkejut karena dari rumah kami terbilang cukup jauh, meskipun masih dalam satu kecamatan. Mereka berinisiatif mencarikanku tempat penitipan yang lebih dekat dengan SNU. Satu tempat yang ketika itu mengangkat telepon dan merespon baik. Aku diminta untuk langsung ke sana.


Bergegas aku dan suami ke tempat penitipan anak yang disebutkan. Tempatnya di belakang Perpustakaan Gwanak, hanya satu kali menaiki bis dari laboratorium-ku, masih sangat dekat dengan area SNU. Untuk menuju tempatnya memang agak lelah karena jalannya yang cukup menanjak, ditambah teriknya matahari, dan membawa serta bayi. Walaupun dengan sisa-sisa tenaga setelah seharian berkeliling, aku masih punya harapan bahwa ini akan menjadi tempat terakhir pencarian kami dan bisa membantu kami.

Hamka mulai bisa duduk tegak

Itulah kali pertama aku menginjakkan kaki ke Kkumnamu Eorinijib. Masih jelas hangatnya wongjangnim (sebutan direktur dalam Bahasa Korea) menyambut kami, lalu mempersilahkan kami duduk. Dengan berbekal google translate dan bahasa Inggris/Korea kami yang sama-sama dimaklumi, aku mengutarakan maksud. Bukan kebetulan, ternyata anak wongjangnim adalah salah satu alumni SNU. Tampaknya beliau paham sekali jika aku sedang kesusahan mengurus anak sambil menjadi pelajar dengan kultur yang kompetitif. Ketika itu, Hamka tidak langsung diterima karena tidak ada slot untuk bayi. Beliau berjanji akan menelepon lagi segera setelah memiliki tempat. Aku dan suami mengatur strategi lain. Akhirnya sampai pada kesepakatan bahwa kita perlu mendatangkan keluarga.


Tepat ketika orang tua pulang ke Indonesia, Kkumnamu Eorinijib menelepon, mengatakan ada slot untuk Hamka. Lega sekali rasanya. Ketika kami ke sana lagi, sebetulnya wonjangnim membuatkan kelas khusus hanya untuk Hamka dan menyiapkan guru khusus bersama dirinya langsung untuk mengurus bayi yang masih amat tergantung dengan susu. Dengan begitu banyak effort yang beliau persiapkan hanya untuk menerima Hamka, tetap saja kami mendapat potongan harga bulanan yang cukup besar dari harga aslinya. Aku semakin yakin, beliau adalah orang yang tulus membantu. Sejak hari itu, tepat di usia yang ke-lima bulan, Hamka akhirnya menjadi salah satu murid asuhan Kkumnamu Eorinijib yang termuda.


Waktu bergulir begitu cepat. Hamka menginjak usia pertamanya. Aku masih ingat perayaan sederhana penuh arti yang disediakan oleh wongjangnim. Suatu pesta khas Korea Selatan untuk anak yang memasuki usia pertamanya lengkap dengan kue dari beras (tteok) dan semangka yang besar. Wongjangnim mengirimkan video Hamka yang mulai bisa duduk dan bergembira bersama teman-teman. Kami senang sekali menontonnya.

Tepat di usia satu tahun

Aku juga akan selalu ingat betapa pekanya wongjangnim. Betapa sibuk dan lalainya aku sampai aku tak mengenali gejala hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang kerap kali menjadi penyakit langganan perubahan musim. Wongjangnim-lah yang lebih dahulu paham setiap kali Hamka tidak baik-baik saja dan dengan sigap ikut mengantarkan kami ke klinik. Tidak terhitung berapa banyak hadiah, makanan, baju, dan kebaikan-kebaikan lain yang kami terima. Sedang kami jarang sekali bisa membalas.


Kurang lebih 22 bulan Hamka menjadi bagian dari Kkumnamu Eorinijib. Terimakasih wongjangnim dan guru-guru atas cinta dan kasih sayang yang tulus untuk Hamka. Terimakasih untuk kepeduliannya kepada warga asing seperti kami, yang rela setiap senin pukul setengah 9 pagi menerima Hamka. Maafkan kami yang mungkin sulit diajak komunikasi, sulit diajak bekerjasama dan jarang memiliki waktu yang cukup panjang bahkan untuk sekedar membaca buku laporan Hamka. Aku benar-benar meminta maaf.


Sore itu, setelah kami berpamitan dan menuju pintu keluar. Kubiarkan air hangat mengalir membasahi pipi. Antara berat tapi harus, cepat atau lambat, siap tidak siap, ternyata perpisahan itu memang akan ada. Aku melihat wongjangnim juga menangis dan menyebut-nyebut “Hamka sarangheyo“, semakin basah pula pipi ku. Aku bahkan tidak sanggup menoleh lagi ketika jalan menurun. Sungguh aku sangat berterimakasih atas cinta tulus dari Kkumnamu Eorinijib Sillim-dong, atas kasih sayang dan kehangatan, atas kepedulian disaat yang lain sudah tidak peduli dan bahkan mencelaku. Kalian datang, membukakan pintu lebar-lebar dan seakan memeluk kami sekeluarga. Seperti namanya, Kkumnamu yang berarti “Pohon Impian”, tetaplah menjadi pohon yang meneduhkan dan menyejukkan. Cinta dan kasih sayang yang tulus ibarat akar dari terbentuknya pohon yang kuat. Terimakasih telah menyaksikan tumbuh kembang Hamka dan tempat ia memulai mengukir pohon mimpinya.

Sudah bisa diajak bermain
Sudah bisa bersosialisasi dengan teman-teman

Semoga kami tetap berkirim kabar dan bertemu kembali nanti pada tempat dan keadaan yang jauh lebih baik. Wongjangnim, guru-guru dan para keluarga yang anaknya berada di Kkumnamu Eorinijib selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Kalau wongjangnim ke Siheung atau Indonesia, semoga selalu ingat, ada Hamka dan keluarganya yang akan menunggu. Sekarang aku memiliki alasan untuk kembali ke Seoul suatu hari nanti, yaitu kami akan pergi ke Kkumnamu Eorinijib. You always be missed and stay in our heart, 사랑해요!

Bersama yang punya seperti nenek sendiri


1 Juni 2021,
1716 Sillim-dong
Ketika ost. Reply 1988 Hyehwa-dong berputar di kepalaku

0 thoughts on “Pohon Impian”

Leave a Comment